Adat Batak, Catatan Kecil yang berasal dari Kegalauan Hati.

Dari puluhan koleksi buku bertema habatahon yang saya baca dari tadi malam hingga pagi ini, tak satupun kutemukan kalimat yang menggambarkan adanya patokan sejumlah uang dengan prosesi adat batak. Referensi lain adalah website www.tanobatak.wordpress.com –sebuah blog yang sarat dengan pemahaman akan budaya batak, juga tak kutemukan hal diatas.

 

Aku teringat diskusi kami dengan seorang sahabat dari suku flores. Beliau punya saudara mau menikah dengan boru batak. Ini adalah kejadian kedua kali dia alami. Pertama harus batal karena tak mampu membayar sejumlah uang untuk menikahi boru batak. Kini, dia dihadapkan kembali pada masalah yang sama. Pertanyaan yang membuatku terguncang adalah, apakah pernikahan dalam adat batak itu harus menelan biaya puluhan juta rupiah (dipatok antara empat puluh hingga limapuluh juta )?.

Semampuku menjelaskan. Membedakan antara adat dan pesta. Prinsipnya, adat batak  berbeda dengan pesta. Kalau pesta, ratusan juta hingga miliaran rupiah pun akan habis. Tapi adat, sedikitpun tak berpatokan pada nilai materi. Tujuan utamanya adalah bagaimana kedua belah pihak disatukan dalam sebuah ikatan holong-kasih, saling mengerti, mengenal  dan berbagi nantinya kedua mempelai yang dipertemukan (red; diadatkan)  akan bahagia selamanya.

Tak ada patokan berapa besar uang. Sinamot yang menurut dia harus disediakan sebanyak diatas adalah tuntutan adat. Aku tertegun mendengarnya. Aku ingin membuka cakrawala bepikir tentang budaya batak. Entahlah, biarpun kujelaskan dengan baik tapi perasaan di hati tetap saja masyugul. Sudah sedemikian parahnya kah pemahaman orang batak tentang budayanya sendiri?. Kini Sinamot menjadi Momok. Saya teringat note amang  Suhunan Situmorang yang menjelaskan, bagaimana Sinamot itu menjadi hal yang menakutkan.

Bicara soal pemberian marga ketika harus diadatkan, ini juga tak ada korelasinya dengan patokan sejumlah uang.  Kenapa harus diberi marga?, karena mempelai akan diadatkan. Hanya orang batak yang bisa melaksanakan adat batak. Dan syarat utama menjadi orang batak adalah Harus punya marga. Hubunganya adalah Adat Dalihan Natolu. Dongan Tubu, Hula-Hula dan Boru. Jadi tujuan utama pemberian marga adalah supaya mempelai bisa diadat-batakkan.

Bukankah sekarang orang batak doyan menyematkan marga pada pejabat, toh tak dibayar. Hanya dengan mengucap simsalabim, maka jadilah dia batak. Lalu kenapa ketika seseorang iklas, ingin menjadi bagian dari batak yang seutuhnya dan tentunya mau memakai marga batak, kita persulit, harus mengadakan ritual dan membayar sejumlah uang untuk biaya pesta?.

Kembali teringat pembicaraan dengan BapaUda Monang Naipospos, pemerhati budaya batak di LaguBoti, menurut beliau semua hal-hal yang berhubungan dengan ritual budaya dipersatukan dalam ikatan Holong. Adat batak dilakukan hanya karena ada holong, kasih. Tidak ada keharusan, tak ada kewajiban yang terpaksa yang ada hanyalah hubungan dinamis kedua belah pihak yang diikat dengan holong.

Kini, pelaksanaan adat semakin mengerucut pada arah meterialistik. Tak hanya adat pernikahan, ada kematian pun dilakukan dengan seenaknya. Melihat kedudukan dan kondisi ekonomis tuan rumah, semua  bisa diatur. Sekarang, status seorang orang tua bisa ditentukan, mau sarimatua atau saurmatua, nego sana sini jadilah apa yang diinginkan tuan rumah.

Saatnya orang batak menghancurkan egoisme dalam pelaksanaan adat batak. Ketika adat batak dipertontonkan seperti sekarang ini maka yang bertanggung jawab adalah orang tua, para pendahulu. Saya yakin, jika di survey, maka orang muda akan mengaku bahwa adat batak adalah seperti yang biasa mereka lihat sekarang ini.

Orang muda banyak protes dengan ritual adat batak yang bertele-tele. Hemat saya, yang bertele-tele itu adalah acara yang tak penting. Setiap mangulosi selalu minta lagu/musik. Bahkan ulos helapun sekarang ditor-tor tortori, entah sejak kapan ini mulai. Seyogianya, petuah dan kata-kata berkat dari semua undangan yang hadirlah dibutuhkan pengantin. Pesta adat bukan ajang mardisko dan marpoco-poco. Semua harus tertuju pada pengantin, memberikan kata-kata nasehat dan memberikan harapan-harapan pada keluarga yang berbesan.

Sekarang ini, ritual adat dikalkulasikan dengan rupiah dan jumlah ulos yang akan didapat setelah pesta. Kekecewaan akan terpancar diwajah bila ternyata, tumpak yang didapat jauh dari harapan. Bahkan berujung pada hutang. Dan indikasi lain, timbul rasa tidak enak pada dongan tubu, satu marga,. karena tumpak yang diberikan ternyata jauh dari harapan. Kebanggaan akan timbul bila pejabat mengulosi pengantin.

