www.latteung.wordpress.com
==========================
amaniHarapan Lumban Gaol
Aku sengaja duduk dikursi yang ditempatkan di halaman Gereja, semetara istriku didalam gereja, terlihat mondar mandir keluar masuk gereja, tak kala si kecil Gisella menangis. Jam tanganku menunjukka pukul delapan malam. Kulihat panitia mempersiapkan lilin kecil untuk dinyalahkan. Ya, lagu Malam Kudus akan segera berkumandang. Lagu kebangsaan di kala Natal tiba. Seketika sunyi menyelimuti sekeliling. Aku menyiapkan lilin kecil yang kuterima dari panitia tadi. Dentingan piano menlantunkan syair lagu ini. Aku menutup mata, menghayati. Sungguh syahdu!.
Tepukannya membuyarkan lamunanku. Kupalingkan wajahku. Seulas senyum di menghiasi wajahnya yang setengah brewokan tak tertata. Aku mengulurkan tanganku menyambut erat uluran tanganya. “Bikin kaget saja” ujarku setengah berbisik.
“He-he” tawa kecilnya sebagai jawaban ucapanku.
“Abang sih terlalu asyik, atau terbawa emosi dengan lagu Malam Kudus ini? tapi kenapa duduk di luar, tidak masuk ?” ujarnnya, seolah bicara pada dirinya sendiri. Dan merasa tak bersalah telah mengganggu ibadah orang.
“Ya, ijinkan aku menikmati lagu ini dari kejauhan sini, lagu ini membawa kedamaian dalam hatiku, appara, sudah sepuluh tahun aku tak pernah menikmatinya seperti saat ini” jawabku berbisik juga, tanpa mengalihkan pandangan dari arah pintu gereja mungil itu. Jemaat masih menyanyikan lagu Malam Kudus dengan melambaikan lilin di tangan. Kami membisu dalam pikiran masing-masing. Kulihat lelaki muda didampingku itu bernyanyi perlahan mengikuti suara jemaat di dalam gereja. Hingga selesai.
Memang, setiap natal, aku mendengarkan lagu ini, di gereja, di mall, tapi tak sesyahdu saat ini.
Tiba-tiba rintik hujan menesa wajahku. Konsentrasi ibadah kami buyar seketia. Aku menarik tangannya beranjak dari tempat itu. Ah& .seandainya tempat kami duduk ini terlindungi dari jatuhnya hujan, kami tak beranjak. Kami segera menuju kantin di sebelah gedung gereja. Entah kenapa, aku ingin mengajaknya ngobrol. Tak kupedulikan acara perayaan natal belum selesai.
“Minum apa, Appara” aku mencoba membolak-balik kertas menu yang ada di tanganku. Bagi orang batak, sebutan Appara dilontarkan pada saudara semarga yang masih muda, atau garis keturunan di bawah kita.
“Apa sajalah, yang penting halal” jawabnya sekenanya.
“Begu!!, kayak tahu saja kau beda halal dengan haram” kataku menimpali girauanya.
Aku mengenalnya sebagai seorang lelaki muda yang enerjik. Masih muda tapi pemikiranya dewasa jauh kedepan dan kritis. Soal adat dan kebatakan, jangan ditanya. Walau dari umur, aku lebih tua, tapi lelaki murah senyum didepanku ini lebih menguasai tarombo oppung kami. Aku memanggilnya amaniHarapan, karena dia belum punya momongan.
“Abang tak jadi pulang?” tanyanya
“Nanti, selesai acara natal, kita tunggu akkangmu, masih di gereja, kita minum dululah” jawabku sekenanya. –Akkang, adalah panggilan dia pada istriku. Dari garis keturunan, yang diterangkanya kepadaku, dia harus panggil abang samaku. Kami dipertemukan pada generasi ke tiga dari marga kami. Dan kebetulan dia berasal dari keturunan dari yang paling bungsu.
“Satu- kosong, maksudku, jadinya abang pulang kampung?” tanyanya sambil terkekeh. Lelaki yang enak diajak bercanda. Omongnya yang ceplas-ceplos menarik untuk disimak. Dengan mimik serius, dia memperjelas pertanyaanya. “Ke Dolok Sanggul, Bang”
“Nggak jadi, lagian siapa yang harus kukunjungi disana” jawabku singkat.
