Parsorion

Ars. Frederich Silaban





Siapa yang tidak tahu Mesjid Istiqlal Jakarta dan Monumen Nasional atau MONAS.  Icon dan bangunan kebanggan ibu kota republik ini. Tapi seberapa banyak orang yang tahu, siapa pencipta/perancang mesjid kebanggaan kota Jakarta yang belum lama ini dikunjungi oleh orang nomor satu di USA?.

Dialah Ars. Frederich Silaban. Putra Humbang Hasundutan. Tepatnya di Bonandolok, Kec. SijamaPolang. Sepatutnya kita merasa bangga bila melihat hasil karya beliau yang hingga saat ini masih kita nikmati. Berapa gedung yang menjadi icon dibergai kota. Sebut saja misalnya Gedung Bentol di Cipanas.

Saya tidak bermaksud menuliskan ulang, beberapa hasil karya masterpiece dari beliau. Karena beberapa referensi berupa majalah, website dan koran-koran sudah memberitakanya. Ada satu yang cukup menggelik hati saya hingga coretan yang kurang bermakna ini saya share-kan.

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi tanah leluhur, di Sitapongan kec. Sijamapolang Humbang Hasundutan. Ketika melintasi kota Bonandolok, saya melihat sebuah rumah yang sudah reyot bahkan sebagian rumah sudah roboh, hanya menyisakan beberapa lembar papan di dindingnya dan tiang-tiang sudah dimakan lapuk.  Seketika saya berujar, sungguh sayangnya. Sebab posisi rumah persisi ditepi jalan dan didekat sebuah danau kecil dan menurutku sayang sekali untuk diterlantarkan. Menurutku, dengan view demikian, sangat cocok untuk tempat tinggal.

Ayah menceritakan, kalau rumah itu adalah rumah sang maestro, seseorang yang telah mendirikan puluhan gedung megah di negara ini.  Seketika saya menghentikan kenderaan dan berbalik arah. Turun dan memandang dengan seksama. Di rumah inilah beliau dilahirkan. Kami berdiskusi, sungguh, kita ini adalah sekumpulan orang yang tak tahu mengucap terimakasih atas hasil karya. Seharusnya, kalau rumah ini dijadikan museum sebagai bentuk penghargaan.

Ars. Frederich Silaban (lahir Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912–Jakarta, 14 Mei 1984) adalah seorang opzichter/arsitek generasi awal di negeri Indonesia. Dia merupakan seorang arsitek otodidak. Pendidikan formalnya hanya setingkat STM (Sekolah Teknik Menengah) namun ketekunannya membuahkan beberapa kemenangan sayembara perancangan arsitektur, sehingga dunia profesipun mengakuinya sebagai arsitek. Dan seiring perjalanan waktu, ia terkenal dengan berbagai karya besarnya di dunia arsitektur dan rancang bangun dimana beberapa hasil karyanya menjadi simbol kebanggaan bagi daerah tersebut.

Frederich Silaban telah menerima anugerah Tanda Kehormatan Bintang Jasa Sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah atas prestasinya dalam merancang pembangunan Mesjid Istiqlal.

Frederich Silaban juga merupakan salah satu penandatangan Konsepsi Kebudayaan yang dimuat di Lentera dan lembaran kebudayaan harian Bintang Timur mulai tanggal 16 Maret 1962 yakni sebuah konsepsi kebudayaan untuk mendukung upaya pemerintah untuk memajukan kebudayaan nasional termasuk musik yang diprakarsai oleh Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat, onderbouw Partai Komunis Indonesia) dan didukung oleh Lembaga Kebudayaan Nasional (onderbouw Partai Nasional Indonesia) dan Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) milik Pesindo.

Selain itu, Frederich Silaban juga berperan besar dalam pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pada April 1959, Ir. Soehartono Soesilo yang mewakili biro arsitektur PT Budaya dan Ars. F. Silaban merasa tidak puas atas hasil yang dicapai pada Konperensi Nasional di Jakarta, yakni pembentukan Gabungan Perusahaan Perencanaan dan Pelaksanaan Nasional (GAPERNAS) dimana keduanya berpendapat bahwa kedudukan “perencana dan perancangan” tidaklah sama dan tidak juga setara dengan “pelaksana”. Mereka berpendapat pekerjaan perencanaan-perancangan berada di dalam lingkup kegiatan profesional (konsultan), yang mencakupi tanggung jawab moral dan kehormatan perorangan yang terlibat, karena itu tidak semata-mata berorientasi sebagai usaha yang mengejar laba (profit oriented). Sebaliknya pekerjaan pelaksanaan (kontraktor) cenderung bersifat bisnis komersial, yang keberhasilannya diukur dengan besarnya laba dan tanggung jawabnya secara yuridis/formal bersifat kelembagaan atau badan hukum, bukan perorangan serta terbatas pada sisi finansial. Akhir kerja keras dua pelopor ini bermuara pada pertemuan besar pertama para arsitek dua generasi di Bandung pada tanggal 16 dan 17 September 1959. pertemuan ini dihadiri 21 orang, tiga orang arsitek senior, yaitu: Ars. Frederich Silaban, Ars. Mohammad Soesilo, Ars. Lim Bwan Tjie dan 18 orang arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung tahun 1958 dan 1959. Dalam pertemuan tersebut dirumuskan tujuan, cita-cita, konsep Anggaran Dasar dan dasar-dasar pendirian persatuan arsitek murni, sebagai yang tertuang dalam dokumen pendiriannya, “Menuju dunia Arsitektur Indonesia yang sehat”. Pada malam yang bersejarah itu resmi berdiri satu-satunya lembaga tertinggi dalam dunia arsitektur profesional Indonesia dengan nama Ikatan Arsitek Indonesia disingkat IAI.

[sunting] Hasil Karya

  • Gedung Universitas Nommensen – Medan (1982)
  • Rumah A Lie Hong – Bogor (1968)
  • Monumen Pembebasan Irian Barat – Jakarta (1963)
  • Markas TNI Angkatan Udara – Jakarta (1962)
  • Gedung Pola – Jakarta (1962)
  • Gedung BNI 1946 – Medan (1962)
  • Menara Bung Karno – Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun)
  • Monumen Nasional / Tugu Monas – Jakarta (1960)
Merupakan simbol kebanggaan kota metropolitan – Jakarta
  • Gedung BNI 1946 – Jakarta (1960)
  • Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih – Jakarta (1960)
  • Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin – Jakarta (1958)
  • Rumah Pribadi Friderich Silaban – Bogor (1958)
  • Masjid Istiqlal – Jakarta (1954)
Frederich Silaban memenangkan sayembara pembuatan gambar maket Masjid dengan motto (Sandi) Ketuhanan yang kemudian bertugas membuat desain Istiqlal secara keseluruhan. Istiqlal ini juga merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara pada tahun 1970-an
Gedung ini merupakan bagian dari Istana Kepresidenan Cipanas yang terletak di jalur jalan raya puncak, Jawa Barat dan berlokasi tepat di belakang gedung induk dan berdiri di dataran yang lebih dari bangunan-bangunan lain. Gedung yang sering disebut sebagai tempat Soekarno mencari inspirasi dinamakan Gedung Bentol karena seluruh dindingnya ditempel batu alam yang membuat kesan bentol-bentol.
  • Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata – Jakarta (1953)
  • Kampus Cibalagung, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP)/Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) – Bogor (1953)
Sekolah pertanian ini telah melahirkan sejumlah tokoh kawakan di berbagai bidang. Beberapa di antaranya bahkan pernah menjabat sebagai menteri. Padahal sekolah yang kini berumur seabad ini sejatinya “kawah candradimuka” bagi penyuluh dan teknisi di bidang pertanian.
Tugu ini dibangun pertama kali pada 1928 oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Pada 1938 dibangun kembali dan disempurnakan oleh Frederich Silaban. Pada 1990 dibangun duplikatnya dengan ukuran 5 kali lebih besar untuk melindungi tugu khatulistiwa yang asli. Pembangunan yang terakhir diresmikan pada 21 September 1991

1 thought on “Ars. Frederich Silaban”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s