HATA SO PISIK

Polisi oh polisi

Hari menjelang sore, bahkan sudah. Aku melirik jam tanganku,  pukul tiga. Aku harus buru-buru pulang, seseorang menungguku di rumah. Perlahan, aku melaju di jalanan yang sepi.  Sepanjang jalan pemuda, kenderaan yang lalulalang tidak terlalu banyak. Mungkin di jalan-jalan lain juga sama. Jakarta, hanya pada hari minggulah jalananya sedikit lengang.  Aku menikmati jalanan ini sambil bercengrama dengan istri, yang duduk manis di sebelah kiriku.

Tiba-tiba, seorang polisi yang sedari tadi saya lihat dari kejauhan mengatur lalulintas di lampu pengatur itu, mendekati mobil kami, persis setelah melewati perempatan Pemuda-ByPass . Perlahan saya pelankan laju mobil ini hingga berhenti.

“Maaf pak, apa bapak tahu kenapa saya berhentikan?, minta tolong tunjukkan SIM dan STNK” ujarnya sopan, dengan datar.

“Maaf, saya tak merasa bersalah, apa ada razia?” kataku, bingung.
“Bapak melanggar rambu”
“Rambu apaan?”
“Bapak melanggar marka jalan, tadi bapak berada di jalur dua yang merupakan jalur jalan lurus, tapi bapak belok kiri”

Aku merasa tak bersalah, mulai emosi. Polisi ini seolah mencari-cari kesalahan saya “Apaan melanggar marka. Saya di jalur kedua, dan tak ada tulisan kalau itu hanya dan harus lurus”.
“Kan tidak harus dituliskan disitu pak”

“Setiap peraturan harus dituliskan dong, jadi pengendara bisa baca dan tidak melanggarnya” kata saya
“Tidak harus dituliskan, memang begitu”
“Berarti bukan salah saya dong”
“Bapak tetap salah, jadi gimana neh, tilang saja dan ambil tilang di pengadilan Jakarta Timur” ujarnya sembari memperhatikan SIM dan STNK saya.

“Saya sudah bilang, saya nggak bersalah. Tapi kalau bapak menganggap saya salah silahkan tilang, mana surat tilangnya”
“Loh, bapak masih tetap ngotot merasa tak bersalah?”
“Iya..”

Lalu dia mengajak saya memperlihatkan lajur jalan yang markanya saya langgar.
“Kalau bapak mau belok kiri, bapak harus ambil jalur paling kiri”

“Harus nya, kalo jalur itu hanya untuk lajur lurus, kasih peringatan Pak, aneh-aneh aja peraturan di negara ini” kata saya.
“Gimana, ditilang saja”
“Ya udah, tilang saja kalau bapak merasa saya salah, tapi saya tak akan mengakui kesalahan saya”

Dia diam.

“Dan, lihat Pak, perhatikan baik-baik, semua mobil itu harus di tilang. Coba bapak lihat, dari jalur tiga saja pun bisa belok kiri. Bapak harus tilang semua itu, jangan cuma saya. Silahkan tilang. Saya akan berdiri disini melihat bapak bekerja, apa bapak juga menilang mereka” kataku seraya menunjukkan beberapa mobil yang melintas, di marka yang saya lewati tadi. Ada mobil plat merah, ada mobil polisi dll. Mobil-mobil ini dengan santainya melenggang.

“Jadi gimana nih”

“Gimana-gimana?, silahkan saja tilang, itu hak bapak sebagai polisi saya hormati dan saya akan menonton bapak kerja di sini, semalaman pun saya sanggup. Semua mobil yang menggunakan lajur dua dan tiga yang belok kiri semua harus di tilang!, itu baru bener” kata saya semakin emosi. Bukan mau membenarkan tindakan saya, tapi setahuku jalur pertama dan kedua memang bisa digunakan untuk belok kiri. Ada empat jalur dari arah Pulogadung. Dan pada saat yang sama, lampu hijau menyalah dari arah kami. Artinya, tak sedikit pun mengganggu lalulintas yang sore itu tampak lengang.

“Ya sudah, sudah…”
“Sudah gimana?” saya merasa menang, dan dia terpojok.
“Bapak jalan saja, ini SIM dan STNKnya” seraya menyerahkannya kepada saya.

*   *   *

Saya teringat tiga bulan lalu, tepatnya di perempatan lampu merah Cawang UKI. Memang saya salah, mengambil jalur  busway, wong cuman dari saya yang tak macet. Lalu seorang polantas muncul dari semak-semak. Dengan sempritan dan lambaian tangannya menghentikan saya. Lalu saya menurunkan kaca mobil. Dia bilang, “Maaf pak, SIM dan STNKnya”. Lalu saya serahkan.

“Bapak melanggar peraturan lalulintas, masuk jalur busway”
“Iya pak” jawabku singkat, tanpa ekspressi.
“Ini harus di tilang”
“Nggak apa-apa, silahkan”

Tapi anehnya dilama-lamain, pura-pura mengatur kenderaan dengan sempritanya. Saya tunggu hingga lima menit. Dia datang lagi. Dan bertanya “Gimana neh…nitip tilang, atau damai?”
“Damai?, emang saya ada permasalahan dengan bapak sehingga harus berdamai?”
“Tilangnya ambil di pengadilan, sidang”
“Ya udah, tilang saja, sini surat tilangnya, dari tadi kan sudah kubilang ‘mana surat tilangnya’, kok dilama-lamain lagi? ” kataku.

Lalu dia menuliskan sesuatu disurat tilangnya denga coretan yang tak jelas.

“Maaf, nama bapak tuliskan dengan jelas, jangan cuma tulis ‘brigadir’, nama siapa dan pasal yang kulanggar apa”
“Pasal 61”
“Apaan itu pak?”
“Melanggar rambu” katanya. Saya juga dah tau kalo melanggar rambu. Puluhan kalisaya di tilang tapi kok pasalnya selalu 61 ya.

Eh…tahe….

6 thoughts on “Polisi oh polisi”

  1. nais sharing lae,
    lucu juga pengalaman paling atas, akhirnya tuh polisi bingung sendiri dgn ketenangan lae di tkp.

    pengalaman 3 bln lalu, ngakak dulu saya lae huahahahahahahha, sering kali polisi seperti itu…sedikit dilama-lamain dgn maksud & tujuan agar berdamai, biar mereka dpt uang saku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s