Kartini dari Korea…

Besok  adalah Hari Libur Nasional di Korea.  Setiap 01 Maret diperingati sebagai Movement Independence Day, Hari Pergerakan Kemerdekaan. Bagaimana ceritanya hingga hari ini begitu spesial bagi rakyat korea?.


Semenanjung Korea, selama  tigapuluh tahun lebih  di jajah oleh Jepang. Waktu itu, semenanjung Korea belum terbagi dua seperti sekarang. Korea Selatan dan Korea Utara. Dalam cengkeraman penjajahan Jepang, seluruh rakyat Korea menderita lahir dan bathin.

Fakta sejarah mencatat bahwa penjajahan tiga setengah tahun oleh Jepang sudah membuat  Rakyat Indonesia menderita sedemikian parah. Lalu bandingkan dengan tiga puluh dua tahun. Dari Tahun  1909 hingga tahun 1945.

Rakyat Korea mulai melakukan perlawanan, baik secara terang-terangan maupun lewat gerakan bawah tanah. Sebagai imbalan bagi mereka yang ketahuan ikut dalam pergerakan perlawanan ini, adalah kematian dipenjara, yang tentunya sambil disiksa. Sekitar 400.000 rakyat  Korea di penjara pada masa itu, yaitu pada awal masuknya tentara Jepang ke semenanjung Korea. Dari  jumlah sebagian besar adalah mati, dan sebagian lagi adalah cacat pisik dan mental seumur hidup.

Salah satu penjara yang paling terkenal adalah Penjara Seodaemun. Penjara ini berada di kota Seodaemun, sebelah utara kota Seoul sekarang. Kini, penjara ini  menjadi monument peringatan terhadap penjajahan Jepang. Rayak yang melakukan perlawanan dimasukkan kedalam penjara ini, dimana didalamnya terdiri dari sel-sel kecil. Setiap sel ditempati 7-8 orang. Penjara yang hanya dilengkapi sebuah jendela kecil sebagai pentilasi, tanpa toilet.

Berawal dari seorang siswi sekolah mengah wanita, bernama Ryu Gwan Soon. Seorang remaja berusia 16 tahun dimana bersama  kedua orang tuanya berdemontrasi di Pasar Tradisional Aunae. Kenapa gadis kecil ini menjadi seorang pahalawan, seorang yang akan dikenang seluruh rakyat Korea sepanjang masa?.

Teriakan Gadis Kecil inilah pertama kali didengarkan orang-orang di pasar tersebut. Seorang gadis cilik mempropaganda seluruh rakyat Korea untuk bangkit berjuang meraih kemerdekaan. Teriakan heroiknya pada tanggal  1 Maret 1919 menjadi inspirator rakyat Korea berjuang melawan penindasan Jepang. Tak henti-hentinya dia berteriak ditengah pasar, mengobarkan semangat perlawanan kepada penjajah. Tak memperdulikan moncong senapan sudah diarahkan kepadanya.  Lalu, puluhan orang hingga ribuan turun ke jalan meneriakkan semboyan kemerdekaan.

Pada hari itu juga, kedua orang tuanya ditembak  oleh Polisi Militer Jepang. Dan Ryu remaja, ditangkap bersma kakak laki-lakinya Kwan OK. Dia dijebloskan ke penjara Gonju sebelum di pindahkan ke penjara Seodaemun. Itulah awal perlawan rakyat Korea.

 “Kamu ( Jepang ) adalah penjahat,  menyiksa rakyat kami?” katanya pada hakim yang mengadilinya. Hakim mencoba membujuk dia dengan berkata, “Jika kamu mau bekerja sama dan tunduk kepada pemerintah Jepang,  maka kamu akan diampuni dan diangkat menjadi keluarga kerajaan Jepang”.  Lalu dengan lantang dia berteriak “Merdeka atau Mati!?”.

Tak henti-hentinya dia berteriak “Merdeka atau mati”.  Lalu tentara Kepang kehabisan akal untuk mendiamkanya, lidahnya di potong.

Pada tanggal 12 Oktober 1920 sang Inspirator rakyat Korea ini meninggal dalam keadaan menyedihkan. Ryu meninggal di penjara akibat siksaan dan kekurangan makanan.  Ketika keluarga meminta jenazahnya untuk di bawa ke kampung halamanya, mereka mendapati tubuh mungil remaja ini sudah terpotong enam dengan kepala di botak dan jari yang sudah tak berkuku lagi.

Ryu boleh saja meninggal di usia yang sangat belia, 17 tahun tapi semangatnya tak pernah  padam dari seluruh rakyat Korea. Keberanianya menentang penjajah Jepang menjadi inspirator rakyat Korea berjuang merebut kemerdekaan, yang baru setelah tahun 1945 bisa terealisasi.

Hari pertama dia meneriakkan perlawanan terhadap penjajahan Jepang diperingati sebagai  Movement Independence Day, besok tanggal 1 maret. Rakyat Korea sangat menghormati jasa Ryu. Tetesan air mata dari seluruh Rakyat Korea ketika perayaan ini diadakan.

Indonesia juga punya banyak pahlawan yang rela mengorbankan jiwanya ketika dia masih umur belasan tahun. Ada Kristina Marta Tiahahu yang usianya belasan tahun ikut berjuang melawan penjajah kolonial Belanda yang akhir petualanganya berhenti di ujung senapa. Lalu I Gusti Ngurah Rai, secara heroik berjuang hingga titik darah penghabisan di Puputan Bali, juga mengerang nyawa tapi dengan tetap semangat berteriak Merdeka. Lalu Robert Walter Monginsidi, sebelum diseksekusi tembakan salto, juga menolak berdamai dengan penjajah. Dengan bendera merah putih di tangan kanan, dan Alkitab di tangan kiri, dadanya tertembus peluru.

 Semoga perjuangan mereka tak sia-sia dan kita hanya bisa menikmati hasil perjuangan mereka yang telah dibayar dengan darah muda mereka.

Kata orang bijak, tak peduli seberapa panjang umurmu di dunia ini, tapi seberapa banyak baktimu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s