True Story

Penyakit lever tak bisa menghalangiku untuk menikmati hidup dengan selalu tersenyum

Namanya Saut Siagian. Aku mengenalnya sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika berkunjung dan support di tempatnya bekerja. Lazimnya  memang, sebagai sesama perantau dari tanah batak kami langsung akrab. Mungkin juga karena bidang yang kami tekuni mirip. Bukan maksud menuliskan apa yang dialami oleh teman ini, tak lebih adalah bahwa pengalaman hidupnya memberikan motivasi pada saya dalam menjalani kehidupan yang keras ini.

Seandainya lae Saut Siagian membaca tulisan ini, maka saya mohon maaf yang sebesarnya, bukan bermaksud menyinggung perasaan lae dengan menuliskan pengalaman lae, tak lebih adalah penyampaian bentuk kekaguman dari seorang sahabat.

Sesekali kami keluar dari kawasan pabrik mencari makan siang. Tentunya, rumah makan yang kami cari adalah LAPO. Lapo di sekitaran Cikarang ini masih bisa dihitung dengan jari. Ada beberapalah yang sering saya singgahi. Tak seperti kebiasaan di hari sebelumnya, setelah menghabiskan menu saksang atau panggang sepiring, minuman beralkohol sebagai minuman penutup. Hari itu dia menolak ketika kuajak minum bir. Aneh memang. Siang hari minum bir. Tapi itulah, sebotol bir menjadi minuman penutup untuk setiap jamuan makan siang. Kata orang, alkholol bisa menetralisasi lemak dari daging yang kita makan. Bukankah  jaman dulu, setiap ada pesta, maka minuman terakhir adalah tuak?. Biar nggak sakit perut, katanya.

“Aku tak bisa minum bir lagi lae, dilarang dokter” ujarnya.
“Sama, aku juga dilarang, apalagi kalau tanggung” kataku sambil mengibaskan tangan memanggil par-lapo, minta sebotol bir bintang. Setauku dia bercanda.

“Serius lae, ini peringatan terakhir” ucapnya dengan mimik serius.
“Kenapa?” kataku penuh selidik.
“Lae tahu, kenapa tiga minggu ini saya nggak masuk kerja, lalu minggu depan dan seterusnya aku nggak boleh kerja malam lagi?” katanya
“Ya tau, kata anak-anak, lae sakit” jawabku. Bahasa di kota besar ini sangat aneh. Dibilang ‘anak-anak’ maksudnya  adalah teman-teman.

“Iya, saya udah sering tak masuk kerja. Kontrol ke rumah sakit”
“Ah, macam hebat kali penyakitmu, kayak pejabat aja kau lae, keliatan sehat nya” ujarku, tak mempercayai omonganya.
“Lever, Lae”
“Hah?!”. Aku hampir tersedak. Kembali ku letakkan gelas birku. Aku menetapnya tajam, mencari jawaban kebohongan darinya. Aku berharap dia berbohong.
“Iya lae, bahkan sudah divonis dokter”
“Vonis apaan?” tanyaku
“Tinggal menghitung kalender lae” ujarnya tertawa.

Lalu dia menceritakan kisahnya. Mungkin, kalau lae ini tahu akan begini jadinya, maka di masa remajanya akan menghindari yang namanya alkohol. Siapa yang tak tahu kota Siantar. Di kota inilah Lae Saut Siagian ini dilahirkan dan dibesarkan. Dari kecil sudah akrab dengan alkohol. Kadang sebelum  makan sudah minum alkohol.  Atau minum alkohol tak bertakaran. Asal kosong isi, asal isi kosong, itulah prinsip minum alkohol yang saya amati. Dan tanpa disadari, minuman yang ditenggak hampir saban hari telah membuatnya menderita di masa dewasanya kini.

Tak ada yang perlu disesali. Semua sudah berlalu. Tinggak bagaimana menyikapi kehidupan dengan kondisi saat ini. Disinilah letak kesalutanku itu timbul.
“Memang kurang ajar tuh dokter”
“Kenapa lae bilang begitu?”
“Pernah kutanya perihal penyakitku, lalu dokternya bilang, tak ada obatnya lever. Kau dah tinggal menghitung hari. Kalau mau umurmu tambah, ya, makananmu harus dikontrol. Jangan minum alkohol,dan lainnya.”
“Trus?”
“Dokter bilang obat yang ku konsumsi sebenarnya bukan untuk menyembuhkan penyakitku. Tak lebih adalah menjaga agar racun dalam darah tidak menyerang organ lain dalam tubuhku, lae tahu berapa harga obatnya?, sebutir harganya tiga ratus ribu. Dan harus dikonsumsi setiap hari”
“Bah, mahal kali”
“Iya, hitung aja lae berapa sebulan, sembilan juta. Lalu berapa gajiku?”
“Maksud lae?”
“Iya, aku tak menuruti perintah dokter”
“Kenapa?”
“Lah, kalo nggak bisa sembuh, buat apa?”
“Trus, kalo terjadi apa-apa?”
“Umur, hanya Tuhan yang tahu. Tuhan mengijinkan saya lahir, dan Tuhan juga yang menentukan kapan saya mati. Bagi saya, semua hari-hari ini adalah sama. Dan, bagi saya, tak peduli kapan dan berapa lama lagi saya hidup. Yang penting sekarang, saya ingin menikmati hidup.  Tak ada gunanya menangisi kejadian masa lalu bukan?. Aku harus terima resiko dari perilaku dan kebiasaanku dulu. Satu lagi, bagiku, tak peduli berapa lama manusia hidup, tapi bagaimana dia hidup”
“Lae cukup tabah”
“Iya, apa saya harus bersedih?, nggak. Justru semakin saya stress, semakin saya bersedih, maka kalender itu akan cepat berganti. Bapakku malah memintaku untuk segera pulang ke Siantar, tapi lae tahu sendiri, apalah kerjaanku di sana?, bisa-bisa tambah stress bukan. Disini saya senang, bisa bertemu dengan lae, bisa ketawa” ujarnya, seolah menghibur diri sendiri.

Ya, dia sungguh kuat. Aku merenung.

Banyak orang dengan santainya menyia-nyiakan hidupnya dengan berbuat hal bodoh. Disadari atau tidak, kebiasaan menjadikan sebuah bom waktu. Tidak mensyukuri hidup yang telah diberikan padanya, malah merusaknya. Hanya dengan alasan yang tak masuk akal, kadang, dengan santainya kita melakukan hal bodoh. Yang lainnya adalah, tidak mensyukuri berkat Tuhan yang diterimanya. Tak puas dengan apa yang sudah diperoleh. Selalu merasa kurang.

Aku kembali menatapnya. Aku bertanya “Apa rencana Lae”
“Tidak ada!, hanya ingin menikmati hidup, membuat orang tertawa dan membuat orang bahagia. Kehidupan terus bergulir, dan saya takkan bersedih dengan keadaan sekarang. Saya takkan memikirkan penyakitku. Hidup dengan selalu tersenyum adalah obat yang paling mujarab memperbanyak lembaran kalender berganti.”.
“Apa tak ada rencana lae untuk menikah?”
“Buat apa?, senadainya saya menikah, lalu punya anak, dan hari-hariku selesai?, bagaimana dengan anak dan istri saya? aku tak bisa membayangkannya lae. Seorang janda dengan balita yang harus di tanggungnya” katanya lirih.

Aku membenarkan kata-katanya.

“Benar lae, hidup tak dinilai dari berapa panjang umurnya, tapi warna apa yang dia torehkan dalam kehidupan ini” kata saya, seolah bicara pada diri sendiri.
“Sama sekali tak melanjutkan resep obat dari dokter?”
“Nggak lae, buat apa? mending uangnya saya tabung, atau kuberikan pada orang tua atau adek”
“Saya kagum, kulihat lae cukup tegar dan sangat menerima keadaan”
“Ya, memang harus demikian” ucapnya sambil tersenyum.

Aku menghabiskan sisa bir yang ada dibotol dan mengajaknya beranjak dari tempat itu. Membisu hingga sampai di tempat kerjanya, seolah tak terjadi apa-apa. Dia selalu tersenyum dan membalas salam dari setiap orang yang kami temui.

Setengah tahun sejak percakapan itu, aku dengar dia mengundurkan diri dari tempat kerjanya. Alasannya, dia tak sanggup bekerja dengan sistem yang ada. Diamana dia harus siap kerja lembur. Alasan lain, dia sudah terlalu sering absen karena sakit. Dia pendiun dini. Kami belum sekalipun bertemu. Ini sudah tahun ke tiga semenjak kami makan siang bersama.

Kudengar dia buka usaha sendiri. Dan dia mengalahkan perkiraan dokter yang telah memvonisnya. Ya!. Dengan semangat hidup dan kemauan untuk terus berjuang, dia melewati semuanya. Apakah dokter salah analisa?. Itu hal lain. Yang jelas, Saut Siagian menjalani sisa kehidupanya dengan penuh semangat, penuh senyum. Benar kata orang, bahwa jika kita ingin sembuh, maka kita sembuh. Tapi jika kita selalu berpikir sakit, maka akan benar-benar sakit, mungkin lebih parah dari situ. Moga-moga, ada waktu untuk bercanda dengannya lagi.

1 thought on “Penyakit lever tak bisa menghalangiku untuk menikmati hidup dengan selalu tersenyum”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s