Beranda » Kategori » Parsorion » Ama-ama bodat……

Ama-ama bodat……

Sebetulnya, saya menganggap kalau guyonan-guyonan atau yang lebih banyak disebut orang adalah ilustrasi, cerita pengandaian, adalah karang-karangan amang Pendeta–Parjamita ini saja. Ilustrasi sebuah jamita Pak Pendeta dari langgatan itu hanya untuk menyegarkan kembali pikiran para jemaat yang kalau mendengar kotbah selalu bawaanya ngantuk. Heran ya, baru duduk sebentar sudah ngantuk. Sementara manggossip, marleng, marpesbuk dan lainya, sehari pun tak ada ngantuknya. Sesekali saya melempar pandangan ke arah jemaat. Memastikan, apa ada yang senasib dan sejahat saya yang sama-sama mengalami proses HIBERNASI yang menimbulkan rasa kantuk.

Bangku terakhir, seperti posisiku saat ini, dimana biasanya mengambil tempat duduk–khusus untuk suara BASS2, memungkinkanku bisa memandang ke seluruh ruangan gereja. Saya melihat jemaat manggut-mangut tandanya kalau jamita pak Pendeta ini masuk ke pikiran mereka. “Bah!….Pak Pendeta Butar-butar ini memang pandai marjamita. Di kala jemaat dah ngantuk berat, maka guyonan menjadi sesuatu yang bisa menyegarkan pkiran kembali” gumanku dalam hati.

Semenjak saya bergereja di HKBP ini, tepatnya tiga tahun lalu, biasanya saya mengambil tempat duduk paling belakang. Kalau bisa dekat-dekat pintu keluarlah, artinya, begitu nyanyian kesukaan saya “amen-amennya HKBP” diperdengarkan maka dengan posisi stanby melompat keluar.

Namun, beberapa minggu belakangan ini, kebiasaan saya ini harus berakhir. Sesuai dengan kesepakatan bersama semua anggota Punguan Koor Ama, maka kami harus duduk menempati bangku yang sudah disediakan di dekat naposo bulung atau daun muda di pojok depan. ( Daun Muda terjemahan langsung dari NAPOSO BULUNG, jangan macam-macam pikiranya, tak bagus itu!. Naposo= muda, BULUNG= Daun )

Bukan mau bilang saya adalah Ama-ama muda yang kegatalan, atau si mata jelalatan. Entah kenapa, kalau saya duduk di depan, maka mata saya ini kurang bisa saya jaga, lose kontrol ( jangan salah sebut). Selalu gelisah, melempar pandang kesana kemari tak tentu arah. Sensor mata ini sepertinya sangat peka sama yang namanya bajar landit, DAUN muda, namarbaju di barisan jemaat umum. Catatan, sebagian besar anggota jemaat ini adalah kaum muda.

Jadinya, saya hanya bisa senyum-senyum sendiri kayak orang kurang waras yang baru dikasih permen sama orang yang waras. ” Kayak orang rittik aja kau lae, kulihat kau senyum-senyum aja dari tadi, adapa seh?” kata teman suara Bass 1 di sampingku. Rupanya dia memperhatikan tingkahku. Ah…nggak tau lae ini, jalan pikiranku!!. Ternyata, duduk di depan–tempat duduk koor ama termasuk barisan paling depan–, punya ‘berkat’ tersendiri. Bisa melihat, desain baju siapa yang paling up-to-date, lalu bedak siapa yang paling tebal, hingga siapa-siapa yang ngantuk kalau pas Pendeta marjamita. Kadang saya berpikir, ternyata di gereja kecil ini banyak juga Model tak kesampaian.

Yang membuatku tersenyum kali ini adalah, membayangkan Ivan Gunawan–sang komentator ajang pencarian batak di tipi-tipi yang sering ngomong nyelekik para pesertanya–, ngomong begini sama namarbaju di gereja ini ” Kayaknya, wajahmu yang marsuhi-suhi itu kurang match sama bentuk pakaian yang kau pakai,..coba kau permak dulu wajahmu..” Gila!!

