Pitonggam dari Sampuran Sipulak

Pitonggam (bhs Batak), satu contoh Ilmu Kebathinan, yang tujuan utamanya adalah supaya sipemakai tampak lebih berwibawa sehingga ditakuti/disegani oleh lawan bicara.

– – – – oOo – – – –

Akhirnya, setelah empat puluh menit menyusuri hutan karet, persawahan, sampai juga ke lembah itu. Pematang terakhir dari persawahan yang kulalui. Beberapa orang-orangan sawah yang berdiri tegak di pematang bergoyang-goyang akibat tiupan angin. Kadang kala mengagetkanku. Sekilas, benda ini seperti manusia.

Orang-orangan sawah ini saling berhubungan dengan menggunakan tali rapiah, lalu di ujung simpulnya diikatkan pada sebilah bambu. Didesain sedemikian rupa, hingga dengan bantuan air pancuran kecil, bambu ini  menggerakkan secara otomatis seluruh rangkaian orang-orangan ini bisa bergerak, baik tangan maupun kepalanya.

 

Pohon karet dan kebun tebu di sisi kiri-kanan jalanan  sudah meranggas. Empat tahun lalu ketika aku datang ke tempat ini untuk pertama kali, kawasan ini mirip belantara. Kala itu, kebun ini masih produktif dan tebu-tebu ini berdiri dengan tertata rapi, berbaris. Di tengah kebun, ada areal produksi air tebu menjadi gula.

 

Anjloknya harga gula tebu membuat pemiliknya mengabaikan kebun ini. Belum lagi pohon karet yang sudah tua, kelihatan sudah tak diurus oleh pemiliknya. Padahal, seingat ku, kampung ini adalah petani karet yang lumayan besar. Mungkin disebabkan banyaknya penduduk kampung ini yang pergi merantau ke kota sehingga kebun tradisional ini seperti terabaikan.

 

Setitik cahaya dari lampu teplok kelihatan memancar dari rumah– yang menurutku lebih cocok disebut sebagai pondok– yang menandakan aku hampir sampai ke tempat tujuanku malam ini. Tak ada yang berubah dari empat lalu waktu pertama kukunjungi. Hanya beberapa pohon rambutan dan kelapa sudah mulai meninggi. Sementara, bentuk pagar dan ini halaman masih sama.

 

Semua orang di kampungku tahu, siapa penghuni pondok ini. Mereka, Oppung Parbulang-bulang dan istrinya. Sepasang kakek tua yang memilih hidup menyendiri di tengah kebun ini. Sekitaran satu kilometer jauhnya dari Sampuran Sipulak.

 

Sampuran dalam bahasa Indonesia adalah air terjun. Air terjun ini jarang dikunjungi orang. Apalagi kalau musim hujan. Mungkin karena jalan kesana sangat terjal dan licin, sukar untuk dilalui. Atau mungkin karena berita keangkeranya. Menurut cerita yang kami setahui sebagai penduduk kampung, air terjun ini adalah milik Oppung. Sebutan buat sesosok mahluk yang tak kelihatan. Konon katanya banyak orang yang kesasar berhari-hari di sekitaran air terjun ini bila mereka kesana tanpa permisi kepada si empunya.

 

Air terjun ini sebenarnya bisa saja diusahakan untuk keperluan masyarakat, sebut saja untuk pembangkit listrik, lalu tempat wisata alam. Belum lagi, di sana katanya banyak ihan,–ikan asli tanah batak–, sebagai hewan peliharaan oppung, yang sebenarnya bisa menambah daya tarik wisata. Tapi, kembali ke persoalan tadi, belum ada yang berminat untuk itu.

 

Aku tidak  tahu pasti kenapa disebut Oppu Parbulang-bulang, mungkin karena beliau sering pakai sorban untuk menutupi kepalanya. Menurut cerita yang pernah ku dengar, kakek harus pergi ke satu tempat di lembah Air Terjun Sipulak untuk memotong rambutnya. Dan tak sembarang tempat atau hari untuk melakukanya. Cerita ini menambah keyakinanku sama ‘pengetahuan’ yang dimilikinya.

