Selamat Ulang tahun Gereja HKBP Cikarang

Pendeta Anggiat Limbong and son

Pendeta Anggiat Limbong and son

Kemarin, HKBP Cikarang merayakan hari jadinya yang ke sebelas tahun. Dirayakan dengan sangat sederhana. Berdoa bersama yang dipimpin amang Pendeta Resort Pdt. Anggiat Limbong sebelum acara di parmingguon dimulai. Dan seluruh jemaat mengucapkan “Selamat Ulang tahun” saat amang pendeta mengucapkan Amen.

Kebaktian pada hari itu dilaksanakan cukup satu kali dari biasanya dua kali, pagi dan siang. Acara kebaktian dimuali dengan kidung pujian dari koor punguan Parompuan. Pada kotbahnya, amang Pendeta Limbong menekankan perlunya kebersamaan. Dan dengan kebersamaan maka cita-cita gereja menjadi garam dan terang dunia di sekitar masyarakat Kota Cikarang akan tercapai.

Dalam eksistensinya yang sudah sebelas tahun, Gereja HKBP Resort Cikarang masih beribadah di Ruko. Tepatnya Ruko Thamrin Blok D7 Lippo Cikarang. Dua buah ruko lantai dua setengah disulap menjadi satu. Disinilah jemaat gereja HKBP Cikarang yang berjumlah sekitar 1500 orang beribadah. Ada kebaktian pagi pukul 8.00 dan kebaktian umum bahasa daerah / batak pkl 10.00.

Sebenarnya gereja ini sudah tidak bisa menampung semua jemaat ini. Dan itu bisa terlihat pada acara kemarin. Setiap acara gereja hanya dilaksan akan satu hari maka gedung hingga parkiran penuh. Untuk itulah telah dibentuk semacam kepanitiaan, Steering Commite yang bertugas untuk mempersiapkan Panitia Pembanguan Gereja termasuk mencari lahan untuk bangunan gereja.

Selamat Ulang Tahun Gereja HKBP Cikarang

About latteung

Saya..... yang selalu menuliskan pikiran yang terlintas... merenung sejenak, lalu menulis...

Posted on 26 Oktober, 2009, in ESSAY and tagged . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. na so adong be hata na ussongit sian latteeung, amang gaol ?

  2. Pintas kilas tetang gereja suku dalam hal ini termasuk HKBP. Saya bersyukur dibesarkan di gereja suku ini selama puluhan tahun. Namun akhirnya dapat perenungan firman Tuhan tentang HKBP. Gereja HKBP sudah sampai pada tingkat kejenuhan yang memposisikan diri menjadi suatu organisasi agama yang mapan dalam hal jumlah pengikut, banyaknya uang, dan menjadi jembatan untuk mencapai pengabadian nama.

    Agak sulit dibayangkan seandainya ada orang yang bertobat masuk ke HKBP untuk mencapai maksud dan tujuan peningkatan spritualitas yang bermuara pada jiwa dan roh. Kemungkinan besar akan kecewa karena tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan. Sesuatu yang sangat dipentingkan dalam gereja HKBP ini bukan masalah roh dan jiwa tetapi masalah keinginan daging dan keinginan mata berujung pada keangkuhan hidup. Gejala seperti ini muncul ketika gereja sudah terlepas dari ikatan firman dan kesulitan hidup spritualitas seperti yang terjadi di Kisah Para Rasul.

    Sepeningal Nommensen gereja HKBP sudah menjadi lembaga keagamaan yang sangat bergengsi yang penuh dengan kesibukan mengurusi hirarki sama halnya seperti gereja-gereja di Eropa karena asalnya dari sana. HKBP tidak akan puas kalau ia masih digolongkan sebagai gereja seperti aslinya gereja di Alkitab. HKBP telah bermetamorfosa menjadi lembaga yang bergandengan tangan dengan politik, budaya batak, dan banyak bermain di tatanan sosial lainnya di masyarakat termasuk pendidikan, kesehatan dll. Beda dengan gereja di Kisah Rasul, mereka tetap gereja yang dibangun di atas batu karang yang dijamin tidak akan dikuasai oleh gerbang alam maut seklipun.
    Pendeta2 di gereja ini telah lolos melalui seleksi yang amat rumit secara kelembagaan dan memiliki suatu fokus bersama seraya berkata: bahwa saya harus berhasil dalam karier saya sebagai pendeta melalui jenjang kepangkatan.

