Parsorion

Satu Versi Cerita ” SM Raja XII Tewas Dibunuh Belanda Setelah Mengetahui Jejak Kakinya”

Terbunuhnya Sisingamangaraja XII di Sibulbulon, belum banyak diketahui orang. Kisah nyata tersebut, belum ada yang membukukan secara utuh, namun hanya sepintas raja nan sakti itu tertembak setelah memegang putrinya Lopian yang terkena peluru Belanda.

Apa, siapa, dan bagaimana kisahnya sehingga SM Raja XII yang bermarkas di Pearaja, Kecamatan Parlilitan itu tertembak dan dimana dikubur sampai saat ini masih menjadi perdebatan dikalangan masyarakat.

Ada yang menyebutkan bahwa jasad SM Raja XII dibawa Belanda ke Balige (Kabupaten Tobasa saat ini), sehingga ada kuburannya di sana. Sedangkan persi lain, ketika SM Raja XII tertembak sejumlah pasukannya menyembunyikan jasad SM Raja XII dan dikubur di Sibulbulon. Sedangkan jasat yang dikubur di Balige adalah salah satu panglima yang tewas di tempat.

Sesungguhnya Belanda sendiri tidak mengenali wajah asli SM Raja XII karena yang menggunakan nama itu ada dua dari keturunan SM Raja XI.

Menurut tetua adat dan orang yang mengetahui persis keberadaan Raja Sisingamangaraja XII tewas, dibunuh yang sebelumnya dikarenakan anaknya perempuannya bernama Lopian tertembak, sanga Raja memeluk putrinya yang dalam keadaan berlumuran darah. Padahal salah satu pantangan SM Raja adalah tidak bisa terkena darah.

Sesungguhnya Raja Sisingamangaraja XII itu tewas dibunuh karena jejak kakinya sudah diketahui Belanda atas pengakuan dua warga yakni, Painulak Situmorang dan Peasiberang Situmorang yang memberitahukan lokasi persembunyian SM Raja XII kepada panglima koloni belanda bernama, Cristopel.

Mari kita simak kisah nyata kematian Raja Sisingamangaraja XII yang nama panggilanya Oppu Pulau Batu Tuad Nabolas yang ditelusuri oleh Ekposnews di Desa Sionom Hudom Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Kisah tersebut diperoleh dari pengakuan, nenek (opung) Tiara S Sihotang, 66, Selasa 14 September 2010 di rumahnya.

Menurut pengakuan S Sihotang, kisah tersebut diketahuinya atas datangnya Raja Sisingamangaraja XII ke dalam dirinya mulai tahun 1973. Sebelum menceritakan kisah Raja itu, kata Sihotang yang kelahiran tahun 1944 ini, sebelum rohnya masuk ketubuhnya, sejak SMP diakuinya memang ada rasa keinginan tahuan sejarah kematian Raja Sisingamangaraja XII tersebut.

“Akan tetapi, hanya sebatas keinginantahuan saja dengan menanyakan kepada orangtua-orangtua pendahulunya. Namun begitupun, tiba-tiba saja Raja Sisingamangaraja datang ke tubuhku sejak tahun 1973. Sejak itulah, makanya makamnya yang berada di Desa Sionom Hudom Sibulbulon yang bersama-sama dengan kedua anaknya, Patuan Nagari dan putrinya, Lopian bersama beberapa panglimannya masing-masing bernama, Mat Sabang, Tengku Ben, Tengku Sagala, Nyak Bantal, Tengku Imun, Mangalipan Simbolon selaku pemegang stempel raja dan Tarluga Sihotang.

Serta tugu markas besarnya raja itu yang isinya, gambar pion yang mengartikan tidak pernah mundur, aek tugal dan dua rumah lama (rumah istrinya dan rumah semedi) yang dulunya sempat dibakar oleh Belanda, 19 Juni 1907. ”Sayalah yang menjaga dan membersihkannya,” tutur dia.

Tanpa ada buku maupun memakai sesajen, melihat Oppung (nenek) Tiara S Sihotang ini menangis menceritakan kisah Raja Sisingamangaraja XII itu untuk meluruskan sejarah yang tertinggal dalam perjuangan SM Raja XII dibelantara hutan Bukit Barisan dan sering kontrak dan kerja sama dengan raja-raja dari Aceh.

Dengan berbahasa Batak, dia menceritakan yang diartikan ke bahasa Indonesia, Raja itu memiliki tiga anak (dua laki-laki satu perempuan) dari perkawinannya dengan boru Sagala masing-masing bernama, Patuan Anggi, Patuan Nagari, dan putrinya Lopian.

Telah melakukan pertempuran dengan pasukan koloni Belanda, Cristopel mulai perjalanannya sejak tahun 1877. Dengan memiliki kesaktian luar biasa bersama dengan pisau keris bernama, pisau sumalih somba debata yang kini keberadaannya di museum di Jakarta serta tongkatnya, Raja terus melakukan perlawanan untuk memperjuangkan tanah air.

Karena kekuatan pasukan Belanda pimpinan Cristopel begitu banyak, satu persatu panglima maupun anak buahnya tewas diterjang peluru Belanda. Mendengar panglimanya yang bernama, Riool Purba dan Mangase Simorangkir tewas, Raja pun bersama ketiga anaknya beserta istri dan panglimannya melanjutkan perjalanan dari Tarabintang menuju ke perbatasan Aceh Selatan.

Diperjalanan yang sebelumnya sampai di perbatasan Aceh Selatan tepatnya di dalam gua Pinagam, tiba-tiba saja pisau sumalih somba debata terjatuh ke dalam sungai parjinatan. Tetapi, raja bersemedi, pisau tersebut kembali ke pangkuannya, sehingga perjalanan dilanjutkan dari gua Pinagam menuju Aceh.

Entah kenapa tiba-tiba istrinya boru Sagala menyanyikan lagu kepada Raja. “Nagulang na pinasada ditombu batu nadua, nunga dapot bahina marujung pajuang na Raja.” Spontan, Rajapun terkejut sembari mengambil keris dari sangkurnya untuk mengetes kekuatannya. Keris raja sudah tidak memiliki kekuatan lagi, ketika diuji dari ujung kerisnya ke telur, telur tersebut tidak masak sebagaimana biasanya.

Sihotang mantan kepala desa selama 1985 sampai 2.000 dikampungnya itu mengatakan akhirnya, Raja melanjutkan perjalanan mulai dari Bionalagoan, Salak dan Ulu Merah sampai ke Batu Gajah selanjutnya ke Pearaja, Kecamatan Parlilitan tempat markas besarnya yang dibangunnya tahun 1885 untuk mengambil alat perlengkapan lainnya.

Selama perjalanan sebelum sampai di Peraja tempat markas besarnya, disamping itu Cristopel telah menangkap dua warga yang memiliki kesaktian masing-masing bernama Painulak Situmorang dan Peasiberang Situmorang dari kampungnya di Desa Batu Gajah. Dengan maksud mencari dimana keberadaan, Raja tersebut.

Kedua orang itu tidak mau memberikan keterangan, lalu disiksa Belanda habis-habisan. Belanda menghantam kedua bokong warga itu dengan memakai bambu. Hingga akhirnya, karena merasa kesakitan kedua warga itu memberitahukan lokasi jejak kaki Raja tersebut.

Berangkatlah pasukan Belanda bersama kedua warga itu dari Batu Gajah ke Alahan Lombu Dolok Nile. Disamping itu, kembali lagi Belanda menangkap dua warga lainnya yakni, Sipiso Barutu dan Sibocu Barutu. Hingga akhirnya, jejak kaki raja tersebut diketahui oleh Belanda. Selanjutnya, Belanda pun melakukan pengejaran dengan memperbanyak pasukannya.

Kemudian, Raja yang bersama ketiga anak, istri dan para panglimannya yang menuju ke Pearaja tanpa mengetahui bahwa Belanda sudah mengejar dari Belakang. Akhirnya, mereka ketemu di lokasi Sibulbulon sebelum sampai di markas besarnya di Pearaja sempat terjadi kontak senjata dengan pasukan Belanda yang bersenjata lengkap.

Patuan Nagari tertembak ketika melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang merangsek mereka. Begitu melihat abangnya tertembak, Lopian, putri Raja Sisingamangaraja berlari kearah kakaknya tersebut. Tetapi diapun kena tembakan Belanda. Sambil memegang bahu kirinya itu, Lopian berlari menuju arah Raja sembari mengatakan, ”Bapa ahu tertembak (bapak aku tertembak)”.

Secara spontan, Rajapun terkejut melihat putrinya tertembak dan dipeluknya. Darah putrinya sudah mengenai badan raja yang menjadi pantangannya. Raja marah dan langsung melakukan penyerangan, namun sayang kesaktianya sudah hilang karena terkena pantangan yaitu darah. Raja akhirnya tewas ditangan Belanda yang sebelumnya biarpun kaki kirinya sudah tertembak, Raja sempat melakukan perlawanan, kata Sihotang mengakhiri kisah nyata kebenaran kematian Raja Sisingamangajaraja XII.

Sudah 37 tahun Mengabdi

Sihotang sudah 37 tahun mengabdi sebagai tukang bersih kuburan pahlawan nasional, Raja Sisingamangaraja XII serta mengetahui kisah nyata kematian Raja tersebut. Oppung Tiara S Sihotang yang dikaruniai 6 anak dari boru Limbong (istrinya). Ternyata, berhasil menyekolahkan empat orang anaknya menjadi sarjana, namun dia kurang diperhatikan pemerintah pusat dan daerah.