Bajunya Ces yang dipermak, bukan wajahnya….

Atau gini nih…” Baju dah cukup bagus, ada renda-renda dan belahan baju didepan menunjukkan rasa sensualitas yang tinggi….cuma, potongan tubuhmu nggak cukup macthing sama baju seperti itu..kau permak dulu badanmu itu….” heheheheh Maup ma ho!.

HUh…dasar mata ini nggak tamat SD!. Ingat NaiHope bilang “Hm….diman-mana mata lelaki sama ya..”.

Bicara soal gaya berpakaian jemaat di HKBP, maka menurutku semua cakap-cakap, mulai dari padanan warna hingga mode. Mulai dari baju yang menonjolkan lekuk tubuh si pemakainya ( yang paling sering ku curik-curik pandang,..) hingga ke model semi kebaya. Mungki kalau saya ditakdirkan lain dari yang sekarang, maksudku menjadi salah satu dari pelaku, model tak berbayar itu, maka saya juga akan melakukan bahkan lebih, lebih.

Belum lagi soal model baju yag dipertontonkan, wouih….enak tenan duduk paling depan bah!. Kok baru kali ini aku menyadarinya. Ibarat kita memandang model yang berjalan di catwalk, demikian jugalah para jemaat, kaum gadis, di HKBP. Bukan mau menyalahkan atau bagaimana. Cuman apa ya…gitu deh. Keknya memamng mata ini kudu disekolahin ke sekolah kepribadian. Biar dia nggak jelalatan.

“Lae…tahunya kau arti jamita Pak Pendeta itu, tentang ilustrasinya itu??” kata temanku dari sebelahku, membisikkan sesuatu. Saya tergagap dari aktivitas lamunanku. Tanpa menoleh aku menggeleng, malah balik “Maksud apa, Lae?”

“Kulihat-;ihat dan kuperhatikan, lainlah Pak Pendeta ini kalau marjamita.”
“Kenapa?…” kataku sambil merapatkan dudukku. Berbisik, biar nggak berisik, tar mata orang ke kami. Malu!.

“Tuh!..tuh!… dengerin tuh!…dan liat gayanya..” Aku mencoba mengartikan apa yang dibilang kawan inii. Saya lihat Pak Pendetanya masih asik dengan jamita yang mengilustrasikan BODAT yang bergelayutan di sebuah pohon. Kalau inti dari jamita ini yang kutangkap adalah angin besar kadang tak bisa menjatuhkanya, sebab si BODAT dengan erat memegang ranting atau tempatnya bergelayutan. Sebaliknya angin sepoi-sepoi bisa saja menjatuhannya, dikala dia terbuai oleh rasa kantuk. Yang inti kotbahnya, si besar belum tentu menang sama si kecil, dan hal-hal kecillah yang kadang membuat kita terjatuh, dalam kehidupan ini. Bagus memang jamitanya!.

“Trus..kenapa lagi lae, biasa saja” kata saya

“Lae perhatikanlah dulu, setiap beliau bicara BODAT, maka pandangannya selalu di arahkan ke kita ini, ke arah KOOR ama ini, apa kita ini dipikirnya kita inilah yang bodat semua.”

“Hek!!!”

“Tuh liat tuh, sesekali ke arah jemaat yang lainlah, biar kebagian semua bodatnya” kata teman ini lagi, lalu menyuruhku memperhatikan Pak Pendeta ini marjamita, seolah membuktikan tuduhanya benar, kalau Pak Pendeta ini setiap bicara BODAT selalu melihat ke arah Koor AMA.
“Perasaan, yang lihat itu cuma Lae, atau jangan-jangan maksudnya, adalah..”
“Semuanya lae, kita anggota KOOR Ama ini” ujarnya, masih berbisik.
“Betul kali tuh Lae, kita ama-ama ini sudah bayak yang kayak BODAT lae…” kataku menahan geli yang amat sangat. Kugigit bibirku, biar nggak ketawa lepas. Saya nggak nyangka kalau lae ini berpikiran seperti itu.

“Tuh lihat lae…ini lain lagi, kalo tadi BODAT, ini lain lagi, dia ngomong, panakko, pargabus, parboru-boru, penipu, pangoto-otoi, parmabuk, panggobang, selalu memandang kesini,..nggak beres nih…!!.

Benar-benar geli.

“Ih!!..lae…benar kali itu lae…kita ama-ama ini memang sudah banyak yang kayak bodat”, aku semakin senyum sendirian. Dan memang kalau kupikir-pikir dan huhayati jamitanya ini, saya merasa, salah satu bodat yang beliau maksud adalah saya. Saya yakin, Pak Pendeta ini memperhatikanku dari tadi, yang selalu senyum sendiri dikala dia marjamita.

Bukankah hanya bodat yang mau tersenyum sendiri tanpa ada yang lucu?, nggak usah marahlah kalau kita disebut ‘kayak BODAT’ memang iya kale yah…

Kalau kayak bodat berarti bukan bodat, dan lebih mending dibilang songon bodat daripada songon jolma. Songon jolma berarti mirip manusia. Dasar, ama-ama kegatelan!!!…Ama-ama Bodat . Baru Omong Doang, Action Tiawada

14 thoughts on “Ama-ama bodat……

  1. Horas Lae,toho do i nungga lam godang ama ama dohot namatua gabe songon Bodat,jala otakotak ni butuhana nama lehonon tusi.

  2. ohh… terlalu terburu-buru lae menulisnya, (mungkin takut kehilangan isnpirasi kali yach, dan mumpung inspirasi lg datang) sehingga banyak kata-kata terkait dengan pengetikan redaksional salah ketik

  3. lae master :…alasanku cuman satu. Tuhan mengaruniakan jari tangan yang besar-besar padaku ( keknya jempol semua ), nantilah aku coba edit lagi hahahha….( mauliate atas kunjunganya lae)

  4. Horas amang lumbangaol, tanpa parmisi ahu hucopy do koor na situs amang on ; jala pinake do tu koor ama nami diHKBP Brebes. Uli jala tabo do didokhon angka dongan I. Tolong amang ma jolo asa beha ahu mandapot na asing hira na hurang do. Mauliate ma. Alamat nami HKBP BREBES Jl.YOS Sudarso No.25.

    • anggo taringot tu na hurang i, torus do i amang, ai dang mar nasukkup anggo na di portibi on,…maksudmuna hira-hira songon dia?….huambai pe muse na asing amang, sabar hamu paimahon

      hendry
      koor ama hkbp cikarang

  5. horas amang lumbangaol,

    sai hupaima teks koor na asing na pinarade ni amang so adong dope, na ronsot hian do ulaon ni amang ate! Molo ndang manghurangi las ni roha ni amang, TOLONG amang ma jolo kirimhon bundel ni koor Ama na adong di hurianta, ipe tung sonang do roha nami dison

    Mauliate godang ma amang
    horas ma
    Henry Butarbutar

    • Horas amang Pendeta,…

      Jolo sidung ma hu repisi bukku nami i ateh, ai godang naso tarjaha be, jadi gabe hu ketik ulang muse. Nga tutambai manang na piga-piga lagu, bereng amang ma jo ateh….

      sahat ma tabe tu punguan ama na disan…horas ma

  6. Horas Lae, … parmisi hami ate ala mendownload teks koor ama na adaong dison … mauliate ma pinasahat tu hamu, alana gabe dohot hami tauri di partitur koor na di blog muna on … kami menunggu koor lainna ate … isarana Andigan, Tung nabalga do asi ni roha ni Tuhan, dna ….
    tabe mardongan tangiang sian koor ama gloria di tanjungbatu kepulauan riau

    ——————————————————-

    Adongdo Koor nami ANDIGAN, hu upload pe ateh lae..paima hamu ma dah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s