NaiHeppotRia….

<dari tadi malam, belum ketemu judul yang pas…..ada yang bisa bantu buat JUDULnya??>

Hari semakin siang.

“Pasti terlambat,” aku membathinku. Aku menyetir dengan cepat. Sudah dekat, terlambat lagi. Tak malu apa?.

Tergopoh, aku mengambil tempat duduk di barisan paling belakang dari deretan bangku yang disediakan khusus buat kumpulan koor kaum bapak. Duduk di belakang dan setengah menghadap ke arah jemaat -jemaat seperti sekarang ini, membuatku lebih leluasa, bebas memandang ke seisi ruang gereja. Dua buah ruko yang dimodifikasi menjadi satu ruangan dan jadilah satu gedung gereja.

Kidung pujian dalam bahasa daerah beberapa detik dilantunkan ketika aku duduk. Walau sedikit telat, tapi tak sampai lagu pertama terlewatkan. Bicara soal terlambat datang ke gereja, maka ada beberapa rekan menjadi “langganan” terlambat. Kadang, sudah mau kotbah baru sampai di gereja. Semoga ke-telatan-nya dikarenakan hal yang teramat penting, bathinku.

Entahlah, nada-nada yang dilantunkan bukan membuat hatiku tenang, sebaliknya, membuat hatiku semakin tak menentu. Suara organ yang  mengiringi nyanyian kadang seperti berlomba dengan suara jemaat menyelesaikan baris demi baris lagu pujian itu. Aku mencoba konsentrasi mengikuti awal ibadah ini, tidak bisa!. Aku lebih memilih diam, tidak bernyanyi.

Seiring dengan berakhirnya  lagu pembukaan pertama ini, siksaan ini berhenti juga sejenak. Aku menamainya siksaan, karena telingaku sakit mendengar suara berisik.

Aku membalik lembaran kertas warta dan sekaligus sebagai kertas acara. Paduan suara Naposobulung bersiap untuk mengisi acara selanjutnya. Konsentrasiku kembali terganggu. Beberapa detik sebelum naposobulung bernyanyi, empat perempuan muda memasuki ruang ibadah. Dengan santainya berjalan ke arah depan, bangku kosong tentunya. Tak merasa bersalah, keempat perempuan muda ini duduk, setengah berisik dan sesekali terlihat berbisik-bisik. Ah, lagi-lagi aku harus menunda waktuku menikmati kidung pujian, kali ini lagu koor naposobulung. Perhatianku jadi tertuju pada ke empat perempuan ini.

“Pandangannya tajam kali, jangan terlalu dipelototin lae…” bisik amanTinjo menyindirku.
“Ah lae ini, tahu saja kemana perhatianku” sahutku sambil berbisik pula.
“Alamak, mereka mau piknik atau ke gereja ya, …” ujar amanTinjo lagi.
“Itu dia lae, mungkin dia lagi kehabisan bahan baju, modelnya barangkali seperti itu” sahutku sekenanya

Tak habis pikir, aku tak habis pikir.

Aku masih memperhatikan jemaat ‘spesial’ ini. Tak ada rasa sungkan lagi dalam berpakaian. Apalagi ini di dalam rumah Tuhan. Atau mereka ingin mempertontonkan lekukan tubuh dan segala isinya kepada jemaat lain?. Aku tahu, banyak lagi perempuan-perempuan muda yang berpakaian seperti itu. Atau mungkin, aku-nya yang terlalu memperhatikan dan mau ambil pusing pada setiap orang yang ada di sekelilingku?.  Suatu ketika, aku terlibat diskusi dengan beberapa anggota punguan naposobulung, kejadian ini barangkali sudah lama berlangsung. Tepatnya ketika statusku masih sama dengan mereka. Naposo!.

“Kegereja itu bukan memperhatikan pakaian bang, yang penting hati abang, tak usah terlalu memperhatikan pakaian kami-kami ini” ujar Lamria, sorang naposobulung perempuan.

“Macam mana tak kuperhatikan, jadi kukemanain mataku ini, dikemanain mata jemaat lain?, kan konsentrasi ibadah jadi terganggu?” kilahku kala itu.

Aku memang orang yang kampungan dan tidak ikut model masa kini, setidaknya itu yang dikatakan istriku kepadaku. Dan dimana-mana perempuan sama, perihal berdandan ini. Tak heran, hanya untuk penampilan, istriku bisa bermenit-menit didepan kaca rias.

Tiga minggu lalu, ketika istriku meminta pendapat tentang baju yang akan dipakainya, aku hanya bisa tersenyum dan bilang, cukup cantik!. Bukan senyuman yang aku dapatkan dari pujianku yang tulus, malah omelan. “Kok semua dibilang cocok dan cantik?, harus meccing sama baju papa, dicoba ini cantik, dicoba ini cocok, ini juga bagus, gimana sih” ujarnya berkilah. Beberapa baju dicobanya hanya untuk memeccingkan warna dan coraknya ke bajuku.

Lah!. Ini mau ke gereja kok pada ngeributin warna dan corak baju?!.

Hampir setengah jam hanya untuk memilih baju. Dan akhirnya jadi juga ke gereja setelah urusan baju ini selesai. Rupanya, penderitaanku masih berlanjut sepulang dari gereja. Aku selalu menyebutnya penderitaan, karena  selalu ditanya pendapat pada beberapa baju teman-teman istriku. Tentunya, tak bisa kuberikan pendapatku. Anehnya, walaupun tak pernah memberikan jawab memuaskan kepadanya, tapi tak bosan-bosannya dia menanyakan pertanyaan yang sama. Dasar, Naiheppotria, demikian aku memanggil istriku, kalau ada rasa sebal. Aku selalu buta soal yang namanya memilih pakaian. Yang saya tahu, baju itu kalau sudah rapi dan nyaman dipakai sudah cukup.

Tak heran, dulu, masa-masa pacara, istriku selalu il-fil saat aku datang martandang ke rumah kontrakanya. Alasan ke il-filannya cuma satu. Bajuku selalu warna putih dan putih setiap berkunjung. “Bang, apa nggak ada baju lain?” tanyanya  ketika itu.

“Ada…”
“Trus kenapa pakai baju ini melulu?”

“Siapa bilang? setiap kesini selalu pakai baju yang lain…cuma warnanya sama, putih” ujarku kala itu. Semenjak kami berpacaran, maka urusan beli baju menjadi hak preoregatifnya. Aku masa bodoh, tinggal bayar dan pakai.

Pernah suatu hari minggu lalu, istriku tidak bergereja karena ada tugas luar dari kantor. Lalu, ketika sore harinya, tak kala saya sedang nonton berita di televisi, istriku menghampiriku. “Pa, tadi ke gereja nggak?”

“Iya, kenapa?”

“Lihat punguan nahohom nyanyi nggak?” tanyanya. Punguan nahohom adalah nama pasudan suara yang diikuti istriku. Entah kenapa namanya seperti itu, padahal bila kuperhatikan, sepanjang kebaktian selalu saja ada anggonya yang berbisik-bisik, tak terkecuali saat kotbah.

Aku mengangguk, pandanganku tak lepas dari televisi.

“Baju siapa yang paling bagus…” tanya istriku

“Mana kutahu? apa urusanku, emang saya pengamat mode?”

“Bah…kok nggak tau? Emang papa nggak perhatiin baju mereka? Berarti selama ini, kalo mama lagi nyanyi, papa juga nggak perhatikan penampilan mama? Percumalah saya memakai pakaian yang indah-indah kalau tak diperhatikan” sergahnya seenaknya.
“Loh,…..” kataku bingung.

“Trus ngapain ke gereja, baju aja nggak pernah diperhatiin, diperhatikan dong pa….” ujar istriku seraya ngeloyor ke dapur.

Kembali ke soal tadi.

Seorang dari perempuan muda itu bangkit berdiri, rupanya ada panggilan di Hpnya. Lalu dengan santainya dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan melintasi deretan kursi jemaat. Sedikit banyak sudah mengganggu konsentrasi beribadah jemaat lain.

Bukan mau mengajari soal tatakrama, tapi sebaiknya di gereja-gereja suku seperti ini, cara berpakaian harus diberikan perhatian khusus. Mungkin, jemaat-jemaat muda ini pernah “ibadah jajan” di gereja lain yang aliran kharismatik. Dengar-dengar, di gereja itu, masalah pakaian tidak terlalu penting. Kita boleh pakaian boi dipanotnoti atau you-can-see. Atau pakai  celana jeans, bahkan celana pendek. Dulu semasa naposo aku sering diajak si Jonggara, sahabatku, beribadah di sebuah mall. Rupanya, bagi si Jonggara, ibadah itu urusan kedua, nomor satu adalah paias simalolong.

Sementar, pada kebaktian di gereja suku, banyak aturan tak tertulisnya.

Aku melempar anganku kepuluhan tahun yang lalu, ketika aku masih remaja. Tak pernah kulihat pemandangan ‘enak’ seperti ini. Semua berpakaian sopan.

Tak salah amaniPonjot, rekanku satu pabrik bilang “ingin lihat model baju terbaru, rajin-rajinlah bergereja”. Bah!.

Kulihat, punguan koor nahohom akan mengisi acara selanjutnya. Sintua par-agenda dari langgatan-mimbar tengah memanggilkan, “kita dengarkan lagu pujian dari punguan na hohom”

Aku mendelikkan mataku.

Sebelum berdiri, beberapa anggota koornya sibuk memperbaiki letak selendang – scraf ke posisi yang lebih nyaman menurut mereka. Lalu beberapa lainnya sibuk dengan tas besarnya. Aku heran, kok tas sebesar itu dibawa-bawa ke gereja. Tas besar menggantung di lengan kanan dan Bibel dan Buku Ende tebal di genggam tangan kiri. Sebenarnya, tas-tas ini makan tempat. Biasanya satu deretan bangku gereja bisa lima orang, dengan tas sebesar itu, maka bangku ini hanya muat empat orang.

Tak seorang pun memperhatikan dirigen yang dengan seriusnya mencari nada dasar. Sebentar-bentar sang dirigen melirik ke barisan paling belakang memastikan nada sudah sama. Dia tersenyum. Aku yakin dia pasti pusing melihat tingkahlaku anak buahnya. Sedari tadi sibuk urusan pakaian. Ada yang bolak-balik buku koor. Dari tadi sibuk bisik-bisik, bukan mempersiapkan nyanyian.

Menurut cerita istriku, baju yang dikenakan naiAndilo, parsuara dua itu mahal. Katanya untuk biaya payetnya saja bisa sampai jutaan. Aku cuman geleng-geleng kepala. Kulihat ada keinginan istriku berbuat hal yang sama. Cepat-cepat kualihkan pembicaraan sebelum lebih lanjut dia membahas masalah kebaya perempuan.

Lagi-lagi aku protes pada pakaian-pakaian perempuan-perempuan yang bernyanyi itu. Lewat istriku tentunya.

“Ma, apa nggak bisa kalian rapikan sedikit baju-baju kalian itu?. Dah nampak pun semua?”

“Apanya yang nampak?”

“Semuanyalah, ibarat buku, kata pengantarnya sudah dibaca, tinggal isi dan kesimpulanya” ujarku senyum penuh arti.

“Semua kalian perhatikan, memang bapak-bapak jaman sekarang matanya kemana-mana” kata istriku sengit.

“Bukan mata kami yang kemana-mana, tapi objek yang dilihatnya yang datang sendiri, cobalah bicara pada teman-temanmu, apalagi di dalam gereja, bisa-bisa konsentrasi pendeta hilang gara-gara pakaian ini”.

“Model baju jaman sekarang memang begitu? Mau diapain lagi? Kan cantik..” ujar istriku membela diri. Untuk urusan yang seperti ini, aku paling keras. Ribut di rumah pun jadilah, kalau kulihat pakaianya habir disana, habir di sini.

Aku melihat istriku. Tatapan kami bertemu.

Rambutnya dicat pirang kemerahan. Kemarin malam, sepulang dari salon, aku marah besar. “Itu rambut diapain? Ada-ada saja?” protesku kaget ketika kulihat, rambutnya bukan hitam panjang terurai, melainkan pendek dan dicat merah.

Selama ini, setiap mau tidur, aku selalu mengusap rambutnya yang panjang terurai, harum dan tak lupa membisikkan kata cinta ke telinganya. Sepertinya, untuk malam ini dan selanjutnya, prosesi ini akan saya tinggalkan. Setidaknya untuk beberapa bulan kedepan.

Aku tahu, ketika dia berdiri diseberang sana, dia juga melirikku. Dia memastikan kalau aku, dari barisan koor ama memperhatikan dia. Bah, itu bukan istriku!. Ternyata memang bukan dia sendiri berambut seperti itu. Ada beberapa ibu-ibu yang mencat rambutnya merah kepirang-pirangan.

Suara punguan ina na hohom pun bergema. Bicara soal pas dan falsnya suara, tak usah didiskusikan. Memang, bernyanyi di gereja bukan soal enak atau tidaknya, bukan soal merdu atau falsnya suara. Semua suara itu hanyalah untuk memuji Dia sang khalik.

Tapi terkadang, kalau lagu yang dinyanyikan grup koor tidak enak di telinga, yang keluar dari mulut adalah rasa gusar. Lagi-lagi soal pendapat.

Saat pulang dari gereja, biasanya istriku menanya dan sekaligus mengaminkan kalau suara punguan koornya bagus. Sedikit kita komentari, maka balik kita dikasih komentar. Ah naiheppotria, istriku.

“Sudahlah, daripada mikirin baju dan lagu koor mending kita ke Mayasari-Cililitan cari mie Medan, lapar ini” ujarku. Tanpa persetujuanya, aku membelokkan kenderaanku kearah sana. Istriku senyum simpul. Dia merogoh tasnya dan mengambil kaca kecil, dan melihat bedak dan yang lainya, luntur apa nggak. Dipolesnya sedikit. Dasar naiheppotria!.

2 pemikiran pada “NaiHeppotRia….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s