True Story

R i m b a n g

Tiba-tiba, aku teringat pada obrolan santai bersama dengan teman-teman di Klub Sehati, sehabis main badminton, kemarin malam. Sehati, Nama klub bulutangkis, dimana anggotanya adalah ama-ama halak hita na giot rohana marolahraga Badminton di Cikarang. Kata seorang teman, kalau umur di atas 30tahun, sebaiknya harus mengatur pola makan. Terlebih bila pergerakan badan sedikit. Jika tak ingin makanan yang kita konsumsi menjadi lawan, maka kendalikan makananmu. Perkara makan ini yang membuatku bimbang. Apakah makan siang hari ini masih  di Lapo,–dengan menu khas Tapanuli, saksang atau panggang–seperti kemarin?.  Atau mencoba masakan lain?

Ku putuskan untuk tetap ke Lapo. Toh masih ada menu Ikan Mas dan sayur Daun Singkong Tumbuk.

“Tanggo-tanggo ma ito,–Cincang lah ito” kataku, ketika kulihat, ternyata Ikan Mas sudah habis.

Dengan cekatan NaiFitri, –yang punga lapo– menyiapkan menu pesanan ku. “Ito, adong pote manang Jengkol?, asa lakku namangan on,–ada pete atau jengkol, biar enak makanan ini” kataku

“Dang adong, Ito, nga loja au mandiori di pasar an,–nggak ada Ito, sudah capek aku cari di Pasar, tak ada” jawabnya sembari senyum.

“Ai naso adong do Rimbang di hutatta on, Ito?,–Apa Rimbang tak ada, Ito?”

Dang adong ito, tumagon ma sattan i binaen. –Tak ada ito, mendingan pakai santan”

“Manang naso ditanda hamu be rimbang?–Atau tak kenal lagi rimbang?” kataku

*  *  *

Jam empat pagi Oppung  ini sudah bangun.  Memasak nasi untuk makan  pagi sebelum kami berangkat sekolah. Dengan cekatan, beliau mambebe ikkau rata ini di anduri yang baru dibeli dari amang boru paranduri di huta seberang. Sambil bekerja,  Oppung tak henti-henti mengoceh alias marbete-bete.

“O tahe, jolma on..nga gijjang ari dang mar na dungo, aha be dapoton muna rajokki molo songonon do?, jumolo manuk dungo–Sudah siang belum bangun, gimana mau dapat rejeki. Duluan ayam yang bangun”.

Kami, lima pahompunya memang masih dalam balutan bulusan,–lage yang dibalutkan di badan sebagai pengganti selimut. juga pengganti kelambu, sehingga terhindar dari gigitan nyamuk. Udara pagi yang sangat dingin, memaksa ku untuk membelitkan Lage Podoman ke tubuhku yang mungil. Aku pura-pura tak mendengar teriakan Oppung yang mencoba membangunkanku.

Siapa anak yang suka dibangunkan jam 5 pagi di kampung ku, di kaki Dolok Pinapan?. Dinginya sampai ke sumsum.

Namun aku tak tega membiarkan terus menerus memanggil namaku, Endi–Nama kecilku. dengan berat hati, memicingkan mata dan bangkit. Berjalan ke tumpukan piring kotor. Tugas pokok yang harus  ku kerjakan sebelum makan pagi. Setelah cuci piring, nyiapin Lambuk–makanan Babi.

Aku memerhatikan oppung yang sedang mambebe ikkau rata.  Tak beranjak dari tempatku. Rupanya tak hanya kami berdua saja yang sudah bangun subuh-subuh begini. Inong sudah dari tadi berangkat ke saba,–sawah, yang tidak jauh dari rumah untuk menaburkan boni,–benih padi/semai. Walaupun Inang seorang guru SD,  kami juga bertani seperti keluarga lain. “Sadia ma gaji ni guru, haru SPP muna dang sae,–Berapalah gaji guru, sedangkan untuk kebutuhan sekolah kalian tak cukup” kata inang. Tak heran,  di kampung ku PNS, juga harus bertani. Selesai mengajar, langsung ke sawah. Itulah inangku seorang yang memiliki tangan yang kuat dan kokoh. dan badan yang tak pernah capek. Seingatku, kami tidak pernah beli beras.

“Mangaloppa aha ho, Oppung,–Masak apa, Oppung?”  tanyaku

“Gok sukkun-sukkunmu, pahatop i piring i, lao mangan nama, nunga gijjang ari on.–Udalah, banyak kali pertanyaanmu, cepatlah kau cuci itu piring, dah siang ini

Masih gelap begini, dibilang ginjang ari?, ini baru jam lima lebih sedikit. Jam tujuh nanti, barulah gijjang ari, pikirku.

Oppung selalu berpesan kalau  ayam lebih dulu bangun daripada kita, maka rejeki akan lari.

“Dipakkut manuk, dipatok ayam” katanya. Padahal setahuku, ayam yang selalu duluan bangun. Bukankah suara ayam yang membangunkan Oppung tadi pagi?, tanyaku dalam hati.

Aku melihat Oppung mamulos dedaunan yang setahuku bukan sayur. Daun berwarna putih,  lalu di campur dengan daun singkong tadi. Aku penasaran. Seingatku,  belum pernah makan daun ini. “Sudah kayak jaman penjajahan saja. Jaman susah”, pikirku.

“Daun motung yang masih muda ini,–bulung motung na poso do on” katanya

Ai siallangon ni horbo do i,Oppung,–Itukan makanan kerbau, Oppung”

“Ido, asa hatop ho bolon, songon horbo i,–Iya, biar cepat kau besar seperti kerbau itu” katanya

Aku protes, daun itu adalah daun untuk makanan kerbau.  Aku sering  mencarikan daun ini untuk makanan kerbau kami, si GUNDUR yang sedang beranak di belakang rumah. Kini, sayur daun singkong  dicampur dengan daun bulung motung?.

Jangan-jangan, Oppung mengambilnya dari goni tempat rumput yang kami sabit kemarin. Bah!. Seperti kerbau saja kami ini.

“Ah….dang diboto ho siallangon? najolo tikki masa Buladda, sahat tu na ro pusat, on do sayur. Omakmu malo sikkola  gabe guru jala sehat, tong do alani on,–Tak tahu rasa kau, dulu waktu jaman Belanda sampai jaman pemberontakan ( PRRI) ininya sayuran. Ibumu pintar, jadi guru, sehat, juga karena ini” katanya sambil mangaroi nasi. Oppung sudah menyiapkan tempat puriknya, pasti untuk kami. Ditaburi udang halus dan garam sedikit, sangat enak. Lebih enak dari susu.

“Oppung, ini kan sudah merdeka” protesku,  masih belum  terima.

“Nga be i, dungoi anggimi, asa dipahan manuk. –Udalah,  kau bangunkan dulu anggimu, asa dilean mangan manuk i”.

Lagi-lagi aku terbelalak. Oppung meraih kantong plastik  hitam dari atas para-para, dan merogoh isinya serta menaburkan ke kuali tempat sayuran tadi. Ternyata  monis–beras halus, sisa ayakan,– yang sudah dipiari.

Tak lupa  dengan rimbang yang sudah di iris kecil-kecil itu. Katanya rimbang bikin sayur tambah manis.

“Godang do pitamin ni rimbang on,–banyak vitamin Rimbang ini-”

“Pitamin aha ma huroa sian i oppung–vitamin apa dari rimbang, Oppung?” tanyaku

“Nagodang sukkun-sukkunmu, karejoi ma karejom,…pitamin R,–banyak kali pertanyaanmu, selesaikanlah pekerjaanmu, …Vitamin R” jawab Oppung. Mungkin karena rimbang diawali dari huruf R.

Dan ternyata bener kata oppung.  Daun singkong tumbuk plus bulung motung tambah rimbang,  sangat enak.  Itu semua karena Rimbang, jelas oppung.

Pengalaman lain, ketika ke tombak di Dolok Pinapan. Oppung selalu menyempatkan mengambil siborutiktik untuk sayuran. Tumbuhan ini biasanya tumbuh di tempat teduh. Seperti ceritaku di atas, awalnya aku protes. Apa benar  tumbuhan ini bisa dijadikan sayuran?. Dengan campuran yang sama, rimbang dan monis, maka sayur siborutiktik ini sangat enak. Sayur pavoritku hingga kini.

Timbul pertanyaan dalam pikiranku, siapa duluan yang makan siborutiktik ini,  sayuran dari belukar  hutan. Sayur lain yang menurutku juga aneh tapi enak adalah motung, sikkam, pahu, daban, tubis dan banyak lagi. Tak bisa saya sebutkan satu persatu. Oppung memang top!.

*   *   *

Mungkin, bila kita menyuguhkan sayuran di atas pada anak jaman sekarang, mereka akan menolaj dan protes,  sama ketika oppung memberikan saya makan bulung motung. Dan mungkin,  sudah banyak orang yang tidak mengenal rimbang, si penyedam alami.  Atau  pura-pura tidak kenal, dianggap kampungan kalau makan rimbang.

Nggak taulah. Tapi yang jelas  na pinagodang ni rimbang do au–dibesarkan oleh rimban.

“Ito, molo boi ito, lului hamu jo rimbang i bah, nga masihol iba,–Ito, carilah dulu rimbang itu, dah rindu” kataku seraya membayar makanku. NaiFitri tersenyum. “Olo ito,–iya ito” katanya. Mungkin dia berpikir, kalau aku ini produk asli hitaan!.

KOsa kata:

siborutiktik : Sejenih tumbuhan liar, mirip bayam, tumbuhnya hanya di daerah pegunungan,

Bulung motung : Juga tumbuhan liar yang punya dua warna, satu sisi adalah warna putih, yang lain hijau

Sikkam : juga sejenis pohon, susah saya gambarkan keknya…..bah!

Pahu : tumbuhan paku, jenis tertentu….(bukan labang yahhh!)

Monis : menir?? butiran beras yang kecil-kecil??

Ikkau : Bahasa batak, sayur

Mambebe ikkau : meremas daun singkon, sebagai pengganti di tumbuk

Mangaroi : mengurangi air pemasak nasi dari periuk. Purik :  Air tajin



4 thoughts on “R i m b a n g”

  1. hehehe,,,,,,,,na godang ma tutu sukkun sukkun muna i tu oppung i lae?mantap bah cerita nya,aku juga produk asli dari hitaan lae,tapi kalau nama sayuran siborutiktik dan motung,itu belum pernah ku lihat,atau mungkin nama nya beda kalau di kampung kami lae.selebih nya yang lae sebutkan tadi pernah saya makan.Horas…..

  2. Molo mulak hita lae tu huta, hu togihon pe lae mangalului sayuran on ateh. tabo dop daba lae, jala sude par Dolok Pinapan mangattonon…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s