Sukkun ma Habbing i…..

Nun jauh, di sebuah negeri di baik awan, tersebutlah negeri Nasumalim terkenal dengan keindahan alamnya. Tanahnya subur, lautanya luas. Dari menjala cukup menghidupimu, seperti kata syair lagu. Dengar-dengar rakyatnya makmur dan suka menolong serta religius. Aku menamainya negeri religius karena semua rakyatnya percaya pada Tuhan.  Jutaan rumah ibadah berdiri, bahkan sudah lebih banyak rumah ibadah daripada rumah penduduknya. Dibalik kemakmuran negeri itu ternyata menyimpan sesuatu yang amat busuk. Banyak ketimpangan terjadi mana-mana.

Banyak rumah ibadah, tapi banya rakyat yang tak punya rumah. Banyak orang kaya tapi lebih banyak anak yang mari karena kurang gizi. Banyak rumah ibadah, tapi lonte-lonte bebas berkeliaran di malam hari. Korupsi dimana, mana. Saban hari berita di televisi tak lepas dari perkara korupsi.

Pemuka agama memperdayai orang-orang awam yang buta pengetahuan tentang agama. Dalil dalil agama dipakai untuk berbuat korupsi, untuk merusak harta orang lain. Bahkan untuk membunuh orang lain. Mungkin sepintas kalau kita perhatikan tak ada ‘masalah’ dengan negeri ini.

Tak heran, setiap pagi berita di televisi selalu menanyangkan cerita-cerita murahan. Cerita pemerkosaan, penganiayaan anak-anak, hingga cerita perceraian. Kalau jaman nenek moyang para penghuni negeri ini, masalah perceraian adalah tabu, maka kini, perceraian adalah trend untuk menaikkan popularitas. “Kita sudah sepakat kok untuk berpisah” ujar sang tokoh yang ternyata baru menikah satu setengah tahun.

Lihatlah perilaku AmanTega, seorang cerdik pandai agama. Kalau dilihat dari gelar keagamaan yang dimiliki, sepantasnya dia menjadi panutan. Dan rasa-rasanya, beliau menajdi orang yang selalu diminta petunjuk dalam menjalani kehidupan ini. Ternyata, dengan ilmu agama yang dia miliki, entah benar atau salah, dia memperdayai anak-anak yang baru beranjak usia remaja. Masa-masa awal puberitas. AmanTega menikahinya.

Lagi-lagi soal pembenaran perilaku. AmanTega melakukan ini pernikahan dengan anak usia 9 tahun dan menurut dia sudah sesuai dengan dalil agama yang dianutnya. “Itu tidak salah, junjungan kami juga pernah melakukan itu, jadi apa yang dilakukan junjungan kami, wajib kami lakukan” kilahnya sambil terkekeh.

Entah bagaimana ceritanya, dia ditangkap prajurit kerajaan karena perbuatnya itu. Dan entah bagaimana ceritanya pula, dia bebas. Bebas murni dari segala bentuk hukuman. Hakim menilai dia tidak bersalah dan tidak layak di hukum.

Ah, negeri ini benar-benar edan. Menikahi beberapa anak kecil dianggap tidak bersalah?.

Kalau sudah begini, para penguasa negeri Nasumalim hendaknya memperingati hari kebebasan ini. Katakanlah namanya menjadi Hari Kelamin Nasional, untuk memperingati bebasnya penjahat kelamin ini. Dan Instansi pemerintah harus diliburkan dalam peringatan ini, menjadi hari libur nasional.

Anak kecil saja tahu mana yang benar dan mana yang salah. Masih ingat kejadian beberapa bulan lalu, seorang ibu dijatuhi hukuman penjara hanya karena dia menulis peristiwa yang dialaminya, ketika dia berobat ke sebuah rumahsakit dan membagi-bagikan cerita itu kepada teman-temannya. Beliau diganjar dengan hukuman penjara.

Benar-benar negeri edan!.

Pagi nan cerah, AmanJamordong asyik baca koran di sebuah lapo. Lapo ini menjadi tempat tongkrongan setelah beberapa usaha sejenis dirusak dan ditutup paksa oleh massa karena menurut massa tadi keberadaan lapo ini mengganggu ketertiban umum.  Matanya tertuju pada berita si cendikiawan agama yang bebas itu.

“Bah..maccam mana pulak negara ini, penjahat kelamin bisa bebas murni?” ujarnya sembari menyerubut kopi hitam di depaannya.
“Yang aku pikirkan bukan  bebasnya dia amangboru, tapi bagaimana rasanya kawin dengan anak kecil seumur siRumondang” ujar amaniRumondang, rupanya boru panggoaranya itu seumur dengan wanita yang dinikahi si cendikiawan agama tadi.

“Ah..rarat kau, tak jauh-jauh pikiranmu dari yang satu itu pantas anakmu sudah tujuh” ujar amanJamordong
“Iya amang boru….secara manusia ajalah dulu menilai, tak pantas kan?” amaniRumondang balik bertanya
“Kau mau tahu rasanya mengawini anak kecil?”
“Hanya sebatas pengen tahulah”
“Benar??”
“Memang kenapa amangboru, sepertinya kau tahu rasanya” ujar amaniRumondang
“Kalau kau ingin tahu rasanya, kau tanyalah kambing dan babi di bara sana. Hanya kambing yang kawin yang berkelakuan seperti itu. Jadi kalau ada manusia meniru kelakuan kambing itu, itulah yang dinamakan manusia kambing” ujar amanJamordong sedikit emosi. AmanJamordong membayangkan kalau putrinya si Bagagria, yang masih duduk dikelas empat Es De menikah. Tak terbayangkan dia.

Negeri edan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s