Beranda » Kategori » CERPEN » Kau bukan Hatoban, Boru

Kau bukan Hatoban, Boru

Akhirnya, setelah begadang selama seminggu, menyelesaikan pekerjaan yang deadline  kesempatan untuk tidur sepuasnya kesampaian juga. Tadi malam. Pagi ini aku aku bangun sedikit telat. Bungsuku membangunkanku.  Aku mencium pipinya, dan mengucak rambutnya yang pirang. Badan yang semula penat hilang seketika, mendengar celoteh nya. Aku memeluknya.

Huh….

Aku menghela nafas berat. “Anak jaman sekarang”, ujarku dalam hati.

Perlahan, aku melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Kulihat istriku sedang memasak, untuk sarapan pagi kami.  Pandangan kami beradu, aku tersenyum. Aku mendapati kamar itu kosong. Lampu padam, dan tak terkunci. Sebenarnya, tadi malam,  istriku  sudah memberitahu kalau Marintan menginap di rumah temannya. Tapi untuk memastikan, aku masuk ke kamarnya, siapa tahu dia pulang ketika aku masih tidur. Memang, aku jarang mengobrol dengannya. Ketika aku sampai di rumah, dia sudah tertidur dan ketika dia belum bangun aku sudah berangkat ke kantor.

“Sudahlah, Pa, dia itu sudah cukup dewasa untuk memilih” ujar istriku, mencoba menghiburku.
“Bukan begitu, Ma, bagaimanapun, dia juga putri kita. Dia masih baru di kota ini. Apa pertanggungjawaban kita pada bapaknya, seandainya mereka tahu kalau Marintan sering meniggalkan rumah ini” ujarku.
“Iya, aku mengerti. Sudah beberapa kali ku nasehati dan sepertinya dia tak menganggap rumah kita ini sebagai rumahnya sendiri dan sering kulihat dia berlaku sebagaimana seorang tamu”
“Apa kamu masih sering memarahi nya?” kataku bertanya
“Aku tidak marah, Pa. Cuma mengingatkan saja” jawab istriku pendek.
“Kapan?, kenapa?”
“Kemarin. Akusedikit kesal, dia terlambat menjemput si dedek dari tempat les” ujar istriku. Si dedek maksudnya putri bungsuku. Itu adalah panggilan sayang pada putri kami, Lopian Nauli yang berumur empat tahun kurang. Kekesalan istriku bermula ketika Marintan memberikan jawaban cuek dan merasa tak bersalah ketika dia terlambat menjemput Lopian. Kejadian serupa rupanya sudah berulang sampai tiga kali. Istriku sudah menasehatinya, dan menjelaskan kenapa jangan sampai terlambat. Seringnya penculikan anak di kota besar ini menjadi alasan utamanya. Marintan sendiri melihatnya di televisi. “Bahkan, sebelum les-nya selesai kau sudah harus disana”, istriku berpesan. Ternyata dia lebih mementingkan menonton sinetron daripada melaksanakan tugas yang diberikan inanguda nya, istriku.

Huf..

Lagi-lagi aku menghela nafas panjang. Hari ini adalah sabtu, dan seperti biasa, sesudah olah raga pagi aku bersantai sejenak di halaman rumah di bawah rindangnya pohon mangga yang sengaja kutanam persis di tengah taman berkurang sedang. Satu hobbiku adalah bertanam pohon dan bunga. Istriku menghapiriku dan menyodorkan sepiring ubi goreng, kesukaanku. Aku melempar senyum padanya sebagai ucapan terimakasih. Dia pun segera berlalu, kembali meneruskan pekerjaannya. Kicauan burung dari halaman tetangga menemaniku. Aku baru sadar, kenapa mereka ini suka memelihara sampai puluhan burung. Aku tersenyum.

