Beranda » Kategori » Parsorion » Pak,..Permisi mau kencing pak….

Pak,..Permisi mau kencing pak….

“Ngerti nggak lae bahan penataran ini” tanyaku dengan logat bahasa batak yang kental, aku tau kalo dia juga sudah bosan dengn makalah-makalah Penataran P4 ini. Hari ini adalah hari ke empat, artinya sudah empat hari semua mahasiaswa dijejali dengan berbagai macam makalah-makalah tentang ke-pancasilaan dan kewarga negaraan. Ada-ada saja Negara ini, gumanku tak jelas. Mulai dari SMP hingga kuliah, dijejali dengan materi penataran yang ini – ini saja.

“Lae,…denger-denger sesi berikutnya itu Pak Marbun, dosen yang kata senior itu, dosen gila”
“Macam-macam aja kau lae, kalo dah gila mana bias dosen, tapi dengar juga sih, dan dengar itu dosen kalian, bukan dosen kami” jawabnya. AKu dan temanku semeja memang tidak satu jurusan. Tak bias kujelaskan, apa aku bernasib baik diterima di jurusan Teknik Elektronika atau bernasib tidak baik. Sementara dia itu jurusan perbankan. Mungkin inisial nama kamilah yang mempertmukan kami berdua satu meja di Penataran P4. Dikala penatarnya belum dating, aku yang anak kampong dan dia yang berasal dari sedikit lebih kota bercerita dan berbagi canda.
“Cok kau perhatikan dulu lae, wajah lugu nan polos-polos ini, apa mereka seperti kita juga lae??”
“Maksudmu??”
“Bosan kali awak ini, dah tiap hari pake pakaen putih ini, tiap hari pulak awak ditatar, macam udah kayak gerombolan saparatisme GAM kita ini..”

Tak berselang, seorang dosen dengan perawakan tinggi dan perawakan sedang masuk. Tak ada suara. Henig. Diam membisu, sehening kuburan. Bah, dah keder juga awak., Biasanya, kalo dosen penatar di hari sebelumnya masuk, ada senyuman sebagai kado perkenalan. Ini, kebalikanya, akiu berpikir, tamatlah riwayat hidup satu ruangan ini. Kuperhatikan wajah-wajah yang menunduk itu Ada yang pura-pura baca ada pura-pura menulis. Kulirik dissamping juga melalukan hal yang sama.

“Hmm…buka buku materi halaman enam puluh tujuh, tenatang wawasan nusantara…” akhrnya, ada juga suara di kuburan ini, pikirku.

Jujurnya saya nggak pernah percaya yang namanya ramalan hari apes, hari baik dan hari keberuntungan. Tapi kali ini aku telah membuktikan apa yang tertulis Koran Sib, di horoskopnya kalau bintangnya Capricornus akan mendapatkan hari yang tak bersahabat hari ini.

Tiba-tiba perut kusakit, mulas dan pengen kencing, kebelet. Kalo istilah yang baru aku tau sekarang ini, namanya kecipirit. Entah apalah namanya itu. Aku lupa ngantungin batu kerikil di saku belakang. Aku seorang penganut paham poda-poda habatahon. Ada satu cara yang tak masuk akal, tak masuk ilmiah dan sebaginya, kalo perintah yuang tak terbantah itu bias ditunda dengan kerikil tadi. Cukup manjur dan sudah kubuktikan kok.

Di dunia ini banyak perintah yang harus dilakukan, termasuklah sepuluh perintah Allah, lalu berikutnya ada perinta alam, bagi penderita HIV, hasrat ingin vivis, dan selanjutnya perintah dari tetangga belakangnya lagi, hasra ingin B-Ol. Dan perintah yang paling membahayakan ya itu tadi HIV itu.

Kalo kurasa-rasa yah, sesuatu akan segera mengalir, sesuatu akan segera keluar dari bagian bawah tubuhku ini. Dan hal ini tak boleh terjadi. Nanti semua ruangan kelas ini akan bau. Masa itu, pempers belum ada, tak seperti sekarang. Mungkin kalau bias diputar lagi, alangkah nyamanya kalo aku pake pempers waktu itu, jadi nggak usah ke toilet kalo mau kencing. Memang jaman ini tak adil.

Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan kelas. Semua asik meperhatikan penjelasan penjelasan dari dosen Pak Marbun ini. Ada yang menggut-manggut ada yang menulis, mataplah. Yang kupikirkan, yaitu kalo aku bawa dari hokum adapt batak, pak DOsen ini masih BapakTuaku, lah wong kami sama-sama keturunan Marbun. BEdanya  dia lahir duluan, dah ABG, angkatan Babe Gue. Jadi gimana pun awak pasti lebih patuh.

“Lae…aku nggak tahan lagi, mau ke WC…”
“Lae berani permisi ke par Marbun ini…”
“Gak papa lae,..dah nggak kuat….”
Kuberanikan, denganlangkah kubuat seolah-olah percaya diri tinggi, walo sedikit pucat. Dan dengan mengatur posisi berjalan sedemikian rupa, hingga ada yang terjepit dibagian bawahku. Aku harus menjepitnya. Bisa-bisa nanti ada yang keluar. Malulah awak seorang model yang wajahnya sering nampang di cover majalah.

Bisalah kita bayangkan itu, cara berjalan dengan kondisi menjepit sesuatu, kalo nggak percaya, bias di pratekkan di rumah. Try this at home. Artinya, menangis lah dirumah. Atau kalo main halma, kan ada Home-nya,..jadi kalo kalah boleh menangis.

Pernah jatuh cinta?? …yang mau ku katakan adalah ternyata, perasaan jatuh cinta hamir sama dengan perasaan kebelet ke WC, gugup, dada berdebar, jantung gak karuan, dan pandangan nanar. Teoriku selama ini ternyata benar.

“Pak,….permisi pak..”
“Adapa? Sebutkan nama, nomor penataran dan NIM, Jurusan”
“Pak., permisi pak, nama Hendry Lbn Gaol, no peserta penataran sekian, sekian, sekian….dengan  Nim 97234 sekian,..sekian…sekian jurusan Elektronika…”
“Bagus..mau apa..”
“Permisi pak, mau ke kamar belakang….”
“Mau kebelakang??……nggak ada kamar belakang di politeknik ini…” seraya pandanganya memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambu. Yang bias ku tangkap dari hasil pengamatanya akan diriku ialah, kalau pak Marbun itu terpeson akan kegantenganku. Mungkin dalam hatinya dia bertanya, ini mahasiswa ganteng kali. Aku akui itu, meski sudah dibotakin oleh menwa-menwa seminggu seblumnya, meski dah dipermak, seperti kata pepatah. Emas, dimana-mana pasti emas. Orang tampan juga seperti itu, mau di apain juga tetap akan tampan kok. Wajah kota-kota seperti halnya orang batak asli dan senyum lugu nan menawan.

“Mau ke kamar mandi pak…”
“Bah.,…..kau ini, masih siang dah mau mandi, ini kan jam pelajaran, bukan jam mandi?? Tadi padi nggak mandi yah…”
“Bukan pak,..maksud saya mau ke kamar kecil”
“Disini nggak ada kamar kecil….semua besar, kau perhatikanlah….”
“Maaf pak, mau ke WC…..”
“Gitulah bilang……..bagus…mau ngapain…” lanjutnya bertanya.

Aku dah jadi bahan tontonan satu kelas dan kulirik teman semejaku dah senyum-senyum dari tadi. Awak dah malu di tanyain dengan pertanyaan sedemikian idiotnya. Kayaknya emang awak yang idiot. Gak langusung bilang mau ke WC dari tadi.

“Ke WC Pak, mau buang air kecil…”
“Bah…kau bawa dimana air kecilmu, sekecil apa rupanya…” makin gila aja nih dosen pikirku.
“Mau kencing pak, ……”

“Bagus..itulah bilang, jujur, kalau mau kecing bilang kencing, kalau mau berak bilang berak,….apa susahnya”

Tak ada air lagi buat dikeluarkan. Sampai di WC aku tertawa-tawa dalam hati. HIV- hasrat ingin vivis dah hilang, aku juga bingung, apa airnya masuk ke kantung kemihku lagi yah. Apa takut di mop ama pak robet tadi. Aku paksain untuk kencing ternyata gak keluar-keluar juga. Sialan nih….

Sebelum keluar dari WC aku ‘menasehatinya’ jangan bikin ulah lagi yah, jaangan minta diantarin ke WC lagi yah, kalo mau kecing, jalan sendiri aja. AKu nggak mau dipermalukan oleh pak Robet marbun lagi, gara-gra kau, kataku sambil menunjuk-nunjuk ‘kearahnya.’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s