Dia menatapku tajam, senyum masih menghiasi bibirnya, sembari mengeryitkan alisnya yang cukup tebal menyangarkan wajah yang batak sekali.
* * *
Suatu Sore dua minggu yang lalu…
Awalnya dia ngotot mempermasalahkan sikapku. Bagiku, pulang kampung harus ada yang dikunjungi. Berseberangan dengan amaniHarapan, -lelaki muda dihadapanku ini. Menurutnya, hanya tanah leluhur pun, perlu untuk di kunjungi. Untuk mengingatkan, kalau orang tua kita ini berasal dari sana. Atau, nenek moyang kita masih berbaring menyatu dengan tanah di sana. Sepatutnya kita harus tahu, dari mana asalmuasal kita.
Baginya, tanah leluhur tidak hanya dalam bentuk cerita, dongeng atau kisah-kisah klasik yang diceritakan oleh orangtua ketika meninabobokan anak-anak.
“Kalau abang pernah lihat, maka separuh tanah batak sudah menjadi kuburan. Ribuan kuburan mewah dari berbagai bentuk dan corak dibangun di tanah batak. Mengalahkan rumah orang-orang yang masih hidup. Inikah bentuk kepedulian para generasi sekarang ini?, hanya ketika mau menginggal atau sudah jadi mayat, baru pulang kampung, apa artinya?” ujarnya berapi-api.
“Lihatlah bang, seperti apa tanah leluhur kita, apa yang ada disana, lalu apa peduli kita. Kalaulah mereka bisa bersuara, mungkin hanya tangisan yang bisa mereka ungkapkan. Ditinggal sendiri, kedinginan, diam dalam bisu. Apalah artinya punya seribu keturunan, tapi satupun tak ada yang meningatnya?. Apalah artinya anak sijujung baringin, jika untuk mencabut rumput dipusara yang sudah merata dengan tanah tak pernah dilakukan. Lebih ironisnya lagi, ketika anak kita menanyakan dimana leluhurnya, apa jawaban kita?” lanjutnya puitis.
“Suatu saat aku akan pulang…” ucapku, menyakinkanku.
“Kapan?”
“Tidak tau”
“Loh, kok?!, mumpung masih muda, mumpung masih ada saudara-saudara yang abang kenal, bapa-uda, oppung dan yang lainya”
“Jujurnya, ada kerinduan dalam hatiku, untuk kembali ke negeri Sibundong, ingin merasakan dinginya udara kota Dolok Sanggul, ingin merasakan sekujur tubuh ini berendam di Aek Sibundong, tapi tidak untuk saat ini, nanti…”
“Kenapa?…”
“Karena sesuatu hal..” ujarku penuh misteri.
“Aku ingin tahu alasan abang….”
* * *
Perlahan, penguasa malam mulai menunjukkan kekuatanya. Pelan tapi pasti, remang malam menutupi samudra raya. Aku melirik arloji di tangan kananku. Pukul setengah tujuh. Seperti biasa, aku memeriksa semua peralatan yang baru saja ditinggalkan oleh bawahanku. Aku tahu, tanggung jawab sepenuhnya dari proyek ini ada di pundakku. Setiap detail pengerjaanya harus sepengetahuan dan pesetujuanku.
Project Manager, posisiku sekarang membutuhkan tanggungjawab penuh, dari mulai pengerjaan hingga selesai. Ini adalah kali keempatnya aku menangani projek besar di kantor ku. Background sebagai insyur sipil, mendukung posisiku di jabatan ini.
Getaran telepon genggamku membuyarkan konsentrasiku. Kulihat, pesan singkat dari istriku. Aku bertanya dalam hati, kenapa bapatua, amanJaporman sudah ada dirumah. –Sebutan bapatua pada amanJaporman, karena beliau adalah abang kandung almarhum bapakku.
Bagi orang batak, sebuatan bapatua juga bisa didapat berdasarkan garis keturunan, misal dari generasi ke lima belas kepada generasi ke empatbelas, dimana nenekmoyang generasi ke empatbelas ini adalah abang dari nenegmoyang benerasi ke limabelas ini. Tak heran, masih muda tapi kita harus memanggilnya bapatua atau oppung. Itulah salah satu keistimewaan adat batak. Tentunya bagi generasi batak yang menghargai warisan leluhur ini.
