Beranda » Kategori » Parsorion » Salib Kasih dan Narsisnya (beberapa) Orang Batak

Salib Kasih dan Narsisnya (beberapa) Orang Batak

Penghujung tahun 2010 saya menyempatkan berwisata ke Salib Kasih di Bukit Siatas Barita. Sudah lama kupendam rasa  mengunjungi tempat bersejarah orang kristen di Tapanuli ini. Alasanku yang terutama  adalah karena nilai historisnya yang tinggi. Rasul batak, I. L Nommensen menginjakkan kakinya di bukit ini, dan sungguh kagum melihat pemandangan rura Silindung yang subur. Di sana beliau bertekat menyebarkan injil ke tanah Batak hingga akhir hayatnya.

Rintik dan dingin, tak menyurutkan semangat kami. Bagi saya sendiri ini adalah pertama sekali mengunjungi tempat bersejarah itu. Semangat dan rasa ingin segera sampai di puncak Siatas Barita menggebu. Juga ketika berjalan kaki dari pelataran parkir menuju salib besar yang tersohor itu, saya tak merasa kelelahan.  Demikian juga istri saya, NaiPartogi, dengan semangat menyusuri jalan berkelok di tengah hutan pinus yang dingin walaupun  harus merangkak naik,–mungkin karena tak biasa berjalan mendaki sepertiitu–. Senyum simpul, takjub dan tambah semangat ketika saya melihat kerumunan orang diatas sana sedang bernyanyi. Seratus meter lagi, pikirku.

*   *   *

Menjelang siang, pengungunjung semakin memadati puncak Siatas Barita. Dari berbagai tingkah para wisatawan domestik ini yang menarik perhatianku adalah aksi mereka begitu sampai. Bahwa sebenarnya mereka bukan mau berwisata rohani. Mungkin mereka berpikir bahwa tempat ini hanya sebagai kawasan wisata biasa yang tidak berbeda dengan kawasan lain. Mungkin, dari sekian pengunjung, hanaya beberapa orang yang membaca dengan seksama tulisan-tulisan pada prasasti yang ada disana. Semua orang sibuk dengan kamera. Bahkan ketika sedang ibadah, beberapa keluarga masih asyik dengan foto keluarganya.

Bagiku yang baru pertama kali ke puncak Siatas Barita ( baca Salib Kasih ) ini sungguh diluar dugaan. Saya pikir, suasana di Salib Kasih itu bernuansa tenang, hening dan penuh hikmat, ternyata kebalikanya. Hirukpikuk dan bau pesing. Lomba bikin plakat.

Plakat dari yang hanya seng dengan tulisan seadanya, hingga berbentuk batu nisan lengkap dengan nama-nama. “Tulang, di sini ada kuburan ya”, tanya Joshua, begitu melihat sebuah batu nisan teronggok di dekat pintu masuk.

Pukul satu siang, melalui pengeras suara di informasikan bahwa akan diadakan kebaktian ketiga.  Aku segera menyingkir dari tempatku berdiri–persis di dekat salib kecil, yang konon katanya, Nomensen menginjakkan kakinya di sana-. Kesekian kalinya keasyikanku menikmati panorama alam lembah Silindung. Sedari tadi, ada-ada saja orang yang mengusirku dari sana. Sebelumnya,  beberapa kali para juru photo ( yang menawarkan jasa photo langsung jadi) dan juru photo dadakan lainnya, mengusirku tanpa merasa bersalah. “Lae…lae tolong minggir sebentar, kami mau berfoto dulu”.

Saya tak bergeming

“Lae, tolong minggir dulu, jadi mengganggu pemandangan” ujar seorang bapak

Saya menatapnya. Sebenarnya, yang mengganggu siap, sih?. Istriku, NaiPartogi menarik tanganku, tak ingin melihatku beradu mulut, segera mengajakku berpindah tempat. Saya menggerutu. Bah!, halak hita!. Saya yang sedang merenung,– mereka-reka apa yang dipikkirkan Rasul Batak itu ketika melihat lembah yang indah ini, memandangi prasasti Nommensen–,  di depanku diusir begitu saja. Menurutku, ada baiknya kawasan wisata ini ditata dengan apik, baik dari segi SDMnya maupun kebersihannya.

“Sudahlah, Yuk ke Rumah Doa, kita berdoa dulu, jadi suntuk rasanya” ujarku pada amaniJhosua Manalu, Laeku yang bersama-sama dengan kami. Kulihat beberapa rumah Doa di belakang salib besar itu kosong.

Ternyata, ruangan itu kosong karena dikunci sehingga orang tidak bisa masuk kedalam. Mungkin sekitar empat ruangan. Jadi yang bisa  dipakai hanya beberapa ruangan saja. Tidak ada informasi kenapa ruangan untuk berdoa itu ditutup.

Ada yang aneh dan lucu menggelitik saya ketika  mengamati rumah doa ini. Di setiap bangunan berukuran  dua meter persegini ini ada plakat nama. Awalnya, kupikir plakat tersebut merupakan nama ruangan/rumah doa yang diambil dari nama-nama di Alkitab. Misalnya Rumah Doa Yohannes, Rumah Doa Daniel, Rumah Doa Maria dll. Saya pernah dilihat disalah satu kompleks gereja Katholik.  Ternyata, setelah kuperhatikan dengan seksama, disitu dituliskan Rumah Doa Sumbangan dari Jaultop SH. Rumah Doa Sumbangan Pinompar ni Oppu Jatikkos. Rumah Doa sumbangan dari Usaha Mamora. Rumah Doa ini Sumbangan dari NaiHumalaput dohot Pinomparna.

Yang lebih menggelitik lagi, Rumah Doa sumbangan dari AmanJatikkos, Anak Si Jatikkos, Si Jamundur, Si Jatorkis. dari nama penyumbang, lengkap dengan nama anak-anaknya (baca: pinomparnya). Semua rumah doa yang saya amati di belakang salib itu ada plakat demikian.

 

Narsisnya Orang Batak!. Pikirku. Yang tertulis di Alkitab, Apa yang diberikan oleh tangan kirimu, hendaklah tidak diketahu tangan kananmu, tidak berlaku. Beritahulah kepada semua orang tentang semua sumbangan-sumbangan yang kau berikan!. Atau, mungkinkah rumah-rumah doa ini dibangun secara pribadi sehingga si pemilik berhak menutup/menguncinya?. Lussu!.

Kenapa tak ada yang bikin plakat yang isinya WC ini dibersihkan setiap hari oleh pinompar ni Oppu Jamordong. Hemat saya, membersihkan WC lebih bermakna dan lebih ibadah dibanding dengan membuat plakat nama di pintu bilik berdoa itu.

 

 

Saya berpikir, seandainya Gayus Halomoan Tambunan punya niat membangun Rumah Doa di Salib Kasih, mungkin di depan rumah doa itu akan dibuat, Rumah Doa sumbangan dari Gayus Tambunan Selebritis Politik Nomor Satu di negeri  ini. Emmada…….!

3 thoughts on “Salib Kasih dan Narsisnya (beberapa) Orang Batak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s