AmanJahian

Namanya amanJahian. Bukan karena nama anaknya Jahian, tapi, temanku si Birong, menyebutnya demikian. Nama sebenarnya cukup bagus. Japadot. Awalan Ja banyak dijumpai dalam nama-nama orang batak. Kependekan dari kata –raja. Semua orang batak adalah putra raja, dan semua perempuan batak adalah putri raja. Raja tak bertahta. Atau Raja tak beristana. Biar pun kerjanya hanya ngurusin sawah atau pertanian, tetap  saja dipanggil Raja. Raja Bondar. Alias raja tali air. Atau seorang yang tugasnya memandori sekelompok orang yang sedang memasak, mempersiapkan hidangan pesta batak, disebut juga Raja. Raja Parhobas.

Entah karena dia memang rajin–bahasa batak dari rajin adalah padot–, maka dia dinamakan Japadot. Mungkin juga benar.  Atau, oppung kami–bapaknya– dulu mengharap supaya dia menjadi seorang yang rajin dan ulet. Dan memnag terbukti. Selain dia adalah seorang bos di perusahaan milik negera, dia juga memiliki beberapa perusahaan pribadi.

Dari silsilah, Birong masih termasuk saudara Japadot. Begitulah orang batak. Yang namanya satu marga, maka pada satu titik dimasa lampau bisa ditelusuri, pasti ada pertalian darah. Sedikit keterangan tentang tali persaudaraan mereka adalah, bahwa Oppung ni bapak ni oppung mereka adalah bersaudara kandung.

*    *    *

“Horas Amanguda, ini aku si Birong,  siappudannya –bungsu– OppuHumirlap, baru tiba dari Pakkat,” ujar Birong memulai pembicaraan. Dia pikir, Japadot pasti sudah ingat.
“Bah, kau nya rupanya itu anaha?” kata Japadot dari seberang. Anaha artinya anak. Juga panggilan seorang bapak pada anaknya.
“Iya Amanguda, baru seminggu aku di Jakarta, tinggal di rumah namboru par Cililitannya aku” kata Birong menerangkan. Lazimnya, ayah dan anak bercengkrama, seperti itulah mereka. Walau cuman hitungan menit, tapi sudah cukup untuk mengawali pembicaraan.
“Amanguda, mau datang aku ke rumah, jam berapa biasanya amanguda di rumah” kata Birong mengutarakan niatnya.
“Bah, sudah cocok itu appara, datanglah kau ke rumah” kata Japadot seraya mengakhiri pembicaraan mereka. Kapanpun waktunya, Birong bisa datang ke rumah.

Angan Birong, bahwa dia akan minta nasehat atau bantuan kepada amangudanya, Japadot. Senyum menghias wajahnya. Pastilah amanguda membantuku, sekedar mencarikan pekerjaan atau mungkin kerja di perusahaanya, pikirnya.

Menjelang malam, Birong sudah di rumah Japadot. Sungguh asri. Taman yang undah di halaman depan, menyatu hingga ke belakang belakang. Ada air terjun mini, dan pohon yang rindang. “Bah, yang dipindahkanya kesini Sampuran Sipulak itu?” guman Birong.

“Jadi, kapanlah kau sampe di Jakarta ini anaha, kenapa tak bertelepon among mu ke aku?” kata Japadot akrab.
“Itulah amanguda, aku tak mau merepotkan amanguda, jadi saya langsung ke rumah namboru” kata Birong.

Sejam berlalu, mereka berbincang, mulai dari tanah perbatasan hinggak tanaman padi. Bahkan hingga kondisi jalan yang rusak parah dan pilkada yang akan digelar bulan mendatang.

“Amanguda, aku juga bawa surat lamaran kerjaku, minta tolong lah ke uda, siapa tau ada lowongan” pinta Birong, dengan suara pelan. Japadot meraih bundelan lamaran yang disodorkanya. Satu persatu berkasnya di bukanya.
“Bah, tamat SMA nya kau rupanya anaha?” tanya Japadot.
“Iya amanguda, baru tamat”
“Sayang  kali ya, memang ada teman sedang butuh karyawan, tapi dia minta tamatan STM. Tapi nggak apalah, nanti kukabari kalau ada lowongan. STM hian ma ho nian, nga tor boi pamasukon karejo” katanya sambil tersenyum. –Seandainya kau tamatan STM, dah bisa kuberikan kau pekerjaan–. Lalu merekapun bersendagurau kembali.

*   *  *

Seminggu kemudian.

Birong menghubungi Japadot, menanyakan lamaran kerjanya. Sungguh. Dia sangat berharap secepatnya bekerja. Atau mungkin Japadot minimal bisa memberikan solusi?. “Bah, jadi satpam kau bilang?” tanya Japadot ketika dia mengutarakan niatnya, seandainya tak ada lowongan yang cocok untuk seorang lulusan SMA sepertinya. Jadi satpampun, nggak apalah, toh dia cukup kuat menjadi seorang anggota keamanan.
“Berapa tinggimu, Birong?”
“165 amanguda”
“Tanggung kali itu, satpam itu minimal 168, tapi nggak apalah, nanti lamaranmu aku serahkan ke bagian ha er de. Nanggo 167 hian timbom, jaloon nga tor lulus syarat ho –seandainya 167 tinggimu, kau bisa ditrerima–” terang Japadot.
“Iya, amanguda, mauliate, usahakanlah, biar cepat aku bekerja. Minggu kemarin amanguda bilang ada lowongan untuk STM, anaknya namboru Cililitan kan masih nganggur juga dari STM, sudah kubilang biar dikirimkan lamaran ke uda”
“Gitunya?, jurusan apa dia?”
“Jurusan Listrik, Uda”
“Ah, sayang kali, bah jurusan mesin hian ma nian ateh bere i–bah, seandainya jurusan mesin bere itu, dia langsung diterima– “ujar Japadot.
“Gitu ya uda” ujar birong, mulai jengkel. Dia mulai berpikir kalau Japadot tak ada niat membantunya. Kenapa “hian,..hian” yang selalu di ucapkanya?. Gara-gara satu senti gagal  jadi satpam?, yang benar saja, gerutu Birong. Itulah awalnya kenapa Japadot dipanggil menjadi Ja-hian.

Siapa yang tak kenal Japadot. Perantau di Jakarta menobatkan dia sebagai seorang yang dituakan. Bisa saja. Selain punya gelar akademis, dia juga seorang yang kalau tak mau disebut kaya, minimal seorang yang berpenghasilan lebih. Menurut orang-orang, dia bekerja di tempat basah. Awalanya aku tidak tau maksudnya tempat basah. Kupikir dia kerja di kapal laut, minimal kapal pesiar.  Orang  sekampung kami tahu, kalau Japadot adalah seorang perantau yang sukses.

Tak heran, kalau setiap kegiatan, namanya selalu dimasukkan dalam kepanitiaan. Sebagai penasehat atau apalah. Tak lain supaya dia menjadi seorang donatur.

Anehnya, biarpun dia mampu memberikan sumbangan, tak pernah dilakukanya dengan tulus. Jaholong, teman sekampungku  misalnya. Paling ogah dan tak mau berurusan dengan Japadot. “Ah, sumbangan hanya seratus ribu, bisa tempat jam awak dikuliahin, mending dikasi makan dulu, kau urus lah tondongmu –familimu–itu” katanya ketika kami sama-sama duduk disebuah kepanitiaan. Tepatnya Panitia Perayaan natal sekampung.

“Seharusnya bukan begini acaranya, masukan dari saya, beginilah kalian bikin. Inilah, itulah, ubah ini dan ganti ini, ini tak cocok untuk acara natal” kata Jaholong menirukan Japadot. Rupanya dia masih kesal. Jaholong juga menyebut Japadot dengan sebutan amaniBoasa. Ceritanya, Japadot ini selalu komplain dan marah-marah ketika ada kegiatan. “Boasa dang adong gokhon tu ahu, ima hamu na poso i, sai pajolo gogo–Kenapa nggak kalian undang aku, kalian orang muda selalu mengedepankan kekuatan” kata Japadot. Dia merasa dilangkahi panitia ketika melaksanakan rapat dan dia tak diundang.

“Ah, diundang tak datang, nggak diundang marah, mending mau nyumbang” kata Jaholong lagi. Cerita lain, Jaholong menemui Japadot di kantornya. Janji jam sebelas siang, ternyata baru bisa ketemu jam 3. Bukannya kasih solusi atau sumbangan, malah minta revisi proposal. Baru dia mau tandatangan, sebagai penasehat panitia.

Suatu ketika, kami sepakat untuk tidak mengikutkan Japadot dalam kepanitiaan. Bahkan kami sudah sepakat untuk tidak minta sumbangan darinya. Rupanya dia tahu ada kegiatan itu. Lalu dia bilang, “Boasa dang ro hamu tu jabu, molo hurang biaya i?–kenapa nggak datang kerumah kalau biaya kelian kurang?”. Aku yang mendengarnya hanya geleng kepala. Nggak usah di jawab. Sudah tahu kemana arah pembicaraanya.

Itulah awalnya, kenapa Japadot kenapa berubah jadi Jahian. “Ikkon songonon hiando, dang hian i, i hian ma nian, autsura hian, dan hian-hian yang lainya”. Jahian…jahian…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s