HATA SO PISIK

Kisah tiga sekawan

Pada suatu hari….

Tersebutlah tiga sekawan, mau ‘marmitu’ di satu lapo terkenal. Rencana ini sudah mereka angan-angankan dari dulu, berhubung mereka punya kesibukan masing-masing. Sebut saja si pemuda pertama adalah seekor kodok muda yang doyan melompat kesana kemari dan paling berisik karena setiap melompat, dia pasti menimbulkan suara ‘teo te blung’ dengan nyaring. Biasanya dia nggak peduli apa tetangganya udah pada tidur.

Lalu pemuda kedua adalah, seekor kura-kura muda yang selalu berjalan dengan santainya, seolah jaga image. Seorang pemuda kura-lura yang pemalu, dimana setiap ketemu sama mahluk lain selalu lebih dulu bersembunyi. Alasanya, dia grogi dan kapok kalao ketemu dengan wartawan infotainment. Memang, pada kehidupan di episode sebelumnya, dia adalah seekor kura-kura yang doyan kawin cerai. Dan semuanya bekas istrinya adalah para pesohor yang kerap sekalimasuk tipi.

Itulah alasanya, kenapa setiap kali ketemu orang dia pasti menghindar, apalagi kalau seseorang yang ditemuinya itu bawa kamera.

Dan pemuda yang ketiga adalah seekor kaki seribu yang masih muda. Dengan kakinya yang kuat dan kokoh, maka si kawan ini menjadi seorang yang paling sombong diantara ketiganya. Asal ada cerita yang sedikit menyinggung perasaanya maka dia pasti bilang  ” siapa yang berani menantang awak, biar kutendang balik…”. Bayangkan kalo kaki seribu memendang kita, bah!!…seribu kaki puang.

Sampailah mereka bertiga dilapo yang dimaksud, dan mulailah mereka berpesta tuak dengan asiknya. Tak terasa dah dua jam mereka minum dan makan tambul. Rupanya, persediaan tambul si pemilik lapo ini cuma sedikit, sehingga hanya hitungan dua jam, semua tambul sudah habi. Ludes!!.

“bah…maccam mana ini, tanggung kali awak…mana bisa masuk tuak ini lagi…” kata kura-kura sembari menenggak sisa-sia tuak digelasnya hingga kosong, lalu sedikit menggelengkan kepalanya..” mantap tuaknya” tambahnya.

“Betul itu,…jadi nggak semangat awak memetik gitar ini” kata si kakiseribu seraya meletakkan gitar tua itu di atas meja di depanya seraya menyandarkan diri di bangku panjang itu, dan mencoba meraih sebuah tapak yang berisi tambul terakhir. “Tanggung kali pun” katanya lagi

“Ah, kalian ini taunya cuman mengoceh, ai di lapo simpang tiga masih banyaknya tambul, kesana aja kau ambil dan bawa kemari” kata si kodok seraya mengelus perutnya yang buncit.

“Jauh kali….kesitu aja kita” kata si kaki seribu.

“Bah, dah posisi enak duduk awak ini, nggak nya kau liat??” sergah si kura-kura
“Betul kawan, mengangkat kakiku aja dah berat kali pun, dah mulai bicara tuak ini…” kata si kodok
“trus bagaimana ini, masih lanjut atau pulang, dah habis tambulnya” kata si kaki seribu
“Kau sajalah yang ambil, bawa kemari”
“Kok aku…enak kali kau”
“Iya, kakimu kan banya, laarimu bisa cepat daripada aku??” kata sikura-kura membela diri.

Akhirnya setelah di undi dan dirapatkan, maka diputuskanlah si kaki seribu yang harus pergi membeli tambulitu ke lapo simpang tiga. Dengan berat hati dan dongkol diapun mengiakan. Memang, si kakiseribu ini seorang yang jentel, dia kalah ketika di undi tadi dan dia menerima kekalahan itu. Dan segera mereka mengumpulkan duit, kolek-kolekan, untuk memebeli tambul, terkumpullah beberapa ribu rupiah.

Sejam, dua jam, tiga jam.

Belum muncul juga batang hidung si kakiseribu dengan tambulnya. Mereka berdua mulai gelisah, sebab tuak didepan mereka yang mereka sarbut dengan pelahan itu, maka sedikit demi sedikit sudah mulai habis. Dan pandangan muali berkunang kunang. Mereka juga kuatir. Sebagai tiga serangkai, maka mereka sangat kompak dan setia kawan. Takut ada apa-apa dengan si kaki seribu, nanti mereka juga yang repot.

“Kita liat dululah kawan, siapa tau dia ambruk di jalan, karena mabuk” kata kura-kura
“Betul juga kau..”
“Nanti kita pulak yang kena omelan mamaknya” sambung si kura-kura.
“Ayuklah,…..”

Lalu mereka berduapun beranjak dari tempat duduk mau keluar, menyusul sikura-kura. begitu pintu dibuka, maka tampaklah mereka bahwa sikakaki seribu ada di depan pintu.

“Bah, sudah datangnya kau kawan?, kami dah kuatir tadi dan bermaksud menyusulmu” kata si kodok
“Mana tambulnya” tanya si kura-kura, sudah tak sabar
“Tambul apaan,..ini mau berangkat” kata si kaki seribu
“Bah,…baru berangkat?? sudah tiga jam ini, kau bilang masih mau berangkat?? dari tadi kemana saja?” kata si kodok sedikit kesal.

“Iya, mau berangkat, kan harus pake sipatu dulu, liat, baru selesai 997 sepatu, tiga sepatu lagi nih…” katanya seranya menyarungkan sisa siaptu yang tiga itu dan mengikatnya.

“Gubrraaakkkk” si kodok dan si kura-kura pingsan!

1 thought on “Kisah tiga sekawan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s