    Aakan menjadi sangat naif kalau struktur kelembagaan gereja seperti ini dihadapkan dengan seorang yang mau bertumbuh secara rohani. Dipastikank tidak akan nyambung alias jauh panggang dari api. Pengalaman seperti ini pernah saya dapat waktu bertemu dengan Pdt Silitonga di HKBP Rawamangun dengan maksud mohon penguatan rohani. Karena apa yang dicari oleh sipetobat akan berbeda dengan missi yang diemban oleh si pendeta. Si pendeta tidak akan hirau (tak mampu???) menyelami pergolakan roh dan jiwa yang terjadi dalam jemaat, karena HKBP sudah memiliki suatu format atau ‘cetak biru’ yang tidak boleh diutak-atik. Seandainya sipetobat baru tersebut ingin mendapat penyegaran rohani pasti hambar, karena akan diperhadapdkan dengan susunan liturgi yang sudah baku di gereja. Bila sipetobat misalnya menangis tersedu-sedu menyesali dosanya pasti si pendeta akan menjawab: Tabegema baga-baga taringot tu hasesaan ni dosanta.
    Gereja HKBP sudah digurita oleh banyak kepentingan yang kasast mata a.l. koor ama, ina, naposo bulung dll. Untuk suatu lembaga keagaamaan seperti HKBP, atribut2 inilah suatu pertanda keberhashilan. Kejuaraan2 dalam perlombaan koor bisa menjadi suatu ‘success story’ yang diusung oleh pendeta untuk mendapat pengakuan keberhasilan.

    Kesibukan gereja HKBP sudah lama bergeser dari panggilannya asli seperti pada umulanya yaitu untuk mencari jiwa2 yang terhilang. Pembangunan gedung, pembukaan sekolah, bea siswa pendeta-pendeta untuk mendapt gelar ilmiah seperti S1,2,3 dll menjadi tren yang tidak bisa dianggap kebetulan. Yang paling mencolok dalam HKBP sekakrang ini adalah competition dalam segala hal termasuk membangun gereja HKBP terbesar dan termewah. Pejabat2 di gereja dipenuhi oleh orang2 yang memiliki intelektual yang bisa dipercaya dan memiliki kemampuan finansial yang kuat dan diterima baik oleh jemaat karena berdasarkan kesukuan. Adakah jemaat masuk HKBP karena panggilan iman? Saya tidak tau, yang jelas karena ia terpanggil sebagai orang Batak. Terbukti sesulit apapun orang Batak akan mendirikan gereja HKBP walau di tempat yang sangat sulit sekalipun. Inti persoalannnya adalah kebatakan bukan masalah keimanan.

    Lalu apa yang tersisa dari hasil jerih payah Nommensen? Giring2 hasil kerajinan tangan yang didanai dan disumbangkan oleh Yayasan Barmen. Persaingan antara sesama pendeta untuk mendapat jabatan dan kesempatan memperoleh penugasan di kota-kota besar seperti Cikarang. Adakah seorang pendeta yang minta ditempatkan di desa terpencil? Saya belum tau mungkin ada tetapi kebanyakan sebaliknya. Semuanya ini terjadi karena gereja HKBP sudah masuk dalam pusaran kepentingan organisasi yang berujung pada uang dan pengabadian nama.

