Monthly Archives: September 2010

Khasiat Daun Sukun

Sakit kuning atau penyakit lever adalah penyakit yang mematikan, namun anda jangan takut, penyakit ini gampang dan mudah disembuhkan jika orang tersebut rajin dan tekum menjalani pengobatannya.

Ambillah satu buah sukun, belah menjadi 4 potong dan direbus sampai mendidih, minumlah sebanyak mungkin air rebusan tersebut dan bila perlu setiap minum pakailah air rebusan tersebut selama dua minggu atau lebih maka penyakit lever akan sembuh. Read the rest of this entry

Daun Sukun, Obat Jantung

Bahasa batak TOROP

Sukun termasuk dalam genus Artocarpus (famili Moraceae) yang terdiri atas 50 spesies tanaman berkayu, yang hanya tumbuh di daerah panas dan lembab di kawasan Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik. Buahnya berbentuk bulat berkulit tebal dan kasar, dengan warna hijau muda dan kuning dengan berat sekitar 1,5 – 3 kg. Buah sukun bisa digunakan untuk bahan pangan. Orang biasa memanfaatkannya untuk makanan ringan, semisal direbus, digoreng, atau dibuat keripik dan kolak. Ada juga yang memanfaatkannya sebagai bahan baku tepung dan mi.

Tak banyak orang yang menanamnya. Selain kurang “menjual”, masyarakat belum begitu tahu manfaat tanaman tersebut. Sering dijumpai orang menebang pohon tersebut di pekarangannya, dan menggantinya dengan tanaman lain seperti pisang atau mangga. Tapi sesungguhnya sukun sangat bermanfaat. Daunnya mempunyai khasiat buat kesehatan, efektif untuk mengobati berbagai penyakit seperti liver, hepatitis, sakit gigi, gatal-gatal, pembesaran limpa, jantung, dan ginjal. Bahkan, masyarakat Ambon memanfaatkan kulit batangnya untuk obat mencairkan darah bagi wanita yang baru 8-10 hari melahirkan.

Daun tanaman tersebut mengandung beberapa zat berkhasiat seperti asam hidrosianat, asetilcolin, tanin, riboflavin, dan sebagainya. Zat-zat ini juga mampu mengatasi peradangan. Menyelamatkan Ginjal Ada juga yang menjadikan daun tersebut sebagai alternatif untuk menyelamatkan ginjal yang sakit. Caranya mudah, tapi harus telaten.

Langkah awal, siapkan tiga lembar daun yang berwarna hijau tua, namun masih menempel di dahan. Kemudian cuci bersih pada air mengalir. Selanjutnya dirajang lalu jemur sampai kering. Siapkan pula wadah lalu isi dengan air bersih dua liter. Usahakan wadah tersebut terbuat dari gerabah tanah liat, tapi jika pun tak ada bisa juga memakai panci stainless steel. Masukkan dedaunan kering itu lalu dimasak sampai mendidih, sisakan air tersebut sampai volumenya tinggal separuh.
Selanjutnya, tambahkan air bersih satu liter, dan didihkan lagi sampai separuh. Kemudian saringlah rebusan daun sukun itu. Warna airnya merah, mirip teh. Rasanya agak pahit. Silakan diminum sampai habis, tak boleh disisakan untuk kesesokan harinya. Demikian seterusnya.

Agar tidak repot bolak-balik mengambil tiga lembar daun, sebaiknya sediakan rajangan daun sukun kering untuk seminggu. Caranya, siapkan lembar daun hijau tua sebanyak 3 x 7 = 21 lembar. Proses selanjutnya persis seperti cara di atas, sehingga kita punya sejumlah rajangan daun sukun kering, tapi dibagi-bagi menjadi tujuh bungkus.
Tiap hari ambil sebungkus, rebus, saring, dan minum. Jika Anda termasuk tak tahan pahit, bisa ditambahkan sedikit madu setiap kali minum.

Jantung

Daun sukun juga bisa untuk mengobati penyakit jantung. Caranya, ambillah satu lembar daun sukun tua yang masih menempel di pohon. Daun sukun tua mempunyai kadar zat kimia maksimal.

Cucilah sampai bersih lalu dijemur hingga kering. Kemudian rebus sampai mendidih dengan lima gelas air dan sisakan sampai tinggal separuh. Tambahkan air lagi hingga mencapai volume lima gelas. Setelah disaring, rebusan air itu siap diminum dan harus habis tak bisa disisakan untuk esok hari.

Beberapa pakar obat tradisional memang meragukan khasiat daun sukun. Namun masyarakat sudah percaya dan membuktikan khasiat daun sukun yang dapat menyembuhkan penyakit jantung dan ginjal.

Dalam buku Koleksi Tumbuhan Obat Kebun Raya Bogor, tanaman ini tidak termuat. Satu-satunya literatur yang mengungkap efek diuretik dan kardiotonik sukun hanya buku Indian Medicinal Plants. Itu pun hanya menyangkut buahnya. Apakah bahan kimia yang dikandungnya itu berkhasiat ?

Tentu saja masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut oleh pihak-pihak yang terkait, karena memang obat tradisional dari tanaman dipercaya walaupun awalnya hanya cerita dari mulut ke mulut. Jadi, penelitian itu amat penting bagi dunia kesehatan.

tukaran link. tukar link. peluang usaha. http://www.berusahamandiri.com tempat peluang usaha.

Anak Naburju

Aku terjaga dari tidurku. Mahluk kecil ini, nyamuk, mengusikku yang pulas di bawah pohon maja,–tempat biasa kami ngongkrong sesama supir. Suara serak Solihin terdengar, berteriak memanggil penumpang. Sesekali dilongoknya kedalam angkot.

“Barat…Barat, dua lagi berangkat, Bekasi Barat…”. Petang beranjak malam.

“Berapa lagi?” kataku seraya berjalan ke arahnya

“Dua lagi, Bang”

“Sudahlah, kita pulang, tutup pintunya” kataku berteriak, seraya menaiki angkot ku.

Aku melirik ke belakang, kulihat para penumpang menggerutu. Aku pura-pura tidak tahu. Walau aku sendiri bisa merasakan kegusaran mereka. Tiga puluh menit menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Bahkan ada yang nyeletuk dari belakang “Bang, masih sempat belanja ke Mall?”, aku tersenyum kecut mendengarnya.

“Lima menit lagi bang, ‘tuh ada sewa, tunggu…tunggu” ujarnya seraya berlari kecil menyongsong penumpang.

Akhirnya setelah menunggu hampir empat puluh lima menit, kami berangkat juga. Maksudku empat puluh lima menit adalah waktu dari penumpang pertama masuk. Sebenarnya aku sudah dua jam nge-tem–istilah kami para supir angkot–, disini. Menunggu giliran.

Ini adalah rit ke-empat, sekaligus rit terakhir ku.

Jaman sekarang beda dengan sepuluh tahun lalu. Dulu, sehari aku masih bisa sepuluh rit, bahkan lebih. Sekarang, sudah jam sepuluh malam, baru empat rit. Pun, kata orang, Cikarang telah menjadi kota besar, malah penumpang makin tahun-makin berkurang. Cerita yang kudengar dari penumpang ku, mereka memilih beli motor dengan kredit daripada naik angkot. Lebih irit.

“Kalau seperti ini terus, bawa apa kita ke rumah, Bang” kata Solihin suatu malam ketika sampai di pool Bekasi Barat.

“Sudahlah, jangan kebanyakan mengeluh kau, nanti sakit maagmu kambuh” jawabku

“Cemmana abang ini, ngelantur” ujarnya dengan logat Medan. Semenjak jadi kernet Koasi K45 dan bergaul dengan banyak orang batak, logatnya jadi berubah. Sepintas, dari logatnya dia seperti orang Medan, padahal asli kelahiran Subang.

“Hubunganya jelas ada, saban hari kau mengeluh, apa kau masih selera makan?” tanyaku

“Nggak lah bang”

“Itulah, makanmu jadi terganggu, apa tak kumat penyakit maagmu?” tanyaku sambil terkekeh.

“Udalah, Ngomong sama orang batak tak ada habisnya, tak pernah menang. Pantas saja di negara ini banyak  orang batak jadi pengacara, sepertinya orang batak dilahirkan untuk  bicara ya, Bang” ujarnya terkekeh, seraya menerima uang dariku, jatahnya.

Mereka memanggilku si Birong, mungkin karena kulitku yang sedikit legam. Profesi supir angkot sudah  belasan tahun kulakoni. Berpindah-pindah trayek–istilah untuk jalur angkot– kulalui selama ini. Lima belas tahun lalu, aku bersama beberapa orang teman merintis Trayek Bekasi Barat-Lippo Cikarang.  Kala itu, perumahan Lippo ini baru berdiri. Beberapa tahun kemudian berpindah tugas dan buka trayek lain. Kupikir ada trayek yang lebih bagus, ternyata tidak dan akhirnya kembali ke sini.

Cikarang adalah kota industri dengan perkembangannya sungguh luar biasa cepat. Parbik dan perumahan dibangun di mana-mana, bahkan pertumbuhannya mengalahkan tumbuhan jamur di musim hujan. Setali tiga uang, pertumbuhan ini sejalan dengan kemacetan lalulintas. Hingga orang-orang di sini memilih naik motor dari pada kendaraan umum. Imbasnya sungguh terasa kepada supir-supir angkot seperti kami. Dulu, jam begini sudah mengantongi uang lima ratusan, sekarang, jangan di tanya.

Aku dikagetkan dering HP penumpangku, seorang ibu yang persis duduk berhimpitan di sebelahku. Aku tersenyum dengar nada deringnya. “Anakku Na burju”. Bah!, halak batak, pikirku. Tak salah kuajak ngobrol sekedar menghilangkan rasa kantuk ini.

“Ai sian dia hamu namboru,–Dari mana, Namboru?” kataku ketika dia sudah selesai bicara, aku menoleh kepadanya.

“Bah, ai halak batak do hape ho, amang–Bah, orang batak jaga kau rupanya?” katanya

“Olo, Namboru, apa namboru pikir aku orang China?” kataku bercanda.

“He..he..he..hamu nian ito, China na birong,–China hitam?” katanya

“Sian dia namboru, —dari mana namboru–” ku ulang lagi pertanyaanku

“Sian jabu ni ibotoman” katanya seraya menyebut nama salah satu perumahan di Cikarang.

Dengan partuturon, membuat batak jadi akrab. Pun, kita tidak tahu dia marga apa, tapi dengan partuturon yang umum digunakan bisa mencairkan suasana. Sungguh disayangkan jika beberapa orang tidak menghargai warisan leluhur ini. Menit berlalu, akupun jadi tahu kalau namboru ini seseorang yang bermarga Sihombing.

“Marga Pasaribu do hami, namboru–marga Pasaribu aku, Namboru” kataku.

“O,..tak apalah itu, mar-namboru juga tak apa” katanya jawabnya dengantersenyum

“Mana amangboru, tega kali membiarkan namboru sendirian di kota ini?” kataku senyum

“Ah, itu lah amang, tega kali memang Amangborumu ini. Sudah tua begini sampai hati dibiarkan sendirian di kota besar ini.” katanya membalas senyum ku

“Amangoboru tading di huta?–Amangboru, tinggal di kampung?” tanyaku, menebak.

“So holan tega paloashon au sahalakku tu Jakarta on, tega do tong maninggalhon au di portibi on–Nggak cuma tega membiarkanku sendiri di kota Jakarta ini, tapi tega membiarkan aku hidup sendiri di dunia ini” ujarnya pelan

“Ah, parlalun do hamu namboru bah, sehat iba molo dilambung muna,–ah, suka bercanda namboru ini,–”kataku ngakak. Tak kutanyakan lagi, aku sudah tahu maksudnya. Dia tersenyum. Bisa kujamin, ongkosnya gratis.

“Aku baru pulang dari Bandung, wisuda laemu di sana seminggu yang lalu, di ITB, anakku nomor tiga. Seminggu aku di Cikarang ini, sebelum pulang ke Toba aku ke rumah ibotoku dulu di Bekasi, ibotomu par-Cikarang ini tak bisa mengantarkanku ke Bandara, bohama patagam-haroan,–hamil tua–, dari Bekasilah aku berangkat, besok” ujarnya menjelaskan.

“Bah, hebat kali, namboru. Lae itu berapa bersaudara semua?” kataku dengan logat Medan yang kental, penuh takjub

“Empat Amang, paling besar perempuan, itulah yang di sini sudah menikah, nomor dua di Medan, dan nomor tiga perempuan kuliah di UGM Jogja, tingkat empat” katanya bercerita.

“Bah..bah, martua nai ho namboru” kataku

“Beginilah nasib seorang janda, aku mensyukurinya” katanya bijak

Aku membisu sejenak. Untuk kesekian kalinya aku mempercayai kata bijak orang batak, banyak berkat pada seorang janda. Gumodang do pasu-pasu dilehon Debata tu namabalu. Kalimat bijak ini harus diartikan dengan bijak pula, supaya tidak salah pengertian. Aku membayangkan, betapa kokohnya tangan perempuan tua yang duduk di sampingku ini. Mampu menyekolahkan empat anaknya jadi sarjana semua. Apapun pekerjaanya, maka dia diberkati penuh. Aku yakin itu.

Aku tak melihat guratan kecemasan di wajahnya. Yang ada adalah wajah optimis dan ceria. dari ceritanya, bisa kutebak kalau umurnya di atas lima puluh lima tahun.

“Aut gari pidong namartonga langit diparmudu Debata, –sedangkan burung di udara dipelihara Tuhan–, percaya nggak kau, Amang?” tanyannya

“Iya, Namboru” kataku pelan.

“Kau sendiri, Amang?, berapa paraman itu?”

“Lima, Namboru. Buhabajuku di Medan Kuliah, USU. Bulan depan rencananya mau wisuda”

“Bah, hebat juga kau, Amang” katanya

“Begitulah Namboru, dia dapat beasiswa dari negara, kalau uangku sendiri manalah cukup membiayai kuliahnya. Untuk sekolah adeknya empat orang, saja rasanya tak terpenuhi, berapalah penghasilan seorang supir angkot” kataku pelan

“Jangan mengeluh amang, Bersyukurlah pada Tuhan, ‘kan sudah kubilang tadi…” katanya, sambil mengulang kalimat sebelumnya.

“Begitulah, Namboru”, kataku. Lalu aku menceritakan satu persatu tentang  kelima anakku

Semenjak Horasman, –anak sulung ku– diterima di USU, rasanya tak ada hal yang lebih berharga di dunia ini daripada menjadi seorang ayah dari Horasman, mahasiswa USU. Aku cuma seorang supir angkot.

Aku selalu bangga bercerita kalau sulungku adalah seorang mahasiswa USU, yang walau tak tahu dengan detail jurusan dan hendak jadi apa setelah tamat dari sana. Rasanya, akulah manusia yang paling bahagia di dunia ini. Tak bosan-bosannya aku menceritakan sulungku ini.

Yang lebih membanggakan, ketika aku mengunjungi seorang teman sesama supir angkot, mereka menasihati anaknya dengan mencontohkan si Horasman.

“Kau lihat itu laemu, si Horasman, biarpun bapaknya cuma supir angkot dia bisa kuliah, di USU lagi, contoh lah dia” katanya. Aku tersenyum senang.

Di komunitas sesama supirpun, aku merasakan, omonganku semakin didengarkan oleh teman-teman. Dahulu, mereka seing menggodaku ketika kuajak minum alkohol, sekarang malah mereka melarangku minum.

“Atur kesehatanmu, nga matua daging, Tulang–jaga kesehtan Tulang, ingat umur” kata Japadot, rekanku supir.

“Bagaimana kabar si Horasman, Tulang, kapan wisuda” tanya Jabottar, seorang kernet ketika kami sama-sama menunggu penumpang. “Ah,..masih lama, Amangboru baru tingkat empat, setahun lagi” jawabku sambir tersenyum.

“Bah, cocok nya kau pakai Jas, di hari Wisuda si Horasman nanti, Lae?” kata amanJarikkot, temanku yang juga supir

“Bah, kau ragukan penampilanku?”, aku balik bertanya.

Aku membayangkan berdiri dengan Nai Horasman mengapit anak sulung kami berfose untuk di foto di depan Kampus USU. Dibelakang kami terpampang krans bunga besar. Disana dituliskan “Selamat Wisuda, Horasman Pasaribu, Sarjana…..–aku tak tahu persis apa gelarnya nanti–”. Lalu beberapa orang akan menyalamiku, termasuk tulangnya si Horasman.

Aku juga membayangkan, istriku akan pakai kebaya. Akan tampil secantik mungkin di hari wisuda anak panggoaran kami. Itulah angan ku saat saat itu, setahun yang lalu. Dan, jika Sang Pencipta berkehendak, itu pasti terjadi.

*   *   *

Aku merebahkan punggungku ke dipan panjang di pool ini. Siang  hari dijadikan warung, dan malamnya  jadi tempat rupir tidur atau sekedar melepas lelah. Rasanya remuk redam. Kusatukan beberapa kursi panjang untuk kubuat dipan. Sesayup, terdengar suara Martua dengan suara khasnya, masih terkekeh. Mereka masih asyik bercerita. Aku merogoh kantungku dan mengambil telepon genggam.

“Nga modom ho–Sudah tidur?” tanyaku.

Aku menelepon istriku. Hanya sekali seminggu aku pulang ke rumah. Kadang, pernah dua minggu. Pulang hanya untuk menyetor uang buat belanja dan uang sekolah ketiga anakku. Seperti kataku tadi, anakku ada lima. Tapi yang tinggal bersama dengan kami tiga orang. Anak kebanggaanku yang lain, nomor dua, juga di Medan. Cerita lain dari kehidupan ini dengan lakon anakku nomor dua ini akan ku untaikan.

“Dang dope,–belum” kudengar suara istriku dari seberang.

“Nga modom dakdanak,–anak-anak sudah tidur?” tanyaku lagi

“Sudah, aku lagi memikirkan uang sekolah mereka, minggu depan harus bayar”

“Iya, sudahlah, nanti kau makin sakit, aku sudah ada uang lima ratus ribu, uang sekolah si Lamhot pasti kita bayar, dua hari lagi aku pulang” kataku menghiburnya, padahal tak ada uang sebesar itu di kantongku. Toh, kalau terpaksa, paling pinjam uang dari Toke. Istriku memang sedang sakit. Beberapa hari yang lalu, dia mengeluh kepadaku. Aku merasa kalau dia sakit karena terlalu memikirkan anak-anak kami.

“Bapak, dimana?”

“Di pool”

“Masih tidur di lapak itu?” tanya istriku, maksudnya warung tenda.

“Iya, di mana lagi”

“Pa, jangan sampai sakit ya, ingat umur, pakai baju dua bila perlu, biar tidak masuk angin” ujar istriku menasehatiku, aku tahu dia khawatir. Kami bercerita panjang lebar, hingga kumatikan teleponku.

Sebenarnya, dia memintaku pulang kerumah setiap hari. Jarak rumahku, di Babelan, Bekasi Utara dengan Pool ini lumayan jauh. Kurasa, ongkosku kesana tiap hari bisa kutabung dan kuberikan pada istriku. Belum lagi soal waktu. Pagi-pagi benar aku harus bekerja. Jam kantor di Cikarang  rata-rata jam 7.00, artinya jam enam pagi, aku harus bekerja.

Aku terbuai dalam lamunan ku. Aku bukanlah ayah yang baik bagi anak-anakku. dari kecil mereka jarang kudampingi. Bahkan aku tak tahu bagaimana mereka bertumbuh hingga remaja seperti saat ini. Aku jarang bertemu dengan mereka, tentunya jarang pula berbicara dengan mereka. Urusan anak-anak, segalanya kuserahkan pada istriku, Nai Horasman.

Teringat peristiwa tiga tahun lalu. Ketika Lamhot disuruh gurunya pulang dari sekolahan. Istriku memaksaku pulang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Lamhot.

“Pa, aku disuruh pulang dan tak dibolehkan ikut ujian” kata Lamhot dengan wajah memelas. Aku menatapi wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Aku sadar kalau dia sudah menungga sepuluh bulan uang sekolahnya.

“Sudah kau coba meminjam ke tetangga, Ma?” kataku pada istriku.

“Sudah, tak ada yang bisa menolong” katanya Aku maklum, mungkin karena utang kami untuk biaya masuk anakku nomor emat ke Es Em Pe belum kami lunasi. Dan aku juga berpikir, kalau harus meminjam ke Toke, rasanya tak mungkin lagi. Kasbon ku di Toke juga ada.

“Pasti ada jalan” kataku pada Lamhot, seraya menepuk pundaknya.

Aku mencoba meminjam uang sejuta delapan ratus rupiah–sebanyak uang tunggakan uang sekolah Lamhot– ke beberapa penetua gereja kami, tapi tak berhasil. Aku melakukan itu, karena aku yakin mereka pasti mau membantu. Lamhot sudah tak asing lagi bagi mereka. Dia seorang guru Sekolah Minggu. Di usianya yang masih belia itu, dia telah mempersembahkan dirinya, menjadi Pelayan di rumah-Nya.

Itulah kebanggaanku pada diri seorang Lamhot.

Bahkan, di rumah dan di lingkungan tempat kami, dia seorang panutan. Aku mendengar sendiri pembicaraan teman sekampung. “Contoh lah si Lamhot, rajin bantu ibunya, rajin belajar dan pintar”. Tak heran memang, dia rangkin satu di kelasnya.

Aku tak berhasil memecahkan masalah. Aku pulang.

“Maafkan Bapak, Nak. Aku tak berhasil” ujarku lirih Istriku diam mematung, Lamhot juga membisu.

“Nak, sepertinya kau harus berhenti sekolah, tapi Bapak janji, tahun depan kau pasti bisa sekolah” kataku. Mau apa lagi?.

Hanya itu yang bisa ku ucapkan. Raut kesedihan yang teramat dalam di wajah Lamhot. Akhirnya, aku mengurus surat berhenti sekolah. Aku tertegun melihat raport anakku, Lamhot. Bah, kenapa harus kau yang menderita, Nak. Tak bisa ku bayangkan seorang anak yang pintar harus berhenti sekolah karena biaya. Halaman demi halaman kubuka. Nilai-nilainya semua sempurna. Benar kata tetanggaku, Lamhot seorang  juara kelas. Aku orang tua yang tak bertanggung jawab, air mataku mengalir membasahi pipiku. Ku usap rambutku nyang kusam. Menyesali ketidak mampuanku.

Setahun Lamhot menganggur.

Saudaraku marah besar begitu mengetahui masalah ini. Hanya gara-gara uang sejuta delapan ratus sekolah anak harus di korbankan. Aku berterima kasih kepada Pencipta juga kepada saudara-saudaraku, karena kepedulian mereka, akhirnya Lamhot bisa melanjutkan sekolahnya kembali. Di Medan. Cerita dari istriku, dia sekolah sambil bekerja. Pulang dari sekolah dia bekerja, menghidupi dirinya sendiri. Itulah anak kedua ku, Lamhot.

Sayup-sayup kudengar lagu Anak Naburju dinyanyikan teman-temanku di seberang sana.  Itu pasti Suara Solihin. Dia hapal betul beberapa lagu batak. Aku tersenyum. Nyanyian itu mengingatkan ku pada anak-anakku.”Huhaholongi do hamu saluhut anakkonhu” kataku lirih. Rasanya, aku ingin memeluk mereka, satu persatu. Ingin ku tumpahkan rasa rinduku pada mereka. Akhirnya badan ku meringkuk lemah. Terbuai dalam mimpiku. Dingin nya malam tak ku hiraukan lagi. Aku tertidur pulas, terbang bersama mimpiku.

Hari esok akan datang, pasti lebih baik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.984 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: