Beranda » Kategori » TORSA » Tortor Terakhir

Tortor Terakhir

Matahari semakin menanjak, tak terasa memang. Tetamu semakin banyak berdatangan. Berbagai tingkah dari mereka menjadi hiasan tersendiri pesta itu. Canda dan tawa memenuhi segenap pelosok ruangan megah berhawa sejuk itu. Seolah, pesta pernikahan yang sekaligus menjadi ajang temu kangen, reuni para undangan. Hingga menjadi ajang silaturahmi dari beberapa orang mantan pejabat. Lalu sekelompok ibu-ibu yang kalau dilihat dari penampilan adalah golongan orang berada tampak sedang asyik bercengkrama.

Pesta yang cukup meriah, yang dihadiri berbagai macam golongan, mulai dari pejabat daerah, hingga pejabat tingkat pusat. Dari golongan usia lanjut, terlihat mantan pejabat, rekan-rekan Burhan, dan dari kalangan militer tampak beberapa perwira pensiunan yang juga merupakan kolega Burhan sewaktu dia memimpin sebuah departemen di negeri ini.

Ditengah meriahnya resepsi pesta yang tengah berlangsung, tampak wajah Burhan sedikit gelisah, seperti menyimpan sesuatu yang membuatnya tampak tak tenang di tempat duduknya yang persis di tengah, di barisan tempat duduk pengantin. Dari tadi pandanganya seperti mencari-cari seseorang. Beberapa tamu tampak berjalan menuju kearahnya, menyalaminya memberikan selamat, tak jarang dia memeluk tamunya dan mencoba melempar senyum. Senyum yang sedikit dipaksakan. Beberapa orang tamu berbincang dengan pengantin pria.

Burhan merogoh kantong jasnya mencoba menghubungi seseorang, namun tak jadi. Dia mencoba melempar pandangan kesekeliling ruangan pesta yang cukup besar itu. Mencari-cari seseorang dari sekian banyak tamu undangan. Di pojok ruangan paling belakang terlihatnya orang yang dicarinya, sejenak burhan mencoba memberikan syarat pada MC juga pada group musik yang dari tadi pagi sudah mengiringi para undangan yang ikut menyanyikan lagu yang beraneka ragam dari dangdut hingga lagu barat, untuk menghentikan aktivitasnya. Dia memberikan syarat kepada MC untuk mendekat.

Tampak Burhan membisikkan sesuatu. Sejenak, MC kembali ke tempatnya dan memanggil serombongan tamu yang sudah di tunggu-tunggu Burhan. “Kami mengundang tamu dari jakarta untuk ke podium dan memberikan waktu untuk menyampaikan ucapan selamat dan untuk berfoto bersama. Waktu dan tempat kami persilahkan pada rombongan keluarga dari Jakarta ….”

Hening sejenak.

Para undangan melempar pandangan kearah pojok ruangan dan menerka siapa gerangan tamu yang dimaksud tuan rumah. Tak sedikit orang yang berpikiran kalau tamu kali ini adalah tamu penting, sehingga suasana pesta yang cukup meriah ini harus menghentikan aktifitasnya.

Beberapa dari rombongan nampak tergopoh-gopoh dan saling mengajak, menuju podium. Membawakan selembar kain, ulos. Ulos yang bertenun indah dengan rumbai-rumbai merah putih hitam. Ulos yang sengaja didatangkan dari Tapanuli. Ulos sebagai lambang atau ciri khas orang batak. Ulos yang disimbolkan sebagai selimut roh bagi sipenerimanya. Dimana kain ini merupakan simbolik dalam pemberian berkat dari Yang Maha Kuasa melalui sipemberi.

Ulos yang merupakan pengikat tali kasih persaudaraan dan Ulos yang melambangkan kehangatan jiwa dan eratnya hubungan antara sipemberi dan sipenerima.

Ulos yang bercorak indah dan mengundang decak kagum baru orang yang pertama melihatnya dibentangkan. Seorang dari rombongan ini menjadi juru bicara, raja hata, yang mewakili beberapa orang yang berdiri di samping dan di belakangnya.

“Kepada anak kami, kami datang dari keluarga besar kita, dari kita yang satu keturunan, membawa ulos yang indah, ulos yang ditenun dengan halus, kiranya Tuhan memberikan hari-hari yang indah, seindah ulos ini dan memberikan berkat-berkatnya lebih banyak dari pada rumbai Ulos ini. Ulos ini melambangkan persatuan diantara kita semua, uda-mu disini, namborumu, itomu dan semua kita pomparan ompung kita. Tak lupa kami mengucapkan selamat berbahagia…”.

Lalu secara bergantian, mereka menyalami pengantin dan kedua orang tua mempelai, lalu beranjak dari podium. Burhan tertegun. Tertegun, lama, dan menatap hampa pada sekelompok orang yang baru saja menginggalkan podium. Beberapa orang dari dongan tubunya, dari sanak pamili terdekatnya, tak percaya pada apa yang baru dilihatnya

Burhan kembali duduk dan segera menanggalkan Ulos Ragihotang yang indah, yang di selempangkan, menghiasi tubuhnya yang tinggi besar. Istrinya menatapnya dengan penuh keheranan. Istrinya mencoba mereka-reka apa yang terjadi. Istrinya yang mengenakan ulos batak bertenun indah dan halus, ulos sadum, sepadan dengan kerudung, jilbabnya yang warna ke emasan tampak cantik dan begitu bersahaja kelihatan.

Burhan tersenyum kecut, menoleh kesamping menatap pengantin, anak kesayanganya si bungsu, Rizky, yang tampak gagah memakai Ulos batak, Ragihotang sebagai penutup kepala juga selempangnya. dan menantu perempuanya yang menyelempangkan ulos sadum yang sangat indah tak kalah cantik dengan penampilan istrinya. Burhan sedikit termenung memikirkan apa yang barusan terjadi, yang jauh dari apa yang sesungguhnya diharapkan.

Hari sebelumnya Burhan berupaya meminta kepada kedua penganin, terlebih kepda istrinya agar pesta kali ini digelar dengan ada unsur kebatakanya.

*   *   *

Pagi itu,….

Udara Sukabumi yang dingin, lebih tepatnya sejuk cukup terasa menerpa tubuh Burhan.  Semenjak pensiun, mereka memilih tinggal disana di tanah leluhur sang istri. Selain udaranya bersih, Burhan yang punya hobbi bercocok tanam ternyata memang memilih Sukabumi dibanding Tarutung menjadi tempat untuk menghabiskan masa tuanya. Pun sama-sama bercuaca dingin, karena satu hal atau yang lainya dia lebih memilih tinggal di Sukabumi. Secangkir susu panas tampak tersaji di meja kayu jati berukir indah itu, ketika dia dan istrinya berbincang sambil menikmati sinar mentari pagi yang hangat.

“Bu…” Burhan menatap istrinya yang sedang asik membaca majalah

Istrinya memalingkan pandanganya ke arah Burhan yang berbicara namun matanya tetap tertuju pada koran yang di pegangnya.
“Aku ingin pesta pernikahan Rizki ada nuansa bataknya,….” Burhan menambahkan.
“Maksud Ayah?”
“Ya,…dia anak kita paling bungsu dan aku ingin kalau di pesta pernikahanya nanti ada nuansa kebataknya.”
“Apa harus diadatkan seperti pesta orang batak pada umumnya?”
Nggak, tapi minimal para undangan kita tahu, kalau saya masih mencintai budaya batak dan ingin menunjukkan kepada mereka kalau pesta kita kali ini adalah pestanya orang batak”.

“Terserah Ayah saja, saya heran, kok bisa-bisanya ayah berubah pikiran seperti ini? di ketiga pesta anak kita terdahulu, ayah tak begitu peduli, bahkan waktu kita menikah saja, hanya mengadakan resepsi setelah akad nikah “, istrinya nampak keheranan mendengar penjelasan Burhan.

Burhan tak menjawab istrinya. Dia membenarkan apa yang dikatakan istrinya. Berpuluh tahun sudah dia berumatangga, dan berpulu kali sudah dia menghadiri pesta adat batak dari kerabat dekatnya, dongan tubunya, borunya atau pesta dari kolega bisnisnya.

“Ibu belilah ulos batak, untuk perlengkapan pesta, kalau ibu nggak bisa memilih, ajaklah mantu kita yang di jalan Kartini sana, mamak si Tolopan. Atau kita pesan dari Tarutung. Nanti akan kita pakaikan bersama dan kita akan manortor.
“Loh…siapa yang akan menemani kita manortor?
“Ayah berencana mengundang keluarga kita dari jakarta, saudara dekat kita, teman semarga kita, nanti saya minta mereka untuk manortor dan memberikan ulos kepada si Rizki, dia harus diulosi, supaya dia juga tau kalau di darahnya masih mengalir darah batak. Dia sudah kuberitahu kemarin dan sepertinya nggak ada masalah dengan itu. Dia anak kita yang bungsu, kalau sebelumnya di pesta abang-abangnya tak ada nuansa kebataknya, pesta kali ini saya merasa, kalau semua undangan yang hadir harus tau dan melihat kalau saya masih orang batak, yang tahu menghargai adat batak”.
“Sejak kapan Bapak sadar…”, ujar istrinya mencoba mengajak bercanda.
“Ah…sudalah, tahu sendiri, tiga anak kita nggak ada yang menikah dengan boru batak, sementara kita juga nggak terlalu paham, lalu kapan lagi kita memperkenalkan budaya leluhurnya itu?. Lagian, kolega-kolega saya sudah dari dulu menagih saya, untuk segera menggelar satu pesta adat, Ibu ingat sama Pak Sirait, mantan atasan saya? kemarin ketika ku telepon, sekaligus memberitahukan pesta anak kita, beliau malah menganjurkan mengadakan pesta adat batak, minimal ada unsur kebatakannya. Ayah pikir nggak ada salahnya dengan usulan beliau itu, walau nanti nggak sepenuhnya adat batak, tapi dengan manortor bersama, sedikit banyaknya sudah ikut melestarikan adat kita ini.

Semilir angin berembus melewati pohon-pohon bambu china yang ditanam sebagai pagar rumah ber cat biru muda itu. Angin sepoi itu membawa kembali ingatan Burhan pada beberapa puluh tahun yang lalu. Setiap ada pesta, sebagai anak siappudan, dia selalu minta ikut kepada ibunya Oppu Marulahan. Dia begitu menyukai pesta adapt batak. Apalagi ada musik tradisional, Gondang Batak.

Dia bisa berjam-jam dan ikut menggoyang-goyangkan jarinya meniru-niru orang yang sedang menortor. Lalu semasa kecil dia juga bisa menirukan berbagai macam bunyi alat musik gondang ini. Mulai dari taganing, ogung, sarune hingga hesek. Dia dan teman sepermainanya sering membentuk kelompok musik dengan hanya menirukan suara dari alat musik tradisoinal batak ini. Itu masa kecilnya, masa lalu yang sudah enam puluh lima tahun berlalu.

*   *   *

Burhan adalah generasi ke lima belas dari marganya, walau selama ini dia sering mengikuti pesta orang batak, khususnya bila ada pesta dari keluarga dekatnya, atau rekan-rekan sejawat, atau atas undangan koleganya yang lain, namun tak sepenuhnya dia memahaminya. Cukup datang, makan dan kasih tumpak, itu saja yang dia tahu. Awalnya karirnya dia hanya tenaga honorer disebuah instansi pemerintah daerah di kota Medan.

Dia seorang yang pintar, mungkin jenius, dan seorang atasanya melihat sesuatu yang luar biasa pada diri Burhan, sehingga tanpa ragu, atasan yang kemudian menjadi mertuanya ini segera mengangatnya menjadi pegawai negeri. Karirnya yang cemerlang hingga dia pernah memimpin departemen disebuah pemerintahan daerah. Burhan muda yang masih haus akan prestasi akhirnya memilih jalan hidupnya dengan menuruti kemauan sang mertua, menjadi pengikut keyakinan mereka. Adalah hal yang berbanding lurus dengan keyakinan yang dianut, adat batak, adat yang selama ini dibanggakan Burhan, lambat laun menjadi cerita masa lalu baginya.

Mulai dari pernikahanya hingga pernikahan ketiga anaknya, tidak ada yang bersentuhan dengan adat batak.

Sore menjelang malam.

“Pokoknya kalian semua harus datang ke pesta anak kita, berapa orang pun kalian yang datang segeralah kalian informasikan, supaya saya bisa menyediakan penginapan buat kalian. Pesta kali ini harus berbeda dengan anak kita yang dahulu. Kalian siapkanlah ulos dan belilah yang terbaik, nanti semua biayanya akan saya ganti.”
“Amanguda, seperti apa acaranya nanti ” potong amanTogu, salahseorang dongan tubu yang dihubungi Burhan lewat telepon.
“Kau aturlah ampara, kalianlah yang atur, sudah lebih bisa kalian itu, bagaiamana ulaon di adat batak, kalian ulosilah nanti pengantin …”
“Iya uda, nanti kami akan rundingkan dengan keluarga kita disini.”
”Ingat…kita harus menortor bersama nanti disana, ini adekmu siampudan, jadi kalian juga harus mengenakan ulos” ujarnya mengingatkan.

Burhan sangat berharap kalau nantinya diacara mangulosi, ulos itu di tor-torhon mulai dari depan, dan di iringi oleh musik, sehingga semua tamu undangan akan tahu kalau yang punya pesta adalah orang batak. Dan dia ingin menunjukkan kepada tamu yang sebagian besar bukan orang batak, kalau Ulos dan tor-tor batak sangat indah.

Dia membayangkan decak kagum dan gelengen kepala para udangan begitu melihat rombongan dongan tubunya manortor bersama, marembas bersama mulai dari pintu utama hingga mengitari podium tempat pengantin duduk. Seolah sudah tergambar dalam penglihatanya, Ulos Ragi hotang yang paling indah, yang sengaja di persiapkan itu akan di bentangkan bersama dan diarak kesekeliling ruangan itu. Lalu dia dan dongan tubunya akan membalutkan Ulos itu ke pada anaknya siappudan dan kepada mantunya.

Dan yang paling diangankannya, semua tamu undangan akan berdiri dan ikut manortor bersama mengikuti gerakan yang di peragakan para dongan tubunya itu. Ah, sungguh luar biasa. Dia berguman, seuntai senyum indah menghiasi wajahnya yang sudah keriput.

*   *   *

Segera dia meraih telepon gemgamnya dan menghubungi amanTogu.

“Kok bisa seperti ini acara yang kalian lakukan? kenapa kalian tidak manortor? kenapa cuman memberikan ulos dengan cara seperti itu?. Kalian tahu?, aku tak butuh ulos itu, lebih baik dari situ pun bisa kubelikan di Bandung ini. Tapi yang saya inginkan adalah semua keluargaku manortor bersama pengantin, bila penting semua undangan harus ikut manortor, percumalah kalian datang jauh-jauh” ucap Burhan berapi-api

“Tapi uda….”

“Tak ada tapi-tapinya..semua sudah lewat, buat apa lagi, saya kecewa sekali, sudalah kalian pulanglah, percuma kalian semua raja adat, bikin sesuatu yang terbaik pun nggak bisa.”

“Bukan begitu uda, kami lihat par-musiknya tidak siap untuk itu, dan mungkin dia nggak bias mengiringi kami manortor”

“Apa tidak ada dari kalian yang bisa manortor ?. ‘Kan banyak lagu batak yang bisa ditortorhon, lagu apa kek, dangdut kek, pocopoco kek…apa kek, yang penting manortor” Burhan semakin meninggi berapi-api. Penuh amarah. Beberapa saat mereka terdiam, terbawa emosi masing-masing.

Burhan kecewa sekali, acara pemberian ulos yang sudah diangan-angankan ternyata sangat jauh dari kenyataan. Ulos diberikan seolah hanya basa-basi. Tak ada tor-tor, tak ada marembas. Hanya di uloskan begitu saja. Salaman. Sudah!.

Burhan kembali ke tempat duduknya. Termenung.

Dia tak tahu kapan acara pemberian ulos dengan manortor bersama di tengah keluarga besaranya akan terjadi lagi. Umurnya sudah tua, dihari terakhirnya nanti, tak ada yang bisa menjamin kalau dia akan dikuburkan dengan cara adat batak. Seolah sudah yakin tak mungkin ini terjadi. Itulah alasan utama kenapa dia sangat berharap besar bisa melaksanakan adat batak sewaktu dia masih hidup. Di masa-masa tuanya dia ingin melaksanakan adat yang diwarsikan leluhurnya itu.

Istrinya seolah menangkap kegundahan hati Burhan begitu dia melihat burhan menanggalkan ulos Ragi Hotang yang dari tadi pagi menggantung di bahunya. “Sudahlah pak, mungkin ada saatnya nanti kita bisa melaksanakan adat kita, bukan disini, siapa tau ada acara yang mengharuskan kita ikut melaksanakanya…” istrinya mencoba menghiburnya.

Apakah diakhir hidupnya nanti akan diadatkan dengan ada batak?, Burhan hanya tersenyum kecut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s