    Mari bertukar pandangan dengan ikhlas tanpa paksaan lewat e-mail: stephan_manulang@yahoo.com

    Stephan Simanullang
    Seattle of USA

  3. Lalu bagaimana dengan orang atau jemaat yang ada di dalam gereja yang sudah berpuluh tahun? Keadaan mereka tidak akan beda banyak dengan keadaan masyarakat Batak yang ada di mana saja. Tidak akan mengalami ‘greget’ atau denyutan rohani yang mencolok tetapi menunjukkan grafik yang datar atau istilah sekarang disebut statusquo. Bila terjadi suatu peristiwa yang tidak diharapkan atau apapun yang kurang menguntungkan biasanya mereka tidak pergi ke gereja, tetapi ke dukun atau sejenis paranormal atau jalur resmi secara hukum. Memang ada saja segelintir orang yang pergi ke pendeta atau rohaniwan di luar gereja HKBP seperti minta doa ke pendeta2 yang merakyat misalnlya pendeta dari kalangan kharismatik atau pentakosta.

    Anggota jemaatpun sudah sangat paham dan sadar bahwa gereja HKBP tidak lagi percaya akan adanya mujizat kesembuhan lewat doa seperti tertulis di Alkitab. Pendeta akan memberi jalan keluar yang sangat logis seperti memberi nasehat untuk pergi ke dokter, bindes atau dukun yang tidak menyalahi aturan. Walau doa tetap dinaikkan, tetapi tidak perlu seperti ngotot atau dengan suara yang melengking minta kesembuhan, doa tetap diucapkan walau hanya seperti permintaan yang bersifat untung2an saja. Jadi doa2 yang berlatarbelakang iman amat jarang ditemukan.

    Peran gereja sudah menjadi sangat formal dan legalistik karena dibingkai dengan akal pikiran manusia belaka. Gereja disandera sehingga ia harus mengikuti perkembangan zaman dengan kata lain zaman lebih mulia atau lebih kuat dari gereja. Karena gereja sudah menjadi organisasi formal, mau tidak mau gereja harus disokong oleh pendanaan yang kuat. Dibuatlah aturan seperti kolekte 3-4 kali dan melakukan undian dan lelang terbuka. Gereja mengambil Istilah kharismatik atau pentakosta yaitu memberi persepuluhan yaitu sepersepuluh dari uang yang diterima. Metode yang demikian sangat manjur terbukti HKBP berhasil mengumpulkan dana abadi. Konon persepuluhan itu tidak pernah ada di HKBP, tetapi karena menyangkut masalah uang jadi halal adanya.

    Gereja sudah masuk dalam perangkap in-kulturasi artinya gereja diblender ke dalam budaya Batak sehingga terjadi penyatuan yang solid tak terpisahkan mana gereja mana adat. Tatanan gereja HKBP sangat cocok dengan adat Batak. Nommensen sebenarnya sadar akan hal ini tetapi beliau tidak sempat atau terlambat bertindak. Ambil contoh: pengakuan iman rasuli atau pajongjongkon haporseaon, dalam Alkitab tidak pernah ada itu. Dalam adat Batak ada juga pengakuan ini yang didasarkan pada dalihan natolu atau suhi ni ampang naopat. Pengakuan terhadap kebesaran hula-hula sebagai pemberi berkat dllsbg. Penyatuan antara gereja dan adat ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Keterlibatan gereja dalam upacara adat mangokkal holi atau membangun tugu sangat mencolok. Pesta peringatan tugu sedunia dari satu marga menjadi kebanggaan gereja, karena gereja diberi acara khusus sebagai penghormatan. Mengganti marga orang lain menjadi marga orang Batak dianggap sangat mulia, karena marga orang lain misalnya marga Cina atau Jawa dianggap tidak mempunyai nilai. Padahal apakah kelebihan orang Batak dibandingkan dengan orang Cina atau Jawa?

    Masih adakah iman atau Roh Kudus di gereja? Dalam pengakuan tentu saja ada, tetapi dalam prakteknya amat sulit ditelusuri karena penuh liku dan tali-temali dengan strategi akal manusia. Mari kita berbagi masukan pendapat: stephan_manulang@yahoo.com

    Stephan Simanulang

  4. qt ko nyariin gereja di cikarang ko ga pernahh dapat ea,, susah nyarinya,,,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.984 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: