Tulang parsappuluribuan

Foto0895Aku mulai gelisah ditempat dudukku, di kursi panjang pada barisan paling depan yang menghadap ke altar. Kulirik jam tanganku, sudah memasuki pukul 10.30, sementara kotbah ibu Pendeta sepertinya masih panjang. Alunan suaranya masih mendengungkan tanda koma saja. Kata “amen” yang kutunggu-tunggu dari tadi belum juga muncul. Kucoba untuk konsentrasi mendengarkan kotbah inang pendeta yang baru ditabalhon disalah satu pos parmingguon di huria kami. Sesekali getaran HPku membuyarkan konsentrasi pikiran dan pendengaranku.

Signal yang menandakan panggilan masuk. Pelan, kurogoh kantong Jasku, dan kulihat panggilan dari salah seorang penasehat punguan  marga kami. Aku biarkan saja panggilan itu, hingga berakhir. Sebenarnya, hari ini saya ada acara adat yang harus di ikuti.

Bermula dari seorang family yang menghubungi punguan marga kami dan menyampaikan undangan dan pemberitahuan akan sebuah acara adat. Adat mamoppoi bagas, mamasuhi jabu, memasuki rumah. Rupa-rupanya, margaku adalah tulang dari mereka. Dan kebetulan, di kota nan kecil ini, tak seorang pun famili dekat dari tulang mereka, marga Lumban Gaol. Atas saran dongan sahutanya, maka kamipun ditunjuk sebagai Tulangnya.

Acara mamasuhi bagas, merupakan acara adat yang lengkap dalam skala kecil. Karena pada acara ini, yang namanya  adat Dalihan Natolu dipenuhi. Ada Dongan Tubu, Hula-hula dan Tulang, juga boru dan dongan sahuta hasuhuton bolon.

Mungkin, bukan namanya ulaon mamsuhi bagas, kalo tulang tidak di undang. Pada hakikatnya, posisi tulang adalah sebagai orang tua dari hasuhuton bolon. Perumpamaan orang batak dakka do dulpang, ama do tulang sangat pas untuk kegiatan ini. Ya, Tulang adalah ama dari hasuhuton bolon. Maka, adalah wajib hukumnya kalau yang namanya ulaon mamasuhi bagas harus mengundang tulang. Biasanya, ulaon seperti ini dilaksanakan pada pagi hari, pada saat matahari masih bergerak naik. Petuah nenekmoyang orang batak, supaya berkat-berkat semakin berlimpah.

Beberapa hari sebrbrlumnya, bere kami ini sudah mengantarkan sihumisik sebagai pengganti Ikan mas, yang akan kami bawakan nantinya, dan juga untuk membeli bahan ULOS untuk kami uloskan kepada mereka. Dan setelah dirundingkan, maka seorang dari keluarga besar marga kami menjadi hasahatan dari tugas tadi, yaitu memasak ikan mas dan membeli Ulos.

Singkat cerita, maka acara pun berjalan dengan baik yang walaupun aku akhirnya datang menyusul tentunya dengan inanta soripada, boru tambunan na lagu i.

Adat mamompo bagas adalah salah satu acara adat batak  artinya dari jaman dulu adat ini memang sudah dilakukan, dari jaman nenekmoyang orang batak. Acara ini hanyalah acara ucapan syukur atas rumah baru.  Dan tuan rumah mengundang saudara-saudaranya untuk berdoa bersama supaya rumah dan seisinya mendapat berkat dari yang maha kuasa dan menjadi rumah yang membawa keberuntungan bagi sipemiliknya. Jadi intinya, hanya acara syukuran, kalo bahsa jaman sekarang ini

Rombongan hula-hula termasuk tulang dan memberikan parbue pir ( beras) pada tuan rumah termasuk anak-anaknya.

Lalu, raja parhata mempersilahkan para hula-hula dan tulang mengambil tempat duduk di tempat yang sudah dipersiapkan, dan beliau membacakan susunan acara yang akan dilangsungkan. Menurutku sih sudah oke, karna ter-menej dengan rapi dan baik.

Karna satu alasan yang kuat, kami berdua ( tentunya par-dijabu) mohon diri pulang duluan. dan tentunya lagi setelah mandok hata kepada tuan rumah. kami para tulangnya, satu persatu memberikan wejangan kepada situan rumah.  Dan sepertinya memang tak baik meninggalkan ulaon adat sebelum selesai semuanya, tapi dengan sedikit memelas aku pun di ijinkan oleh para natua-tua marga kami untuk pulang duluan.

Ceritanya…

“Ah…mantap do ra piso-piso i beretta i ateh, ai hubereng sian ulaon i, datung so hapal baenonna pasituak natonggi ni tulang, mardomu ai tulang nabaru do hita” kata saya, pada seorang orang tua yang turut serta pada acara itu.

“Nunga porlu siajaron bere songoni” ujarnya, dan pernyataanya tak menjawab pertanyaanku.
“Bah…sukkun-sukkun hi dang dialusi” kata saya sembari tersenyum.
“Ho ma jo appara, ai ise do hira tulang na takkas dihita??”
“Dang adong, na mandapot dison do sude”
“Ido na hudok, lima keluarga dohita ro, rap udur tulangna, rap manguloshon jala rap mandok hata … alai diboto hodo appara??”
“Ahai…”
“Na pabadahon do anggo beretta on bah, dia do masa leanon tu tulang arga sappulu ribu…”
“Bah ai dia do tutu, unang bait bah!”
“Olo, dungin dilean ma dua arga lima pulu ribu tu amaniUpana dohot amaniLunggu, ai aha bedatta tusi?..rappak tulang nadison do hita, da na paboahon do i?”
“Dang mantap nimmu ma”
“Gait do martulang bayon, didia do masa leanon tu tulang arga sappulu ribu, haru tu dakdanak a baru magodang dang dilean deba be hepeng songoni, lam tu tulang ma?, ai bere begu aha do i”
“bah..pasingoton do i bah…annon ‘marjabu-jabu i’ hiota do tong repot, mambaen akka saput ni i, hape tong mardalan arga sappulu ribu” ujarku memanas-manasi.

“Olo bah…hape songoni daona iba mar-motor…lak arga sappuluribu jaloon sian bere??” ninna

Itulah kisah tulang parsappuluribuan…..(nanti kuteruskan)

2 pemikiran pada “Tulang parsappuluribuan

  1. Saya pikir bukan ke ‘pancarianya’ lae. Lebih mnekankan betapa kita HARUS menghargai posisi SEBAGAI tulang, karena hubunganya nanti adalah KETIKA mangalean ULOS SAPUT maka Pekerjaan TULANG akan bertambah lagi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s