Biasanya sayalah yang diminta AmanJaporman datang kerumahnya, bila ada sesuatu hal yang perlu dibicarakan.
Bagiku AmanJaporman tak sekeda paman, tapi lebih dari pada itu. Setengah dari usiaku saat ini hidup dan bergantung kepadanya. Dari biaya kuliah hingga kebutuhan sehari-hari sebelum saya bekerja adalah darinya.
AmanJaporman bagiku salah seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan kepadaku dan kepada kakakku satu-satunya, Renta. Yang nasibnya hampir sama denganku. Bedanya, hingga dia menikah, dia bersama dengan bapak.
Seingatku, tak pernah kami memanggilnya,–AmanJaporman, bapatua, cukup dengan bapa!.
Lebih terkejut lagi, ketika sampai dirumah, aku melihat NanJonatan ada di rumahku. –Aku memanggilnya namboru. Beliau adik bapakku dari bapauda mereka, dan perempuan satu-satunya dikeluarga bapak. Kakekku dua bersaudara. Dan dari keduanya, hanya NanJonatanlah perempuan. Artinya dia bukanlah saudari kandung bapakku. Aku berlari mennyongsongnya. Memeluknya dengan erat dan linangan air mata. Aku meciumi pipinya berkali-kali. Air mata kami telah beradu menjadi satu, membasahi wajahku dan wajah namboru NanJonatan. Teriakan histerisnya menyebut nama bapakku membuat suasana rumahku pilu. Berkali-kali dia mengelus wajahku dan memanggil nama bapakku yang sudah almarhum.
“Apa kabar, namboru, kenapa tak bilang-bilang mau datang, biar ku jemput ke bandara” kataku disela sesunggukanku. Aku mencoba membasuh air matanya yang terus meleleh.
Kulihat istriku berdiri mematung, diam, membisu sambil memangku putri kesayanganku, satu-satunya,-Gisella. Dia sudah tahu siapa NanJonatan, sebelum kami menikah aku sudah menceritakan.
“Sudalah Amang, rinduku sudah terobati, dan aku sudah melihat ibotoku, amangmu di wajahmu” ujarnya seraya sesenggukan. Panggilan –amang, diucapkan seorang perempuan batak, pada anak dari ibotonya. Lengkapnya amang naposo.
Pupus sudah rinduku pada beberapa orang yang paling ku kasihi, kini terobati sudah. Mungkin bagi sebagian orang yang melihat pertemuan ini akan bertanya-tanya. NanJonatan, tidaklah namboruku semata. Lebih daripada itu.
Tuhan hadir dalam hidupku, kubuktikan dengan sesosok NanJonatan. Satu babak dari kehidupanku telah digoreskanya. Mungkin, tanpa kasih seorang NanJonatan, aku takkan hidup. Babak kehidupan ini, kelak akan kuceritakan pada anak-anakku dan bila perlu kepada cucu-cucuku nanti. Air susunya telah memberikan hidup kepadaku.
Aku menjadi anak piatu ketika berumur dua bulan.
Cerita dari cerita, kisah dari kisah, hidupku tergantung kepadanya. Aku, sebagai orok telah dijadikannya manusia. Bukankah ini perbuatan seorang malaikat?. Aku tak dapat menggambarkan. Bagaikan aku dalam satu ruangan gelap gulita, maka semua yang ada disekelilingku adalah kasih dari seorang NanJonatan, namboruku. Apa jadinya aku, jika tak ada namboru NanJonatan ini.
Aku memaklumi histerisnya. Bagi NanJonatan, akulah anaknya yang sulung. Beliau menyusui ku sebulan sebelum siJonatan lahir. Beliau sudah merawat seorang bayi ketika belum melahirkan seorang bayi. Aku sungguh beruntung, memperoleh air susu dari seorang yang bukan ibu kandungku.
Ketika ayah meninggal, aku juga tidak bertemu dengannya, jadi aku paham betul kenapa dia menangis seperti ini.