Sudah dua minggu ini, pembantu kami pulang kampung ke Tegal, karena orang tuanya sakit keras. Sehingga, istriku lah yang mengambil alih semua pekerjaan rumah. “Cari saja penggantinya, Ma” usulku dua hari lalu, ketika dia mengeluh punggungnya sakit setelah mencuci pakaian dan menyetrika se harian.
“Nggak usalah, Pa, toh siMba sebentar lagi datang. Dan ada Marintan yang bantu aku membereskan semuanya” ujar istriku seraya merebahkan tubuhnya disampingku. Dan membelakangiku.

Aku mengerti maksudnya. Dan kuraih obat kayu putih di almari tempat tidur. Kuoleskan merata pada punggungnya, lalu aku mulai memijatnya. Hingga dengkuran halus terdengar. Aku membelai rambut istriku yang sedikit acak-acakan. Aku memeluknya dengan kasih sayang. Hingga, tanpa sadar, akupun terbuai dalam mimpi malam itu.

*   *   *

Walaupun mataku tertuju pada koran yang kubaca, tapi pikiranku selalu pada Marintan. Entah dimana dia sekarang. Dia adalah putri bungsu dari abangku paling besar, AmaniBonar. Kami enam bersaudara. Dan aku adalah yang paling bungsu. Umurku berbeda jauh dari abangku yang persis di atasku. Lima tahun. Sedangkan dengan amaniBonar berbeda duapuluh lima tahun.

Tiba-tiba aku teringat akan masa kecilku di sebuah desa di kaki Dolok Pinapan. Bahkan setiap saat aku selalu merindukannya. Dikala senja tiba, desiran angin bertiup dari lembah Tanah Rambe. Semburat horison menghias langit barat daya kampung kami. Gumpalan awan putih menyerupai manusia menjadi tontonan yang menarik. Aku dan teman-temanku saling menceritakan sedang apa manusia awan itu, tentunya menurut versi kami masing-masing.

Silonging, –sejenis serangga, berbunyi menyambut dingin nya malam. Kabut putih menutup semua punggung Dolok Pinapan. Lalu mata memandang ke arah selatan, tampak laut Sibolga menguning memantulkan cahaya mentari yang keemasan. Teriakan para penjaga sawah menghalau burung pipit singgah di padi yang sedang menguning, seolah timbul tenggelam dibawa angin. Aku memandang matahari yang seolah memancarkan bola api. Aku bisa melihat bagaimana matahari seolah ditelan laut Sibolga. Itulah kampungku.

Ayah meninggal ketika aku berusia sepuluh tahun, kala itu amaniBonar sudah berumur tigapuluh lima tahun. Aku menjadi anak yatim piatu. AmaniBonar sendiri sudah menikah dan punya anak dua. Semenjak ayah meninggal, otomatis aku dan tiga abangku harus tinggal bersama amaniBonar. Menurut cerita yang kudengar, ketika umur ku dua tahun, ibu meninggal. Jadi, saya tak begitu kenal dengan wajah ibuku. Hanya dengan melihat foto-foto beliaulah aku mengenalnya. Kata ayahku, hanya aku yang paling mirip dengan ibu. Baik sifat maupun wajahnya.

Bagi orang batak, hanya si-Sulunglah yang menjadi yatim piatu ketika kedua orang tua meninggal. Itu  adalah palsafah hidup orang batak. Keluarga akan tetap utuh walaupun kedua orangtua meninggal. Dan peran si sulung yang menggantikan kedua orangtuanya. Dia yang mengayomi semua adiknya, dari biaya hidup hingga biaya sekolah. Pada masa dulu, seseorang sangat merasa hormat pada abang nya. Sebab,sosok, jiwa dan sifat kebapakan akan menurun pada si sulung.

Demikian juga amaniBonar. Walaupun hidup di tengah kemiskinan, tapi dia tak mau disebut sebagai anak yang tidak bertanggung jawab. Dia mampu menyekolahkan tiga orang kami adiknya sementara dia juga harus menghidupi dua anak dan istrinya. Mungkin, beratnya beban hidup inilah yang membuatnya sedikit temprament tinggi.

* * *

Sejenak aku meraba punggungku. Ada bekas luka melintang dari pungggung bawah sebelah kiri hingga pundak kananku. Aku tersenyum sendiri. Mataku berkaca-kaca. Dan mengingat kejadian masa lampau.

Amanibonar dengan sekuat tenaga mengayunkan tangannya pada wajahku. Refleks, aku mengangkat tangan kananku sehingga pukulannya meleset. Oleh tenaganya sendiri, ia sepoyongan hingga mau jatuh. Dia makin emosi dan menyambar sepotong rotan yang sehari sebelumnya dibawa dari tombak kami di kaki Dolok Pinapan. “Gogat itulah makan, dan kasih ke gurumu sebagai uang sekolahmu” umpatnya dengan suara menggelegar. Aku tak melawan dan rotan keras itu tepat mendarat, melintang di punggungku.

AmaniBonar sudah mewanti-wantiku untuk segera ke tombak Nandalae. Tugas utamaku mangumpul,–menyatukan getah-getah dari pohon karet kedalam satu wajan, tempahan. Tempahan ini dibuat persegi panjang,. Getah karet ini sendiri ditampung pada sebuah tempurung kelapa. Lalu dengan ramuan asam buatan, dari buah nanas liar yang diperas maka getah karet ini menyatu. Aku selalu kagum pada kecekatan tanganya ketika menyadap karet,–mangguris–istilah kami. Dia bisa membuat jalur yang sangat lurus dan tidak mengenai lapisan kayunya. Bila alat sadap ini mengenai tulang-kayu pohon karet maka dikhawatirkan akan membunuh pohon itu sendiri. Biasanya sehabis menyadap, dia meniup seruling yang selalu dibawanya ke hutan, diselipkan di pinggangnya. Siapa orang yang mendengar siulan seruling nya akan tertegun. Melengking dan syahdu, membuat bulu kuduk merinding. Tak terkecuali aku. Dengar-dengar tiupan seruling inilah yang memikat hati istrinya, akkang boru ku.

Karena ajakan teman-teman untuk mandi di namoSigodung, – tempat permadian– di aliran Aek Handis–nama sebuah sungai yang mengalir dari perut gunung Pinapan, aku terlambat sampai ke Nandalae. Sebentar lagi hujan, bahkan beberapa menit sebelumnya sudah gerimis. Petir menyambar dan angin bertiup kencang. Beberapa batok kelapa sebagai penampungan getah hasil sadapan, dipenuhi genangan air. Artinya, sia-sialah hasil jerih payah amaniBonar menyadap karet hari ini. Tak ayal, begitu dia tahu aku telat mangumpul, habislah aku.

Malamnya, punggung ini terasa perih. Aku sebenarnya sudah menangis, cuma tak ada yang melihat. Sembari  belajar, sesekali ku usap air mataku. Anganku dan rinduku tertuju pada ayah. Semasa hidupnya, sekalipun tanganya belum pernah menamparku. Jarinya yang kasar hanya mampu mengusap kepalaku. Dekapanya yang kokoh menghangatkanku. Bahunya yang kekar tempatku bergelayutan. Dan tatapan nya membuatku selalu merasa nyaman di sampingnya.

Lampu teplok di depanku seolah mau padam, setiap aku menghembuskan napas. AmaniBonar mendekatiku. Dia menyodorkan minyak kelapa yang dicampur dengan biji kemiri yang ditumbuk halus. “Tuson ho, dia tanggurung mi, asa hu ubati, sotung gabe marbaro innon–sini, mana punggungmu yang sakit, biar ku obati, nanti bertambah parah ” ujarnya. Aku menatapnya tajam.

Aku berpikir, setega itukah dia terhadap darah dagingnya sendiri hanya karena beberapa  batok yang tak sempat dikumpulkan?. Dia mengangguk, bahkan dia berjalan mengitariku. Dia membasahi tanganya dengan ramuan obat tadi. Hatiku luluh.

Mungkin banyak lagi hal-hal yang kulalui di masa lampau yang semuanya tak bisa kulupakan. Semua hal yang sangat tragis, hidup bersama keluarga amaniBonar. Sebelum matahari melongok dari Bukit Battoan–sebuah bukit kecil tempat kami memandang ke rura Tanah Rambe–, aku sudah pergi menyisir pematang sawah mencari rumput sebagai makanan kerbau. Kerbau ini sebenarnya bukan milik kami. Tapi kami memeliharanya dengan perjanjian, setiap beranak, maka seperempat dari kerbau itu jadi hak kami. Artinya harus beranak empat kali baru kami dapat satu ekor kerbau.

Dan ketika ternak babi kami beranak, saban hari, pulang sekolah langsung bawa pohon Arsam yang dipakai sebagai selimutdan sarang ternak babi ini. Akkangboru Naibonar memang seorang yang rajin. Semua dikerjakan.

Dan banyak hal lain yang tak terceritakan. Tak bisa ku ungkapkan bagaimana pertengkaran demi pertengkaran amaniBonar dengan istrinya, hanya gara-gara sepele. Aku merasa, seolah aku dan dua abangkulah yang memberatkan hidup mereka. Menjadi benalu dikehidupan mereka. Bila sudah sampai pada situasi ini, kami bertiga terbirit-birit keluar rumah. Ke tombak Nandalae atau ke Dolok Pinapan cari kayu bakar.

Akhirnya, aku bisa menyelesaikan sekolah hingga tamat SMA. AmaniBonar tersenyum puas ketika memberikan selembar kertas, pemberitahuan tanda kelulusan. “Ini, Anggia, surat lulusmu, kau ternyata lulus dan pintar ya,.kudengar dari guru-gurumu, kalau kau selalu dapat rangking di kelas, aku bangga” katanya.

Aku terdiam.

Yang kupikirkan adalah bagaimana kehidupan selanjutnya. AmaniBonar buka bicara lagi, “Alangkah bagusnya bila kau merantau ke Jakarta, hidupmu akan lebih baik di sana” katanya
“Tapi kita tidak ada famili disana, Bang” kilahku
“Ya, tapi percayalah, kalau kau mau dan punya tekad, kau pasti berhasil” ujarnya
“Bukankah sebaiknya aku di sini saja, membantu abang mencari nafkah?”
“Tidak, tidak, hidup kita sudah terlalu pahit di sini, berangkatlah secepatnya, cari pekerjaan dan giat” ujarnya mantap. Rupanya dia sudah menyisihkan sebagian dari hasil penjualan getah-karetnya. Lalu dengan bekal tiga puluh lima ribu, akupun berangkat. Kutinggalkan kampungku. Gunungku,  Dolok Pinapanku dan berjuta kenangan di sana.

* * *

“Loh, Kok melamun?” sapa istriku, rupanya dia  memperhatikanku dari tadi
“Nggak, cuma teringat masa kecil, aku rindu suasana di kampung. Aku terbayang, seolah sedang di sana” ujarku
“Iya, Nanti kita puas-puaskan di sana, bukankah kita dah berencana pulang ke Dolok Pinapan bulan Desember tahun ini?” kata istriku lagi.
“Iya, iya..aku lupa” ucapku cepat, padahal bukan itu yang ku lamunkan.
“Mau nambah kopinya, Pa?” tanya istriku, lalu bangkit dari tempat duduknya
“Tak usah, sudah kau telpon Si Marintan, Ma?, dimana dia sekarang”

Istriku tahu apa yang kupikirkan. Dan sebelum aku bertanyam, ternyata dia sudah menelepon si Marintan. Dia cuman mengangguk.

Ada sebab lain yang membuat istriku marah dan kesal pada Marintan, dia punya alasan. Suatu kali dia menguping pembicaraan Marintan dengan ibunya, akkang boru. Istriku tak menyangka kalau Marintan bicara seperti itu. “Ai songon hatoban do au di jabu on omak,–seperti babunya aku dirumah ini, Mak” katanya. Marintan merasa diperbudak di rumah kami. Memang, banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukanya. Mulai dari membersihkan rumah, memandikan Lopian dan mengantarnya kesekolah. Sementara nyuci, masak dan pekerjaan berat lainya dibebankan pada pangurupi–pembantu kami.

“Bukan mau menjelekkan sikapnya, Pa, Marintan itu pemalas dan tak sabaran. Dan dia bilang, kalau dia seorang hatoban di rumah ini” kata istriku suatu malam
“Ah, tak mungkin, akkang boru seorang yang rajin bekerja, tentunya Lopian juga seperti itu” ujarku membelanya
“Iya, aku sudah lihat sendiri, dia tahan nonton telepisi seharian sementara Lopian belum di jemput sekolah” ujar istriku. Jujurnya, saya tak mempercayai istriku. Aku membela Marintan.
“Itulah Ma, gunanya dia datang ke rumah kita supaya dia belajar mandiri, dan segalanya lah, supaya dia bisa hidup di  kota ini” kataku
“Sepertinya dia ingin tinggal dengan teman-temanya, nge-kost” kata istriku. Menurut istriku, Marintan pernah bercerita pada pangurupi kami, kalau dia tak betah tinggal di rumah famili. Tidak bebas. Dan diperbudak.
“Tidak bisa, aku sudah berjanji pada amaniBonar, dia harus di rumah ini. Dan apa kata tetangga, kalau dia tinggal ng-kost, mau ditaruh kemana wajahku” kataku.
“Ya sudahlah, lihat saja” kata istriku.

*   *   *

Kulihat Marintan turun dari boncengan seorang pemuda, lalu mereka berbincang sebentar, ketawa cekikian tanpa memperdulikan aku ada disana, walaupun jauh. Hatiku geram, wajahku merah padam. Untung tak ada istriku di sana. Begitu teman yang mengatarnya pergi, aku memanggilnya dengan suara keras. “Marintan, sini kau!” dadaku turun naik. Bergelora. Aku melihatnya persis ketika pemuda tadi tertawa-tawa dan menunjuk ke arahku dengan mulutnya. Dan dibalas Marintan dengan tertawa pula.

“Iya, Uda, ada apa?” katanya.
“Bah, ada apa, kurang ajar kau, tak kau hargai orang tuamu lagi, dari mana kau” hardikku
Dia terdiam. Mungkin merasa bersalah
“Jawab” terikku keras. Kulihat istriku tergopoh menuju kami dengan memapah putriku Lopian
“Sana kalian Ma, masuk…bawa Lopian” kataku seraya mengibaskan tangan kiriku. Istriku menjauh. Jujur, mungkin baru pertama kali ini dia melihat aku semarah ini.
“Dari mana kau?”
“Dari rumah teman, Uda”
“Teman apa?!. Kau anggap apa rumah ini?” kataku. Dia membisu
“Kau anggap apa aku ini, Hah!. Kupikir kau putriku sendiri, tapi kau menganggap penumpang di rumah ini”
Marintan makin menunduk

“Darah ini sama dengan darah yang mengalir di tubuh siJaholong” kataku seraya memukul-mukulkan telapak kananku ke tangan kiriku. Tanpa sadar aku menyebut nama Jaholong, nama ayahnya. Aku sudah berumur empat puluh tahun lebih, baru kali ini saya menyebut namanya. Seorang yang teramat sangat kuhormati. Tanpa didikannya aku tak mungkin bisa seberhasil ini. Tanpa terpaanya yang keras aku tak mungkin hidup senang seperti saat ini. Dialah pengganti orang tua bagiku. Kasih sayang orang tua saya dapatkan dari amaniBonar dan istrinya.

“Aku ini bapakmu, rumah ini rumahmu, nangudamu itu ibumu, siLopian dan siParlinggoman,–anak sulungku, itu adekmu dan ibotomu. Darah yang mengalir ditubuhmu itu sama dengan darah mereka juga. Kau marorot Lopian, bukan marorot orang lain. Kau membersihkan rumahmu sendiri, bukan rumah orang lain” ujarku berapi-api. Kulihat dia semkin menunduk.

“Nangudamu hanya ingin kau bisa hidup mandiri, belajar tentang kehidupan ini. Dia tak mengijin kamu bermalam di tempat temanmu bukan mengekangmu, tapi khawatir. Kau baru di Jakarta ini. Kami menganggapmu bukan orang lain, melainkan putri kami sendiri. Nangudamu sudah berencana mau menyekolahkan kau ke perguruan tinggi, tinggal tunggu waktunya saja ” ujarku terbata. Dia tahu itu.

Memang, istriku sudah berencana menyekolahkan dia di perguruan tinggi. Istriku menyarankan ku untuk segera mencari tempat kuliah. Ia berkilah, dengan modal ijasah sarjana, Marintan memperoleh pekerjaan dibanding jika hanya bermodalkan ijasah SMA. “Biarlah setahun ini dia di rumah saja, menyesuaikan diri dengan lingkungan kota, tahun depan dia bisa kuliah” ujarku, kala itu.

Suatu sore, aku memanggil Marintan, dan menyampaikan hal itu padanya. Kulihat raut wajah kegirangan di wajahnya. Mungkin dia tidak pernah memikirkan hal itu.

“Maafkan saya, Uda” ujar Marintan hampir tak kedengaran

“Lihat ini”, ujarku seraya menaikkan celana panjangku ke atas. Ada bekas pukulan di sana. Yang tersisa, yang kubawa hingga ajal nanti menjemputku. AmaniBonar memukul kakiku dengan balok kayu ketika tahu aku bermain bola seharian dan kerbau kelaparan. “Apa kau pikir kepalamu itu bisa mengganti kerbau itu kalau mati?” katakanya ketika itu.

“Mungkin ibumu sudah menceritakan masa kecil kami dahulu padamu, tapi kami tak pernah merasa kami ini diperbudak, kami ini diparhatoban. Hanya kaulah yang tak sempat aku parorot. Lima abangmu, semua kuparorot. Ketika aku makan, kalian kotoran, maka dengan tangan kiri ku cebok sementara tangan kanan masih ada sisa-sisa nasi makananku. Ketika abang-abangmu bertengkar disaat aku harus belajar maka aku harus marorotnya dulu, baru belajar kembali. Aku dengan iklas melakukanya, apa akkang boru menceritakan kisah itu?” kataku berapi-api.

Dia menggeleng.

“Suatu saat, aku akan menceritakan kisahku kepadamu, juga bekas luga di punggung ini, ingatlah kau bukan hatoban, boru. Sudah, pergi sana, mandi dan makan, bantu nangudamu beres-beres rumah” ujarku.

Dia mengangguk dan menutup wajahnya dengan tanganya. Menangis sesenggukan dan berlalu dari hadapanku. Aku tak tau apa yang dipikirkanya, dan apa yang ditangiskanya.

Mungkin tak hanya Marintan yang seperti ini, masih banyak lagi marintan-marintan yang laini. Yang merasa asing di keluarganya sendiri. Aku kembali termenung, mengingat kembali masa masa lalu ketika kehidupanku dimulai di Jakarta ini. Hidup penuh perjuangan dan keprihatinan, di mana saya juga tinggal di rumah abangku nomor dua. Seorang yang berprofessi tukang tambal ban dipinggir jalan Kalimalang

Note:
Hatoban : budak
Mangguris: menyadap
Gogat : Tanah hasil cangkulan ( biasanya tanah keras )
Marorot: Menjaga anak, adik
Rura : Lembah
Panatapan : Tempat tinggi untuk memandang

4 thoughts on “Kau bukan Hatoban, Boru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s