Sudah karang perkawinan adat batak dilaksanakan di rumah. Padalah, kalau mau, hal itu bisa dilaksakanan. Toh, ketika kita menempati rumah, maka kita selalu berharap rumah itu menjadi tempat yang penuh berkat. Segala sesuatu dimulai dari rumah, maka ketika anak menikah, hendaklah diberangkatkan dari rumah. Seyogianya, kedua keluarga yang saling berbesan harus saling mengunjungi.

Inilah adat batak jaman sekarang. Mau tak mau semua menerima. Yang membangkan, akan dikeluarkan dari komunitas adat. Sepuluh tahun kedepan, kalau tak ada photograper, musik/ trio yang mengiringi pesta pernikahan akan dianggap tidak sesuai adat batak.

About latteung

Saya..... yang selalu menuliskan pikiran yang terlintas... merenung sejenak, lalu menulis...

Posted on 12 Februari, 2011, in ADAT. Bookmark the permalink. 42 Komentar.

  1. betul kali itu lae..

    ito ku menikah tahun lalu,
    bertele-tele dan hampir tidak masuk akal,
    uang yang habis untuk acara adat itu harusnya bisa untuk beli sebidang tanah dan membangun rumah sederhana untuk keluarga mereka.
    dan sekarang mereka tinggal dikontrakan. ini fakta, dan aku pikir memang harus direnungkan oleh senior-senior, amang-amang kita.
    mereka pasti pun tak mau melihat anak dan borunya ‘sengsara’ hanya karna materi mereka ludes buat acara itu kan.

    bagaimana supaya koneksi keluarga yang dipelihara salah satunya melalui acara adat bisa dilakukan tanpa harus membuat kita bangkrut sementara secara materi.

    gimana supaya adat bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi zaman sekarang. karena kita juga yang muda-muada dan bau kencur gak mau disebut dang maradat dan semacamnya.

    semoga ini jadi perenungan,dan ada solusinya. karena aku pun dah pening mikirin macam manalah aku nanti kalo menikah nanti…kalo begini caranya..bukan nya Gayus pula aku lagi..hahaha

    • Lae Dolok ( ai ibotomuna br. tambunan do hualap)

      Sabotulna, nahudok disi ima, boha asa adat batak i mulak tu bonana. kembali kepada harkatnya, originalistasnya, ajaranya dan palsafah aslinya. Banyak sekali praktek dan perlakuan orang batak yang menurutku telah merusak tatanan adat fan palsafah kebatakan yang telah diciptkan oleh leluhur kita.

      seloah, adat itu sebuah sandiwara, bak sinetron yang dipertontonka dimuka umum. seorah. Makna adat dipandang dan dinilai secara materil saja. pemikirn yang picik bukan?.

      Padahal, pendahulu kita menciptakan budaya itu dengan tujuan untuk mengharmoniskan hubungan antara batak yang satu terhadap yang lain. menghilangkan strata ditegah kehidupan bermasyarakat.

      Sementara, sekarang, kita bisa melihat, uang bisa merubah segalanya bukan?

  2. jgn terlalu egoislah tuk mengomentari adat kita ..karna adat kita dulu lah yang membuat kita jdi hebat

  3. Tulisan yg menarik ito…saya sebagai boru batak sebenarnya sering mempertanyakan tujuan adat yg dijalankan secara bertele-tele dan selalu tergantung pada materi.
    kalo gak pny duit, ya gak bs pesta adat. kalo gak bs pesta adat, ya gak bs nikah.
    kalo gak pny duit buat sinamot, ya gak bs nikah.
    kalo gak pny duit buat dimargain, ya gak bs nikah.
    sedih amat.
    kalo gak menikah dgn adat, maka dikucilkan dr komunitas.
    sedih amat.
    kalo boru batak tidak menikah dgn lelaki batak atau org yg dimargakan, tidak bs disebut boru batak lg. marganya hilang. (??)
    sedih amat.

    tp knp saya gak pernah mendapatkan jawaban yg bs diterima akal atas pertanyaan saya.
    jawabannya selalu sama : “ya emang begitulah adat batak itu”
    jawaban kosong, yg tidak pny dasar, dan terkesan menghindar, spy tidak dianggap tidak mengerti, pdhl sbnrnya tidak mengerti sm sekali.

