Beranda » Kategori » Parsorion » Taksi…

Taksi…

my last story from korea.
————————–

———–
Akhirnya kuberanikan juga bertanya. Ada sesuatu yang menggelitik dalam pikirianku, sesuatu yang telah kusimpan semenjak saya menginjakkan kaki di sini. Saya melihat bahwa tukang parkir, supir taksi, penjaga pos, pembersih kantor (office boy ) adalah semuanya orang tua yang sudah lanjut usia. Mungkin sekitar umur 55 tahun ke atas. Hal yang ganjil bukan?. Bila dibandingkan dengan di Indonesia, maka pekerjaan ini rata-rata di lakukan oleh orang muda.

Maka, tak heran dikala tiba di kantor, mereka dengan sangat hormat mengucapkan salam dan membungkuk pada tukang bersih-bersih di kantor itu. Ingat, tradisi orang Korea adalah sangat menghormati orang yang usianya di atas.

Hal berikutnya yang membuatku kagum adalah ketika kami parkir disebuah kompleks perkantoran, sebuah kota besar di sebelah selatan Seoul. Saya memperhatikan secarik kertas. Rupanya kertas parkir. Disitu tertera nama dan no telpon tukang parkirnya. Lalu teman ini segera menelpon tukang parkir, yang memang tak ada disitu, berhubung gerimis.

Dengan tergpos, seorang ibu setengah baya datang lengkap dengan alat scanner parkir. Seberapa uang parkir didapat lalu di ketikkan di alatnya tersebut, lalu membungkuk dengan sopan disertai senyum yang tulus. Aku melempar senyum padanya lalu bilang, “Anyongkhasimmika”.

Menurut teman saya, tak mungkin pergi begitu saja. Karena nomor mobil sudah dicatat, dan di seantero Korea otomatis terdaftar sebagai pelanggar peraturan, yaitu belum bayar parkir. Dan bisa saja polisi tiba-tiba me-nilang disuatu tempat.

Sebelum sampai ke kota Seongnam, kami mutar-mutar sebentar dan mampir ke sebuah perkampungan asli di puncak bukit. Rupanya adalah bekas benteng kerajaan yang dipakai sebagai benteng terakhir menghalau musuh, — orang china-manchuria dan serbuan tentara kekaisaran Jepang. mirip tembok China.

Disebuah perapatan jalan yang agak ramai, beberapa orang berseragam sibuk mengatur lalulintas yang agak padat. Berhubung jam-jam seperti itu adalah waktu orang berangkat kerja. Lalu saya tanya “Wah, polisi-polisi lalu lintas di sini sudah tua-tua semua ya, apa memang sengaja ditempatkan di Lantas,–lalulintas– karena sudah tua begini?. Menurutku salah, kan mending di bagian administrasi saja. Lihat, mereka kedingingan dan sebentar lagi hujan”.

Lima orang berseragam lengkap pakai mantel tebal ( tapi seragam ) kutaksir berusia sekitar 60 tahun. Mereka sibuk dengan tongkat lampu, dan sesekali terdengar suara sempritan peluit mereka. “Ah…jangan-jangan napas untuk sempritan itu adalah nafas terakhir mereka”.

“Mereka bukan polisi”
“Lalu?”
“Supir taksi”
“Loh kok bisa?, kok berpakaian polisi lalulintas?”
“Ya, mereka ikut membantu polisi memperlancar jalan-jalan di sini, mereka terpanggil untuk itu”
“Bah…”

Aku heran dan kagum benar dengan sifat itu. Bukanya ngejar setoran pagi-pagi, karena saya lihat banya penumpang yang sedang menunggu taksi, eh..malah repot-repot ngatur lalulintas. Di Indonesia banyak juga yang membantu polisi ngurusin lalulintas, ya namanya ‘polisi cepek’. Nggak usah dibahas, nanti ngomongin diri sendiri, he-he-he.

Cerita tentang taksi, kadang membuatku geli dan keheranan. Tiga kali mengalami kejadian lucu di negeri ini. Minggu kemarin, kami numpang taksi dari hotel. Tiba-tiba HP sang supir berbunyi, lalu bicara sebentar. Dan menjelaskan kepada teman saya yang orang korea. Lalu teman saya ini bayar dan kami pun turun. Saya bertanya-tanya, soalnya bukan ini daerah tujuan akhir kami.

Lalu teman saya ini menjelaskan, si sopir taksi tadi mendapat telpon, ada undangan makan malam dengan keluarganya. Jadi dia tak bisa mengantar kami ke tujuan yang sudah disepakati. Bah, baru kali ini kejadian seperti itu.”Sampai disini saja ya, ada keluarga yang mengundang makan malam” katanya. Lalu sengan sigap menggesekkan kartu kredit bayar ongkos taksi.

Pernah juga, kami pesan taksi. Lalu setelah menunggu lima belas menit, dia muncul dan segeralah kami meluncur. Lalu dengan kecepatan tinggi dia mengemudikan taksi ini ke hotel. Teman korea saya bilang “Kalau tadi dia tau tempatnya disini, dia tak datang menjemput. Macet dan kejauhan. Dan dia harus buru-buru pulang, istrinya menunggu di rumah mau ke mall, belanja”. Mantap!.

Cerita lain adalah ketika menyetop taksi. Lalu tanpa tanya dulu, kami masuk. Dia bertanya “Mau kemana?”. Teman saya bilang mau ke satu tempat. Lalu dia menjelaskan “Maaf, itu jauh, saya belum makan.”. Lalu kami pun turun dari taksi emncari yang lain.

Bah, mereka ini jadi supir taksi, sebenarnya niat nggak seh?. Rupanya, pemerintah disini pintar memanajement rakyatnya. Yang tua tak dibiarkan menganggur. Dan tentunya bila mereka kerja di industri, tak mungkin, dan tak sanggup. Lalu pemerintah mempekerjakan mereka dengan pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Tukang taman, supir taksi, juru parkir seperti yang saya sebutkan diatas. Semua mendapatkan pekerjaan. Mungkin, kalo di Indonesia, seumuran mereka kerjanya nimang cucu atau di lapo. Paling banter jadi raja hata, itu pun kalo mampu. Lalu banyaklah yang stroke dan sakit.

Rata-rata umur orang korea adalah 76 tahun untuk pria dan 81 tahun untuk perempuan berdasarkan sensus penduduk tahun 2009. Kesehatan menjadi prioritas utama disini. Prinsipnya, negara kuat karena rakyatnya sehat. Jadi jangan heran, kalau seluruh rakyak Korea dilindungi asuransi.

Ah,…supir taksi. ..sungguh mengagumkan.

Bila anda berjalan-jalan di kota Seoul dan kota besar lainya, jangan takut tersesat. Cari saja taksi yang ada tulisan FREE INTERPRESTATION. Jangan terbelalak, kalau bahasa inggris supir taksi di sini lebih bagus daripada bahasa inggris anda. Belum lagi soal keramahan. Dia akan menjelaskan negerinya dengan bahasa inggris yang fasih.

Bagaimana dengan supir taksi di kotaku?.
Dari semuanya itu, saya cinta indonesia, saya yakin suatu saat rakyat indonesia bisa melakukan lebih dari pada yang saya alami disini. Horas!

7 thoughts on “Taksi…

    • iya kawan. pemerintah sibuk rapat. dan sibuk ngurusin dirinya sendiri. tak sadar bahwa jika samapai pada saatnya nanti, maka hanya 1×2 merter hartanya yang abadi.

      so, sebagai generasi muda, mari kita berpikir lebih baik lagi…salam dan tks dah berkunjung

  1. bgs jg cerita ito…membuat satu kesimpulan bgi kesehatan
    mmg hilangnya pekerjaan dan jati diri orgtua srg membuat mereka stress sampai jd stroke.
    semoga suatu saat nanti Negeri kita bisa mencontoh perkembangan negeri korea!
    tks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s