Beranda » Kategori » Parsorion » Acara Natal apa Diskotik??

Acara Natal apa Diskotik??

Dulu, saya sering nongkrong di Pusat Kegiatan Mahasiswa, kantor cabang GMKI Medan. Tepat nya di persimpangan jln Iskandar Muda dengan jl Gajah Mada. Suatu malam minggu, saya dan rekan-rekan seperti biasanya, nongkrong  hingga jam dua belas malam. Bernyanyi dan bersenda gurau tak memperdulikan waktu yang semakin larut. Tepat di lampu pengatur lalu lintas, beberapa orang bencong yang memang sering mangkal disana, mulai bermunculan satu persatu. Jl Ismud ini memang dikenal dengan bencongnyai pada masa itu.  Rupanya, wanita jadi-jadian ini memperhatikan tingkah laku kami malam itu. Lalu salah seorang dari mereka menghampiri kami dan berkata ” Om, ini gereja apa diskotik seh? Kok pada ribut-ribut hingga larut malam?”

Kenapa dia berkata begitu?. Sebagian orang pasti sudah tahu kalau gedung itu adalah gedungnya orang Kristen. Lihat saja papan namanya, ada gambar salibnya. Dan disana sering diadakan kebaktian, bahkan kalau hari minggu ada kegiatan kebaktian minggu. Jadi mereka pikir, gedung itu adalah gedung gereja.

Yang mau saya sharekan disini bukan bencongnya. Ogah…

Entahlah, saya ini termasuk orang yang terlambat lahir. Harusnya, saya lahir di era tahun lima puluhan. Kenapa?. Saya lain dari pada yang lain. Ketika orang sangat menyukai acara-acara gerejawi yang dipadukan dengan acara duniawi, maka bagi saya itu sangat menjengkelkan.

Siapa bilang saya ini anti sama lagu-lagu batak?. Sebaliknya saya sangat senang dengan lagu batak. Mungkin, koleksi lagu batak saya berjumlah ribuan lagu, dari penyanyi di lintas generasi sudah cukup untuk membuktikanya. Sebagai generasi batak, saya mencintai lagu-lagu yang bernuansa kebatakan.

Yang saya permasalahkan adalah, ketika acara perayaan natal juga disuguhi penampilan artis-artis, penyanyi batak yang membawakan lagu-lagu yang bukan lagu gerejawi. Dari lagu dangdut hingga lagu rock.

Kenapa saya malas dan sangat tidak mau kalau diajak untuk ikut berpartisipasi dalam kepanitiaan perayaan natal? ya itu tadi. Saya sangat menentang adanya acara tambahan itu. Acara natal yang sudah dirancang sedemikian syahdu dengan lagu-lagu natalnya yang juga sangat menyentuh hati harus sirna seketika begitu MC, Master Ceremony berteriak dari panggung. Yeaaaahhhh…….

Paling miris dan tidak bisa saya terima adalah ketika altar gereja yang menurutku harus kita pandang sebagai tempat suci dijadikan panggung bagi si penyanyi. Mimbar ini dijadikan tempat berjoget. Ya, Tuhan….apa saya salah menilai orang-orang yang berlaku seperti itu?.

Di altar itu, sebuah keluarga muda diberkati. Dialtar itu seorang anak mendapatkan baptisan. Dari altar itu, firman Tuhan diperdengarkan. Dan di altar itu juga kita berjoget dan bergoyang badan.

Setiap minggu, paling sedikit 2 kali saya menyambangi yang namanya gereja. Hari minggu dan hari selasa, sebagai jadwal latihan koor AMA. Di kedua hari ini, tak terbersit dalam pikiran untuk mengotori altar atau mimbar itu dengan cara duduk-duduk saja atau menjadikanya tempat mengobrol. ( salahkah saya jika dengan duduk-duduk sambil merokok saya anggap sebagai pengotoran?).

Kejadian yang saya lihat di perayaan-perayaan natal, begitu doa penutup, maka acara yang seperti diskotik itu dimulai. Renungan natal tak lebih sebagai syarat dan pelengkap acara itu saja. Orang-orang datang ke acara natal hanya untuk berjoget dan mendengarkan lagu-lagu.

Semasa lajang dulu, saya beberapa kali masuk ke kafe-kafe batak. Dan persis seperti itulah, mimbar atau altar gereja diperlakukan. Saya tahu persis. Bahkan ada beberapa acara perayaan natal dihiasi dengan lampu-lampu yang kerlap-kerlip.

Lagu-lagu sesudah nyanyian ‘amen-amen’ adalah lagu Anak Medan, seperti kejadian malam ini. ( Tulisan ini saya buat hanya berselang beberapa jam ketika saya menghadiri sebuah perayaan natal). Pernah juga saya mengahadiri acara perayaan natal marga. (nggak usahsaya sebutin marga apa, nanti kalian kampak awak). Seorang  artis-nya membawakan sebuah lagu dangdut. Lalu dengan tarian erotis yang meliuk-liukkan badan, dia mulai bergoyang. Lalu beberapa ama-ama secara spontan, maju kedepan dan dan iktu bergoyang. Selidik punya selilik, si artis adalah boru dari marga yang punya hajatan.

Menurut saya, kalau memang acara natal itu harus dimeriahkan dengan menampilkan artis-artis batak, maka buatlah panggung lagi, jangan di altar itu.,

Soal biaya?. Jangan di tanya lagi. Artis-artis itu dibayar mahal. Dibeberapa acara perayaan natal, biaya untuk mengundang artis bisa lebih besar dari biaya lainya, hingga 50 persen dari total biaya. Lalu bagaimana pengadaan dana?. Tentunya dari iuran anggota hingga donatour. Kalau semua natal di ikuti maka ada natal namardongan tubu, hula-hula, tulang, parsahutaon, dll. Inilah perayaan natal jaman sekarang.

Beberapa orang beranggapan, natal tak ada artinya bila tak ada hiburan artis.

Biasanya, pada saat acara hiburan juga disuguhi makanan, entah nasi kotak atau kue-kuean. Yang saya tidak setuju adalah soal makanan nasi kotak. Entah makan apa namanya, makan malam telat, makan pagi kecepatan, atau makan tengah malam. Belum lagi suara bising. Buat apa sih harus pakai sound system sedemikian besar?. Apa Yesus yang tengah dirayakan lahir dihibur oleh artis-artis dan musik dangdut?.

Buat rekan yang rela menyumbangkan waktunya untuk kepanitiaan natal, pertimbangkanlah acara yang akan digelar. Lantunkanlah lagu-lagu natal dengan musik yang syahdu. Sudah cukuplah kita-kita yang sudah dewasa ini menikmati lagu-lagu batak di VCD atau dipesta-pesta. Biarkanlah natal itu menjadi milik anak-anak.

Sabtu kemaren, kami dari punguan Silahi Sabungan di kota kami juga merayakan natal. Saya sebagai boru ikut ambil bagian. Tentunya karena perayaan natal kali ini berbeda. Tidak ada undangan artis. Lalu ketika acara sudah selesai, maka saya ambil kesempatan, mengundang seluruh anak-anak sekitar 50 orang, maju kedepan. Manortor bersama, mengajarkan anak-anak ini tari tortor kreasi diiringi musik organ. Memperkenalkan budaya mereka sendiri. Semua anak-anak bergembira ria, tentunya tambah gembira melihat selipan uang seribuan di jari tangan yang mungil yang terus menerus mengikuti gerakan saya. “Pa, nanti kalo ada acara manortor ikut lagi yah…” kata seorang anak, seuntai senyum menghiasi bibirnya yang mungil seusai acara tortor itu.

Jangan seperti pertanyaan dari seorang tetangga kita yang tak mengerti apa itu natal, sama dengan pertanyaan bencong seperti cerita saya di alinea pertama. “Ini gereja atau diskotik yah….”

One thought on “Acara Natal apa Diskotik??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s