Beranda » Kategori » CERPEN » Saurmatua….

Saurmatua….

Pada perayaan hari-hari besar agama, seperti Natal, Paskah, dll, kebanyakan dari  kita menyampaikan ucapan selamat, kepada orang-orang yang dekat dengan kita, sahabat-sahabat kita, orang-orang yang pernah bersama dengan kita. Ucapan selamat yang beraneka ragam gaya penulisan,. Aku menyebutnya sebagai Bahasa SMS.  Ada kalanya isi SMS ucapan selamat  ini hasil kreasi orang lain lalu kita dilanjutkan ke pihak lain. Dan yang paling lucu ada yang kembali ke kita lagi si pembuat ucapan ini. Membuktikan bahwa tidak semua orang mampu berkreasi, pun adlaha dalam bahasa SMS.

Entah iklas atau tidak, pokoknya aku mengetikkan huruf demi huruf di HP yang jadul ini. Aku paling tidak suka mem-fordward kalimat ucapan natal yang saye terima. Biar kalimatnya sederhana, asal hasil pemikiran sendiri, itu masih lebih baik. Kadang, syair lagu dari Buku Ende menjadi kalima-kalimat favoritku.

Sembari menunggu hidangan yang pesan datang, maka akupun ber-asyk-ria memainkan jari-jariku di tuts HP murahan itu.

Awalnya aku tidak perhatikan pengunjung lapo ini. Rupanya ada beberapa orang yang memperhatikanku. Dan itu kuyakinkan setelah pandangan kami bertemu dan dia melempar senyum padaku. Mungkin terpana dengan ketampananku? Seorang pria tampan sedang makan di lapo?.

Aku sedikit terkejut. Sepertinya aku pernah kenal dengan dua orang di antara ketiganya. Tapi di mana?. Seorang dari mereka mendekati mejaku, tatapan kami bertemu, dan menyapaku. “Lae Jamordong kan?”

Aku menghentikan aktifitasku.

“Iya, kalo tak salah Lae ini si Japunten yang dulu pernah kuliah di USU, kost di jalan Pembangunan – Dr. Mansur” tebak saya.

“Ah….purak-purak lupa kau lae, iya…kita satu kost, gimana kabar lae? Gimana kerjaan? O yah..ini si Jona, adeknya teman satu kost kita siRaus, yang dulu sering nginap? Ingat nggak?…” ujarnya memberondongku dengan pertanyaanya, dan dia memperkenalkan temanya.

“Iya..iya…iya, aku ingat” kataku. Gaya bicaranya tidak berubah, sama seperti dulu. Kami berdua memang sohib. Sejak kuliah di Fakultas Teknik USU, kami sudah saling kenal, bahkan satu kost lagi. Temanku ini seorang yang pintar tapi bandel. Tak heran, dia butuh sembilan tahun untuk tamat, semetara saya tujuh tahun.

“Sudah mangoli kau lae? sudah berapa kedanmu” tanyaku

“Belum, masih jomblo lae, tak ada yang mau boru ni raja i…” jawabnya sambil ngakak.

Obrolan pun berlanjut. Dia seorang yang sudah mapan, punya usaha sendiri dan sedang studi S2 di UI. Dari cara bicara dan gaya menghadapi orang aku melihat sesuatu yang berbeda. Sangat Elegan.

Setauku, umurnya hampir sama denganku, sama tahun cuman beda bulan saja, artinya dia, si Japunten temanku ini sudah memasuki usia 34 tahun. Dan belum menikah.

“Masih ingat kau siRumondang lae?, anak ekonomi yang rela menungguin kau di warung pojok??…….”
“Iya..ya, cewek yang naksir berat sama kau itu?” tanyaku. Kubilang sampai naksir berat, memang, saking naksirnya, sampai-sampai si Rumondang, putri seorang pendeta rela menungguin kami yang sedang asyik main trup. Sampai-sampai dia diperingati oleh kakak-senior di persekutuan, dia jadi jarang ikut persekutuan doa di kampus.

“Sudah tiga anaknya, waktu pulang ke Medan dua bulan lalu, kami bertemu di Pasar Pringgan” lanjut Japunten.
“Bah…sudah kalah kau lae”
“Iya lae, itu dia masalahnya, aku juga sudah di desak untuk segera mangoli, tapi lae kan tahu, cewek jaman sekarang, susa-susah gampang dapatnya”
“Bah…!”
“Awakpun sudah mulai mandele kadang kupikir, siapa yang mau itulah jodohku. Coba kau pikir lae, tak ada yang mau samaku. Sudah banyak cewek-cewek buruh pabrik itu ku ajak menikah, semuanya menolak aku. Kadang aku berpikir, kalau nggak mau boru ni raja i na di pabrikan, bah…dokterpun nggak papalah, kuiklaskan sajapun sama dokter. Atau, kalau ada dosen, dosenpun jadilah, pendeta pun jadilah, kulihat sombong-sombong kali par-pabrik-pabrik ini” kilahnya, dilanjutkan dengan suara tawanya yang ngakak.

Dasar, Japunten pikirku.

*   *   *

Beberapa hari yang lalu, aku juga menyampaikan ucapan selamat natal pada seorang teman,  sahabat, guru dan sekaligus yang sudah kuanggap abang spritual saya di dunia perantauan ini, mengucapkan selamat natal dan menanyakan kabarnya, juga keluarganya. Perbincangan mulai dari hal-hal yang ringan-ringan. “Sudah yang mangoli-nya kau” dengan aksen bahasa batak yang kental sebagai ciri khasnya.

“Bah..yang sudah lupanya abang?? Perasaan sudah sering kali abang menanyakan itu dan sekian kali aku jawab, apa sudah lupa?

“iya nih,..rada-rada bolot aku, kena pengaruh krisis global ini…”

”Bah…sejak kapan pulak abang suka membicarakan masalah ekomoni??” tanyaku, aku tahu bener kalo itu bukan minatnya, dia seorang pendeta yang lebih enak diajak ngobrol ngomongin teknologi dibanding ekonomi.

Obrolan berlanjut lagi, menanyakan beberapa orang dari teman-teman saya dimana dia dulu sering menjadi teman kami berdiskusi di kebaktian pemuda atau PA. Salutnya dia masih ingat satu peratu nama-nama itu, padahal saya aja sudah banyak yang lupa, lupa nama lupa wajah.

“Bagaimana kabar si Marolop?” tanya dia, menanyakan seorang teman.

“Bah…udah hebat dia amang, udah menejer dia sekarang di perusahaan jepang, cuman masih single dia, masih jomblo kalo bahasa sekarang, denger-denger masih aktif  di naposo…” kataku menjelaskan apa yang aku tau tentang teman ini.

“Bah…udah berapa umurnya dia itu…?

“Baru tiga puluhlimaan amang…”

“Kalo tiga puluh lima sudah nggak naposo dong…”

“Maksudnya apa?? Dia kan belum kawin, masih naposo”

“Iya…..tapi tau nya kau? kalo sudah tiga puluh keatas itu sudah nggak naposo, tapi dah naposi…..”

“Ada-ada saja amang ini,..apanya yang naposi?” tanyaku. Menurut kamus gaul ala Tokke Latteung, perngertian kata Naposi itu adalah yang keras. Terjemahanya kira-kira seperti itulah, naposi berasal dari kata POSI, lalu na artinya ‘yang’ berarti naposi adalah yang posi. Posi artinya kuat, keras, beddel, kekar. Entah apa maskudnya kalo seseorang di kategorikan naposi. Apanya yang keras dan apanya pula yang beddel. Ada-ada saja pikirku.

Obrolan kian berlanjut, mumpung ini hari libur sehingga tidak membangkrutkan pulsa Hpku, dengar-dengar sesama satu operator pulsanya lebih irit, lagian aku juga nggak sibuk-sibuk amat. Emang selama ini aku pernah?, pura-pura aja sibuknya, biar dilihat tetangga kalo kita ini orang super sibuk. Bangun pagi aja dah jam 8 pagi, lalu baru pukul 4 sore hari sudah ngongkrong di rumah ngurusin yang nggak perlu di urus.

Katanya amang Pendeta, temanku ini, pemuda/i ini dibagi atas beberapa kategori yang menurut dia begini. Kalau antara 20 tahun sampai 30 tahun, maka masih dikategorikan naposo bulung. Naposo bulung itu sebenarnya kalau diterjemahkan langsung kedalam bahasa indonesia adalah daun muda. Naposo artinya muda dan bulung artinya daun, jadi naposobulung adalah daun muda.😉

Lalu kategori kedua adalah umur antara tiga puluh tahun dan tiga puluh lima tahun, ini sudah tidak dikategorikan dengan naposo, melainkan naposi. Seperti penjelasan diatas, saya juga bingung, apanya yang posi yah!!. “Pokoknya posi! Lah”, kata abang ini. “Apanya yang posi amang? Itunya atau ininya?” tanyaku.

“Semuanyalah..” jawabnya terbahak.

Lalu dia lanjut tanya, “waktu nikah dulu, kau masih naposo atau sudah naposi??”

Giliran aku yang ketawa.

Kategori berikut ini membuatku semakin terpinkal, Naposa!. “Bah apa pulak ini?” tanyaku disela tawaku

“Ya, kalo sudah di atas tiga puluh lima tahun itu sudah masuk kategori naposa”

“Se-posa apakah? Apanya lagi yang posa?” kataku.

Posa dalam bahasa batak diartikan sebagai penyakit yang parah separah-parahnya. Saking posanya, sudah nggak ada obatnya lagi, kayak penyakit beneran aja nih.

Biasanya, kikatakan posa berarti sesuatu yang bisa dipastikan akan segera berakhir. Apa heppi ending ataun sad ending.

Lalu aku bilang, nanti banyak yang tersinggung dengan pengelompokan yang amang buat itu. Dia cuman berpesan untuk tidak menuliskan di blog, atau dipublikasikan dalam bentuk lain. Aku nggak janji untuk tidak menuliskan ini, yah….namanya juga tokke latteung.

“Masih ada satu lagi kategorinya ini…”

“Apalagi amang?” saya disela-sela ketawaku yang tak henti-hentinya.

“Napose!!”

“Apaan lagi ini??”

“Ya…kalo sudah lewat naposa, jadilah napose. Pokoknya ini lah topnya, top disegala top dan paling senior, napose!”

*   *   *

Aku menatap wajah Japunten. Dia masih terbahak-bahak mendengar ceritaku tentang pengelompokan naposo itu.

“Lae masuk dimana?”

“ha-ha-ha, kayaknya sudah posa”

“Iya,…sepertinya. Asal jangan sampai doli-doli saurmatua saja” kataku.

“Bah…..ada lagi”

“Iya, the last one” kataku sambil tersenyum.

Lalu kami menutup obrolan hari ini dnegan saling bertukar nomor HP. Ada-ada aja bah!. Kalau ku pikir-pikir, benar juga. Pengelompokan yang paling tepat dan masuk akal dalam tatanan kehidupan orang batak saat ini. Mungkin banyak yang tersinggung dengan tulisan ini, sory aja yah!. Kalo mau marah, marah aja. Lalu setelah marah, kau hitung-hitunglah, lalu dalam hati kategorikan  dirimu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s