Beranda » Kategori » Parsorion » Sama aja kok,…

Sama aja kok,…

Bagi mereka, acara makan malam tak sekedar mencicipi hidangan, minum tuak na tonggi dan lain halnya. Lebih daripada itu, acara makan malam dipakai untuk sarana mengakrabkan diri satu sama lain. Etos kerja yang mereka miliki dan displin yang sangat tinggi menyebabkan interaksi antara teman, keluarga dll menjadi sangat kurang. Satu-satunya tempat untuk mendiskusikan hal-hal yang santai adalah pada saat makan malam itu tadi. Dari hal yang serius hingga hal santai. Dari masih sadar, hingga ‘suara’ tuak yang berbicara.

Acara di tipi menarik perhatian kami. Aku sendiri tak tau apa artinya, yang jelas pastilah lucu. Wong, mereka ketawa ngakak kok!. Secara defakto pasti lucu.

Seorang bocah kecil, perempuan berceloteh lucu. Senyumnya lebar matanya besar dan berbinar. Mungkin semacam siaran anak, kali yah.

Di indonesia, siaran seperti ini sudah raib di telan bumi. Saban hari anak-anak di cecokin sama sinetron dan berita politik. Tak ada Pilihan. Bener kata amang Suhunan Situmorang, “dia do sipilliton?”.
Tak heran, banyak anak yang sudah rusak. free sex dan sebaginya. Hanya ketemuan di pesbuk bisa di kawinin.

Dimana acara anak yang tralalala, trilili itu?. Lihatlah, ada Idola cilik tapi lagunya lagu percintaan orang dewasa. Bagaimana mungkin dia meresapi apa makna “Bahagia di pelukmu?”. Yang benar saja. Akhirnya dia penasaran, dan benar-benar ingin di pelukan laki-laki. habis ma sude, suda ho manuk sai lao tu dalan i.

“Saya belum punya baby” kata ku ketika ada yang menanyakan. Kalo babi sih, kami punya dulu. lah, kita ini kan na pinagodang ni babi?. Anggo so adong babi, dia boi sikkola?.
“Kenapa?”
“Nggak tau, belom dikasih sama pencipta manusia”
“Mintalah”
“Sudah sering”
“Trus?”
“Katanya, nanti, ada saatnya”
“Ada kemungkinan lain?”
“Mungkin tools–nya kurang kalibrasi barangkali, untuk itulah saya datang kesini, untuk memeriksa tools, siapa tau ada yang tak beres” jawabku, lalu mereka ngakak mendengar bayolanku.

“Kalo kau minta, laki atau perempuan”
“Sama saja, satu aja belom dikasih, dah milih-milih” kataku, tersenyum geli.
“Nanti kubelikan…”
Bah, kawan ini….emang kau Tuhan itu?…hehehheh

Lalu mereka berdebat, dalam bahasa yang membuatku hanya bisa sebentar berpaling ke kiri, sebentar ke kanan. Pusing!.

Rupanya, mereka mendebat kalau tradisi di kampung ini, sama persis dengan tradisi di kampung saya. Anak laki menjadi nomor satu. Walo beberapa orang lebih memilih anak perempuan. Lalu, pertanyaan kembali ke saya. “Kalau harus memilih, mana kau pilih, laki atau perempuan”.
“Perempuan” kataku mantap, serius. Lalu aku mereguk air putih didepanku. Menghentikan aktifitas makanku, yanmg sedari tadi sibuk men-yumpit, babi panggang itu.

“Alasanmu?”
“Nanti, kalo kita sakit, maka anak perempuanlah yang mengurus kita, yang paling rajin dan telaten. Bahkan, hidupnya dipersembahkan untuk kita. Sementara laki?…kalo kita dah sekarat, bukan obat yang dipersiapkan, melainkann surat segel ato materai. harta warisan!” kataku sekenanya. Kami ngakak bersama. hehehheh….just kidding. Awak nggak gitu kok, sayang kok ama papa dan mama di Pakkat.

Bagi sebagian orang, rumah anak perempuan adalah ibarat rumah sakit, atau bangsal tempat perawatan. Begitu si orang tua meninggal, maka jadi tabu ‘diberengkatkan’ dari rumah borunya. Dianggap tak punya adat. Begitu sakit, maka rame-rame menunjuk rumah boru. ‘Dijabu muna ma ito, ussonang do bapa disi”. Tapi begitu mau bagi warisan, rame-rame menunjuk “jabu ni sihahaan do, dang boi tu jabu ni boru”.

Bahkan yang oaling sadis, harus pake adat sesembahan kalao ada yang meninggal di rumah borunya. Maccam mananya??…just kidding ya, jangan ada yang marah ya

Ternyata, untuk urusan yang satu ini, Korea dan Batak tak ada bedanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s