Beranda » Kategori » Parsorion » Perjalanan…

Perjalanan…

Akhirnya, setelah keliling beberapa blok sudut kota ini, ketemu juga restoran tradisional Korea.  Bener juga tebakanku, masakanya enak. Yang makan sampai antri panjang banget. Baru kali ini, kulihat, mau makan di restoran ambil kartu antrian. Kayak di RS aja kalo di Indonesia. dari anak-anak hingga yang jompo tumpah ruah di restoran ini.

Tadi sempat tanya sama Mr. Ji, apa tuh namanya. Karna ngomongnya nggak jelas, trus dijelasin pake bahasa Korea, ya, nggak ngerti dong. Perasaan, rasanya  mirip ama “SOP JANDO” yang di Cibitung.

Pengalaman lucu ketika disuruh milih menu makanan. Terpaksa maen piling, alias feeling. “Kenapa pilih makanan itu, emang  sudah pernah makan dan tau rasanya? ” tanya Mr. Kim, Samsung Trainer Manager. Lalu kujawab, feeling saja. “Kok bisa?, Mengapa?”.

“Tulisanya singkat, gak bertele-tele dan feelingku ini pasti enak,” ucapku seadanya. Sudah bahasa Korea nggak bisa, –tau seh bacanya, — tapi nggak ngerti apa-apa. Dan ternyata benar, Enak banget.!!! sumpah. Mie Korea, yang dimasak seperti Mie GOMAK ala Tapanuli. Milih makanan kok pake  peeling!. Kubikinlah namanya Go Mak Ramyen.

Jurus ini dah kupraktekkan dari dulu. Nyari makanan yang tulisnya yang sederhana. Pasti rasanya juga nggak aneh-aneh. Ntahlah, kalo nanti ada kesempatan ke Arab, apa jurus ini berlaku di sana.

Sebenarnya, ini bukan trip pertama ke kota Chang Won ini. Beberapa tahun yang lalu juga sudah pernah melancong kesini. Jaman belom ada Pesbuk. Dulu dah pernah kutulis di blog-ku yang udah kujual itu. Tapi, dasar bedugul, namanya pemuda batak ada saja tingkahnya. Sok tau dan sok gaya. Dua hari lalu, perjalanan panjang naek ARGO BROMOnya, Korea.  Baru ngerasain naek kereta api yang kecepatnya 350km perjam, tanpa macet, tanpa ada pengamen. Bisa tidur nyaman. Dari Seoul hingga kota Changwon yang berjarak sekitar 600km.

Setiap naik bus di Negara ini, anganku selalu melayang ke negeri tercinta, Indonesia. Kapan ya, pelayanan di tempat umum bisa seramah ini. Supirnya yang ramah, selalu terseyum dan selalu menyapa “Anyongkaseyo”. Dulu, ketika pertama kunjungan ke negeri Ginseng ini, aku pernah dibuat sangat dan sangat kagum sama supir busnya. Dia tahu, kalo kami adalah pendatang. Lalu dengan lancar dia mengobrol dalam bahasa Inggris yang fasih. Supir bus!.

Setiap mobil dilengkapi dengan scnanner kartu. Mulai dari kartu ATM hingga kartu Kredit bisa dipakai bayar ongkos. Tak perlu nyari uang pas. Tak perlu ada yang teriak-teriak. “ongkos,..ongkos…”. Mungkin kah indonesia bisa menyamai korea dalam hal pelayanan publik?.

Kilas balik.

Pernah ke Singapur dulu, sama lae David Manalu jalan-jalan. Lalu dengan yakinnya aku jadi guidenya. Sumpah, baru kali itu aku ke Singapur. Dengan pedenya kubilang sama lae David “Kau bawa Empat ratus dollar sing-aja lae, dah banya itu.” ketika dia nanya berapa bawa uang.

Sampe di imigrasi Singapur, si India -sang petugas, memandangi wajahku. Pakaian simple, kalo nggak mau kusebut kusam. Pake oblong dan sandal jepit. Dilihatnya pasporku. Ada beberapa Cap imigrasi dari beberapa negara. Akhirnya, dengan sedikit ragu, dia melepaskanku dari imigrasi. “What’ s wrong, mister?” kataku waktu itu. Itulah pengalamanku di Singapur. Sore harinya, pulang cepat-cepat ke Batam. Cari lapo, untuk makan. Seharian nggak makan, karna nggak ada uang lagi. Bedugul!.

Lalu, tiga hari kemaren di bandara Incheon-Korea, hari pertama menginjakkan kaki di sini si petugas kayaknya nggak percaya ketika kujelaskan ” Ini yang ke tiga kali ke Korea, dalam beberapa tahun ini..”. Ada 15 menit, terdiam.  Kayaknya  dia nggak percaya banget, tanganya sibuk ngetik di keyboard komputernya, nyari dataku di Internet. Tak berselang, dia bilang. “Please”, sambil tersenyum. Wajah baik-baik gini, kok dicurigain, pikirku.

Ada hal lucu lain yang kualami hari ini. Rencanya mau cari makan malam. Lalu aku dan Mr. Ji sambil bercanda berjalan menuju restoran. Seperti yang kuceritakan di atas. Tau-taunya, Mr. Ji mampir sebentar ke sebuah warung. Kupikir mau beli sesuatu. Eh, ternyata beli kupon berhadiah. SDSB atau TOGELnya Korea. Masing-masing kami beli selembar. Harganya 1000won. Dan hadiahnya gede banget. Satu Juta Dollar. Uang asli…

Jauh-jauh dari Pakkat, ternyata awak main togel di Korea ini. Kata Mr. Ji, kalo togel kami malam ini tembus, dia akan buka Restoran Korea di Indonesia, lalu disamping restoran Korea itu, kubuka juga Lapo Batak. Mantaplah. Semoga togel kami tembus!.

Hal lucu lainnya malam ini, ketika ambil duit di ATM. Rupanya ada dua orang sedang ngantri. Kelihatan dari wajahnya mirip orang Indonesia. Tapi aku cuek aja. Teringat kejadian beberapa tahun lalu, di kota ini juga seseorang mengajakku ngobrol pake bahasa Dewa, sumpah nggak ngerti. Rupanya orang Philippina. Nah, pas seorang dari mereka berdua bilang “Mas, bisa nggak!”. Bah, tak mungkin dari negara lain lagi, pasti dari Indonesia.

Lalu kutanya ” Dari Indonesia, Mas?”
“Iya,..mas??” lalu kami kenalan. Rupanya mereka dari Bandung dan dari Palembang. Lucunya, mereka tak yakin kalo aku kesini cuman melancong. “Kerja dimana?” tanya salah seorang. Kujawab, Samsung Techwin. “Dekat itu mas, sama tempat kerja kami”.

“Dimana emang?”
Dia menjelaskan nama pabriknya. Tauk, ah. Namanya bahasa Korea. Mereka menatapku aneh. Masih tak percaya kalo aku baru nyampe dua hari, tapi dah keluyuran di kota ini, malam-malam.

Lalu kujelaskan kalo kedatanganku ke kota ini adalah untuk mencicipi Anggil ni Tuak.

One thought on “Perjalanan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s