Partikket Balkon

Mudah-mudahan tak ada yang marah karena tulisan ini.

Dari rumah sudah kuniatkan, untuk serius mengikuti acara Konser Nyanyian Rindu Danau Biru yang dilaksanakan SLTC,–salah satu Komunitas Pecinta Danau Toba– di salah satu Gedung Kesenian, tepatnya di Taman Ismail Marzuki-TIM Jakarta. Kenapa saya katakan “Serius”. Karena tujuan datang ke konser itu adalah untuk menikmati konser musik.

Ketika istriku bertanya, “Kenapa tidak bawa kamera?”,– Seperti biasa, kemanapun pergi, gadget yang satu ini tak pernah ketinggalan, selalu di kantong. Ya, alasannya itu tadi. Ingin menikmati konser itu. Kuanggap, dengan menjinjing kamera atau device lain akan merusak konsentrasi. Tidak mungkin bawa kamera tapi tak di gunakan, bukan?.

“Siapa tahu mau berphoto dengan  artisnya?” lanjut  istriku lagi. Ku jawab, “Kita mau menikmati konser musik, bukan mau ke studio photo”.

Setali tiga uang, handphone pun kusilent/suara non-aktif. Pesbuk pun kuabaikan, apalagi mengapdet Status. Bahkan, getaran HP penanda ada panggilan masuk-pun, kuabaikan begitu saja. Acara-demi acara disusun sedemikian rupa, menakjupkan.

Rupanya, tak semua orang berpikiran seperti diriku. Dari detik pertama duduk di Balkon atas, yang kurasakan bukan seperti menikmati Konser Musik Batak. Situasi mirip Onan. Kebanyakan penonton di Balkon atas, dari detik pertama masuk, langsung  sibuk dengan kamera, BB dan hempon. Asyik ngobrol, cekikikan dan berfoto-ria.

Entah, apa sebutan yang cocok bagi rekan-rekan penonton di Balkon atas. Dari acara konser dimulai, hingga selesai, semua sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sibuk mengambil gambar dengan pasilitas video HP.

Sebenarnya,  mereka datang mau ngapain sih?, apa bagusnya berfoto di acara konser seperti itu dalam suasana gelap. Aku terpaksa mengambil tempat duduk agak di pojok, supaya bisa lebih nyaman menikmati konser.

Bahkan, ketika Paulus Simangunsong yang membawakan satu puisi sedemikian menakjubkan, pun terganggu dari bisik-bisik. Sebegitu sering saya melihatnya membacakan puisi, malam itulah yang menurutku sangat memukau. Sampai-sampai saya berhenti menarik nafas. Biasanya saya masih bisa tersenyum, kali ini saya mati kutu!. Salut, sekaligus bangga.

Tapi, kok suasana disekitar ku sai hira ina-ina di onan, heppot!. Bahkan ada seperti ayam mau bertelor, pindah sana-pindah sini. sekali lagi, HEPPOT.

Saya teringat ketika berkunjung ke salah satu tempat wisata,—panatapan–di kawasan Danau Toba. Saya dan istri duduk berdua memandang lepas ke arah danau yang membiru. Sesekali berbincang, mendiskusikan beberapa hal, seperti semakin luasnya lahan gundul yang kami lihat dari tempat kami memandang. Hari menjelang sore, membuat pemandangan semakin menakjupkan, bak seorang mentalis, menyihir setiap orang yang memandangnya. Indahnya alam ini membuat hati ingin berbetah lama. Lalu sekelompok anak muda yang baru turun dari bus, berteriak-teriak berhamburan. Mereka baru saja tiba. Rupanya berhamburan  hanya untuk mencari posisi berfoto.

Kubisikkan ke NaiPartogi,–Istriku–, “Sungguh bodoh orang ini. Kenapa mereka tak bisa menikmati pemandangan ini, mungin tiga puluh menit pertama, baru berfoto. Tujuan kesini, mau berfoto atau mau menikmati alam ciptaan Allah?”. Tak ada decak kagum yang kudengar begitu mereka tiba didekat kami. Semuanya sibuk dengan HP, kamera  masing-masing.

Dari kedua peristiwa yang kualami, mungkin masih seperti itulah, kita, orang Indonesia menikmati pemandangan alam ataupun hiburan.

Kembali ke konser amal SLTC,

Hal lain yang membuatku jengkel, banyak yang berteriak-teriak. Setahuku, lagu batak berbeda dengan lagu dangdut, yang lazim di pertontonkan di panggung terbuka. Kalau nonton konser lagu batak di gedung, sangat aneh rasanya ikut berteriak, berjoget, bersiul. Lain hal kalau musik dangdut di lapangan terbuka. Hidangan musik, tarian, puisi seolah tak berarti. Belum lagi suara-suara setan, ketika penitia menyampaikan kata sambutan. “Pahatop ma i” katanya.

Dan tak hanya dari balkon atas, di bawah–penonton– VIP pun ada yang berteriak. Mungkin salah tempat duduk kawan itu.  Tiket doang VIP tapi kelakuan par-balkon!.

Setahuku, para penonton konser yang diadakan oleh LSM Save Lake Toba Community (SLTC) ini, tak salah saya menyebut sebagai penonton dari kaum intelek. Yang melek teknologi, dan lahir di jaman internet. Lalu, kenapa ada teriakan-teriakan, suara sumbang yang masih terdengar?. Sebut saja misalnya ketika Edo K, penyanyi dari suku Papua melantunkan lagu, dengan seenaknya berteriak “Gimana kabar Wasiormu?”. Ada yang paling parah “Bah,…holan ngingi tarida puang”. Mungkin kalau bang Edo K tahu siapa yang ngomong seperti itu, langsung ditampar. Semoga!.

Ini soal sikap dan akhlak, betul-betul par-tikket balkon, kawan ini. Pikirku.

8 pemikiran pada “Partikket Balkon

  1. Iya amang,…dan ini harus di rubah. maila hita patuduhon baju dohot mobil na arga hape gaya parhuta-huta…..horas ma amang, nunga mampir di blog na metmet on

  2. komen dikit….,

    Dan tak hanya dari balkon atas, di bawah–penonton– VIP pun ada yang berteriak. Mungkin salah tempat duduk kawan itu. Tiket doang VIP tapi kelakuan par-balkon!.

    Ada pepatah mengatakan: “Molo B2 sian hitaan, tong do B2 sahat tu Jkt on,…. Jala akka per gelar SH ma ra i.

    Agak kasar ate, sori ma jolo bah.

  3. Horas!,nian iba dang jakarta,di luat naasing do,alai attar sarupa do ra sude molo halak hita.molo dung jumpa halak hita dohot halak hita pittor sai na humebat do perasaanna,gabe hirana marisuang parbinotoanna alai hurang parrohaonna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s