HATA SO PISIK

tangan di atas…

Marsikkat terbangun dari tidurnya.  mencoba mengalahkan rasa kantuk yang amat sangat. Pandanganya dialihkan ke jam weker di atas lemari butut. Perabotan multifungsi, selain menyimpan barang-barang juga berfungsi  sebagai hiasan,–tentunya karena ada bingkai foto usang dan asbak butut,– kamar kontrakan yang baru lima bulan di huninya. Nanar, dilihatnya pukul satu siang.

Suara panggilan HPnys kembali terdengar, untuk kesekian kalinya. Melodi MP3 dengan lagu trio Santana. “Soripadakku..”. Marsikkat paling suka lagu ini, walaupun sebenarnya dia belum kawin, eh..maksudku menikah. Saban hari, menjelang tidur, lagu ini diputar di HPnya hingga tetangga kontrakan yang dari suku sunda dan jawa, hapal lagu ini. Persis!.

“Astaga, dari  si Rumondang, boru ni tulang tokke bawang, siappudan, ruoanya dia yang menelepon, sedari tadi?!” gumanya dalam hati. Marsikkat baru ingat kalau dia harus menemani si Rumondang ke Mall.

“Ah, pariban ini nggangguin tidur saja…” gumanya, tanpa menjawab panggilan Rumondang. Lalu kembali rebahan di kasur tak berseprei.

Lima menit.

Handphonenya kembali berbunyi dengan suara yang serak-serak tak ‘bertontu’ .

 “Rumondang lagi …Bah, dah ‘pelak’ ini” katanya dalam hati. Cepat-cepat dijawabnya. “Iya..iya, dah  di jalan ini, lima menit lagi sampai, tungguin aja ya, iban…iya..iya….udah di jalan” katanya. Nggak tau maksudnya ‘dijalan’. Jalan ke kamar mandi atau jalan ke dapur. Ya, dah dijalanlah pokoknya.

Bedagang tadi malam hingga pagi harus dibayar Marsikkat dengan tidur siang ini. Belum lagi kepalanya yang masih pusing akibat kebanyakan minum bir. Lengkaplah sudah!.

“Matilah awak, kalo sempat si Rumondang mengadu ke kampung. Bisa diomel inong nanti awak” kata marsikkat dalam hati. Dia tahu, kalo si Rumondang cukup dekat dengan inongnya. Masih ingat, kala inongnya nelpon sampai 3 jam, menasehatinya, gara-gara cekcok sama Rumondang. Bah!, dah kayak pemain PSMS awak ini, umpatnya. Pacar Setia Merangkap Supir!.

Akhirnya, Marsikkat sampai juga ke Mall Super super dan super mall itu. Wajah Rumondang tak bersahabat. Kalo dibilang pahit, asam, kayak buah aja. Pokoknya mirip kesitulah. Tanpa ba..bi ..bu..Rumondangpun mengomel “Bang, dari tadi lima menit, emang abang nggak tau lima menit itu gimana?”, nyerocos Rumondang.

“Maaf, deh paribanku yang manis, siappudan ni datulang, na lambok malilung, sungguh, dan sungguh, seluruh dunia ini tak tega melihat kau cemberut, lihatlah pariban, langit tiba-tiba mendung begitu dikau cemberut,  dimana ada bidadari yang cemberut?”, kata Marsikkat. Dia tahu kelemahan Rumondang.

Dia benar!.

“Ya udah, nih pegangin Alkitabnya, kita kebaktian dulu sebelum belanja, pasti abang belum ke gereja hari ini” kata Rumondang.
“Mending kita ketemuan di gereja tadi, nggak di Mall ini..” ujar Marsikkat.
“Kita kebaktianya di sini bang, disana..” kata Rumondang sambil menunjuk ke arah lantai lima.
“Bah..maccam mana pulak kau ini dek,..nggak ngertilah”
“Ayoklah” Rumondang merajuk.
“Bah…”
“Sai bah…sai bah….ayok…” Rumondang menarik tangan Marsikkat.

Jujurnya, Marsikkat tidak konsentrasi. baru kali ini dia kebaktian di Mall dan suasana seperti ini. Tapi, daripada ribut sama Rumondang ia menurutinya. Dengan dongkol.

Seminit dua menit, Marsikkat tidur pulas.
Rumondang menoleh kesamping. Dilihatnya Marsikkat sungguh pulas. Tak sampai hati dia membangunkan. Dibiarkan hingga acara kebaktian berlangsung. Bahkan suara Bas dan organ tunggal sebagai pengiring musik itupun tak di-terge Marsikkat. Pulas.

Kotbah sudah usai.
Pemimpin ibadah yang kelihatan masih muda belia memimpin lagu pujian. Menghentak dengan suara keras. “Puji Tuhan, tepuk tangan buat Tuhan…Mari bangkit saudara..”

Semua jemaat ikut berdiri dan bertepuk tangan seraya bernyanyi mengikuti gerakan tangan sang pimpinan ibadah. “Puji Tuhan, tepuk tangan buat Tuhan, sekali lagi. mari nyanyikan dengan riang..”.Jemaatpun mengikutinya.
“Angkat tangan tinggi tinggi…segala pujian bagi Dia” teriaknya melengking.

Diantara sadar dan tak sadar, Marsikkat bangung. Samar dalam pandanganya, orang-orang bernyanyi dan melambaikan tangan dengan musik hingar bingar. Dilihatnya, sepasang suami istri didepan bergandengan tangan sambil bernyanyi.

Setengah sadar dia berteriak “tangan di atas, masih dalam pelukan…matikan lampunya”. Marsikkatpun bangun dan berjingkrak-jingkrak. Semua menoleh,…. 😉     (dirippu ibana huroa di namasamasai…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s