 

Sesayup terdengar suara Air terjun Sampuran Sipulak mendayu-dayu dibawa angin. Lolongan penghuni hutan dan suara jangkrik serta ditimpali nyanyian kodok sawah menjadi sebuah simpony malam. Sesekali suara burung hantu terdengar membuat bulu kudukku berdiri.

Aku mencoba menggeser pagar bambu yang hampir peot itu, dan melangkah menuju tangga pondok. Tiba-tiba anjing Oppung Parbulang-bulang menyalak. Nyaliku ciut.

 

“Hush…Unang Goppul,–jangan goppul—” terdengar suara dari dalam pondok, pelan tapi sungguh menakjubkan, anjing besar yang di panggil ‘si Goppul’ itu mengerti apa yang diucapkan si pemilik suara, lalu beringsut ke bawah kolong pondok dan tidur kembali. Dari namanya dan suaranya  pasti sangat besar sekali. Goppul itu dalam bahasa indonesia adalah beruang.

“Masuk saja….pintu tak dikunci, aku  sudah  menunggumu,…”

Bah!!…dalam hati, kaget mendengar perkataan itu. Rupanya dia tahu kedatanganku malam ini. Aku semakin takjub akan ‘kemampuan’ Oppung ini. Sekelebat, sesosok tua bertubuh sedang, atau mungkin lebih pas disebut kerempeng, keluar melongok dari pintu pondok, sembari membawakan lampu teplok. Aku bisa melihat dengan jelas wajah di hadapan saya. Tak ada yang berubah dari fisiknya, dari nada suaranya atau dari caranya memandangi ku.

 

Dulu, waktu pertama berkunjung dan bertemu dengan oppung ini, aku agak grogi juga, bagaimana tidak, dengan pandangan mata menusuk ulu hati memuat ku sedikit ragu untuk mengutarakan maksud kedatangnku.

 

“Kenapa datangnya kemalaman? tidak kemarin?” seraya menyilahkan saya duduk di bale-bale yang terbuat dari bambu tak berserut itu. Kembali aku kagum, bagaimana mungkin dia tahu aku mau datang dari hari kemarin?.

 

Memang rencananya, kemarinlah aku datang. Bukan malam ini. Namun apa daya, pulungan atau sesajen yang harus ku bawa susah untuk mendapatkanya.

 

Sebutir telur ayam kampung berbulu hitam dan madu asli yang baru diambil dari sarang lebah serta ranting pohon yang belum dilangkahi burung. Bah,…mungkin karena mahalnya harga daging ayam saat ini, sehingga sudah jarang orang pelihara ayam hingga bertelor. Dibanding daging sapi, kerbau atau babi, maka daging ayam lebih murah sehingga pilihan penduduk kampung tak lari dari daging ayam untuk santapan saat ada pesta.

“Siapa temanmu?” seraya mendelikkan matanya mencoba mengenali wajahku di bawah temaran lampu teplok yang samar-samar.

“Aku nya itu oppung, si Hendry par Cikarang, ppung masih ingat sama  aku?, sendirian Oppung,  Sehat oppung??”, sapaku setelah aku duduk

“Aku tahu,…dan sudah tahu kedatanganmu sejak tiga malam lalu, dan aku juga sempat bertanya-tanya kenapa kau belum sampai juga? apa kau kesasar hingga ke Sampuran Sipulak sana? bagaimana kabar bapakmu? kapan kau datang dari Jakarta? kalau oppung beginilah keadaanya, seperti biasa, akhir-akhir ini banyak tamu yang datang…” ujarnya, dia bertanya dia menjawab. Sesukanya.

 

Oppung Parbulang-bulang mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaanya setelah ku perkenalkan siapa diriku.

“Berobat oppung?, tanyaku, sedikit penasaran mendengar perkataan oppung tadi. Aku tahu, kalau penduduk kampung sering datang berobat ke oppung ini. Selain dia jago dalam hal ilmu spritual, pengobatan tradisonalpun banyak dilakoninya. Mulai dari mengurut kaki yang terkilir atau patah hingga menurut orang yang masuk angin. Dan semuanya pulang dengan hasil yang memuaskan alias sembuh.

“Tak semua. Tadi malam datang tamu berlima, katanya mereka dari Partai Humalaput, mereka mau minta petunjuk supaya di pemilu 2009 ini mereka berhasil duduk di de pe er de. Ini  adalalah rombongan yang ke tujuh dari beberapa partai yang berbeda. Aku tak habis pikir, kenapa mereka datang kesini. Bukankah seharusnya mereka mendatangi masyarakat kampung sana dan mengutarakan maksud mereka.”

“Lalu, Oppung kasih nasehat apa??”

 

“Nggak ada.  Aku juga bingung mau kasih nasehat apa, kau bayangkanlah kalau semuanya minta nasehat, lalu siapa yang nanti akan berhasil. Alangkah bagusnya mereka mencoba mendekati penduduk kampung dan  mendengarkan keluhan mereka. Yang membuatku semakin bingung, bukankah mereka itu sudah lebih pintar daripadaku?, Orang-orang  aneh” kata Oppung Parbulang-bulang.

“Mungkin sudah tak mempan kali omongan mereka itu, Oppung…” kataku merekareka.

“Itulah yang aku herankan, apa karena mereka dulu sering menjanjikan sesuatu sehingga penduduk kampung sudah tidak mau dengar obrolan mereka?”, lagi-lagi oppung beretorika.

“Apa Oppung pernah mereka menjanjikan sesuatu…”

“Iya…sebagian dari tamu itu adalah orang-orang yang datang beberapa bulan lalu waktu pemilihan bupati, mereka minta aku datang di acara kampanye calon bupati itu, mereka minta supaya saya ‘manarang udan’ agar kampanye mereka berjalan dengan baik, tak terganggu hujan. Di situ mereka menjanjikan banyak sekali kepada orang-orang kampung. Mereka bilang mau memperbaiki jalanan yang rusak, lalu memberikan pupuk pada petani, panen lancar dan sembako tidak mahal di Onan. Kau perhatikannya tadi sawah-sawah itu? seolah menguning namun tak berisi, banyak lapungnya. Hama tikus dimana-mana, belum lagi hama amporik…” kata Oppung Parbulang-bulang seraya menghela nafas, dalam.

 

“Namanya juga kampanye Oppung, pasti mereka martiga-tiga janjilah–obral janji–, biar dipilih..” kataku.  Mencoba memahami jalan pikiran Oppung.

“Itulah yang aku tak mengerti, saat ini kan penduduk kampung seperti kami yang sudah peot ini tidak mengerti apa itu politik, yang kami tahu, siapapun yang duduk sebagai penggomgomi,–pengayom– di negara ini, harusnya berbuat untuk kemakmuran penduduk, bukan?. Kami ini sudah tinggal menunggu hari, mungkin tahun depan kalau kau pulang kampung, yang kau temui bukan aku lagi, tapi batu nisan. Kami penduduk kampung tak mengharap muluk-muluk, ingin jadi kaya, ingin punya motor, yang ada dipikiran kami adalah bagaimana partaonan bagus—panen melimpah-, salak bisa kami jual, lalu gota–karet– ada yang beli dan harga gula sakka–gual aren- normal kembali…”

Kami membisu dalam angan masing-masing.

 

Tergopoh, istrinya menyodorkan secangkir kopi dan sepiring ubi rebus. Aku menyambutnya dengan senyum. Segera kucicipi.

 

“Ada yang datang minta ‘petunjuk’, karena mau test pegawai negeri. Aku semakin bingung, bukankah mereka semuanya lulusan sarjana?, kalau mereka pintar dan berbudi baik, pasti mereka akan diterima, bukan?” lanjut oppung.

“Mereka kesini, artinya adalah rejeki buat Oppung. Setidaknya, ada hamuliateon buat Opung,–ada uang terimakasih” kataku

“Kami ini sudah peot, Nak. Liang lahat sudah menunggu.Lagian hasil dari kebun ini bisa menghidupi kami berdua, aku lebih memikirkan masyarakat di kampung sana, yang tak bisa merasakan ikan asin karena mahalnya, tak bisa minum kopi karena harga gula naik” ujar Oppung Parbulang-bulang datar.

 

“Merokok dulu, Oppung…..” kataku seraya menyodorkan Gudang Garam Merah kegemaranya. Aku memotong pembicaraanya.

“Sudah tak merokok aku, semenjak harga-harga naik, rokok sudah tak bisa ku beli lagi, jangankan rokok, minyak tanah saja sudah jarang. Makanya oppungmu boru menyalakkan satu lampu teplok saja. Padahal berita di radio, harga minyak di pasar dunia sudah turun, tapi kenapa minyak tanah di kampung ini masih langka dan mahal, belum lagi harga karet. Alasan tokke gota, krisis global di Amerika serikat, sehingga harga gota nggak naik-naik, dari mana nanti orang kampung dapat uang untuk membeli baju natal dan baju tambaru……sudalah, kita ngobrolnya nanti saja…” lalu oppung terdiam.

 

Sesaat dia memandangi saya, sangat dalam dan menusuk. Lalu pelan dia berujar

”Yang kau cari itu tidak ada padaku, Nak. Semuanya ada dalam dirimu…” ujarnya penuh teka-teki

“Maksud Oppung apa? aku kan belum mengutarakan maksud kedatanganku…” ujarku pelan

“Marilah masuk ke dalam….” ajaknya seraya bangkit. Segera aku mengekor mengikuti langkahnya masuk ke pondok.

 

Sesaat dia mempersiapkan tikar kecil dan dupa juga tempat pembakaran kemenyaan, lalu mengambil ikat kepala warna merah, hitam dan putih yang sudah memudar itu, seraya melilitkanya di kepalanya menutupi matanya. Lalu dia memulai ritualnya.

“Letakkan pulungan yang kau bawa” bisiknya hampir tak kedengaran, lalu aku dengan pelan mengeluarkan benda yang ku bawa dari dalam tasku.

“Kesinikan tanganmu…” lalu dia meraih ibu jari tangan kiriku. Lanjutnya ” Aku mengerti maksud  kedatanganmu, dan sudah tahu apa yang ada di pikiranmu, kau mau minta pitonggam bukan??…”–Pitonggam adalah jimat untuk menaklukkan lawan berbicara, sehingga kita lebih berwibawa.

” Iya oppung….”

“Untuk apa?”

“Begini,  Oppung, perusahaan tempatku bekerja sekarang hampir bangkrut terimbas dari krisi global, lalu pimpinan perusahaan menjalankan kebijakan untuk mengurangi karyawan, aku kuwatir, kalau kena imbasnya di PHK, untuk itulah kiranya oppung memberikan aku pitonggam itu, supaya nanti, ketika aku bertemu atasan, dia akan bimbang untuk mengikutsertakan akudi program PHK ini…. “Apalagi yang kau inginkan…?”

“Sekalian Oppung, mau meng-upgrade parmanison yang pernah oppung berikan itu, beberapa bulan yang lalu pernah kupergunakan merayu siboru yang boru cina di kantorku tapi tak berhasil, aku pikir parmanison ini sudah expaired dan lewat masa garansinya, tolong lag di upgagrade oppung….” kataku.

 

“Bah…kau bilang sudah expaired, menurut database yang ada padaku, parmanison yang aku berikan itu adalah versi terbaru dan genue alias asli dan  sudah dicocokkan dengan TYD, Tabas Yang Disempurnakan, jadi nggak mungkin salah lagi…” ujar oppung seraya tangan kirinya meraba kitab kuno yang teronggok didekat tungku sesajen. Membuka dan melafalkan dengan fasih.

Aku menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakanya lagi

.

“Benar…benar…itu sudah aptudait, dan otomatis akan update sendiri parmanison itu, bila pulungannya kau makan, apa mungkin pantanganya kau langgar…”

“Nggak oppung,….”

“Coba kau ingat dulu, apa pernah kau makan jagal biang–daging anjing–?”

“Sering Oppung, di Cibitung lapo Medan dan di Cikarang Lapo Sitanggang, sering Oppung, tapi, bukankah, kalau  kita tinggalkan pitonggam itu di rumah maka pantangan ini tak berlaku?” kataku bingung

“Bah…bah….itu pantanganya……”

“Dan lagi, Oppung tidak bilang kalau makan daging anjing itu melanggar pantangan, seingatku,  hanya ada tiga, tak boleh beli togel, sudah kulakukan, kebetulan togel sudah lama tutup. Lalu tak boleh minum alkohol, dan tak boleh manuruk ke bawah tiang jemuran,-melintasi bawah tempat jemuran kain”

“Iya…iya…Aku lupa memberitahukan pantangan yang ke empat…..” kata oppung manggut-manggut.

“Okelah….. nanti akan aku buatkan ramuan-ramuan dan kumpulan tabas-tabas yang paling komplit, yang bisa kau pergunakan, dan tidak kadaluarsa lagi. Nanti kau praktekkanlah di tempat kerjamu niscaya kau tidak akan dipecat, dan akan banyak orang yang tunduk kepadamu…..

Lalu dengan diiring doa-doa yang mirip erangan, Oppung mengakhiri ritual ini dengan senyumnya yang khas. Lekas dia beranjak dari tempat duduknya dan membuka kain berwarna-warni penutup matanya dan meraih satu bungkusan sedang yang dibalut dengan kain lusuh. Juga dengan tabas-tabas dan doa ala Oppung Parbulang-bulang, dia menyerahkan bungkusan itu.

“Sesampai di Jakarta, kau bukalah bungkusan itu, kau gunakanlah itu dimana saja, niscaya apa yang kau cari akan ditemukan. Ingat, bungkusan ini hanya boleh dibuka sesampai kau di Jarta, kalau tidak, ritual ini tidak akan berguna”

“Baik Oppung….” lalu aku permisi untuk pulang. Tak lupa saya menyelipkan dua lembar ratusan ke kantongnya sebagai pengganti gula dan kopi yang aku minum tadi.

—–o0o——

Rasanya ingin segera membuka dan mengetahui apa isi bungkusan yang diberikan oleh Oppung Parbulang-bulang, sebuah ilmu kebthianan, Pitonggam dari Sampuran Sipulak. Aku mereka-reka bentuk nya. Mungkin sesuatu yang bisa dimasukkan ke dompet.  Mungkin berbentuk cincin atau kalung?.  Ah, masa bodoh, yang jelas akan kutaklukan dunia ini dengan pitonggam ini. Pasti semua akan bertekuk lutut di hadapanku, jangankan boru cina, boru batak pasti akan tunduk di dihadapanku. Dengan pitonggam baru ini. Jangankan anggota milis Pakkat, pembaca setia pakkatnews.com bahkan teman-temanku di facebook-pun akan takut/segan melihatku. Tak sabar lagi, aku segera membuka bungkusan ini.

“?!”

Aku hampir melompat. Kaget setengah mati melihat isi bungkusan uang diberikan oleh Oppung Parbulang-bulang sebagai Pitonggam yang saya cari.

Sebuah buku!!..alamak,  SEVEN HABITS karangnya Stephen Covey . Inikah pitonggam dari Sampuran Sipulak. Aku memungut secarik kertas yang jatuh dari dalam buku. “Kau baca dan praktekkanlah, Nak, niscaya kau akan digemari oleh semua orang, tertanda Oppung Parbulang-bulang”

Aku merenung sejenak. Benar juga kata Oppung, aku butuh pitonggam ini!. Pitonggam dari Sampuran Sipulak.



3 pemikiran pada “Pitonggam dari Sampuran Sipulak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s