Seklias Tentang Mangaraja Hezekiel Manullang

“Saudara-saudara kita jang menjadi koeli selamanja hidoep sebagai kerbau pedati dan kerbau badjak, kena hantam poekoel, tjoetji maki dan berbagai siksaan kaoem planters (toean-toean keboen) sedjak dari ketjil sampai chef-nja semoe memandang sebagai perkakas jang tidak berperasaan boleh dipengapakan sadja”

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/manullang-tuan/berita/02.shtml

Soeara Batak Perlawanan terhadap kolonialisme Belanda lewat media jurnalisme juga terjadi di Tarutung. Tokohnya MH(Mangaraja Hezkiel) Manullang. Pada tahun 1919, ia menjadi pimpinan redaksi sekaligus editor surat kabar Soara Batak. Bertindak sebagai penerbit adalah perkumpulan HKB (Hatopan Kristen Batak).

MH Manullang selain menjabat sebagai pimpinan redaksi Soara Batak, juga dikenal sebagai salah seorang pemimpin rakyat di Tarutung. Soera Batak lahir sebagai reaksi terhadap rencana pemerintah Hindia Belanda yang pada tahun 1916 telah menyetujui untuk menyerahkan konsesi perkebunan besar asing di wilayah Tapanuli Utara. M.H. Manulang tidak menginginkan tanah-tanah yang masih kosong di Tapanuli Utara untuk “di-tanah Deli-kan kepada para pemodal asing.

Perasaan anti kolonialisme M.H. Manullang sangat tajam sebagaimana dapat dilihat pada kupasan berikut: “Saudara-saudara kita jang menjadi koeli selamanja hidoep sebagai kerbau pedati dan kerbau badjak, kena hantam poekoel, tjoetji maki dan berbagai siksaan kaoem planters (toean-toean keboen) sedjak dari ketjil sampai chef-nja semoe memandang sebagai perkakas jang tidak berperasaan boleh dipengapakan sadja”. (H. Mohammad Said:1978).

Gaya tulisan M.H. Manullang memang bisa dibilang provokatif untuk ukuran masa itu. Barangkali ini juga sekaligus juga cerminan dari tipologi masyarakat Batak yang kalau bicara biasanya lugas tanpa tedeng aling-aling.Ketika Soara Batak pertama kali terbit, surat kabar ini juga sudah langsung menyatakan solidaritasnya dan menyindir pedas penangkapan dan penahanan terhadap Parada Harahap. Sebagaimana diketahui, Parada Harahap dikenal sebagai raja delik pers dari Sumatera Utara.

Ini berkaitan dengan tulisan-tulisan Parada yang banyak terkena pers delik akibat kecaman-kecamannya terhadap pemerintah Hindia Belanda. Sewaktu tinggal di Sibolga dan memimpin harian Sinar Merdeka, Parada terkena sebanyak 12 kali pers delik. Sebelum terjun ke jurnalistik, Parada pernah bekerja sebagai kerani pada perkebunan Soengai Dadap, milik H.A.P. Mij pada Kantor Besar Boenoet, Kisaran. Karena dinilai cakap dalam menjalankan pekerjaannya, dalam tempo dua tahun gaji Parada naik dari f 10 menjadi f 100. Itu artinya naik hampir 10 kali lipat!Dalam bukunya “Pers dan Jurnalistiek” yang sebagian merupakan autobiographie-nya, Parada menuturkan antara lain bahwa: “suatu hal yang menarik hati administrateur, adalah kerasnya ingatan saya. Hafal di kepala saya nama-nama dan tempo kontractnya 3000 koeli laki-laki dan perempuan.

Walau menempati posisi yang menguntungkan secara ekonomi, namun Parada tidak bisa menutupi mata hatinya tentang penderitaan para koeli kontrak. Oleh karena itu pada suatu waktu Parada mengirimkan surat pembaca yang berisi tentang nasib para koeli kontrak tersebut ke Pewarta Deli, surat kabar yang ia langgani. Namun Parada tidak menduga kalau surat itu oleh pihak redaktur Pewarta Deli dijadikan tajuk karangan dengan inisial P. Sejak itu Parada menjadi terpicu untuk aktif menulis di Pewarta Deli. Pada 3 Agustus 1919, Parada Harahap menerbitkan surat kabar Sinar Merdeka di Sibolga.

Tahun 1922 Parada Harahap kemudian hijrah ke Jakarta dan tahun 1926 ia kemudian menerbitkan surat kabar Bintang Timoer yang terkenal itu.Soara Batak menulis: “Kandang koeda assitent resident lebih cantik dari boei”. Dalam edisi perdananya, Manullang juga menulis sebuah manifesto, yang mencerminkan sikap anti kolonial sekaligus tumbuhnya kesadaran akan rasa nasionalismenya, yang kerap dicampurbaurkan dengan bangsa Tapanuli: /Sebagaimana masa kini merupakan masa perubahan, pergerakan dan konflik yang ditujukan untuk mencapai hak-hak asasi manusia, persamaan hak, hak nasional, perkumpulan-perkumpulan muncul di mana-mana yang tujuannya untuk mencapai kemerdekaan dan kehidupan yang baik; perkumpulan-perkumpulan bangsa kita bermunculan bak jamur musim hujan. Dalam perjalanan waktu, bahwa bangsaku, bangsa Batak, telah mulai mengerti arti solidaritas, bukankah begitu?/ ….. Saudara-saudaraku!/ Lihatlah tanah kita yang disewakan oleh Guiernur Jenderal kepada para kapitalis karena kita tidak mengerjakannya/ Tanah kita itu …. menghasilkan untung besar; semua pemegang saham Eropa dan Amerika dengan gembira membagi-bagi keuntungan yang berlipat ganda…….” (Lance Castle: 2001)

Pada bulan Desember 1920, Manullang terkena delik pers ketika Soara Batak memuat tulisan tentang konsesi “Pansoer Batu”. Pansoer Batu adalah areal tanah seluas 1.020 bau yang hendak disewakan (erfacht) kepada pengusaha perkebunan Eropa. Namun masyarakat Pansoer Batu menolak menyewakan tanah mereka dan tetap menanami tanah tersebut. Akibatnya sebanyak 12 orang pemimpin rakyat ditahan selama 12 hari dan disuruh membayar denda f 10 karena dituduh sebagai dalang yang mempengaruhi rakyat Pansoer-batoe melawan kebijakan pemerintah Belanda. Sebelum terkena pers delik pada surat kabar yang dipimpinnya, M.H. Manullang juga pernah menulis kasus Pansoer Batu pada surat kabar Poestaha, yang terbit di Padang Sidempuan.

Pada Poestaha edisi 4 Juli 1919, M.H. Manullang menulis: “Teman-teman Batak! Dengan sangat menyesal saya memberitahukan kepada Saudara-saudara: tanah di Pansurbatu di subdistrik Tarutung telah dicuri oleh pengisap darah (kapitalis bermata putih). Ada ribuan pohon kemenyan dan ratusan bau lahan yang ditanami padi, milik saudara-saudara kita, tetapi pemerintah di Tapanuli tidak melarangnya … sekarang kita mengetahui bahwa pemerintah hanyalah bersandiwara.” (Lance Castle: 2001)Manullang sendiri akhirnya dihadapkan ke raad van justisi (Pengadilan Tinggi) Padang.

Sesudah perkarasanya diproses selama kurang lebih setahun oleh raad van justisi, Manullang kemudian diputuskan untuk menjalani hukuman kurungan selama setahun di penjara Cipinang, Jakarta. Pengganti Manullang adalah Soetan Soemoeroeng, yang juga dikenal memiliki sikap anti kolonialis Belanda. Sama halnya dengan Manullang, Soemoeroeng juga terkena delik pers, ketika Soara Batak pada terbitan 2 dan 6 Juni mengupas soal konsesi Sioebanoeban dan Pansoer Batoe. Soemoerong kemudian disidang oleh Pengadilan Kerapatan Besar Tarutung pada tanggal 7 Februari 1924. Kemudian diputuskan bahwa Soemoeroeng dihukum 1,5 tahun penjara karena dinggap telah melanggar pasal 207 dan 145 KUHP Hindia Belanda, yaitu memberi rasa malu dan menerbitkan bibit kebencian antara rakyat dan pemerintah.

Tanggal 5 Juni 1924, Residen Sibolga memperteguh putusan rapat, dan setelah grasi Soemoeroeng ditolak Gubernur Jendral Hinda Belanda, maka pada tanggal 27 Oktober Soemoeroeng dibawa ke Sibolga untuk menjalani hukumannya. Akibatnya Soeara Batak tidak terbit lagi. MH Manullang sendiri sekeluar dari penjara Cipinang pada tahun 1924, kemudian menerbitkan koran baru bernama Persamaan. Kemudian ketika pindah ke Sibolga Persamaan diubah namanya menjadi Pertjatoeran. Semangat anti kolonialisme M.H. Manullang rupanya tak pudar walau ia sempat mendekam selama setahun di penjara.

Pertjaturan edisi 9 Juli 1925 (Soebagijo I.N: 1981) misalnya dalam tajuknya di hamalan muka menulis: /Dr. Adam memukul wanita Tiong Hoa, tetapi oleh Pengadilan dinyatakan bebas/Seorang jonggos memegang tangan seorang noni, tanpa meninggalkan bekas apa-apa; kecuali hanya disangka hendak berbuat kurang baik terhadap noni itu, dijatuhi hukuman 8 bulan penjara/Korupsi yang dilakukan pejabat kulit putih sampai puluhan bahkan ratusan ribu gulden, hukumannya hanya separo dari apa yang tercantumkan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana/ Seorang Kepala negeri menyelewengkan seratus gulden diganjar hukuman sekian tahun/Dimanakah keadilan, persamaan dan kemanusiaan yang disebut undang-undang akan berlaku sama rata dalam keadilan? (Harian Analisa, Medan, 10 Februari 2004) ►ti/

BIODATA

Nama: Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang

Nama Panggilan: Tuan Manullang

Lahir: Tarutung, 20 Desember 1887

Meninggal: Jakarta, 20 April 1979 (dimakamkan di Tarutung)

Ayah: Singal Daniel Manullang

Ibu: Chaterine Aratua boru Sihite

Isteri: Boru Sihite

Anak:

5 orang putra, 4 orang putrid

Pendidikan:

- Sekolah Raja di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara

- Senior Cambridge School, Singapura, 1907- 1910

Karir:

- Pendiri dan penerbit surat kabar Binsar Sinondang Batak (BSB), 1906

- Guru Sekolah Methodist, 1910

- Pendiri organisasi social politik Hatopan Kristen Batak (HKB)

- Pendiri dan Pemimpin Redaksi surat kabar Soara Batak (1919-1930)

- Memprakarsai Persatuan Tapanuli (1921) dan Persatuan Sumatera (1922)

- Dipenjara di Cipinang 1922-1924 akibat tulisannya menentang penjajah Belanda

- Menerbitkan koran Persamaan, 1924 yang kemudian diubah namanya menjadi Pertjatoeran di Sibolga

- Melaksanakan Kongres Persatuan Tapanuli, 17 Februari 1924

- Bersama rekan-rekannya mendirikan Huria Christen Batak (HChB) sebagai gereja yang berdiri sendiri, 1 Mei 1927 – HChB berubah menjadi HKI (Huria Kristen Indonesia), 1950

- Kepala Penerangan Tapanuli, sampai Proklamasi Kemerdekaan

- Menjadi pendeta setelah lebih dulu mengikuti pendidikan kependetaan, pada usia 52 tahun

- Pensiun penuh dengan pangkat Bupati pada usia 70 tahun

Penghargaan:

Pemerintah RI pada tanggal 2 Oktober 1967 menganugerahi penghargaan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan

About latteung

Saya..... yang selalu menuliskan pikiran yang terlintas... merenung sejenak, lalu menulis...

Posted on 4 Oktober, 2010, in RAGAM NAMASA. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.984 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: