Beranda » Kategori » CERPEN » Mariani

Mariani

Aku melirik jam tanganku. Pukul tujuh pagi. Jalanan di Jakarta sepagi ini sudah macet. Aku tak habis pikir, apa orang-orang menikmati kemacetan yang saban pagi mereka rasakan?. Kalau tidak menikmati, mengapa masih betah di kota ini?. Kalau iya, sungguh salut pada mereka. Bak berjalan di lorong sempit, maju tak bisa mundur kena tabrak. Napas kehidupan seolah berpacu dengan hentakan detik waktu. Siapa cepat dia dapat.

Ku nikmati perjalanan ini, toh janji dengan penerbitnya adalah jam sembilan. Dua jam waktu yang kusediakan pasti cukup, batinku. Tiba-tiba, ekor mataku menangkap sesosok perempuan yang sepertinya ku kenal. Aku mencoba mengingat di mana mengenalnya. Lupa tapi yakin kalau aku mengenalnya. Ku pelan kan laju ku dan mencoba mencari sosok tadi. Aku yakin dia telah di dalam bus yang tepat berada di depanku.

Ya tak salah lagi, pasti dia. Cepat-cepat kususul dari belakang. Mataku yang tajam mengawasi setiap deretan bangku nya yang berisi penuh sesak. Aku tak menemukannya. Mungkin dia berada diantara penumpang yang berdiri, atau dia berada di barisan sebelah kiri?. Penasaran, aku mencoba dari sebelah kiri, tidak ada.

Pasti dia. Bukankan dia ada di kampung?, sudah puluhan tahun aku tak melihatnya, malah lebih.

* * *

Bunyi lonceng pun berdentang beberapa kali, tanda masuk kelas tepat pukul 07.00. Pak Pardosi selalu tepat waktu dan tak pernah lalai menjalankan tugasnya. Sejenak dia bersandar di tiang gantungan lonceng itu, menikmati sisa rokok di jari kirinya seraya tersenyum kepada semua siswa yang berjalan melewatinya. Wajah tuanya selalu memancarkan semangat.

Kami sudah berbaris rapi, dan berjalan beriringan. Aku beradu pandang dengannya. Dia tersenyum. Entah lah, aku tak bisa mengartikan senyumnya. Aku teringat kejadian kemarin. Rasa ngantuk yang sangat kuat membutakan akal sehat ku. Nekat, aku berjalan ke arah Pak Buaton,-guru matematika- yang sedang asyik menjelaskan Himpunan Penyelesaiannya, minta ijin ke Toilet. Sebelumnya, aku sudah mengedipkan mataku pada ketiga temanku untuk segera mengikutiku.

Bukannya ke Toilet, tapi membelok ke pekarangan belakang. Dengan cekatan, tanganku meraih pelepah pisang dan daun talas dijadikan tikar. Ya, berempat kami main kiu-kiu hingga pelajaran matematika selesai. Toh, sehabis matematika ada pelajaran Olahraga, dan biarlah hukuman di setrap besok akan ketahuan.

Malangnya, rupanya Pak Pardosi memergoki ulah kami berempat. Mengiba dengan gemetar, kami minta ampun dan berjanji tak akan mengulangi. Uang taruhan dan kartu domino diambilnya dan menasihati kami. Walau dia berjanji tak akan melaporkan ke guru, kami tetap was-was bila beliau membocorkannya.

Mungkin itu arti senyumannya pagi ini.

Pak Naga Hitam, begitulah kami para murid-muridnya menyapanya, memulai pelajarannya dengan mengatakan “gud moning”. Dia mulai menulis di papan tulis dengan “This is the table,.. “, lalu kami mengulanginya dengan suara yang kuat. “Disis e tebel”.

Di kotaku, ada kebiasaan unik. Hanya karena sifat pisik seseorang, maka secara otomatis itu menjadi sebutan ataupun gelarnya. Tak heran ada yang namanya Sinaga Hitam, karena punya kulit hitam, lalu Sinaga Putih, Simeha Namatua, Simeha Naposo, Sipurba Pajjang, dll

Karena di ulang-ulang, aku menganggapnya jadi lucu. Sambil mengulang kalimat ini, aku tersenyum. Tiba-tiba bapak itu mengulang kembali kata itu dekat dengan tempat duduk saya, dan tiba-tiba pukulan tinju mautnya pun mendarat dengan baik di kepalaku.

“Brabbb”, tentunya dengan cincin putih di tanganya. Pasrah tak pasrah, aku harus menerimanya.

“Ulang”, hardik nya.

“Disis e tebel”, kataku dengan suara keras, lalu mengusap kepalaku bekas pukulannya. Nyeri.

“Salah”, katanya dengan suara melengking.

“Disis e tebel” “Salah, ulangi dengan benar” ujarnya, suaranya frekuensi suaranya belum menurun.

Aku mulai ragu mengulang nya. Kulihat seisi ruangan menatap ku, senyum tak jelas dan memperolok ku.

“Di..sis…e…e..te…tebel”

“Tebel ma babami.-Tebel lah mulutmu itu” hardik Pak Sinaga, bengis.

“Mariani, apa?”, Pak Sinaga menatap Mariani, dara cantik temanku se bangku.

“Disis e teibel”

“Bah, samanya apa bedanya” protes ku dalam hati.

“Suara -i-nya harus terdengar” kata Pak Sinaga memelototi ku.

“Ulang” katanya lagi.

“Disis e teibel” kataku pelan, dia berlalu dari samping ku dengan gerutuan yang tak jelas kudenger. Lutut ku lemas, jantung ku hampir copot.

Aku melirik gadis cantik di sampingku.

“Mariani, Mariani…”. Engkau adalah dara cantik jelita, rambutmu yang panjang bagaikan mayang terurai, pinggul mu yang aduhai dan suara mu yang merdu.

Aku menyadari kebodohanku dibandingkan dengan teman-teman sekelas yang kebanyakan dari salah satu SD di kota ini. Sesekali aku melirik Mariani tapi dia cuek saja. Pura-pura menulis “Rasakan….”, mungkin itu yang dia pikirkan.

Tak terasa, bunyi lonceng pergantian pelajaran pun berbunyi. Dari kejauhan, Pak Buaton guru matematika berjalan menuju kelas kami belajar. Sebelum pelajaran dimulai, dia berjalan ke arah ku. “Tak salah lagi, hari ini hari paling apes sedunia” batinku, lalu aku menundukkan kepalaku.

Lama dia memperhatikan apa yang ku kerjakan. Aku merasakan jari-jari tangannya yang sudah keriput itu membelai rambut ku pas di atas telinga. Awalnya, tidak sakit. Lambat laun, tangannya bergerak ke atas, pelan tapi pasti. Kalau bisa berteriak aku pasti melakukannya. Sampai-sampai aku berdiri mengikuti gerakan tangannya. Luar biasa sakitnya, sampai-sampai beberapa helai rambut ku copot.

“Jangan tanya kenapa”, katanya datar. Aku terdiam. Kulihat kakinya berjalan ke belakang. Aku menoleh sedikit, dan ketiga temanku yang kemarin bolos menundukkan kepala dalam-dalam. Menunggu giliran.

Beberapa menit kemudian, Pak Buaton sudah asyik dengan Himpunan Penyelesaiannya. Suasana hening melebihi kuburan. Ku lirik ke belakang, Santun-temanku main kiu-kiu kemarin- mengangguk-angguk mendengar penjelasan Pak Buaton. Padahal aku tahu kapasitas otaknya, tidak lebih baik dariku. Aku tersenyum.

Pak Buaton berjalan ke arah ku. Apalagi ini?.

Dia memperhatikan pekerjaanku. “Kamu, dari tadi senyum-senyum, jelaskan apa itu Himpunan Penyelesaian yang kamu kerjakan” ujarnya pekan tapi jelas. Suaranya lembut tapi menghujam bagaikan belati tepat di ulu hatiku.

“Hegh!” aku kelabakan. “O..a..o…ee..Himp…”

Kembali kepalaku dielusnya. Kali ini sebelah kiri. Pelan-pelan tangannya naik ke atas menarik rambut telingaku. Perih dan sakit. “Allangi tolor i, asa malo utohutok mi-makan telor biar pinta kau” katanya.

Mariani, gadis cantik di samping ku pun tersenyum melihat ku. Menurut ku dia senang dan menikmati penderitaan yang kualami saat itu. Rasanya dia sangat puas dan senang atas kejadian yang saya alami.

“Coba tanya temanmu, apa jawabannya” Aku ragu melakukannya. Ku beranikan menatapnya, pandangan kami beradu. Jantung ku bergetar. Duh, tatapan mata indah mempesona itu, membuat ku tak berdaya. Wajahnya yang cantik tak mampu ku pandang. Keringat dingin mulai membasahi tengkukku. Aku menyesal kenapa harus se bangku dengannya.

Seingat ku, ketikan hari pertama masuk sekolah, aku terlambat.

Kampung ku lumayan jauh dari Pakkat. Puluhan kilometer. Aku sengaja menunggu motor,-mobil angkutan paronan-, hari senin itu. Ternyata, aku terlambat di sekolah. Dengan terpaksa aku harus duduk di depan, dengan Mariani.

“Mariani, tolong saya” kataku pelan.Aku tak mampu lagi menatapnya.

“Matte ho.., oto hian do ho antong, tanda hian parhuta-huta- Rasainlah kau, bodoh kali kau, dasar orang kampung-“. Dengan ketus, dari bibirnya yang tipis menjawab. Kulihat jari kirinya yang lentik menggeser buku pelajarannya ke arah ku. Menurut ku ini bukan himpunan penyelesaian lagi, tapi sudah menjadi himpunan penyesalan.

Aku susah menjelaskan perasaan ini kepada Mariani. Mungkin aku jatuh cinta kepadanya. Walau ku perhatikan sikapnya seolah memusuhi ku, tapi aku tahu dia juga suka aku.

Aku sengaja tidak keluar dari kelas ketika jam istirahat. Lalu aku mengambil kapur putih. Ku lukis kan wajah Marini dengan rambut kepang duanya. Persis mirip. Tak ada yang tahu kalau aku yang melakukannya. Memang, pelajaran seni dan bahasa sangat ku sukai. Tak heran bila separuh dari lembaran buku tulisku dipenuhi oleh berbagai macam lukisan dan puisi.

Seisi kelas geger melihat keindahan hasil ciptaan jariku ini. Aku pura-pura tidak tahu. Pak Sihotang, guru Bahasa Indonesia membaca se bait puisi cinta di samping lukisan itu.

Untukmu Mariani

Memancar indah bak cahaya mentari

Aroma semerbak bunga melati

Wajahmu Membuatku tak dapat melupakanmu,

Ku ingin selalu bersamamu

Karna ‘ku tlah jatuh cinta

Pak Sihotang lalu menghapus gambar itu. Beliau tersenyum.

“Puisi bagus” ujarnya.

Aku menuliskan sesuatu di secarik kertas dan memberikan pada Maraini. “Itu untukmu”. Dia membaca tulisanku dan segera memerasnya. Kaget dan memelototi ku. Aku memberanikan diri menatap matanya, hingga dia ter tunduk. Wajahnya bersemu merah, menambah kecantikan wajahnya.

Hari selanjutnya aku semakin semangat melukis wajahnya, juga membubuhi puisi di lukisan itu. Sengaja buku yang penuh lukisan wajahnya itu aku taruh di atas meja supaya dia bisa melihatnya. Dan benar, dari luar kelas aku tahu kalau dia buka buku itu. Dengan hati-hati dia membolak balik lembaran buku itu dan membaca setiap puisi cinta, dia tersenyum.

“Mariani, betapa cantiknya dirimu…”

=== Marudut dope==

9 thoughts on “Mariani

  1. “Walau ku perhatikan sikapnya seolah memusuhi ku, tapi aku tahu dia juga suka aku.”

    On ma GE ER ni parhuta-huta… Tippas!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s