Kisah perpisahan aku dan namboru berawal dari ketika satu hari aku dijemput oleh beliau, bersama ayah. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti kenapa saya harus pindah sekolah dari Dolok Sanggul ke Porsea. Alasan Jogap, –Seseorang yang sering kami dengar, –dikala masih bocah, Jogap adalah seseorang yang menculik anak-anak untuk di jadikan tumbal pembangunan jembatan, gedung atau jalan raya–, sangat ampuh untuk menjawab pertanyaanku. Sehingga aku rela berpindah sekolah dari esde hingga es em a.
Ketika aku sudah mengerti akan kehidupan, ketika aku sudah siap untuk diceritakan satu kisah, bahwa aku adalah anak piatu disitulah kami berpisah. Kisah selanjutnya dari kedupan ini tak ada yang lebih baik untuk dikenang lagi.
“Mereka ini siapa bapa?” tanyaku ke AmanJaporman. Tak hanya AmanJaporman dan NamboruJonatan yang jadi tamu kami malam itu. Seorang yang masih muda, dan seorang gadis tanggung.
Sedari tadi, pandangan mata keduanya tak lepas dari padaku. Aku sungguh bertanya-tanya.
NanJonatan dan AmanJaporman saling memandang. Aku sedikit bingung. “Bicaralah ito” kata AmanJaporman pelan, namun cukup jelas kudengar dari seberang meja kecil yang memisahkan kami.
“Ito sajalah…” ujar NanJonatan.
“Ito sajalah, ito sudah lebih tau, siapa AmaniGisella ini” kata AmanJaporman. Seorang lelaki batak, bila sudah berumatangga dan punya anak, maka nama anaknya akan dijadikan menjadi nama panggilanya. Dan bila sudah punya cucu, maka nama cucunyalah yang jadi sebutanya. Misalnya, bapakku, otomatis menjadi OppuGisella–. Inilah makna hagabeon dalam tatanan kehidupan sosial orang batak.
“Begini amang, ini namanya AmaniHolong, dan ini ibotonya si Rupanna,….” ujar NanJoantan seraya menyebutkan marga dari keduanya.
“Oh.,…jadi mereka kakak beradik, ada keperluan apa? Kok bisa datang berbarengan?” tanyaku penuh selidik.
Kembali NanJonatan dan AmanJaporman berpandangan. Lalu, tatapan mereka berdua beralih pada AmaniHolong—yang persis didepanku. Aku semakin tak mengerti.
“Ada satu kisah, anak manusia yang harus ku ceritakan, amang” ujar NanJonatan.
“Ceitakanlah, Namboru, bukankah aku sudah lama tak mendengar turi-turianmu?” ujarku. Turi-turian artinya kisah, cerita dongeng, biasanya disampaikan ketika menidurkan anak. Kisah heroik hingga kisah yang menggambarkan perjuangan hidup, yang intinya menididik dan memberikan teladan bagi anak-anak, agar meniru atau tidak meniru tokoh dari turi-turian itu.
“Mungkinkah seorang yang berlainan marga bisa menjadi satu saudara?” tanya NanJonatan.
“Bisa saja namboru, bukankah kita didunia ini harus hidup dalam kasih, dan kasihlah yang mengikat kita?, dan bukankah banyak marga-marga batak menjadi satu ikatan hanya karena janji atau pada, generasi kita terdahulu?”
“Ya, itulah yang ingin kuceritakan, walaupun mereka berdua ini belainan marga, tapi mereka adalah saudaramu?”
“Bagaimana bisa? Bukankah Bapa mengajarkan hanya marga Sihotang yang marpadan sama marga kita?” kataku, seraya memandang AmanJaporman, minta kejelasan. Soal tarombo atau silsilah orang batak, aku buta sama sekali.
“Kalau ada jalannya, bisa saja” ucap amanJapormanman datar, tanpa menoleh kepadaku.
“Teruskanlah, namboru…”
“Misalnya saja, Amang, bagaimana hubungan kita, seandainya dua orang lain bapak, satu ibu”
“Ya, itu kan sama saja dengan saudara kandung, karena punya satu ibukandung” ucapku cepat, aku semakin bingung.
“Ini lah yang terjadi amang, mereka ini saudaramu, anggimu, dan ini ibotomu” ujar nanJonatan seraya menunjuk kearah AmaniHolong dan Rupana. Keduanya hanya diam membisu, memandangku penuh arti.
“Bingung aku namboru” ujarku
NanJonatan kembali terisak. Dia mendekatiku dan memelukku. Kembali dia mengusap wajah dan rambutku. “Amang, kamu mengasihi aku?” ujar NanJonatan.
“Adaapa ini namboru, semua orang tahu bagaimana perasaanku sama namboru, yang sudah kuanggap sebagai ibu kandungku”. Aku menoleh kepada istriku, nanGisella, dia menunduk.
“Ada satu kebohongan yang kami tutupi selama tigapuluh tahun lebih, dan kuharap Amang, jangan marah sama Namboru”
“Kebohongan apa, kapan?” tanyaku makin tak mengerti.
“Sebenarnya ketika amang sekolah dahulu, bahkan hingga amang merantau di Jakarta ini, Eda, ibu kandungmu, belum meninggal, seperti cerita yang telah amang ketahui selama ini….” ujar NanJonatan, hampir tak kudengar.
“Apa?…ada apa sebenarnya…” kataku, sambil berdiri. Aku memandang amanJaporman minta kejelasan.
“Iya amang… Ibumu pergi meninggalkanmu ketika Amang berumur dua bulan, dia pergi ke kampung lain, bersama laki-laki lain, tepatnya ke Sidikalang, karena satu hal terjadi pertengkaran diantara Ito, bapakmu dengan Eda, lalu Eda meninggalkanmu begitu saja….” ujar NanJonatan.
Kepalaku bagaikan ditimpa beban yang sangat berat, mataku berkunang-kunang. Hampir tak percaya pada yang baru saja kudengar. Aku memandang ke sekeliling, berharap mereka hanya menyampaikan gurauan yang tidak lucu, menurutku.
“Katakan sekali lagi namobur” ujarku, dengan nada sedikit meninggi.
Disela isak tangisnya, Namboru Jonatan kembali menceritakan kisah empatpuluh tahun yang lalu. Kata demi kata, dirangkai menjadi kisah memilukan. Seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya yang baru dua bulan dilahirkan, dan pergi, hanya karena pertengkaran yang seharusnya bisa diselesaikan.
Aku tak menyangka, alasanku selalu berpindah-pindah sekolah dari kota kecil di Dolok Sanggul, Porsea hingga Balige bahkan Kota Siantar, yang harus kulalui hanya untuk menghindar dari penculikan Tulangku, iboto atau abang dari Ibu Kandungku.
Setiap mereka tahu, aku sekolah di satu kota maka Tulang sesegera mungkin datang menjemputku, untuk mempertemukan aku dengan ibu kandungku. Bertolak dengan itu, Bapak, selalu menghindarkan pertemuan ku dengan ibu. Beliau selalu menceritakan kalau ibuku sudah meninggal. Dan sepengetahuanku, memang bapak tak pernah menikah lagi hingga akhir hidupnya, duapuluh tahun lalu. Rupanya bapak sangat terpukul, setelah kepergian ibuku dan memutuskan untuk tidak mencari ibu baru bagiku.
Aku terduduk lemas. Kulihat NanJonatan amsih sesenggukan. Apa yang harus kuucapkan?. Siapa yang salah, bapakku, bapatuaku, namboru, mamakku?. Aku ingin marah, tapi sama siapa. Aku berdiri, berjalan kearah sebuah bingkai foto usang di dinding. Ayah dan ibu. Foto ketika Ibu masih mengandung ku.
“Siapakah aku ini, Tuhan?” kataku lirih, air mataku tak tertahankan lagi. Aku menangis, tapi tidak tahu tangis untuk siapa. Empat puluh tahun aku dibohongi.
“Lalu, mereka ini, apa hubunganya denga diriku?” tanyaku pada AmanJaporman.
“Kau adalah abang kami, kita satu ibu yang melahirkan kita” AmaniHolong ikut bicara
“?!”
“Ya, Abang. Ketika Inang pindah ke Sidikalang, beliau menikah dengan Bapak kami dan lahirlah saya juga iboto kita si Rupana ini..”
Aku terdiam.
Hening.
NanJonatan bangkit dari duduknya, meraih pundakku, aku perpaling kepadanya. “Amang, kau marah samaku?” tanyanya lirih.
