Pargabus…..

AmaniOgol memandang penuh iba pada si Ogol, anaknya  yang terbaring sakit. Sesekali rintihan si Ogol terdengarn lirih, begitu menyentuh hati. AmaniOgol menarik nafas dalam-dalam. Menyesakkan. Sudah tiga hari anak pertamanya itu meringkuk sakit. Demam berdarah. Beberapa hari yang lalu, atas saran tetangga kontrakanya, siOgol dibawa ke rumah sakit. Tentunya dengan biaya urunan dari tetangganya yang kasihan melihat penderitaan si Ogol. Ini adalah penyakit kedua yang menyerangnya bulan ini. Tiga minggu yang lalu, siOgol harus dirawat di rumah sakit karena terserang diare.

Amani Ogol sesekali membelai wajahnya yang nampak pucat. Di samping si Ogol, istrinya naiOgol sedang menidurkan siappudan mereka si Tama. Yang malam ini juga kelihatan rewel. Dia menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Kipas angin kusam berderit itu tak mampu mendinginkan ruangan tiga kali empat itu. Derit serak putaran kipas angin itu kadang menyakitkan telinga amani Ogol.

Diraihnya gelas besar yang berisi kopi pahit. Dia sengaja menyeduh kopi pahit, supaya dia terjaga sepanjang malam, menemani si Ogol. Pun, setali tiga uang, kopi manis tak mungkin dirasakan. Sudah semiggu ini, amaniOgol tidak memberikan uang belanja pada istrinya. Tak seperti hari-hari sebelumnya, pulang dari menarik angkot dia masih bisa memberikan beberapa lembar uang limaribuan buat belanja keperluan mereka.

Professi supir tembak memang bukan professi yang meyakinkan. Tentunya berbeda kalau dia supir tetap. Mungkin dia masih lebih beruntung sedikit. Berbagai macam pekerjaan telah dilakoninya, mulai dari kerja di pabrik, buruh bangunan hingga tambal ban. Seolah dia sudah ditakdirkan untuk selalu berkelut dibelakang kemudi angkot.

“Tulang, aku mau manerapi lagi, tambalbanku sudah ku jual, tak ada hasilnya, dapur saja sudah nggak berasap, mending aku menyupir lagi” ungkapnya pada amaniPardomuan, supir angkot yang menjadi langganannya semasa martambal ban.

“Bukankah lebih bagus kau martambal bere?, mungkin ada baiknya kamu pindah tempat” ujar amaniPardomuan memberikan saran.
“Ia tulang, tapi seperti yang tulang tahu, Lae AmaniTuani sudah memutus kontrakan itu, katanya saya nggak bisa membayarkan setoran. Sekarang sudah diberikan pada orang lain”.
“Iya sudah lah, tapi aku nggak bisa janji sepenuhnya, sebab sudah ada tiga orang kami manarik angkot ini, kalo kau ada rejeki, mungkin sehabis giliran kami bisalah” ujar manai Pardomuan.

“Nggak, pa-palah, ini juga saya sudah berterimakasih sekali, nanti aku cari tambahan lain. SiOgol sudah besar tulang, sebentar lagi mau masuk es de, dari mana lagi nanti biayanya, belum biaya kontrakan dan biaya dapur” kata amaniOgol.

“Ya sudah, temui saja saya besok di pool, urusan minta ijin sama supir lain, biarlah aku sendiri, pasti mereka mengerti keadaanmu” ungkap amaniPardomuan seraya meyelipkan duit sepuluh ribu, buat siOgol pahompunya.

Kembali dia menghela nafasnya berat. Lihihatnya bungkus rokok yang teronggok di sudut ruangan itu, kosong, tinggal geretan. Matanya melirik ke piring ringsek yang dijadikan sebagai asbak, masih ada puntung. Diraihnya puntung dan disulutnya.

Sebagai seorang batak yang punya tanggungjawab amaniOgol sudah membuktikan dengan hidup mandiri di kota besar ini. Beberapa minggu yang lalu, Oppung  ni si Ogol boru sudah memesankan agar mereka secepatnya pulang kampung kalau sudah tak bisa beratahan di jakarta. “Tidak inang biarlah beberapa tahun lagi kami bertahan disini” ujar amaniOgol ketika itu.

Ada ungkapan orang batak molo litok aek di toruan, tikkiron tu julu, artinya kalau ada sesuatu masalah maka pasti ada sebabnya dari awal.

Beberapa tetangganya pernah menanyakan, seandainya ada perkataan yang salah pada orang tuanya maka harus minta maaf. Siapa tahu dengan begitu, nasibnya bisa berubah.

Perhatian amaniOgol tertuju pada sebingkai foto kusam yang menggelantung didinding. Poto pernikahannya di sebuah gereja Tapanuli. Perlahan tangannya menghapus debu tebal yang melekat. “hmm…. ganteng juga pake jas ini” gumannya dalam hati sembari merapa berewokku.

Lalu pandanganya beralih pada poto disampingnya, Oppu ni si Ogol doli. Yah, sudah lama sekali.

AmaniOgol terginang kembali kata-kata amongnya ” Jangan pulang sebelum berhasil, kau lihat teman-temanmu, semua sudah berhasil di jakarta, kau juga harus berhasil….pergilah kau, disini juga nggak ada gunanya, pencuri nya kau disni…”.

AmaniOgol merantau juga karena di usir. Saban hari kerjanya hanya main-main dan mencuri harta tetanggganya. Sudah beberapa kali orangtuanya harus manirai kepada tetangganya. Disamping membayar denda akibat ulahnya, maka mereka juga harus memberikan garam kepada satu kamoung, sebagai tanda permohonan maaf.

Kelakuan amaniOgol waktu anak-anak semakin menjadi-jadi, bahkan sampai dikeluarkan dari sekolah. Berkat bantuan bapaktuanya, yang juga seorang happung atau kepala desa, akhirnya dia bisa melanjutkan ke sekolah lanjutan pertama. Puncaknya adalah, ketika amaniogol muda mencuri seekor babi. Babi ni happung, bapaktuanya sendiri. Lalu mereka panggang di kebun dengan teman-temanya.

“Among, aku minta maaf sama semua kesalahan yang aku perbuat…” ungkapnya lirih.

“Among, apa yang harus kuperbuat, supaya hidupku, pahompumu juga bisa berubah, datanglah ke mimpiku among, beritahulah aku, berikan aku petunjuk” ucap amaiOgol pada foto kusam itu.

AmaniOgol mencoba merebahkan dirinya disamping si Ogol dan sesekali tanganya mengibaskan koran bekas mengusir nyamuk yang menghinggapi pipi siOgol. Lambatlaun dia semakin taksadarkan diri. Penguasa malam memenangkan pertarunganya, menidurkan amani Ogol. Mungkin karena kecapean dan sudah tiga hari ini tidak tidur.

Dalam mimpi, amongnya datang memberikan seekor ikan mas besar.

*    *   *

Hari beranjak sore, amaniOgol sudah nongkrong di pool. Minum secangkir kopi sembari menunggu angkot dan akan tiba giliran dia menarik angkot ini.

Beberapa rekan sedang asyik membicarakan togel dan beberapa orang asyik mencoret-core angka-angka. Canda tawa mereka tak habis habisnya. Kopi segelas diserubut bersama dan goreng pisang menjadi penganan yang enak.

“Mati itu kawan, kemaren baru keluar si lapan” ujar seseorang
“Ah…kau ini banyak kali teorimu, kemaren kau bilang mati si lima, tau-taunya keluar lima-lima”
“Ceka berapa amangboru” ujar siPiongot datang tergopoh-gopoh.
“Tiga” jawab seseorang yang sedari tadi asyik buka buku tafsir mimpi.
“Bah..si tiga ya amangboru, kode alam apa?”
“Liat aja di erek-erek itu”
“Tesen berapa?” ujar amaniUrupan sembari membolak-balik kertas kode alam.
“Pergilah aku bah, dah kutulis nomorku tadi, dah datang tarikanku, biar bisa tiga rit lagi,…” kata amanJamordong sembari menyambar kunci yang terletak di meja.

AmaniOgol tersenyum sendiri melihat ulah rekan-rekanya di pool itu. Dia hanya duduk manis dan sesekaliu melihat kejalanan siapa tau angkotnya sudah datang.

Dia teringat akan mimpinya tadi malam, dimana amongnya datang memberikan ikan mas besar. Pada mulanya dia tak berpikir ke togel. Dia merenung, mencoba mengartikan mimpi itu. Selama ini memang dia tak pernah  bertogel.  Dari mana uang beli togel, buat makan saja sudah sudah.

“Ah, mungkin ini cara bapak menolong aku. memberikan mimpi dan kode, tak salah lagi ini pasti larinya ke togel “.  Gumanya dalam hati dan sedikit senyum tersungging dibibirnya.

Secepatnya, dia berlari ke warung yang tak jauh dari tempat mereka, warung Bu Ipah. Dia cari akal supaya dia dikasih minjam uang.

“Bu, aku mau pinjam uang, anakku sakit, harus dibawa ke dokter. Pinjamlah aku uang tiga ratus ribu” ujarnya dengan iba. Melihat wajahnya yang menghiba, luluh juga perasaanya. Tentunya sebagai seorang ibu dia tau persis bagaimana jika seandainya anaknya yang sakit.

“Bagaimana kau bisa bayar?”
“Nanti setiap pulang narik, aku cicil…”
‘Baiklah, semoga anakmu sembuh….” ujar Bu Ipah seraya menyerahkan tiga lembar uang ratusan.

*  *  *

Dengan tergopoh-gopoh di masuk ke rumah kontrakan. Diraihnya poto Oppu ni si Ogol doli. Sejenak dipandanginya foto itu. Lalu diangkat tinggi-tinggi. Dibantingnya dengan keras hingga kacanya berantakan.

“Tega kali kau amang, dulu semasa hidupmu, kau sering memarahi aku, memukulku dan mengusirku dari rumah, sekarang, sudah mati tak berubah juga. Kau datang ke mimpiku, kauberikan aku kode, ternyata bohong. Dasar pembohong, sudah mati masih saja jadi pembohong!..Huh!!!..terlalu” ujarnya, seraya menginjak foto itu.

Nai Ogol bingung melihat kelakuan suaminya.

Nomor togelnya tidak keluar. Dia harus berpikir bagiamana menyicil utang buat beli togel tadi!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s