Dimana, empat anaknya sarjana, tidak satupun diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Jalan menuju ke lokasi pemakaman SM Raja XII bersama kedua anaknya (Patuan Nagari dan putrinya, Lopian) bersama dengan para panglimannya, Mat Sabang, Tengku Ben, Tengku Sagala, Nyak Bantal, Tengku Imun, Mangalipan Simbolon selaku pemegang stempel raja dan Tarluga Sihotang, kurang mendapat perhatian dari pemerintah. “Sesungguhnya makam SM Raja XII ada di Sibulbulon, bukan di Balige.” (gamaliel) / eksposnews.com

23 thoughts on “Satu Versi Cerita ” SM Raja XII Tewas Dibunuh Belanda Setelah Mengetahui Jejak Kakinya””

    1. dang huboto bah lae. alai na jelas, hurang dope peneliti sejarah di hita halak indonesia, jadi tung mansai godang do persi na ading di masyarakat. berlu di buktikan dengan data, tentunya butuh penelitian yang konprehensip dan berkesinambungan. smua cerita masyarakat, literatur, dll dikumpulkan. \

      tapi bagi orang indonesia, pekerjaan semacam ini kurang diminati, entah kenapa

  1. Logikanya, bahwa Belanda tidak berkepentingan menyembunyikan jasad Raja Sisingamangaraja XII dan menguburkannya secara diam-diam, tapi justru Belanda sangat berkepentingan untuk menunjukkan jasad Raja Sisingamaraja XII tersebut kepada masyarakat luas di Tanah Batak dengan tujuan untuk mematahkan semangat perlawanan masyarakat luas di Tanah Batak.
    Dalam pertempuran kedua di Balige pada tahun 1883, Si Singamangaraja XII terluka oleh tembakan senapan yang sebutir pelurunya melukai bagian atas lengan kirinya (Sijabat, 2007:301). Hal ini juga dikuatkan oleh Parakitri Tahi Simbolon dalam makalahnya pada Seminar Peringatan 100 Tahun Wafatnya Raja Sisingamangaraja XII di Medan.
    Setelah Sisingamangaraja XII meninggal, maka jenazahnya dibawa ke Harianboho melalui Tele terus ke Pangururan dan ditunjukkan kepada msyarakat luas, agar rakyat Batak mengetahui bahwa akhirnya Sisingamangaraja XII tewas. Kemudian dibawa ke Balige untuk ditunjukkan kepada msyarakat luas dan raja-raja huta di Balige sengaja dikerahkan untuk menyaksikan jenazah Sisingamangaraja XII, agar mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Sisingamangaraja XII benar-benar telah tewas. Turut juga dihadirkan Ompu Parik Nadeak, ipar kandung Sisingamangajara XII, untuk memeriksa jenazahnya. Selanjutnya, jenazah Sisingamangaraja XII dibawa ke Siborong-borong dan ditunjukkan kepada masyarakat di sana. Ayahanda H. Manullang memeriksa jenazahnya untuk mengenalinya dan memeriksa bekas luka di lengan kirinya dan memastikan bahwa jenazah itu ialah Sisingamangaraja XII. Ayahanda H. Manullang ini adalah informan Sisingamangaraja XII di Silindung yang memberitakan kegiatan-kegiatan Belanda di sana. Akhirnya, jenazah tersebut dibawa ke Tarutung dan dimakamkan di sana yang turut juga disaksikan oleh Putra Dr. I.L. Nommensen yang mencatat acara pemakaman itu di dalam biografi ayahnya. Kemudian hari pada tahun 1953 dipindahkan lagi ke Balige (Sijabat, 2007: 299-303).
    Belanda bisa saja membawa jenazah Sisingamangaraja XII langsung dari tempat kejadian melalui jalan yang lebih mudah dengan route Dolok Sanggul – Siborong-borong – Tarutung. Tapi, route yang dipilih Belanda justru memutar ke Tele – Harianboho – Pangururan – Balige – Siborong-borong – Tarutung. Selama di perjalanan itu tentulah disaksikan oleh masyarakat luas di sana. Harianboho adalah kampung dari Sitor Situmorang, paraman dari Sisingamangaraja XII, karena Ompu Babiat Situmorang adalah ipar kandung dari Sisingamangaraja XII. Keluarga Situmorang inilah yang paling banyak membela Sisingamangaraja XII dan beberapa waktu Sisingamangaraja XII pernah bertempat di tanah keluarga Situmorang ini yang berada di dekat Tele. Kemudian jenazah itu dibawa ke Pangururan yang berdekatan dengan Huta Bunga, di mana Sisingamangaraja XII pernah tinggal dan kawin di sana, sehingga di Pangururan dan sekitarnya banyak kerabat Sisingamangaraja XII yang mengenalinya secara fisik. Belum lagi di Balige dan Siborong-borong yang tentunya banyak mengenalinya, karena beberapa kali terjadi pertempuran di sana.
    Akhirnya, Hamisi, orang Ternate, itulah yang menembak Sisingamangaraja XII hingga gugur sebagai pahlawan sejati dengan berucap sebelum menghembuskan nafas yang terakhir: “Ahu Si Singamangaraja” (Sijabat, 2007:295-299).