Aku hanya menggeleng, menunduk. Seingatku, masih terbilang jari NanJonatan memyebut namaku. Menurutnya, walaupun saya masih anak-anak, dan dia yang merawatku dari bayi, aku adalah hula-hulanya. Menurutnya, harus sopan dan hormat kepada hula-hula. Karena doa dari hula-hula membawa berkat dalam kehidupan. Itu salah satu alasanya, kenapa dia mau membesarkanku.
“Abang, kita lahir dari rahim yang sama. Darah yang mengalir dalam tubuhku ini adalah darahmu juga. Biarlah kita berlainan marga, tapi kita dilahirkan dari ibu sama, Abang….” ucap AmaniHolong ikuan berdiri.
“Maafkanlah bapa, amang, telah membohongimu selama puluhan tahun ini, kami tak tega menceritakanya kepadamu dari awal, kami tak ingin merusak hari bahagiamu dengan istrimu, dengan pahoppuku, si Gisella” ujar amanJaporman. Pahoppu adalah anak dari anak.
Aku masih terdiam, sementara tanganku tak hentinya mengusap wajah dalam bingkai foto kusam itu.
“Bolehkah saya memelukmu abangku?” tanya amaniHolong.
Aku memandangnya. Kulihat sorot mata persaudaraan yang tulus terpancar dari sana. Kulirik ibotonya si Rupana, dari tadi tak habis-habisnya mengeringkan kelopak matanya dari air mata. Wajahnya telah sembab. Terbawa suasana mengaharukan.
Aku mengangguk pelan. Hatiku luluh.
Rupana bangkit dan memelukku. Tangisnya meledak seketika. Kami bertiga berpelukan erat, kembali terisak. Aku membelai rambut Rupana dan amaniHolong. Sedetik, dua detik hingga beberapa menit kami berpelukan. Tangisan Rupana masih terdengar.
“Inang dimana? Kenapa tidak ikut?”
“Inang sudah menginggal abang, setahun yang lalu” jawab Rupana disela isak tangisnya.
“Sebelum inang meninggal, dia sempat sakit selama tiga bulan dan setiap hari memanggil namamu, berteriak-teriak menacarimu, abang. Beliau berteriak minta maaf, tak satupun dari kami yang bisa menyembuhkan luka laranya, hingga akhir hidupnya, inang begitu merindukan abang…” ujar amaniHolong.
“Maafkanlah inang, abang, beliau begitu menderita diakhir hidupnya” ujar Rupana. Rupana, yang selama ini merawat ibu. AmaniHolong, setelah berkeluarga menetap dimedan. Hanya Rupanalah yang tahu saat-saat terakhir ibu meninggal.
“Satu wasiat yang harus kami penuhi, dan sudah kujanjikan kepada inang dihari terakhirnya, adalah menemukan abang, dan menyampaikan permohonan maafnya. Jadi, maukah abang memaafkan inang?” tanya Rupana.
Rupana tiba-tiba duduk bersimpuh dan memeluk kakiku erat-erat. Rambutnya yang panjang terurai tak diperdulikan lagi menyampu ke lantai keramik putih rumah kami. Airmatanya terasa membasahi kakiku.
Aku meraih pundaknya memeluknya erat.
“Aku sudah memaafkanya , tak ada yang perlu disalahkan. Ini sudah menjadi suratan takdirku yang tak bisa diubah oleh siapapun, nggak apa-apa ito,…”ujarku lirih.
“Iya amang, supaya Eda tenang disisi sang penciptanya,…” ujar NanJonatan.
“Abang, tak ada lagi yang kami miliki, ayah dan ibu telah pergi, abanglah pengganti ayah kami” ucap amaniHolong.
Gisella menangis minta ku pangku. Aku meraihnya dari tangan istriku. Mungkin dia tahu kalau ayahnya sedang galau. Dia melihatku menangis. Aku mencium pipi anakku. Cerita sedih ini biarlah kualami sendiri. Aku tak ingin Gisella turut dalam cerita panjang ini.
“Abang, sangat mirip dengan inang, senyumnya dan gerakan tanganya” ujar Rupana. Aku sendiri tak pernah tahu bagaimana wajah ibu yang melahirkanku, selain dari sebingkai foto itu. Tak bisa ku gambarkan, rupa dan wajahnya. Aku mencoba melihat wajah ibu di raut muka anakku, Gisella,–yang telah berhenti menangis setelah ku pangku.
“Apa dia mirip oppung borunya?” tanyaku dalam hati. Oppung boru, sebutan orang batak pada ibu yang melahirkan ayah atau ibu kita.
Drama kehidupan, dengan lakonnya aku sendiri memasuki babak baru. Entah, lakon selanjunya tak terpikirkan olehku. Rahasia yang selama ini tak kuketahui kini terbuka sudah. Tak ada yang perlu dipersalahkan. Selama ini aku percaya kalau ibukandungku sudah meninggal ketika aku masih bayi.
“Dimana inang di kuburkan?” tanyaku pada amaniHolong.
“Di Sidikalang, Bang, bersama dengan bapak”
“Sudah setahun kami mencarimu bang, dan atas bantuan family yang ada di Dolok Sanggul, kami berdua dipertemukan dengan namboru NanJonatan, itulah kisahnya, sampai kami kerumah mu ini, bang” ungkap amaniHolong.
“Bang, kalau ada waktumu, pulanglah, jenguklah inang ke Sidikalang, beliau menunggumu disana..” ujar Rupana.
Takdir telah digoreskan di telapak tanganku, dan aku harus menerimanya dengan lapang. Tak ada pilihan. Hidup harus dilanjutkan. Toh semua cerita ini sudah berlalu, empatpuluh tahun silam.
* * *
Gerimis telah mereda.
AmaniHarapan kembali membuyarkan lamunanku. “Dah sampai dimana kau berangan-angan bang, nggak kenak togelmu?” katanya.
“Ah, sok tau kau, appara, kapan pulak aku mau martogel” balasku.
“Trus, apa yang kau pikirkan dari tadi, sampai kopi mu mendingin?, terbuai sama lagu Di Doa Ibuku, itu?” tanyanya lagi. Lagu syahdu dinyanyika seorang anak kecil, tetanggaku. Baru kali ini, aku ikut merayakan natal Parsahutaon DosRoha –Serikat atau organisasi orang batak di RT kami. Sungguh, syair dan dentingan piano yang mengringinnya menghipnotisku, membawaku kembali ke angan di emaptpuluh tahun silam.
AmaniHarapan benar!. Dia bisa menebak isi hatiku. Terbukti, aku dibiarkanya hanyut dalam anganku, tanpa menggangguku.
“Bang, itu boru kita si Gisella datang, Akkang Boru juga” ujarnya. Panggilan Akkang Boru, dialamatkan orang batak kepada istri abang kita. Aku tak melihat kedatangan boruku. Aku membelakangi mereka.
Secepatnya kuraih bidadari kecilku dan menggenggam tanganya yang mungil. Amani Harapan meraih tangan putriku, dan menyalamnya. Istriku duduk disampingku, berhadapan dengan dengan amaniHarapan. “Salamat Natal, ya dek, mana istrimu, NaiPaimaon?” ujarnya seraya menyalam amaniHarapan.
“Nggak ikut kak, di rumah,…” jawab amaniHarapan singkat.
“Kok nggak masuk ke gereja?”
“Kak, nggak ada niat pulang ke Dolok Sanggul?” tanyanya, mengacuhkan pertanyaan istriku.
“Tanya saja abangmu, aku ngikut saja….” Jawabnya istriku.
Dia menoleh ke aku, seolah minta ketegasan jawaban. Aku tahu tujuan pembicaraanya, dan secepatnya kujawab “Sudah kurencanakan, Anggia”.
Dua minggu yang lalu, ketika kisah ini kuceritakan kepadanya, dia memaksaku untuk pulang. “Abang, tak ada yang perlu untuk disesali, tak ada yang perlu untuk di salahkan. Tapi kini, ada utang yang harus abang bayar. Abang sudah tahu siapa ibu yang melahirkanmu, maka temuliah dia. Pun, berkalang tanah, pun hanya untuk bertemu dengan pusara, itu sudah lebih dari cukup, disamping doa yang harus abang panjatkan nantinya” kata amaniHarapan, mengakhiri percakapan kami, kala itu.
Aku menatapnya, tersenyum.
“Iya, bang..pulanglah, ajak kaka dan boru kita ini ke tanah leluhurnya, Dolok Sanggul”
Alunan lagu-lagu natal membawa kami ke angan masing-masing.