    Mauliate sharingnya, ito….sedikit membuka pikiran saya ^.^

    • Horas ito,

      Kira-kira apa pendapatmu mengenai tulisan saya itu?

      salam

    • @Marini,janganlah bersedih Inang.**:Adat Batak itu adalah fleksibel,tergantung kepada indipidu masing-masing HASUHUTON.kata kunci untuk adat batak “DALIHAN NATOLU”dongan tubu,boru,hula-hula,kalau sudah lengkap kehadiran yang tiga kelompok ini dalam suatu pesta adat batak adalah sudah sah maradat.soal besar kecilnya pesta tergantung yang punya ulaon(hasuhuton).Saya telah mengikuti pesta adat batak Pangolihon Anak/Pamulihon Boru di Jakarta ini mulai dari Pestanya minjam Rumah,aula kecil,gedung pertemuan sampai di grand Mangaraja.konteksnya sama saja “manjalo/manggarar adat na gok”.dan status yang di dapatkan pengantin sama saja telah di ADATI.jadi jangan sungkan untuk menunjukkan jatidiri yang sebenarnya,ada petuah yang mengtakan”Onggang marbabang Amporik mallipik,habang-habang tingki haleon.Gabe do parsinamot na godang,gabe do nang parsinamot na otik molo dung las roha manjalo dohot mangalehon.”.
      **:Adat batak di Jakarta ini,kalau dikategorikan secara umum sudah sangat maksimum dalam pelaksanaannya.biasanya prosesi Adat mulai dilaksanakan jam 12.00.dengan ratusan undangan semuanya akan dapat giliran masing-masing tak terkecuali siapapun yang datang ke undangan itu,semuanya pasti berhadapan langsung dengan Hasuhuton.yang namanya pesta harus bersukacita.dan setiap yang berhubungan dengan kerjaan sosial pasti harus berani berkorban a l ;waktu,materi dan tenaga kita harus siap sebagai mahluk sosial untuk melakoninya.dalam kurun waktu lebih kurang 6 jam apakah kita harusmengatakan itu kerjaan yang bertele-tele untuk menghadapi ratusan orang???.kita bisa lihat contoh kalau tetangga sebelah bikin hajatan,pengantin dan hasuhuton mulai dari jam 10.00 sampai jam 21.00 harus stanby menyambut tamu yang datang,nah lo siapa yang lebih lama???.soal undangan begitu nyampai bisa langsung pulang,ya di Ulaon kita juga bisa Permisi dan menitipkan apa yang perlu.

      semoga tulisan ini dapat membuka hati kita untuk mencintai budaya batak yang tidak menjiplak budaya dari seberang.dalam arti yang asli dan bangga untuk memilikinya.
      Horassss.

  4. Maaf baru ikut nimbrung,

    Sebenarnya untuk mengadakan suatu acara tentu membutuhkan materi. Baik itu adatnya atau pestanya. Yang membuat besar biaya pada saat acara pernikahan adalah pada saat pestanya (resepsinya). Kalau untuk adatnya tidak banyak biaya yang dikeluarkan. Semakin besar kita undang yang hadir tentu semakin besar biaya untuk menjamunya. Saya ingat kata-kata calon mertua saya waktu mau merencanakan pernikahan “Adat na gelleng manang adat na balga tong do adat, di jolo jabu pe boi do marpesta” Sungguh pemikiran yang modern. Kalau pesta adat na gelleng (maksudnya di rumah cukup koq biaya 5-7 juta dilaksanakan di halaman rumah). Tahun lalu saya juga melaksanakan pesta pernikahan adik saya dengan biaya 14jt, malah di wisma tanpa video/foto, cukup 1 keyboard dan seruling yang mengiringi dengan jamuan makan 550 orang. Komplit koq adatnya. Yang penting pada saat marhusip atau martumpol sudah ada kesepakatan kedua belah pihak.

    • Lae herbet,…

      Itu dia point utamanya. Betul kata lae, bahwa semuanya berdasarkan kesepahaman tentang adat itu sendiri. Sedihnya, saat ini banyak yang menggeneralisasikan kalau adat batak itu seperti yagn dipertontonkan di aula seperti saat ini….

      bila kita memahami makna yang sebenarnya maka sungut-sungut itu takkkan muncul bukan?

      horas ma

  5. Kita harus belajar menghargai budaya kita sendiri,janganlah kita mamandang adat batak itu dengan sebelah mata.Adat batak itu telah berkembang sesuai perubahan jaman.kalau kita kembali untuk mengikuti prosesi adat batak tempo doeloe apakah kita yang sekarang ini bisa menerimanya..saya kira lebih dari 50% telah kita tinggalkan,prosesi mana yang bisa bertahan sampai saat ini sudah jelas bisa diterima oleh kebanyakan kalangan dan sesuai dengan keimanan kita.memang tidak di pungkiri adat budaya batak yang kita lakoni saat ini ada saja hal-hal yang tidak diterima oleh sebagian kalangan dan ini yang perlu kita benahi sebagai generasi penerus,jangan malah kita langsung memvonis bahwa itu salah dan maunya kembali ke jaman dulu.Adat itu telah beradaptasi sampai dengan ke generasi sekarang.dan tentunya selalu hal yang terbaik yang kita pilih.Salah satu upaya untuk melestarikan budaya Batak kita harus mau terjun ke barisan depan untuk membantu dewan dewan adat yang ada di komunitas masing-masing Marga dan ikut berperan aktif untuk meng-arsitek-i kerangka-kerangka adat untuk menuju yang terbaik.kalau generasi penerus bisanya cuma mengumpat,memprotes tanpa mau memberi solusi lebih baiklah dia diam,supaya budaya batak tetap eksis sesuai tuntutan jaman dan bukan hanya jadi tinggal kenangan.SALAM @Raja huta.