    Tabe,
    Edward Simanungkalit

    1. Appara Edward,

      Aku juga sudah baca buku itu semua, baik versi Sijabat, Situmorang, dan Simbolon. Tak satupun dari tentara belanda itu yang mengenali Singamangaraja. Sehingga beberapa mayat yang kebetulan mirip dibawa bersama-sama. Ada versi lain mengatakan, bahwa beberapa yang bersaksi mengenali Raja i adalah bohong. Mereka tida rela rajanya dibunuh oleh penjajah, lalu mereka bersaksi dusta.

      Para penjaga makam di Sionomhudon percaya kalau mayat yang dibawa adalah salah, itu mayat putra raja dan panglima-panglimanya.

      Jenasah sampai ditoba sudah dalam keadaan membusuk. Perjalanan berhari-hari dari Parlilitan ke Toba menyebabkan rusaknya wajah.

      Versi lain mengatakan, mayat itu tidak utuh dibawa, melainkan hanya kepala….

  2. banyak sekali fersi2 yang berbeda ttg Sejarah Wafatnya Sisinga Mangaraja ini…. karena tidak ada bukti atau fakta yang nyata yang bisa membuktikan kebenaran sejarah dari masing2 versi tersebut….. coba anda buka di searching mbah google…. banyak sekali sejarah sisingamangaraja yang terkadang \jadi bikin kepala pusing….

  3. termakasi atas peningglan raja kami yg telh hidup membelakami Semoga kami yg tinggl bisa meniru raja2 untuk bngsakami kususya orang batak HORAS.

  4. ima pahlawan na soboi sitiruon joma saonari.natumagon sitiruon jolma saonari sigaor dodak,makanya gabe pamangus portibita saonari

      1. harusnya versi2 tsb dicocokkan mana yg benar,tapi kalau menurut opputta namamereng kejadian i lgsg didaerah sionom hudon bhw yg sebenarnya kuburan Sisingamangaraja XII adl di Pearaja Sionom Hudon Parlilitan,makanya ada lagu “Diaek Sibul-bulon i”

  5. Fersi yang berbeda ttg Sejarah Wafatnya Raja Sisinga Mangaraja, saya pernah dengar cerita dari Oppung saya di Parlilitan, bahwa yang dikubur di Sionomhudon adalah dari Leher sampai kaki, dan yang dibawa oleh Tentera Belanda ke Toba adalah Kepala dari Raja Sisingamangaraja (itu cerita lo… saya waktu itu belum lahir)

  6. ngarang si kawan…
    jangan asal ngomong deh…
    artikel mu ini membingungkan..
    kelihatan tidak pernah datang ke tanah batak…

    menyimpulkan suatu cerita berdasarkan cerita/artikel orang lain…
    hmmm…..

  7. Wawancara dengan Cucu Tertua Sisingamangaraja XII

    Posted by: tobadreams on: 21 Desember, 2008

    In: batak itu keren | sosok | sejarah batak
    37 Komentar

    Beberapa waktu lalu, wartawan majalah TAPIAN Hotman Jonathan Lumbangaol, Jeffar Lumban Gaol, dan Chris Poerba berkesempatan mewawancara cucu Sisingamangaraja XII, Raja Napatar.

    Ramah. Tidak ada basa-basi, seperti namanya Napatar yang berarti tidak ada yang disembunyikan. Kesan pertama bertemu dengan pria kelahiran Siborongborong 13 Mei 1941 adalah orang yang bersahabat. Suami dari boru Pakpahan dan ayah tiga orang anak ini agak serius kalau diajak ngomong. Berikut ini petikan wawancara itu, yang dimuat di majalah Tapian edisi November 2008 :

    Apa yang paling mengesankan yang pernah Anda alami sebagai cucu Raja Sisingamangaraja XII?

    Ketika di Bandung semasa kuliah tahun 60-an. Pernah ada sandiwara Sisingamangaraja XII, saya ditunjuk memerankan Sisingamangaraja,. Tidak ada yang tahu saya adalah cucu Sisingamangaraja XII. Lalu, saat pergelaran berlangsung, undangan dari Jakarta melihat saya. “Kalian tahu siapa yang memerankan Sisingamangaraja itu?” kata salah satu undangan. Waktu itu sutradaranya orang Jawa, tidak mengenal saya.

    Mereka heran, “pantas dia sangat tahu sejarahnya,” kata mereka. Mengapa saya tidak mengenalkan diri? Karena saya inginkan masyarakat mengenal Sisingamangaraja bukan saya. Itu yang mengesankan.

    Saat itu, ada seorang pelukis melukis Sisingamangaraja di tembok. Lukisannya persis. Sampai sekarang saya tidak tahu dimana lukisan itu. Yang saya ingat waktu itu seorang pejabat tentara orang Batak menyimpannya. Sebelum dilukis, pelukis ini mewawancarai saya seperti apa Sisingamangaraja itu. Acara diadakan di Gedung Nusantara Bandung. Itulah penghargaan mereka. Tetapi di Bandung tidak ada jalan Sisingamangaraja, hanya di Yogya yang ada (tertawa).

    Sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja XII apakah Anda pernah mengalami hal-hal yang misteri?

    Saya kira tidak pernah. Hanya Raja Sisingamangaraja yang bisa melakukan mujizat, bukan keturunannya. Namun, jika ada hanya orang lainlah yang bisa melihat itu, bukan kami.

    Mengapa tulang-belulang Sisingamangaraja XII dipindahkan dari Pearaja (Tarutung) ke Soposurung (Balige). Mengapa justru tidak ke Bakara sebagai asal muasal Sisingamangaraja XII?

    Sebenarnya yang membuat itu adalah Soekarno. Tahun 1953 Soekarno datang ke Balige naik helikopter. Dia berpidato di Lapangan yang sekarang disebut Stadion Balige. Dalam pidatonya yang terakhir ia mangatakan bahwa “Balige ini bagi saya sangat mengesankan. Pertama, karena ia sangat indah. Kedua, di Balige ini yang pertama dicetuskan orang Batak perang melawan Belanda”.

    Setelah itu, ia menanyakan kuburan Sisingamangaraja XII. Ada yang menjawab di Tarutung. Soekarno bertanya lagi, kenapa tidak dipindahkan ke Balige? Dari sinilah perang Batak yang terkenal itu, itu kata Soekarno. Sejak dari situ menjadi diskusi para tokoh Batak masa itu, termasuk salah satu anaknya Sisingamangaraja XII Raja Sabidan ketika itu menjabat sebagai Kepala BRI Sumatera Utara setuju.

    Jadi, dibuatlah rapat. Sebab kuburan di Tarutung dianggap sebagai makam tawanan. Jadi, Sisingamangaraja XII tidak lagi dilihat sebagai Sisingamangaraja XII, tetapi Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.

    Anda masih ingat prosesi pemindahan makam itu; umur berapa Anda waktu itu?

    Saya masih ingat ketika itu saya berumur sekitar 12 tahun. Sejak dari Tarutung rombongan pembawa tulang belulang itu dikawal haba-haba (hujan deras disertai putting beliung). Sementara rombongan hampir tiba di Balige, angin puting beliung itu berjalan mendahului prosesi yang membawa tulang-belulang sang raja. Dan menyapu bersih semua kotoran yang ada di sekitar makam. Lalu angin itu menunjukkan tempat yang menjadi makam Sisingamangaraja XII. Ini fakta karena saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak banyak orang tahu tentang hal itu.

    Ketika prosesi pemindahan tulang belulang raja Sisingamangaraja XII itu Soekarno datang?

    Oh nggak. Hanya waktu itu ia mengirim telegramnya mengucapkan selamat. Waktu itu kami hanya empat orang cucu laki-laki. Saya dan dua adik saya tambah Raja Patuan Sori, ayah dari Raja Tonggo. Katika itu hanya tinggal satu anak, ayah saya Raja Barita.

    Jadi, istri Sisingamangaraja XII ada lima; boru Simanjuntak, boru Situmorang, boru Sagala, boru Nadeak, boru Siregar. Boru Siregar sebenarnya adalah istri dari abangnya, setelah Raja Parlopuk. Yang ada keturunannya sampai sekarang hanya dari raja Buntal dan Raja Barita. Sementara dari Patuan Anggi anaknya Pulo Batu meninggal saat umur tiga tahun. Ia meninggal dalam pengungsian, jatuh ke jurang dengan penjaganya.

    Saat itu, rombongan Sisingamangaraja XII pisah-pisah. Namun, beberapa kali ada datang pada kami mengaku-gaku “Ahu do Pulo Batu” (Sayalah si Pulo Batu). Tetapi tidak masuk akal. Masih muda mengaku-ngaku. Sebab, kalaulah ia benar seharusnya sudah lebih tua dari ayah saya. Jadi kami tidak percaya. Jadi sekarang cucu Sisingamangaraja XII hanya 5 orang lagi. Sayalah yang paling tua.

    Apa yang membuat Sisingamangaraja XII tertangkap?

    Sebenarnya, menurut cerita bahwa Sisingamangaraja XII tertangkap karena ada tiga orang yang berhianat. Kalau dulu Pollung, Hutapaung terkenal sebagai pendukung Sisingamangaraja XII. Maka tidak pernah Belanda bisa berhasil tembus ke daerah ini. Lalu, di Samosir Ompu Babiat Situmorang, ia dengan pasukannya juga raja yang dengan teguh melawan Belanda. Kalau mereka bertemu Belanda, mereka bunuh. Kulitnya dijadikan tagading. Sampai sekarang masih ada di Harianboho. Jadi merekalah Panglima pasukan Sisingamangaraja XII untuk menghancurkan Belanda. Lalu di Dairi. Disana ada gua Simaningkir, Parlilitan. Ia di bawah air terjun. Dari tengah-tengahnya ada pintu masuk. Inilah dipercaya sebagai Benteng Sisingamangaraja XII melatih semua pasukannya.

    Dari mana Sisingamangaraja XII membiayai pasukaannya?

    Dia tidak memungut pajak. Tetapi katanya di daerah Dolok Pinapan antara Parlilitan dan Pakkat di sana ada tambang emas.

    Soal kepahlawan Siboru Lopian?

    Dulu, beberapa kali rohnya si Lopian datang ke orang-orang tertentu. Sejak kami memindahkan saring-saring (tulang belulang) Sisingamangaraja XII ke Soposurung, Balige. “Pasombuon muna do holan ahu di tombak on (tegakah kalian membiarkan aku sendiri di hutan ini,” katanya. Sebab, semua keturunan Sisingamangaraja XII yang meninggal di pembuangan baik di Kudus, di Bogor, Jawa Barat kami sudah satukan di makam keluarga persis di belakang Tugu Sisingamangaraja XII. Oleh karena itu, kami pergi ke Dairi, ke Aek Sibulbulon untuk mengambil tulang-belulangnya Lopian.

    Tetapi tidak mungkin lagi diambil kan? Karena, konon dia juga ditenggelamkan ke dalam sungai Sibulbulon dan ditimbun dengan tanah. Kami hanya mengambil secara adat, hanya segumpal tanah untuk dibawah ke Soposurung. Sejak itu tidak pernah lagi boru Lopian trans pada siapapun.

    Saat pengambilan, kami juga mendapat ancaman bupati dan masyarakat setempat. Mereka tidak mau bahwa kuburan Lopian dipindahkan. “Sampe adong do istilah tikkini sian harungguan ikkon seketton nami angka namacoba mambuat i. (Kami akan bertindak jika ada yang mencoba mengambil kuburan Lopian).” Namun, akhirnya setelah kita berikan pengertian mereka minta kami untuk mangulosi mereka. 43 margalah mereka yang harus diulosi. Sebenarnya mereka mau minta, perjuangan Sisingamangaraja XII di Dairi tidak boleh dilupakan. Saya jawab, sebenarnya bukan kami yang menentukan. Tetapi kalau bupati meminta kuburan Lopian di Dairi kami tidak menolak.

    Sementara beberapa tahun yang lalu Tarnama Sinambela mendirikan patung Si Boru Lopian di Porsea.

    Bisa anda ceritakan bagaimana prosesi pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII?

    Untuk menjadi pengemban Raja Sisingamangaraja ada prosesinya. Saat Raja Sisingamangaraja XI wafat, Raja Parlopuk anak sulung yang harus menjalankan tampuk pemerintahan. Namun semuanya harus karena kesepakatan Si Onom Ompu. Sebab sudah tiga kali dilaksanakan pesta margondang, namun Raja Parlopuk tidak bisa membuktikan syarat-syarat yang diminta. Seperti memanggil hujan. Sementara Patuan Bosar bisa memenuhinya. Waktu itu ia masih ke Aceh, dari sanalah ia bisa mengerti bahasa Arab. Dan bergaul dengan orang-orang Aceh. Ia pulang dari Aceh saat ayahnya sudah meninggal. Sebenarnya Ia tidak mau menjadi Raja, hanya karena masyarakat setempat memaksa ia harus mau menerimanya.

    Jadi Sisingamangaraja XI lah yang menulis pustaha kerajaan 24 jilid. Hanya pada kepemimpinan Sisingamangaraja XI lah ada penulisan tentang sejarah. Dan buku ini sudah dibawa ke Belanda dan masih ada di museum Belanda. Kami pernah meminta ke Belanda. Tapi menurut mereka, mereka ingin memberikan itu jika sudah ada gedung yang ber- AC. Tetapi karena belum ada kemampuan keluarga, hal ini masih terkatung-katung.

    Mengapa tidak ada yang meneruskan (menjadi) Sisingamangaraja ke-XIII?

    Sebenarnya karena tidak ada yang meminta. Sebab jabatan Sisingamangaraja itu ditentukan oleh enam marga tadi. Biasanya dilakukan penunjukan di Onan Bale, Di Bakara. Biasanya dalam acaranya, dibunyikan gondang. Pengangkatan Sisingamangaraja juga selalu karena ada masalah genting; ada penyakit atau musim paceklik. Ketika itu menurut mereka hanya jabatan Sisingamangaraja yang bisa menyelesaikan masalah tersebut.

    Sionom Ompu itu siapa. Apakah keturunan Si Raja Oloan?

    Bukan. Yang disebut Sionom Ompu di Bakkara itu adalah marga Bakkara, Sinambela, Sihite, Simanullang dan tambah dua marga lain Marbun dan Purba. Itulah marga penghuni Bakkara. Bukan Siraja Oloan. Sebab Naibaho dan Sihotang itu di Samosir. Dan mereka itulah raja-raja di Bakkara.

    Bagaimana pendapat Amang tentang beberapa pendapat dinasti Sisingamangaraja yang tidak hanya berasal dari satu Marga. Ada yang mengatakan Sisingamangaraja itu hanya roh, bisa datang kepada siapa saja?

    Bisa jadi. Hanya dari 1 sampai duabelas jelas semuanya dari marga Sinambela. Memang sejak semula kelahiran Sisingamangaraja pertama hasil pernikahan Bona Ni Onan dengan boru Pasaribu, ia lahir setelah 19 bulan. Tetapi kalau disebut tidak mesti Sinambela, saya kira harus dari keturunan Sisingamangaraja. Saya kira harus dari induknya.

    Apakah benar keluarga Sisingamangaraja XII dipaksa memeluk agama Kristen?

    Tahun 1907 semua keturunan Sisingamangaraja ke XII masuk sebagai Tawanan di Pearaja Tarutung. Lalu, ada marga Tobing mengajari mereka untuk agama Kristen setelah itu dibaptis. Ketika itu tinggal 5 anak raja Sisingamangaraja XII. Raja Buntal, Pakilin dan yang lain setelah besar dan disekolahkan ke Jawa. Sebenarnya untuk pembuangan. Sebab, Belanda melihat jika besar takutnya nantinya jadi berpengaruh. Jadi mereka dua orang Di Batavia, satu di Jatinegara, satu lagi di daerah Glodok. Lalu di Bogor, di Kudus meninggal di sana, dan satu di Bandung.

    Raja Buntal ketika itu lulus dari sekolah hukum. Setelah mereka selesai masa belajar mereka pulang lagi ke Tapanuli. Raja Buntal ditempatkan sebagai wakil Zending Tapanuli mewakili Belanda di Daerah Toba. Sementara Ayah saya (Raja Barita) ditempatkan menjadi camat di Teluk Dalam Nias.

    Sepulang dari Teluk Dalam, ayah saya menikah dan ditempatkan di Tarutung. Dan perkawinannya dibiayai Belanda di Porsea. Dengan semua resepsi Adat Batak. Belanda membawa es cream dari Pematang Siantar. Jadi semua undangan makan es cream waktu itu. Sementara Raja Buntal menikah juga dibiayai Belanda hanya dengan gaya Belanda.

    Siapa Raja Tobing itu?

    Jadi karena terimakasih dari ompung boru Sagala terhadap kebaikan Raja Henokh Tobing, diberikanlah putrinya Sunting Mariam menikah dengan putranya. Sementara Raja Pontas Tobing memberikan tanah tahanan keluarga di Pearaja Tarutung.

    Raja Pontas dianggap mengkhianati Sisingamangaraja XII. Satu waktu, Raja Pontas memanggil Sisingamangaraja XII untuk mendamaikan Raja Pontas dengan saudaranya. Begitu Sisingamangaraja XII muncul yang datang ternyata Belanda. Sebenarnya bukan masalah Kristen, tetapi karena ia menjadi mata-mata Belanda. Dengan raja Pontas-lah Sisingamangaraja XII bermasalah. Sekarang, keturunan dari raja ini minta tanah ini kembali digugat (bersebelahan dengan Pusat HKBP), dekat Rumah Raja Pontas. Saya bilang, itu tanah yang diberikan Belanda, tetapi tanah itu kami yang meninggali. Berikutnya pemerintah memberikan bahwa yang menempatilah yang memiliki hak kepemilikan. Maka itu hak kami.

    Sejak kapan Sisingamangaraja XII melakukan perang terhadap Belanda?

    Setelah Belanda menjadikan Tarutung tahun 1876 sebagai daerah jajahan Belanda.Tahun 1877 rapat raksa di Balige atas reaksi Sisingamangaraja untuk menentang Belanda. Raja-raja Toba dikumpulkan. Keputusan rapat tersebut ada tiga. Pertama, Kita akan perang dengan Belanda, Kedua, Kita tidak anti terhadap Zending. (Ketiga) Kita harus membuka hubungan diplomatik dengan suku bangsa yang lain. Ketika itu Barita Mopul dan Raja Babiat ikut untuk rapat itu.

    Dari sanalah dimulai perang melawan Belanda. Itulah yang disebut Perang Pulas. Dimulai di Bahal Batu daerah Humbang, Lintong Nihuta. Dilanjutkan di Tangga Batu, Balige. Pertempuran Pertama Sisingamangaraja XII masih bisa mengalahkan Belanda. Lalu perang di Balige Sisingamangaraja XII mundur menjadikan perang Gerilya. Tahun 1883 hampir seluruh daerah Toba dikuasai Belanda. Menyingkirlah Sisingamangaraja XII ke arah Dairi.

    Kalau tempat-tempat keramat Sisingamangaraja masihkah dilestarikan sampai saat ini?

    Hariara parjuaratan, disanalah Sisingamangaraja pertama dulu bergantungan, Ini masih ada. Di bawahnya itu ada komplek kerajaan Sisingamangaraja. Di bawah komplek ini ada Batu Siungkap-Ungkapon.

    Masa Nippon ini pernah dicoba selidiki. Tali ini diulurkan dua gulung, tali diikatkan sampai habis tidak sampai menyentuh tanah. Konon setiap kerbau yang disembelih darahnya dimasukkan ke dalam batu siungkap-ungkapon. Sementara tombak Sulu-sulu itu berada di lokasi perkampungan marga Marbun. Saat ini mereka sudah berikan tanda-tanda tombak Sulu-sulu. Jadi ada disana disebut tempat pemujaan. Jadi kalau marpangir (keramas) di batu inilah berjemur. Lalu dekat pantai ini ada Aek Sipangolu (air kehidupan).

    Di dekat Aek Sipangolu ada namanya Batu Hudulhundulan dikenal tempat istirahat Raja Sisingamangaraja. Dan didekatnya ada Hariara. Katanya kalau cabangnya patah menandakan telah meninggal Sisingamangaraja. Kalau ada rantingnya yang patah itu berarti keturunannya yang meninggal. Katanya kalau ada dari keluarga raja ini berpesta, maka daun-daunnya akan menari-nari terbalik. Sisingamangaraja XI makamnya ada di Bakkara.

    Apa arti lambang Sisingamangaraja itu?

    Kalau yang putih menggambarkan “Partondi Hamalimon” mengambarkan tetang agama. Kalau yang merah Parsinabul dihabonaran yang berarti menyunjung tinggi kebenaran. Kalau yang bulat mengambarkan “Mataniari Sidomppakkon” matahari yang tidak bisa ditentang menggambarkan kekuasaan Sisingamangaraja. Sementara delapan sudut ini mengambarkan delapan penjuru angin (desa Naualu) dukungan dari delapan desa. Sementara pisau yang kembar menggambarkan keadilan sosial. Itu semua ada sejak Sisingamangaraja pertama.

    Piso Gaja Dompak itu sekarang dimana?

    Di Museum Nasional. Saya juga baru tahun lalu melihat itu. Sebelum acara pesta 100 tahun Sisingamangaraja XII kami diajak melihat Piso Gaja Dompak itu. Kami diantar ke tempatnya Piso Gaja Dompak itu, saya kenalkan diri. Saya melihat sarungnya sudah lapuk. Gajah itu memang ada. Saya ingat dulu yang menyimpan Piso Gaja Dompak ini Sunting Mariam putrinya yang nomor dua. Dia meninggal 1979. Dulu saya ingat pesannya bahwa di ujung pangkal pisau ini ada permata merah. Lalu kepala museum mengelap dan memang kelihatan mutiara merah.

    Kalau dulu Piso Gaja Dompak itu memang selalu dibawa?

    Selalu dibawa. Memang itulah kekuatannya, salah satu penambah keyakinan.

  8. mari kita yakini keturunan Raja yg menceritakan langsung daripada orang yang mengaku di datangi arwah-arwah biar logika baca di atas

  9. apa pun kata mrk tentang ompu i
    yg pst hny mula jadi nabolon yg tau dimana keberadaan sang raja
    buat saya pribadi sebagai orang batak
    sejarah di negara kita ni
    uda di permainkan ama orang2x yg sok cari muka
    ya biasa la demi kepentingan politik

  10. mohon di kembangkan lagi sejarah raja batak,sisingamangaraja agar orang batak benar- benar punya pahlawan bangsa ini,agar orang batak tidak terpuruk,dan orang batak jangan sombonbonglah,kalau sudah kaya, padahal angina,abangna,bapaudana dangmangan.taudiri dong.

  11. Bacalah versi sitor situmorang, yg bukti2 nya dan foto2 nya ada di museum; ini versi orang yg tdk waras dan mengaku ngaku kesurupan pula yg diceritakan, kacau bah..bapak sitor situmorang itu namanya raja babiat yaitu lae kandung dr sisinga mangaraja 12…

  12. Hamu saluhut dongan na hinaholongan….daripada lelah dan habis energi kita untuk membahas apakah Sang Pejuang kita ini benar tewas atau di mana di kebumikan,..ada satu hal yang terpenting…”mari kita gelorakan dan wujudkan” semangat juang dan persaudaraan sejati tanpa “SARA” dan “Kepentingan pribadi maupun kelompok” dan buang jauh-jauh “hosom-teal-elat-late”dalam kehidupan. Salam Hormat dan Kagum buat Sang LEGENDA “Raja Si SINGAMANGARAJA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s