Beranda » Kategori » True Story » Marga bapak saya

Marga bapak saya

(old-story) http://www.latteung.wordpress.com.

Sebenarnya kejadian ini sudah berlalu sekitar tiga bulan lalu. Tapi setiap naik taksi, aku pasti terngiang kisah ini. Lucu dan sedikit menjengkelkan.

Kala itu aku naik taksi dari depan Metropolitan Mall – Bekasi pulang ke Cikarang. Sebelumnya, ada acara kopi darat dengan beberapa sahabat,–teman sekampung dari Pakkat– di Lapo Ondihon, di bilangan jalan Pramuka Jakarta Timur. Tuak, minuman khas orang batak sudah menjadi minuman setengah wajib (he..he..he..) untuk dinikmati, yang walaupun porsinya masih dalam tahap normal dan wajar.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam,  angkutan yang biasa ku tumpangi, K45, sebagai satu-satunya angkutan kota di jalur ini sudah tidak beroperasi lagi. Taksi alternatif satu-satunya. Lalu dengan sigap aku menuju “pool” tak resmi taksi-taksi yang  berjejer rapi, menunggu penumpang di depan mall terbesar di Bekasi itu. Tanpa tanya, langsung masuk dan duduk di jok depan. Dan ternyata, supirnya sedang terlelelap, mungkin kecapekan.

“Bang, Cikarang”, aku membangunkannya setengah berteriak. Lalu dengan sedikit tergopoh sambil mengusap wajahnya, dia minta maaf tidak mendengar ketika aku panggil. Tanpa banyak tanya dia menjalankan taksinya, mengarah tol Cikarang.

Awalnya aku nggak terlalu peduli dengan situasi ini, sudah ngantuk, sedikit pusing lagi. Raru tuak tadi sudah mulai bekerja, pelan tapi pasti.  Aku menyandarkan kepalaku lalu mencoba untuk menutup mata, ambil posisi untuk tidur, ngantuk berat. Samar, ku baca NameTag pengemudi yang terpajang di dashboard. Kuperhatikan dengan seksama. Hendrik N.

“ N nya apa bang?, dan nama abang mirip dengan namaku, huruf K nya aja yang tak ada”
“Nababan” ucarnya cepat,  tanpa menoleh.

“Bah!…halak hita do hape hamu, marga Marbun do au Lae, Horas ma!,” kataku, seketika hilang rasa kantukku. Yang ada adalah ingin menemaninya ngobrol, karena aku tahu pasti dia juga mengantuk.

“ Iya Bang…tapi maaf, aku nggak tahu lagi Bahasa Medan, juga nggak ngerti omongan Abang, aku udah lahir di sini Bang, Nababan itu marga Bapakku, kalo ibuku asli orang Solo, dan istriku orang sunda, aku sudah nggak pernah ke Medan, jadi nggak ngerti bahasa Medan. Adek-adekku juga udah lahir di sini dan semuanya sudah kawin sama orang sini, lagian bokap jarang pake bahasa Medan kalau di rumah”

“Bah, kau ini ada-ada saja, baru ku tanya satu kau jawab seratus,” kataku, emosiku naik.
“Iya Bang, jujur memang aku nggak tau bahasa Medan..”

“Eh, kau?!, ngeyel lagi, siapa yang bicara bahasa Medan?. Aku bicara bahasa batak, bukan bahasa Medan, kau ini sok amat sih?” kataku dengan nada tinggi, mungkin akibat pengaruh tuak itu.

“Maaf, Bang”
“Iya. Sungguh kau permalukan marga Nababan, kau bilang itu marga bapak kau, apa itu juga bukan margamu?. Kalau bukan, kenapa kau bikin N di belakang namamu?. Sok banget sih!,” kataku berapi-api.
“Iya, Bang, aku sih menyamakan bahasa Medan dengan bahasa Batak, dan itu yang ku tahu”
“Bikin emosi saja kau, jangan bangga kalau kau tidak tahu bahasa Batak, sementara kau orang Batak, bahasa Jawa tahu? Bahasa sunda tahu?”

“Tidak, Bang.”

“Kau bilang ibumu orang jawa, istrimu orang sunda, tapi satu pun bahasa tidak tahu, orang macam apalah kau” semakin tinggi nada bicaraku. Mungkin saking kerasnya suaraku, bikin ciut nyalinya. Aku emosi karena dia bilang Nababan itu bukan marganya, tapi marga bapaknya.

“Abang gereja dimana? Katolik apa Protestan?”, dia mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa?, Kristen, HKBP “ jawabku sembari menatap jauh kedepan.
“Nggak Bang, karena aku lihat buku yang abang bawa buku Kristen. Aku juga HKBP”
“Bah…macam-macam saja kau ini, sudah Batak, HKBP lagi, dan tidak tahu mana bahasa batak, mana bahasa Medan, banyak kali gayamu, jangan malu kalau kau pakai bahasa batak, bila penting semua bahasa di Indonesia ini kau tau. Loak kali kau…” kataku, tak peduli lagi kalau dia marah dan memaksaku turun di tol Cikampek ini, emosiku belum mereda.

“Soalnya, Bapak di rumah tidak pernah pakai bahasa batak, jadi kami semua tahu bahasa Batak.”
HKBP mana?”, tanyaku tanpa memperdulikan jawabanya

“Duren Sawit”

“Bah!…Duren Sawit lagi, banyak kenalan ku disana, jangan bohong kalau kau bisa bahasa Batak, apalagi kalau kau HKBP“ kataku.
“Ngerti sih bang, cuma mengucapkanya susah”

“Ah, banyak kali kecetmu, paso mai kedan!. Bikin emosi saja kau, kalau dari tadi kau bicara yang benar sudah enak perjalanan ini”.

Akhirnya sampai juga di Cikarang, dan aku tahu, dia mungkin agak sedikit kesal. Aku menepuk pundaknya, ia tersenyum dan mengangguk, menatap ku. Dia bercerita, baru sekali ini ada seorang yang lebih muda berani maki-maki tanpa takut, hanya gara-gara Marga dan habatahon.

“Abang masih muda, tapi berani. Ngeri kalau lihat abang, suaranya kayak petir, padahal gara-gara hal kecil”.
“Jangan kau pikir ini masalah kecil, bagiku ini pelecehan. Kau bilang Nababan itu marga bapakmu, bukan margamu, anak tiri atau anak pungut?”.
Nggak lah bang, ini juga taksi bapak, kami gantian, dia siang dan aku malam, maklumlah bapak udah tua”.

“Mungkin Amang itu kecewa sekali kalau mendenagr apa yang kau ucapkan itu, Nababan bukan margamu” seraya meyuruhnya belok kiri, begitu memasuki kompleks perumahan kami.

Diam dan membisu hingga sampai di depan rumah.

Setelah dia putar balik barulah ku sadar kalau sedari tadi marah-marah. Mungkin karena pengaruh minuman dan hal lain membuatku emosi. Entah kenapa bayak orang di dunia ini tak bisa menerima kehadiran dirinya dan jati dirinya. Tak bisa menerima embel-embel, status suku dan agama yang melekat padanya sejak lahir. Malu menjadi suku ini dan itu, dan dengan seenaknya mau menghilangkan.

“Kau sedot dulu darahmu itu, buang dulu semua, lalu kau belilah darah dari suku lain, kalau kau malu jadi orang batak, selagi ada darah batak mengalir di tubuhmu, kamu adalah orang batak. Lalu pergilah kau ke hutan, bertemanlah dengan monyet-monyet dan binatang lainnya, karena hanya mereka yang tak pernah mempermasalahkan kau dari suku mana”, ujarku pada supir taksi, Hendrik Nababan yang malu dengan kebatakanya.

15 thoughts on “Marga bapak saya

  1. sebagai batak, saya sedikit tersinggung karena ucapanya. dan yang utama karena dia seorang batak juga. lain hal kalo dia dari suku lain, mungkin saya takkan tersinggung. sebaliknya, jika ada teman2 dari suku lain bisa berbahasa batak, saya sangat senang. ada beberapa orang temanku yang fasih berbahasa batak. dan kalo ngobrol pasti bilang “marbahasa batk ma hita asa tabo makkatai, padahal dia asli orang padang…”

  2. hajar ibannn…… tuh org malu2in marga nababan…

    bapaknya bapak marga nababan yaaaa anaknya pun dikasih marga nababan lah..!! oto x lah tuh supir… hihihihihihi
    mungkin Batak Aspal tuh supir itu iban hahahaaaa

  3. Mantaf Tulang, ai memang songonari godang do halak hita merasa bangga marbahasa ni halak hape bahasa na saddiri dang diboto. molo diboto dang pola masala. alai ra tahe ibaenna so batak i do attong Inong nasida dohot pardijabuna ate. kan gabe ikut bahasa ibu do kan? heheheh…

  4. horas..
    aku baru googling dan ketemu blog lae,
    karena lagi blajar bahasa batak,
    karna dirumah gak pakai bahasa batak jadi dodong ma au lae.
    aku ngerti si kalo ada yang bicara bahasa batak, tapi gak bisa kalau secara aktif,gawat..

    biar gak jadi macam abang si H.N itu lah aku,hahaaa..

    doloksaribu aku lae,
    and am proud to be bangso batak.

    bakal sering log nih ke blognya biar boi marhata batak..mauliate godang ma lae..God bless

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s