  6. Emang kl nikah scra agama dan negara saja tanpa prosesi adat, jd gmana rupanya hidup ini? Hanya bakal jd diomongin “tidak beradat” saja kah? Separah apa sanksi sosial yg didapat di kemudian hari?
    Se sederhana nya pesta adat pernikahan batak, tetap harus mngeluarkan biaya yg tidak sedikit. Mohon informasi dr senior2 dsni..Hehehe.. Apalg saya sdng dihadapkn pd kondisi yg brencana menikah dngn prempuan dr suku lain. Dan jg dihadapkan dngn terbatasnya dana. Sudah di survey dikit, trnyata prosesi nya bRtambah bnyak kl u ttap melangsungkan adat. Saya ingin pernikahan saya itu nantinya dpat esensi yg sbnarnya.. Ke legalan di hadapan Allah yg terutama dan no 1. Mauliate, horasss…

    • @Nababan

      Sebenarnya simple saja laeku. Bila kita konsisten hendak menanggalkan “kebatakan” kita ya tanggalkan saja. Itu hak kita.
      Tapi begitu kita tanggalkan, maka hak kita sebagai orang btak tidak ada lagi. Hanya orang batak yang memiliki hak dan kewajiban akan adat batak. Hak kita akan adat adalah mendapatkan segala sesuatu yang berhubungan dengan adat batak di bidang parrumatanggaon, kematian, dll.

      Bila lae tidak ingin menikah secara adat batak, itu juga sah, dan tidak salah. Tapi hak anda sebagai orang batak akan berkurang. Misal, anda tidak diperkenankan memberikan ulos atau menerima ulos na martohonan. Kedua, hak anda yang seharusnya anda terima juga otomatis akan hilang.

      sama halnya, bila masuk ke sebuah organisasi maka kita harus mengikuti aturan organisasi…begitulah kira-kira.

  7. salam kenal.
    saya erika dari medan.
    klo boleh saya tahu abang ini tinggal dimana ya?
    karena saya ingin meneliti orang yang pernah gagal menikah karena tidak sanggup bayar sinamot, untuk skripsi saya.
    abang ada mengenal orang yang pernah tidak jadi menikah karena sinamot kan
    ??

    • @Erika

      Mantap de..lanjutkan, pasti sangat menarik dan baik untuk masa depan orang batak. Aku tinggal di Bekasi de, dan belum ada kutemui orang yang gagal menikah hanya karena sinamot. Horas

  8. mengenai menjadi orang batak,kadang orang batak sendiri yang menilai negatif sukunya, apalagi mendengar komentar negatif dari suku lain,yang bisa jadi mereka tidak mengerti untuk apa prosesi itu dilaksanakan. jadi sebelum kita menjelekkan “batak” ada baiknya kita pelajari dulu,banyak orang batak tidak mau belajar tapi sangat mudah menjudge dan ketika ada komentar bernada negatif kita sendiri malah membenarkannya.mengenai pernikahan adat batak pada dasarnya semua bisa dibicarakan, kebetulan saya baru saja melewati tahap marhusip,selama proses ini saya menyadari,kdang yang membuat mahal adalah bahwa kenyataannya keluarga kita begitu besar dan semua ingin ikut dalam kebahagiaan kita, kami ingin mengundang semua,tapi krn keterbatasan dana undangan kita batasin…sekedar informasi,anak nantulang saya akan melangsungkan pernikahan dan adat dengan biaya dibawah 10 jt (include sinamot) yang diundang hanya keluarga terdekat yang penting adat bisa terlaksana. jd jgn kita selalu mencari2 hal negatif dari suku kita,berimbangla banyak hal positif dari suku kita sendiri dan tolong,jgn membandingkan dengan suku lain dan terkesan menjadikan itu standar baku.

  9. Numpang tanya,
    Mengapa keluarga laenya tulang lebih mudah kita kenal dan itu katanya tetap dipanggil tulang
    dibanding laenya amangboru ??? (katanya tetap dipanggil amangboru)dan ini biasanya kurang dekat.
    Apakah itu akibat diskriminasi gender ???

    • Pak Seru 2

      Sebenarnya, tak ada keharusan seperti itu. mungkin tergantung dari personal masing-masing ya. Ada juga yang dua-duanya tak dekat. heheheh…jadi menurutku tak ada aturan lah yang mengharuskan pihak ini atau pihak itu….hehehehe

  10. SALAM Kenal untuk saudara-saudara semua,

    Saya Andika, Papa saya orang Sabu (NTT) mama saya orang jawa.
    Sudah dari SMA, saat pelajaran antropogi kita mendapatkan pelajaran tentang budaya
    (bagi yang jurusan IPS), mengetahui tentang berbagai seluk beluk adat dan kebudayaan.
    demikian juga Batak dengan adat istiadatnya, begitu diakhir kuliah saya mencintai dan akhirnya
    menjalin hubungan dengan boru batak, kami sudah 5 tahun pacaran, baru seminggu yang
    lalu keluarga saya datang untuk berkenalan dengan keluarga kekasih saya.
    Saya sangat menghargai keluarga dan adat batak dan ingin belajar dan menjadi bagian dari
    keluarga batak. namun mengapa sebagian orang batak mengharuskan anaknya menikah
    dengan orang batak (Bukan kah kita semua sama dimata Tuhan? kita pun sama” punya asal-usul darah yang sama dari ADAM dan HAWA?)
    Mohon advise dari semua saudara? langkah2 seperti apa yang harus saya lakukan, baik mengenai beli marga sampai membentuk keluarga yang sah, saya tidak ingin saya dan istri nanti dikucilkan saat menikah nanti.

    Terima kasih

    • Andika,

      Ada sedikit yang menggelitik dari pertanyaanmu. Aku quote dibawah ya,….

      Mohon advise dari semua saudara? langkah2 seperti apa yang harus saya lakukan, baik mengenai beli marga sampai membentuk keluarga yang sah, saya tidak ingin saya dan istri nanti dikucilkan saat menikah nanti.

      Pada prinsipnya itu adalah pandangan yang salah. Aku tahu, bahwa ini adalah kesalahan kami generasi batak. Mengeluarkan pernyataan yang pada intinya kurang dipahami sehingga salah. Dan seolah kesalahan ini menjadi satu kebenaran.

      Dalam adat batak, TIDAK ada istilah BELI MARGA.
      Kenapa orang diluar batak harus memiliki marga baru bisa melangsungkan pernikahan secara batak?. Jawabanya karena Margalah yang menentukan dan mengontrol prosesi adat itu. Tanpa marga, tak mungkin ada pernikahan secara adat batak. Dengan MARGA, kita akan mengatahui SIAPA hula-hula ( marga dari istri, ataupun calon istri) siapa DONGANTUBU, (teman semarga yang bertanggung jawab secara moral melangsungkan adat itu), dan SIAPA Boru ( yang memiliki istri semarga kita) dan siapa TULANG (marga dari ibu kita, atau marga istri dari orangtua angkat kita). Keempat elemen inilah inti utama pernikahan secara adat batak.

      Jadi, Istilah BELI MARGA itu adalah istilah yang sangat dan sangat keliru.
      Pada dasarnya, perniklahan secara adat batak adalah pernikahan yang berdasarkan KASIH.

      Sebelum anda melangsungkan pernikahan adat batak, anda akan diberikan marga terlebih dahulu. Marga yang akan ada sandang adalah (umumnya, dan seperti itulah
      aturanya) MARGA dari PAMAN CALON ISTRI ANDA.

      Contoh, Katakanlah calon istrimu adalah bermarga LUMBAN GAOL, dan CALON mertuamu (ayah pacarmu) punya adik/kakak PEREMPUAN yang menikah dengan MARGA SIRAIT, maka BIASANYA, (seharusnya), Marga Sirait inilah yang akan MENJADI ORANGTUAMU, dan anda akan dimargakan Menjadi MARGA SIRAIT, ANDIKA SIRAIT.

      Prosesi pengukuhan adat untuk LAKI-LAKI memang SEDIKIT lebih rumit dibanding pengukuhan marga perempuan.

      Kenapa?
      Karena dalam kekerabatan orang batak, TAROMBO, Garis keturunan sangat penting. Kehadiranmu akan diumumkan kepada semua sanak keluarga satu marga. Dan kehadiranmu juga harus diketahui OLEH TULANGmu yaitu MARGA Dari IBUbaru mu.

      Pada intinya, itu hanya ritual. Bila memang semua mau melaksanakan dengan iklas dan penuh kasih, maka tidak akan ada masalah. Jadi, jangan kuatir. Dan jauhkan stigma BELI MARGA dari pikiranmu. MARGA ORANG BATAK bukan untuk dioperjual belikan…….
      SALAM

  11. Terima kasih bang atas pencerahannya.
    Bang saat ini kami belum direstui oleh keluarga pacar saya. Abang dan saudara-saudara yang lain
    adakah hal-hal (kebiasaan orang batak / yang orang diluar batak ga tau) yang bisa di sarankan untuk kami agar bisa mengambil hati keluarga.

    Terima Kasih Sebelumnya

    • Andika,…
      Soal setuju-tidak setuju, itu lumrah.
      Bahkan sesama batak pun ada yang setuju, ada yang tidak setuju.
      Sebagai anakmuda yang kreatif dan berpendidikan, tentunya kamu bisa mempelajari dibagian mana dalam keluarga itu kamu bisa masuk. Jangan gampang menyerah. Bila memang kamu mencintai gadis pilihanmu, maka bulatkan tekatmu untuk menaklukan hati sang calon mertua.

      Berdoa dan bersikaplah baik. Mungkin mengorbankan perasaan termasuk hal yang masuk akal untuk dilakukan. Lalu, diskuisikan pada pacarmu, bagaimana caranya supaya kamu diterima dikeluarga itu.

      Banyak jalan ke roma men…ok?

  12. Maaf saya ikut nyimbrung lagi. Adat Batak atau budaya Batak sama halnya dengan Culture dalam bahasa Inggris artinya kesepakatan yang terjalin suatu kumunitas yang dituruti turun temurun. Akhirnya kata “culture” dari sudut Antropology menjadi sangat “relatif”. Siapa yang berani berkata atau membuat suatu definisi tentang adat Batak? Pemahaman dan pelaksanaan suatu adat sangat “subjective”. Tiap hari orang bisa membuat “adat” kalau mereka saling setuju, siapa yang keberatan? Sanksinya apa? Suatu “culture” akhirnya selalu berorientasi kepada pendapat umum, pendapat umum akan dibingkai dengan suatu sikap “ok for you and ok by me” apalagi yang melaksanakan “adat” tadi itu punya kemapuan dari segi keuangan dan kedudukan dalam masyarakat.
    Serajin apapun saudara melakukan adat Batak selalu berujung pada kemampuan anda secara financial. Ada uang ada adat – tidak ada uang siapa yang peduli? Kalau saudara tinggal di satu ‘gubuk derita’ tidak ada halaman parkir, becek, gang sempit, siapa yang mau datang? Adat itu penuh dengan ‘trik’ kepalsuan dengan seabrak ‘pamrih’ and every Tom and Henry knows this. Sudahlah jangan kita berusaha menegakkan benang basah, yang suka adat Batak ‘go ahed’ yang tidak suka ‘leave it’. Penampilan anda di masyarakat tidak disokong oleh adat tetapi dengan prilaku dan kasih terhadap sesama.
    Bosan kita melihat orang yang sangat sopan santun dalam acara adat Batak tetapi setelah usai pesta semua sirna seperti angin lalu penuh dengan kepura-puraan. Kemunafikan harus diberantas tetapi kejujuran dan keikhlasan berdasarkan kasih harus dipelihara. Prinsip yang sifatnya universal harus kita jaga yang berkata “Pantun hangoluan tois hamatean”. Sudah terlalu banyak seminar tentang adat Batak hasilnya apa? Ketimbang membicarakan adat Batak mari kita cari solusi tentang sikap dan sifat dan kebiasaan SEBAGIAN orang Batak yang suka membungakan uang alias rentenir sangat memalukan sekali. Orang Batak dengan sangat mudah dikenal orang di mana2 karena pekerjaan yang tidak terpuji itu. Stigma hitam itu melekat dan sangat mempermalukan orang Batak.
    Walau sangat kasar tetapi harus saya berani berkata: MOLO ADONG DIHO ARGO HO MOLO SOADONG DIHO DAN ARGA fenomena ini yang menggejala sekarang ini dimana-mana sangat pahit dan getir walau dalam lingkungan satu marga bahkan na marsabutuha sekalipun. Mari kita berjuang dengan kejujuran dan kebenaran untuk selalu memberi penghargaan bagi sesama kita baik yang tidak beradat batak maupun yang beradat batak. Tukar infor lewat e-mail is ok stephan_manulang@yahoo.com

    Salam sejahtera dari Stephan Simanullang
    Seattle USA

  13. Halo ito2,

    Ingin tanya, berarti kalau saya menikah dengan tunangan saya ( orang swiss ) harus bayar double untuk mengadati, dong ?? saya dapat info sekitar 50jt untuk pesta pernikahan batak ( harga tersebut berdasarkan harga di kampung saya, di siantar ) dan saya takut harga tsb akan bertambah mengingat tunangan saya orang luar dan keluarga mencoba untuk mengambil keuntungan dari kewarganegaraan nya, berdasarkan orang2 berfikir kalau ORANG BULE itu GODANG HEPENG.

  14. Pro Miss…
    Aku boleh ngakak dulu gak?. jangan lae bilang 50jt pernikahan adat batak dikampung lae. Nilai itu relatif lae.
    Bicara soal bule atau tidak, itu juga tak ada hubunganya. Apasih beda jawa, bule, negro, sunda, minang soal adat batak ini?, tidak ada. Intinya, yang melangsungkan pernikahan secara adat batak, ya orang batak. Harus dimargakan.

    Soal biaya, aku tidak bisa komentar.
    Tak ada istilah doble biaya laeku. Aku mau tanya, kalau lae bawa calon pardijabu itu ke siantar, apa lae akan mengenalkanya pada dongan tubu lae?, tulang lae, namboru lae?. Kalau jawabanya IYA, saya mau tanya lagi. Apa lae tak sebaiknya memberikan mereka makanan?, masa udah ngundang orang ke rumah kita, tapi kita tidak suguhin makanan?.
    kira-kira seperti itulah.

    Aku tidak tahu, lae dapat dari mana istilah DOUBLE bayarannya..itu yang membuatku ngakak. Coba lae baca dulu link berikut: http://www.latteung. wordpress.com/2012/10/10/membeli-marga-tidak-ada-dalam-adat-batak/

  15. Ini dia nih! kalau menikah pake tukar marga, biasayanya marga perempuan yang ditukar sesuai dengan marga tulangnya. Zaman dulu kala orang belum ‘melek’ tentang ap yang namanya HAM. Penggantian marga sangat tidak etis, karena marga itu melekat pada orang bukan yang dibuat-buat. Marga itu hak azasi manusia. Saya tidak pernah minta supaya saya bermarga Simanullang, tetapi sudah ada marga itu sebelum saya lahir. Lalu orang-orang zaman sekarang dengan mudah baku-tukar marga sesuka hati. Yang menjadi pertanyaan apakah marga yang “baru” dicangkokkan itu lebih mulia? Misalnya kalau ada marga Jawa menikah dengan orang Batak, dengan mudahnya marga jawa itu ditiadakan lalu ditukar menjadi marga Simanullang misalnya. Pertanyaan, apakah marga Simanullang lebih hebat dari marga lain seperti marga Lim Thian Tek, Yudhoyono, dll? Orang Batak yang bermarga Simanullang saja belum ada jadi menteri apalagi jadi Presiden atau termasuk dalam 10 orang terkaya di dunia menurut majalah Forbes, atau mendapat suatu penghargaan atau hadiah Nobel dll.
    Sering sekali adat Batak pernuh dengan rekayasa yang pura-pura dengan tujuan untuk pengabadian nama yang dipaksakan, tetapi tidak sedikit dari mereka yang sangat getol dengan adat Bataknya, akhirnya menanggung utang karena lebih besar pasak daripada tiang, lalu berkata dengan suara lirih: “dang natarula Batak pesta adat on” alai behama baenon holi-holi binoddut holi-holi niutahon. A….tahe! Lanjut??? visit us in http://www.branham.org.

  16. saya cewek keturunan chinesse,punya pacar org batak(siantar),bulan agustus ini sy akan diajak oleh dia kekampungnya utk menikah.sy sgt sedih krn disamping sy tidk ada satupun pendamping,ibu sy menikah dan tinggal diluar bersm suaminya yg baru,sy tdk ada saudara juga tdk tahu dimana org tua saya,sejak dia menikah saya pergi dr ibu. saya bekerja utk hidup sendirian dijakrta,dan yg sy pegang hanya akta lahir saja,serta ktp ditangan. bagaimana dengan pernikahan ini?surat2 saya tidak lengkap, dan sy jd stres krn ayahnya pertelepon mengatakan : utk dapat boru,sy hrs byr 3jt,belum nanti cinamotnya,terus belum lg pestanya hrs bayar utk 500 undangan. sedangkan calon sy ini jujur aja pendapatnya dengan sy tdk seimbang,dia tdk memiliki uang lebih,inipun kami berdua hanya bisa kumpulkan uang 20 juta saja,dan ayahnya mengatakan 20 juta masih kurang. saya jd stress,bagaimana ini?saya bingung menikah seperti inikah dengan orang batak?padahal menikah dihalaman rumahnya…masa iya emahal itu,tolong minta pendapat apa yang harus saya katakan pada ayahnya nanti,apa yang harus sy lakukan,jgn sampai saya dikatakan tidak sopan,ataupun sampai dibuat bodoh sekali untuk ini semuanya. terima kasih

  17. syalom…
    saya mau tanya,,,
    saya sebagai orang jawa dan mau menikah dengan orang batak warga siahaan..
    tetapi masalahnya,,,keluarga perempuan dan perempuan itu gak mau kalau gak ada pesta adat yang mewah…
    khan sayang kalau habis segitu hanya buat pesta dan adat pernikahan…
    gimana solusi nya..
    mohon dibantu..

  18. ada bangganya jd org batak
    tp banyak tdk bngganya jd org batak

  19. Syalom …
    aku mau bertanya klo pasanganNya tidak memiliki marga dan si perempuannya memiliki marga *Sirait * misalnya …
    Proses apa saja yang harus dijalankan dari awal hingga akhir ….
    Dan berapa pengeluaran yg harus dikeluarkan pihak laki laki untuk menikahi orang yang iya cintai?Tolong masukkannya,Trims :)

    • Milka,
      harus dipahami kalau yang menjalankan ritual adat batak itu adlaah orang batak. jadi, kalau seseorang yang bukan orang batak hendak menjalankan adat batak, ya, harus jadi orang batak dulu, di kasi marga.

      Proses pemberian marga, harus dipahami tujuanya seperti yang kuutarakan diatas tadi. Sehingga hal-hala yang berhubungan dengan itu jauh dari materi. Semuanya didasari atas holong/kasih.

      ada kah biaya?, ada!. kita merayakan ulang tahun di restoran saja ada biaya toh?. Sama hal dengan upacara pemberian marga ini, ada biayanya. Untuk makan bersama, untuk keperluan adat dan biaya yang simbolistik lainya.

      Tak ada patokan biaya dalam menggelar prosesi adat batak. semuanya sesuai dengan perundingan yang dilandaskan atas kasih tadi.

  20. Lae, di tikar adat bagaimana status orang (laki-laki non batak, katakan saja namanya Jony) yang telah dibikin marganya (pasaribu misalnya) dibandingkan dengan anak laki-laki kandung (katakan saja Pardomuan) dari Bapa Pasaribu (Katakan saja Pandaraman) tempat Jony mengambil marga? Apakah Jony berhak menerima warisan dari Pandaraman sama seperti Pardomuan? Seandainya Jony lebih tua dari anak sulung Pandaraman, apakah Pandamaran boleh dipanggil Amang Jony atau Bapa Jony (Kan Jony sudah jadi anaknya Pandaraman)? Trus misalnya Jony sudah punya anak yang misalnya bernama Agus, apakah Pandaraman bisa dipanggil Opung Agus?
    Pertanyaan lain lagi, Lae: Bolehkah seorang laki-laki (yang kawin dengan boru batak) membikin/mengambil marga pada Bapak-Ibu Batak yang bukan Amang Boru-Inang Boru dari istrinya? (Misalnya dalam kasus Amang Boru-Inang Boru dari istrinya sudah tidak ada atau berada di tempat yang jauh sehingga sulit untuk dihadirkan).
    Maaf, Lae, jika pertanyaanku terlalu banyak. Saya gak bermaksud menguji Lae; tetapi ini semua kutanyakan karena saya adalah pria NTT yang telah menikah dengan boru Batak yang belum banyak memahami adat-istiadat Batak. Dijawab ya, Lae. Mauliate godang.

  21. toho do nanidok muna i lae,di ulaon manang aha pe taho,dos ni tahi do di ginjang ni sasude…..nangpe nuaeng nga unggodang dos tahi holan alani sihumisik,,,,,mauliate

  22. saya bukan orang batak, ibu saya boru manurung, skarang saya ikt ibu saya. budaya batak sangat berdampak untuk saya, bahkan molo marhata batak boi do.. saya pernah pcran dngan boru manurung, namun tulang dan nantulang tidak setuju hubungan kami karena saya seorang pns dan bukan orang btak, sedangkan pcr saya seorang calon dokter. akhrnya kmi brpisah, saya pernah inin menjalin hub dngan bru btak, tp selalu gagal alasannya saya bukan org btak asli meskipun saya akan diberi marga bapa tua saya butar-butar. akhrinya saya menjalin hubungan serius dngan wanita bukan boru batak, namun ibu saya kurang setuju jika saya menikah dngan wanita bukan boru batak, mhon petunjuknya

  23. Manusia kalau tidak punya adat, maka hidupnya akan seenaknya saja ( sorry, like a animals ). karena itu adat mengatur Tingkah laku,Pola pikir dan tata cara hidup ( pola hidup ) manusia itu sendiri. itulah mengapa adat begitu penting bagi kehidupan manusia khususnya di indonesia.

    adat batak merupakan salah satu rangkaian dari hal tersebut..

    seharusnya kita bersyukur bahwa kita merupakan suku / bangsa yg serupa dengan Bangsa Yahudi.
    sesuai dengan yg ter-nats dalam alkitab, bahwa garis keturunan jelas “terlihat” dan “diketahui”.

    bukan menomorsatukan adat , tetapi ingatlah darimana kita berasal.
    Tidak ada pemaksaan untuk menjalankan upacara adat.
    tidak ada ketentuan besaran nominal pada saat melaksanakan adat.
    semua balik lagi kepada kondisi dan keputusan kita.

    Tetapi satu hal , bahwa kita harus bangga darimana kita berasal.
    orang batak dikenal karena memiliki “KEKUATAN KEKELUARGAANNYA”.
    kalo kita tidak memperhatikan hal tsb maka kita bisa dipastikan tidak memiliki “HOLONG”
    darimana holong berasal, Ya dari Tuhan…
    tidak menghargai darimana kita berasal , berarti kita tidak menghargai pemberian TUHAN.

  24. horas ,
    saya hanya ingin menanyakan tentang adakah solusi untuk pernikahan Marga Simanungkalit dengan Boru Lumban Batu..

    apakah memang dijaman sekarang ini, mereka masih benar2 tidak boleh menikah?

    padahal mereka berdua benar2 saling mencintai

    mohon pencerahan nya :)

  25. tolong sekali untuk pencerahan nya..
    karna saya benar2 mencintai marga simanungkalit ini, dan yg saya rasakan adalah ini berkat dari Tuhan.
    bahkan saya dan dia sudah 3 tahun menjalin pertemanan dekat..

  26. salam,
    membaca artikel ini membuat saya berpikir ratusan kali untuk menjawab lamaran dari seseorang. ia bermarga manik. sy mengenal dia sbg pria baik, brtggjwb, dan berani. mngkn sprti pria batak pd umumnya yg jg keras pendirian. kami tdk pnya hub khusus saat ini, tp dia adl mantan pcr sy 9 thn lalu. kmdian tiba2 dia dtg dn mengajak menikah. sy adl muslim dan dia mualaf, dlu kami berpisah jg krn alasan keyakinan. namun skrg dia dtg&meyakinkan sy bhw dia bs mjd imam bg kelg kami. seluruh keluarga tdk mengetahui bhw dia tlh mjd mualaf, krn dia adl anak lelaki tertua dlm kelg, shg org tuanya memilki hrpn besar baginya untk meneruskan tggjwb sbg kepala kelg. sy kmdian berpikir, apa jdnya nanti ketika ada penolakan dlm kelg, ttg saya, keyakinan sya, keyakinan barunya. adakah nanti dia akan dikeluarkan dr marga? apakah ada dmpk luar biasa nanti dlm kehidupannya sbg pria batak tanpa marga? sejauh sy tahu kekerabatan dlm satu marga sgt tinggi,tdk ada yg meragukan bhw sesama marga dmn pun berada adl saudara. sy sedih mengingat ini. sy kwtr dan tkt, apalagi sy adl org jawa, yg tdk tahu sm sekali apa sj konsekuensiny jika sy menerima lamarannya nanti. dia menjelaskan jg bhw sy hrs diberikan marga dr mama mertua untk bs menikah adat dgnya. dengan berbagai ritual adat, pesta dan biaya selangit, ditambah kekhawatiran akan sanksi berat baginya nanti. mohon penjelasan. trmksh.
    salam hangat.

  1. Ping-balik: Membeli Marga Tidak Ada Dalam Adat Batak | AmaniPartogi

  2. Ping-balik: Membeli Marga Tidak Ada Dalam Adat Batak : AmaniPartogi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.984 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: