Oleh : Hendry Lbn Gaol
Sebelumnya, saya menganggap kalau guyonan-guyonan atau yang lebih banyak disebut orang adalah ilustrasi, cerita pengandaian, adalah karang-karangan amang Pendeta saja. Ilustrasi dari sebuah jamita Pak Pendeta dari langgatan itu hanya untuk menyegarkan kembali pikiran para jemaat yang kalau mendengar kotbah selalu bawaanya ngantuk. Saya memandang dari sudut pojok ruangan gereja itu, dimana saya biasanya mengabil tempat duduk, melihat jemaat manggut-mangut tandanya kalau jamita pak Pendeta ini masuk ke pikiran mereka. Bah….Pak Pendeta Butar-butar ini memang pandai marjamita. Di kala jemaat dah ngantuk berat, maka guyonan menjadi sesuatu yang bisa menyegarkan pkiran kembali.
Semenjak saya bergereja di HKBP ini, tepatnya tiga tahun lalu, saya selalu mengambil tempat duduk paling belakang. Kalo bisa dekat-dekat pintu keluarlah, artinya, begitu nyanyian kesukaan ‘amen-amen ‘ diperdengarkan maka dngan sigap saya melompat keluar. Namun, beberapa minggu belakangan ini, sesuai dengan kesepakatan bersama dengan semua anggota Punguan Koor Ama, maka kami harus duduk menempati bangku yang sudah disediakan di dekat naposo bulung atau daun muda di pojok depan.
Bukan mau bilang saya adalah Ama-ama muda yang kegatelan, atau si mata jelalatan. Entah kenapa, kalau saya duduk di depan, maka mata saya ini kurang bisa saya jaga. Selalu gelisah, melempar pandang kesana kemari tak tentu arah. Sensor mata ini sepertinya sangat peka sama yang namanya bajar landit alias kaum muda, namarbaju di barisan jemaat umum. Sebagian besar anggota jemaat ini adalah kaum muda.
Jadinya saya hanya bisa senyum-senyum sendiri kayak orang kurang waras yang baru dikasih permen sama orang yang waras. ” Kayak orang rittik aja kau lae, kulihat kau senyum -senyum aja dari tadi” kata teman suara Bass 1 di sampingku. Ah…nggak tau lae ini, jalan pikiranku!!. Ternyata, duduk di depan, punya ‘berkat’ tersendiri. Bisa melihat, desain baju siapa yang paling up-to-date, lalu bedak siapa yang paling tebal, hingga siapa yang ngantuk kalau marjamita. Kadang saya berpikir, ternyata di gereja kecil ini banyak juga Model tak kesampaean.
Yang membuatku tersenyum kali ini adalah, membayangkan Ivan Gunawan, ngomong gini sama namarbaju di gereja ini ” Kayaknya, wajahmu yang marsuhi-suhi itu kurang match sama bentuk pakaenan yang kau pakai,..coba kau permak dulu wajahmu..” Gila!!
Atau gini nih…” Baju dah cukup bagus, ada renda-renda dan belahan baju didepan menunjukkan rasa sensualitas yang tinggi….cuman, potongan tubuhmu nggak cukup macthing sama baju seperti itu..kau permak dulu badanmu itu….” heheheheh
HUh…dasar mata ini nggak tamat SD!.
Bicara soal gaya berpakaian jemaat di HKBP, maka menurutku semua cakap-cakap, mulai dari padanan warna hingga mode. Mulai dari baju yang menonjolkan lekuk tubuh si pemakainya ( yang paling sering ku curik-curik pandang,..) hingga ke model semi kebaya. Mungki kalau saya ditakdirkan lain dari yang sekarang, maksudku menjadi salah satu dari pelaku, model tak berbayar itu, maka saya juga akan melakukan lebih.
Belum lagi soal model baju yag dipertontonkan, wouih….enak tenan duduk paling depan bah!. Kok baru kali ini aku menyadarinya. Ibarat kita memandang model yang berjalan di catwalk, demikian jugalah para jemaat, kaum gadis, di HKBP. Bukan mau menyalahkan atau bagaimana. Cuman apa ya…gitu deh. Keknya memamng mata ini kudu disekolahin ke sekolah kepribadian. Biar dia nggak jelalatan.
