Bulan Tekken Les

Saya tidak tahu pasti, dari mana asal kata Tekken Les ini. Bagi masyarakat batak, istilah ini sudah tak asing lagi. Mungkin kata ini berasal dari bahasa inggris taken list, seperti kebiasaan orang batak, nama Franky jadi Perengki, dari James (baca jems) berubah menjadi James, demikian juga dari awalnya taken list lama-lama berubah, jadilah tekken les.

Tekken les  merupakan salah satu cara mengumpulkan uang untuk membiayai suatu even dari sebuah organisasi atau punguan (bhs batak, perkumpulan).  Tek-tekan, memberikan sumbangan pada satu kegiatan dengan membagi rata (atau tidak ) dengan cara menuliskan nama-nama penyumbang, lengkap dengan jumlah sumbangannya.

Kami, –punguan marga, bermufakat membatalkan perayaan natal marga kami, karena sesuatu hal. Sebelumnya, tekken les sudah dijalankan,  hampir ke setiap anggota. Bervariasi jumlah nominalnya. Kami menyebutnya tekken les las ni roha–tekken les cinta kasih, berhubung karena event yang akan digelar adalah perayaan natal maka nominal dari setiap anggota tidak di sama ratakan. Yang mau menyumbang banyak silakan, demikian juga yang sedikit, bahkan nol rupiah alias tidak bayar.

Bisik-bisik, ternyata bukan cuma perayaan natal marga kami yang diikuti oleh anggota punguan. Ada yang mengikuti tiga perayaan, bahkan empat. Marga istri, parsahutaon-satu kompleks, parsahutaon bonapasogit–satu kampung halaman, Natal alumni, Natal satu Oppu, Natal kaum Bapa-Ibu di gereja, Natal Sekolah Minggu, Natal Weik, Natal Punguan Ama, Punguan Ina, Natal sesama seprofesi, dll. Kalkulator di otak saya bekerja. Seandainya dia mengikuti lima perayaan Natal maka dia harus lima kali ber-tekken-les.

Seandainya sekali tekken less adalah limapuluh ribu, maka untuk biaya natal saja sudah dua ratus lima puluh ribu rupiah. Itu baru tekken les. Kebiasaan tiap perkumpulan orang batak yang lain adalah menjual kalender. Harga Kalender ini minimal duapuluh ribu. Karena faktor pertemanan atau persaudaraan, maka tanpa memikirkan apakah kalender ini akan dipakai/dipajang di rumah, lembaran kertas yang hanya dijual dipenghujung tahun ini harus dibeli. Kadang, empat hingga lima kalender. Kita lebih mementingkan harga pertemanan/persaudaraan dibanding dengan keindahan desain bahkan isinya.

Mungkin saya salah jika mempersoalkan nominal uang yang dihamburkan sebagai pengeluararn tambahan di setiap akhir tahun. Toh, tak ada yang keberatan dengan adanya tekken les ini, semua menerima begitu saja, bukan?. Yang pasti, bulan Desembar adalah bulan tekken les ( istilah yang kuciptakan sendiri ) dimana banyak tekken les yang harus kita lunasi.

Fenomena baru ini berkembang beberapa tahun belakangan ini. Setiap perkumpulan mengadakan perayaan Natal, entah apa dasar dan maknanya. Bahkan menjadi agenda rutin perkumpulan. Bukan mau mencari makna salah atau benar, diadakan perayaan natal, tapi pernahkah kita mencoba mencari makna setiap perayaan yang diadakan?. Atau, hanya sekedar berjoget, mendengarkan lagu-lagu batak dan atau tanpa lagu natal, sembari makan malam bersama?, semoga tidak. Semoga tekken les yang kita berikan sebanding dengan kegembiraan yang kita dapatkan ketika merayakan natal.

Bagiku, merayakan natal bukanlah sekedar mengumpulkan tekken les, lalu bersukaria dalam perayaan natal. Mungkin agak berlebihan dan terdengar seolah saya bersikap kudus dan care pada orang lain bila saya mengajak, supaya kita bertekken les bagi saudara-saudara kita yang tak bisa merayakan natal. Atau membagi berkat natal pada orang disekeliling kita. Selamat Advent.

Satu pemikiran pada “Bulan Tekken Les

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s