Beranda » Kategori » Parsorion » (Orang) Batak di kota kami

(Orang) Batak di kota kami

Aku hanya berharap, tidak dicap sebagai seorang batak yang menjelekkan sukunya sendiri. inilah kisah-kisah nyata dalam kehidupan orang batak. cerita ini saya posting, hanya untuk menyadarkan kita sebagai orang batak.

Ketika seisi ruangan sibuk dengan pekerjaanya, aku malah tidak konsentrasi. Kulirik jam dinding yang menggelantung, jam sepuluh.  Belum waktunya, pikirku. Ah, perut ini tak bisa diajak kompromi, perut parhuta-huta. Kalau tak masuk nasi, belum nyaman rasanya. Aku menyesali diriku, kenapa menolak tawaran NaiPartogi, istriku, yang telah menyiapkan sarapan tadi pagi. Lebih memilih roti bakar, seperti orang bule. Inilah akibatnya. Harus segera diselesaikan di lapo. Satu-satunya solusi.

*   *   *

 

“Bah, kau rupanya, Appara” kataku. Aku kaget melihatnya. Tak kusangka kami bisa bertemu di  tempat ini. Walau masih satu kota, tapi kalau hanya untuk makan siang, rasanya tidak mungkin, dari sudut ke sudut kota Bekasi, rasanya tak mungkin hanya untuk makan siang. Pasti ada alasan lain. Aku meraih kursi kosong dan duduk di seberangnya.  “Ah, bikin kaget saja kau, jalo sipanganon i,–minta makananmu” ujarnya. Kulihat dia makan dengan lahapnya.

“Jam begini, Appara sudah keluar kantor, apa komandan nggak ada, atau lagi bersama?” tanyaku lagi. Jam setengah sebelas, dia sudah keluyuran di lapo. Setahuku, job nya di belakang meja. Entahlah akhir-akhir ini, sudah berubah. Posisi di instansi kepolisian memang sering berubah, tergantung kebutuhan. Dulu, setahuku, pria di depanku ini bertugas di reserse bagian penyidikan. Aku mengenalnya ketika ada ulaon Adat marga kami. Sebagai namardongantubu aku punya kewajiban untuk mengenalnya. Bukankah suatu saat nanti, dialah temanku mengerjakan satu kegiatan di acara yang bernuansa habatahon?. Itu teorinya, prakteknya juga demikian.

“Apa tidak boleh?” jawabnya, malah balik bertanya. Aku tersenyum
“Beginilah, Appara, kadang suntuk juga di kantor terus, kebetulan sedang lewat saja” lanjutnya

“Kok, emblem namamu berubah?” tanyaku penasaran.
“Semua kau perhatikan, jalo tambu i–tambah nasi mu” ujarnya sambil terkekeh.
“Serius, Appara, mungkin bukan cuman aku yang penasaran. Coba, namamu H Wicaksono M”  kataku sembari mengeja nama yang tertera di baju seragamnya.
“Ah, itu kan bikinan tukang jahit tak perlu dipermasalahkan” ujarnya.

Akhirnya, kami pun bercerita.

Namanya juga namarampara, abang-adik karena marga. Akrab dan seolah sudah saling mengerti apa yang ada dalam pikiran. Tak ada rasa sungkan, dan kaku. Seolah sudah kenal lama. Itulah kehebatan para leluhur Batak, menciptakan partuturon. Sehingga, hanya karena satu marga, maka dia pasti saudara kita. Banyak ras di dunia ini pakai nama marga atau nama keluarga. Tapi fungsinya tidak seperti marga orang batak. Salah satu tanggung jawab orang batak adalah menjaga nama baik marga. Seorang berbuat aib, bisa satu marga dicibir orang.

“Sudah mulai luntur rasa banggaku menjadi seorang batak, ini serius” ujarnya tiba-tiba
“Jadi karena itu, kau tidak pakai nama batakmu di bajumu?, kau ganti dari Hamonangan Wicaksono Marbun jadi Wicaksono, saja?” tanyaku, aku menatapnya tajam.
“Sebagian karena itu” jawabnya singkat.

Aku tak habis pikir. Dulu, dia begitu bangganya memiliki identitas seorang batak. Pernah kulihat dia membentak seorang lelaki hanya karena perkataannya sedikit menyindir orang batak. “Orang batak itu keras tapi cengeng”, kata lelaki itu. Lalu, lelaki di depanku ini tak menerima, bahkan sampai marah.

*   *   *

Dia lahir dari rahim seorang ibu berdarah Solo. Bahkan, dari anak-anak hingga dewasa  di sana. Hanya didikan amaniHamonangan,–ayahnya –yang telah merubah dirinya menjadi seorang batak tulen, yang paham adat batak dan paham makna habatahon. Belum lagi soal gaya bahasa, hingga lagu-lagu batak kegemarannya. Tak heran, bila banyak orang tak mempercayai kalau lahir di Solo. Menurutnya, dia baru sekali ke tanah leluhurnya, pulang kampung. Bisa dimaklumi. Hampir semua kerabat dekatnya sudah pindah ke kota.

Ayahnya lahir di Medan. Seorang yang merintis karir di kemiliteran. Sebagai seorang perwira selalu berpindah tugas, hingga akhir hayatnya menetap di kota Solo. Dan Ompungnya, OppuHamonangan kelahiran pematang Siantar. Puluhan tahun yang lalu, hijrah ke kota Medan dan menetap selamanya di sana. Dia hanya tahu, kalau lelehurnya –oppung ni oppung– ada di Dolok Sanggul. Itu saja!.

Saat umur 15tahun, Amani Hamonangan membawanya pulang kampung ketika Ompung Parsadaan mereka mengadakan pesta mangongkal holi. Tulang belulang lelehuhurnya disatukan dalam satu kompleks makam keluarga,–tambak, batu na pir, dolok-dolok na timbo, istilah atau bahasa bataknya–. Termasuk belulang Ompungnya, OppuHamonangan. Itulah pertama sekali dia menginjakkan kaki ditanah leluhurnya itu. Dan pertama sekali dia mendengar silsilahnya, walaupun kala itu dia kurang paham. Umur belasan tahun, yang lahir di kota, diterangkan mengenai garis tarombo, oppu parsadaan tidak mungkin mengerti. Pun, kala itu par-amangtuaonna mengisahkan garis keturunan dari siRaja Batak hingga oppung mereka secara detail, toh hanya lewat begitu saja. Dia mengangguk, seolah mengerti supaya parbapatuaonna itu senang. Yang dia ingat hanya satu kalimat “Jangan kau hilangkan jati dirimu sebagai Batak!”

Semua tentang marganya dia tahu, ketika bergaul dengan orang batak di Jakarta. Bermula ketika seorang menyebutnya Dalle. Setelah tahu atinya dalle–batak na lilu–batak kesasar, dia berusaha mencari tahu tentang marganya. Kini, berbagai hal dari garis tarombo hingga cerita mengenai Naipospos, Marbun dan Lumban Gaol pun dia tahu, bahkan nama-nama oppu lengkap dengan nomotnya,  serta keturunannya siapa saja di Jakarta ini, dia tahu. Tak malu dia bertanya pada siapa saja. Panggilan dalle sungguh menyakitkan baginya. Tapi memotivasinya mencari makna habatahon yang sesungguhnya.

Dia rajin ke ulaon adat. Bila tidak sedang bertugas/piket, semua undangan adat, suka dan duka diikutinya. “Kalau bukan kita yang melestarikan adat Batak, siapa lagi. Coba kau lihat, Appara, siapa yang menggantikan ompung itu ketika beliau sudah tak ada” ujarnya sembari menunjuk pada seorang tetua adat yang cukup berumur. Aku manggut-manggut, dan merasa tertohok. Aku yang lahir dan besar di Tapanuli tak pernah memikirkan hal itu. Prosesi adat menurutku, itu jatah orang tua. Kita hanya penonton saja. Rupanya aku salah. Kalau tidak dari usia muda kita membiasakan diri untuk mengerti prosesi adat Batak, kapan lagi.

Tak heran, banyak sekali orang yang sudah berumur, tapi tidak mengerti dan tidak tahu harus berbuat apa ketika berhadapan dengan situasi adat. Betul kata dia. Siapa pengganti para orang tua yang mengerti adat batak, dimana semakin tahun semakin berkurang jumlahnya.

“Tahu kau, Appara, adat batak itu unik. Aku sudah melihat berbagai macam adat di nusantara ini, tak ada yang seunik adat Batak” ujarnya.
“Salah satu contohnya?”
“Adat Dalihan Na Tolu, menempatkan seseorang di satu posisi dengan cukup adil, kadang dia boss, kadang jadi anakbuah. Aku pernah lihat seorang Letkol paruh baya bekerja di dapur, sementara  beberapa orang yang masih lebih muda hanya duduk tenang” ujarnya.
“Siapa?”
“Bapakku. Ketika kami pulang dari pesta itu, aku protes. Dan bilang, kalau saudara ayah tak tahu diri dan tidak kasihan melihat orang tua. Begitu teganya membiarkan Bapak bekerja sementara mereka duduk tenang. Lalu bapak menjelaskan adat Dalihan Na Tolu. Barulah aku mengerti, dan paham kenapa amangboru par BRI,—kerja di BRI– mau saja disuruh-suruhnya, tanpa pernah menyangkal padahal dari usia sudah di atas bapak” ujarnya
“He..he..he..”
“Kok, ketawa, benar kan? ini baru satu contoh, lho!” dia heran melihatku tertawa.
“Aku sangat salut dan bangga padamu, Appara. Umumnya, generasi batak yang lahir di kota besar sudah tak memperdulikan hal ini. Adat batak dan segala sesuatu yang berhubungan dengan habatahon dianggap kolot. Aku tak mau menyebut kalimat –mereka malu– tapi pada kenyataanya seperti itu” kataku.

Itulah Apparaku, Hamonangan Wicaksono Marbun. Dan nama kedua putrinya pun berbau Batak, Tiurma dan Lasniroha. Tidak seperti orang lain, dengan bangganya menamai keturunannya dengan nama yang tidak mereka mengerti sama sekali. Dari nama orang Meksiko hingga nama Afrika Selatan. Dari nama yang susah setengah hidup untuk menyebutnya, hingga nama yang hanya tiga huruf. Tak kasihan melihat oppungnya di kampung harus mengelus dada karena nama pahompunya.

Aku teringat kisah temanku si Paltibonar. Seorang koleganya menamai anaknya dengan Bianka Rhadjingar. Rupanya anaknya itu adalah pahoppu panggoaran. Saking susahnya menyebut nama ini, orang-orang di huta memanggil namanya menjadi Oppu Bianta Najingar–Neneknya si anjing galak. Terlalu!. Apa susahnya bikin nama si Parluhutan, Humuntar, Sotarduga, Lasni Roha, Tiurmaida, Partogi, Habonaran, dan banyak lagi.

Lucunya, atau bukan lucu, katakan lebih ekstrim, merubah nama yang diberikan orang tua di kampung setelah sampai di kota. Mudah-mudahan bukan karena malu.

*   *   *

“Coba kau bayangkan Appara”
“Sebentar, aku membayangkan dulu” sergahku seraya tersenyum
“Ini serius”
“Ya, teruskanlah” kataku seraya mengibaskan tangan kiriku ke parlapo, minta dibuatkan kopi untuk kami berdua.
“Setiap hari, atau katakankah setiap minggu, aku menangani kasus orang batak”
“Akh..terlalu mendramatisir kau, jangan sara–SARA–, bukankah semua suku punya permasalahan?” kataku
“Ini..nih…jawaban pembenaran diri, dengar dulu” ucapnya, lalu dilanjutkan ” Hari-hariku dihiasi dengan penyidikan kasus orang batak, belum lagi menerima telepon dari orang batak, minta kasusnya dilapan-anamkan” dia terdiam sejenak. Istilah Lapan Enam maksudnya didamaikan, diselesaikan menurut cara mereka. Lain jalur lah, istilah jalan tol-nya.
“Baru seminggu lalu ada orang batak yang dengan ngototnya ingin memenjarakan istrinya. Dia mengadukan istrinya karena istrinya mambalbalnya–memukulnya. Tidak terima, dilaporkan ke polisi. Memaksa istrinya di prodeokan,–dipenjarakan. Apa nggak rittik,–gila– itu. Kebetulan angkang borumu penyidiknya?” ujarnya. Istrinya, kupanggil angkang boru juga seorang polisi.
“Bah…”
“Kau saja kaget, apalagi aku. Coba Appara, sekarang ini orang-orang batak tak malu punya kasus. Entah itu masalah keluarga, masalah pekerjaan, apa saja, semua diselesaikan di kantor polisi, bahkan sampai pengadilan. Anggar-anggar pengacara. Pernah kulihat di satu sidang pengadilan. Hakimnya Batak, terdakwanya batak dan pengacara batak. Lalu yang menuntut juga batak,–keluarga dekat dari istrinya malah. Dan jaksanya juga batak. Edan!. Zaman dahulu, pasangan suami istri beda pendapat adalah lumrah. Dan biasanya hanya cekcok di dalam kamar, begitu keluar, di depan anak-anak suami istri saling menyapa seolah tak ada masalah. Sekarang berbeda. Tetangga pun tahu kalau rumah itu dijadikan sasana tinju. Pernah satu ketika, di lingkunganku Pak RT melapor. Mungkin karena tahu saya seorang aparat polisi, atau karena saya seorang batak. Rupanya, dua rumah dari rumah Pak RT, sepasang suami istri orang batak sedang bertengkar hebat. Lalu kudatangi, ku bilang, jika ingin berkalahi di lapangan saja, jangan menganggu ke tetangga”
“Ha..ha…ha..”
“Ini serius!. Tahu kau, di kantorku, setiap ada laporan masuk, teman-teman pasti menyindirku, marga apa? padahal belum tentu Batak. Apa tidak malu awak”
“Gara-gara itu kau ganti emblem namamu? nggak fair, dong” kataku
“Mungkin sudah harus ada polisi khusus batak, mengurusi perkara orang batak. Bulan lalu ada seorang ibu mengadukan suaminya, dengan wajah lebam dia menggendong seorang bocah empat tahunan, juga berwajah lebam. Dan akhirnya, si suami di kandangin, entahlah. Tak habis pikir aku” ujarnya datar.
“Ah, sumalim i, –terlalu itu” kataku
“Mungkin ada ada hubungnya dengan pernikahan ala orang batak”
“Maksudmu?, apa hubunganya?” tanyaku
Nggak kau perhatikan semua poda-petuah- yang disampaikan para orang tua?, tak lebih dari menginginkan/mengaharapkan 3 H, Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon. Lalu petuah selanjutnya supaya langgeng sampai tua. Mungkin sudah saatnya, petua-petuah ini di revisi, barangkali di tambah. Supaya dinasehati jangan sampai marsibalbalan–saling gebuk–suami istri. Nasihat supaya jangan saling melaporkan ke pengacara atau kantor polisi. Kita lihat,.. ” Ia menatapku tajam.

“Calon pengantin hanya sibuk memikirkan penampilan, warna jas, songket, kebaya, mobil pengantin, hiburan tanpa pernah memikirkan bagaimana dan seperti apa seharusnya keluarga Batak itu.”
“Betul itu, tapi kan Pendeta pasti membekali mereka”
“Ah, no commentlah soal itu. Tahu kasus di gereja itu, yang melibatkan Penetua dan jemaat?” seraya menyebutkan satu nama gereja.
“Maksudmu yang berkelahi itu?”
“Bukan, yang bekelahi sesama penetua di gereja atau sesama jemaat itu sudah lumrah, ini kasus tali air. Perselingkuhan antara penetua dan jemaat. Lagi-lagi sampai ke kantor polisi. Memalukan!. Padalah kita tahu, dalam budaya kita, kasus seperti ini menempati urutan tertinggi, urutan aib. Dan teorinya, mereka tiap hari minggu bersekutu dengan Tuhannya, tapi kok masih saja terpikat sama goyangan pinggul jemaatnya sendiri?
“Ha..ha..ha” aku terbahak, tak tahan melawan geli, aku membenarkanya, karena aku juga dengar desaa-desus itu. Kulihat NaiFitri par-LapoSomoru senyum-senyum mendengar obrolan kami.

“Keduabelah pihak sama sama ke kantor polisi, saling melaporkan, saling tuding. Dimana etika habatahon itu lagi, tidak malu berteriak-teriak di pengadilan saling menyalahkan?. Jaman dahulu, namarbao, marparumaen, maranggiboru, marhahadoli adalah subang besar. Tak boleh saling lirik-lirikan, sekarang?, berboncengan pun sudah ada, apa nggak timbul niat lain?, apalah kata dunia. Dan berakhir di surat cerai” ujarnya seraya mengangkat bahunya.

“Ha..ha…ha…sok tahu kau, tapi betul itu appara. Saya pernah baca di sebuah novel Batak, katanya perceraian adalah aib terbesar bagi orang batak. Kalaupun terjadi, hanya pada situasi tertentulah, dan itupun atas kesepakatan bersama disaksikan oleh raja adat. Coba ingat-ingat dulu, ditipi kami, seorang anak bertikai dengan ibu kandungnya sendiri, itu juga aib loh bagi orang batak. Lalu seorang pengacara kondang rela menceraikan istrinya, mengorbankan anaknya demi kenikamta dunia, entah di tipi kalian” ucapku ngelangsa, prihatin.

“Itu dia yang aku maksudkan, Apparaku, sebenarnya, saat ini hanya marga kitalah yang menunjukkan identitas kita sebagai Batak. Tak heran, saya punya kolega dari kawasan timur bilang, kalau jaman dulu, harta kekayaan orang batak yang paling besar adalah martabat dan harga diri, sekarang?” ujar Wicaksono, lagi-lagi dia mengangkat bahunya.

“Cobalah Appara, fenomena apa ini. Belum lagi soal penipuan sesama orang batak, itu sudah lumrah. Atau ada fenomena dimana setiap kasus yang dia miliki akan mengangkat popularitasnya. Seperti selebiritis?. Kalau ingin terkenal, jangan lewat aib, donk. Mau dibawa kemana suku ini, apa jawaban kita bila kelak anak-anak dibilang, batak mah, kasus mulu!” ujarnya menambahkan.

“Ada kasus aneh bin ajaib lagi, Appara. Karena sering ribut di rumah, si istri menuntut cerai, padahal anak sudah dua. Lalu si istri menghubungi hula-hulanya–satu marga–. Tentunya dengan tidak menceritakan permasalahan ini. Rupanya setelah berkumpul, dijelaskan si istrilah duduk perkara. Awalnya hula-hula mencoba menasehati, tapi karena keduanya sudah menuntut harus bercerai, akhirnya ditanda tanganilah surat ini. Rupanya sudah disiapkan sebelum para hula-hula ini datang. Dan ternyata sepeninggalan orang-orang dari rumah, surat cerai ini disobek. Dan rukun lagi. Kasus seperti ini, jangan sampai ke hula-hula, itu esensi dalam adat batak, bukan?. Zaman edan!” kataku

“Ada lagi, si istri menggugat suami rupanya supaya dia menikah lagi, sudah pun bercucu masih doyan nasabagei,–yang satu itu–ini nyata appara” ujarnya. Kami terbahak.

“Udalah, Appara, jangan gara-gara itu, nanti kau ubah nama boru kita siTiurma. Didiklah boru kita itu, dialah harapan kita yang mampu memperbaiki citra batak yang sudah mulai memudar ini” kataku, seraya melirik jam tanganku. Pukul satu. Sejam lebih kami berbincang.

*    *     *

Mungkin benar kata beliau. Aku merenungkan pembicaraan tadi. Tapi siapalah aku untuk peduli?, apa kuasaku?. Apa budaya ini akan tergerus jaman, hingga suatu saat tinggal kenangan. Dongeng atau hikayat. Hikayat si Batak dengan Dalihan Na Tolu-nya?. Semuanya harus dimulai dari rumah. Mengajarkan palsafah hidup orang batak dalam keluarga khususnya bagi anak-anak–generasi penerus Dalihan Na Tolu. Lalu menunjukkan sikap sebagai seorang batak yang elegan di lingkungan. Tidak lain dari situ.

One thought on “(Orang) Batak di kota kami

  1. Horas Lae,

    Sedikit tentang saudara-saudara kita halak hita, molo hubereng i tempat ahu martugas (kota B lambung tu Jakarta), sipata parbada bolon do tu halak. Ala na aha, so huboto. Mungkin do alana i angka parsubang sogo mamereng hita marminggu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s