ibu

Aku, seorang ibu

Usiaku tidak muda lagi. Bagi kaumku, seusiaku ini pasti disibukkan dengan berbagai macam perumulan hidup. Pekerjaan, karier, terlebih urusan keluarga yaitu suami dan anak-anak. Tentu saja, dari semua rutinitas itu, hal mengurus keluarga adalah yang paling menyita banyak waktu dan menguras tenaga. Seolah waktu itu tak pernah cukup. Anak, sejak dari lahir, hingga bertumbuh menjadi dewasa, sejak dari praTK hingga kuliah. Memikirkan dana pendidikan, hingga menyiapkan segala kebutuhan sehari-harinya.

Tapi aku berbeda. Aku memilih hidup melajang. Walaupun keputusan ini
bukanlah hal yang lazim tapi aku sudah memilih demikian. Bagiku, menikah bukanlah satu-satunya jalan bagi untuk bisa bahagia. Tiada salahnya hidup melajang sepanjang bisa menikmati dan mengisi hidup dengan banyak hal yang baik. Itulah prinsipku. Penyakit itu telah merenggut kesempatanku untuk bisa melahirkan seorang anak. Aku dipaksa untuk menerima keadaan bahwa takkan mungkin merasakan bagaimana rasanya bangga menjadi seorang ibu yang membesarkan janin dalam rahimnya. Suatu yang paling ditakutkan perempuan harus menimpa diriku. Situasi inilah memaksa ku untuk memilih jalan hidup melajang.

Aku bukanlah seorang ibu yang pernah melahirkan anak, bahkan tidak mengerti bagaimana menjadi seorang ibu. Tapi predikat sebagai perempuan lajang, tidak lantas menghentikanku untuk bisa berperan sebagai ibu dalam mencintai anak-anak.

Aku menyukai dunia anak-anak dan terpanggil untuk bisa ambil bagian dalam dunia mereka, sekecil apapun itu. Memang, memulai sesuatu yang tidak dipahami tidaklah gampang. Dan jujur, aku ragu akan kemampuanku ketika berhadapan dengan anak-anak. Entah kenapa, aku terus saja bergerak dan berusaha untuk bisa melakukannya. Naluri keibuanku menuntunku. Pengalaman itu diawali interaksiku sengan anak-anak tetangga di komplek rumahku. Aku mengajak mereka bermain di garasi rumah yang cukup nyaman bagi mereka.
Hari demi hari pelayanan itu saya kerjakan dengan ketulusan dan sukacita. Banyak kegiatan yang tercipta seperti menyanyi, menari, menggambar, menulis, bercerita, mencintai lingkungan, olahraga, etika berteman, permainan dan pelajaran rohani bagi yang seiman.

Rumahku dipenuhi teriakan anak-anak, terkadang lengkingan dan suara tangisan mereka membuat rumahku penuh warna kehidupan. Dinding rumahku penuh goresan warni-warni sebagai bentuk ekspresi karya anak-anakku. Bagiku itu tidak menjengkelkan, karena kutahu tulah cara mereka menunjukkan kebolehannya. Putihnya dinding rumah ini, dulu, kini tidak lagi. Anak~anak itu menuliskanya untuk ku. Itu bukan keusilan, bukan noda, bukan coretan biasa, tapi lukisan kebahagian. Anak~anakku melukiskan itu untukku.

Setiap anak punya potensi tersembunyi yang harus digali dengan sedikit sentuhan yang berbeda. Terbukti, saat dulu tangga nada dinyanyikan sumbang dan berantakan, kini berubah menjadi sebuah lagu utuh yang penuh harmoni dan terdengar indah di telinga para orang tua mereka. Banyak keindahan yang mereka berikan saat pentas di kompleks untuk acara tertentu.
Dalam kesendirian, aku sering bertanya pada diri sendiri, “kenapa aku mau dan ada dalam dunia anak-anak yang tidak ku pahami ini?”.

Sementara latar belakang pendidikan bahkan pekerjaanku sama sekali tidak berkaitan dengan dunia anak-anak. Entahlah. Tapi aku tidak peduli dengan semua kekurangan-kekurangan ku sepanjang yang ku ajarkan adalah hal-hal benar dan bermanfaat bagi mereka.

Aku sangat menyukai panggilan “ibu” dari anak-anak didikku. Suatu hal yang terbesar dalam hidupku, yang tak akan pernah kumiliki sepanjang hayatku. Kini aku menerimanya. Dunia anak-anak mewarnai dan mengubah kehidupanku menjadi sangat luar biasa. Terlebih adanya ikatan emosional akan kebersamaan, yang membuatku menjadi wanita sempurna. Menjadi seorang ibu yang seutuhnya.
Keceriaan, keriuhan, kepolosan mereka telah mengisi hatiku yang kosong.

Memberikan  keberanian dan semangat setelah memilih jalan hidup seperti ini. Tawa mereka membuatku tersenyum. Kebahagiaanku akan lengkap jika suatu saat aku bisa mewujudkan mimpi, talenta dan karya-karya mereka dalam home production.

Kebahagiaan bukanlah keadaan, tetapi pilihan. Aku telah memilih tersenyum bahagia bersama mereka, bukan terpuruk oleh penyakit atau persoalan hidup yang penuh liku.

Aku memilih bahagia bersama anak-anak didikku, itulah yang kulakukan. Kini, aku adalah seorang ibu.

poto: http://shanushy0809.blogspot.com/2011/12/ibu-mama-bunda-emak.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s