“Lae…taunya kau arti jamita pak pendeta itu, tentang ilustrasinya itu??” kata temanku dari sebelahku, membisikkan sesuatu. Saya tergagap dari aktivitas lamunanku. Tanpa menoleh aku menggeleng dan menjawab “…maksud lae apa?”
“Kulihat lainlah Pak Pendeta ini kalau marjamita.”
“Kenapa??…” kataku sambil merapatkan dudukku
“Tuh dengerin tuh…dan liat gayanya..” Aku mencoba mengartikan apa yang dibilang kaa satu ini. Ku lihat Pak Pendetanya masih asik dengan jamita yang mengilustrasikan BODAT yang bergelayutan di sebuah pohon. Kalau inti dari jamita ini yang kutangkap adalah angin besarpun tak bisa menjatuhkanya, sebaliknya angin sepoi-sepoi bisa saja menjatuhannya, dikala dia terbuai oleh rasa kantuk. Yang intik kotbahnya, si besar belum tentu menang sama si kecil.
“Trus..kenapa lagi lae…..”
“Lae perhatikanlah dulu, setiap beliau bicara BODAT, maka pandangannya selalu di arahkan ke kita ini ke KOOR ama ini, apa kita ini dipikirnya bodat semua.”
“hek!!!”
“Tuh liat tuh,….” seolah membuktikan tuduhanya dengan menunjukkan kalau Pak Pendeta ini setiap bicara BODAT selalu melihat ke arah Koor AMA.
“Betul kali tuh lae…..kita ama-ama ini sudah bayak yang kayak BODAT lae…” kataku menahan geli yang amat sangat. Kugigit bibirku, biar nggak ketawa lepas. Saya nggak nyangka kalau lae ini berpikiran seperti itu.
“Tuh liat lae…tadi dia ngomong, panakko, pargabus, parboru-boru, penipu, pangoto-otoi, parmabuk, selalu mandangnya kemari,..nggak beres nih…!!.
“Ih..lae…benar kali itu lae…kita ama-ama ini memang dah banyak yang kayak bodat”, aku semakin senyum sendirian. Dan memang kalau kupikir-pikir dan huhayati jamitanya ini, saya merasa, salah satu bodat yang beliau maksud adalah saya. Saya yakin, amang pendeta ini memperhatikanku dari tadi, yang selalu senyum sendiri dikala dia marjamita. Bukankah hanya bodat yang mau tersenyum sendiri tanpa ada yang lucu??.
Nggak usah marahlah kalau kita disebut ‘kayak BODAT’ memang iya kale yah…
Kalau kayak bodat berarti bukan bodat, dan leih mending dibilang songon bodat daripada songon jolma. Songon jolma berarti mirip manusia. Dasar, ama-ama kegatelan!!!…Ama-ama Bodat . Baru Omong Doang, Action Tiada
DIarsipkan di bawah: Latteung, Siringkot-ringkot | Ditandai: ama-ama bodat


mengapa ada disini langsung terjemahan bahasa inggris
Horas Lae,toho do i nungga lam godang ama ama dohot namatua gabe songon Bodat,jala otakotak ni butuhana nama lehonon tusi.
parsidikkalang: hahahhaha……..dang dohot au mandok i bah
ohh… terlalu terburu-buru lae menulisnya, (mungkin takut kehilangan isnpirasi kali yach, dan mumpung inspirasi lg datang) sehingga banyak kata-kata terkait dengan pengetikan redaksional salah ketik
lae master :…alasanku cuman satu. Tuhan mengaruniakan jari tangan yang besar-besar padaku ( keknya jempol semua ), nantilah aku coba edit lagi hahahha….( mauliate atas kunjunganya lae)
Horas lae, bagus kali lanteungnya
Lae tahu lagu…lanteung mullopullop…lanteung mullopulllop
Horas amang pandita….
Saya nggak tau lagu itu bah, tapi coba aku tanya dulu nanti sama teman-teman di punguan ama….
tks udah berkunjung ke blog ini…..