Dia Ulakna

Apa yang terlintas dipikiran anda bila melihat ibadah anak-anak sekolah minggu?.

Senyum sendiri.

Tingkah dan polah anak-anak sekolah minggu ini beragam inilah membuatku tersenyum. Mungkin, seperti inilah aku tiga pululuh tahun lalu, pikirku. Dibanding jaman dulu, anak-anak sekolah minggu sekarang ini sudah lebih tertib dan teratur meskipun beberapa anak masih berulah. Mungkin karena guru-gurunya sudah mengerti bagaimana cara mendidik anak. Guru-guru SM-nya sudah dibekali cara mengajar anak dengan baik.

Aku menikmati keceriaan yang terpancar di wajah mereka. Suara berisik, melompat, saling jambak, tertawa, menangis dan berteriak, menurutku bukanlah sebuah kenakalan. Ku pikir mereka hanya ingin mengeskpressikan apa yang ada dalam pikiran mereka. Mungkin, inilah sebabnya ada ungkapan orang bijak, dunia ini milik anak-anak.

Ketika kantong kolekte/pandurungan diedarkan, anak-anak yang lucu-lucu ini berebutan memasukkan tangannya. Tangan-tangan mungil ini memberikan persembahan dengan iklas dan senyum mengembang di bibir.

*     *     *

Tiga puluh tahun lalu, ketika kantong persembahan yang terbuat dari Rotan made in Hepata diedarkan sintua, buru-buru aku masukkan kepingan lima puluh perak. Lalu aku mengacak-acak keranjang persembahan mencari pecahan koin sebagai kembalian persembahan. Jatah persembahan dari inong hanya sepuluh rupiah. Dan sisanya untuk uang jajan.

Dengan wajah pucat, si Jatikkos, temanku, mendatangi ruang konsistori/bilut parhobasan. Awalnya, aku tidak tahu apa maksudnya mengajakku ke konsistori. Kupikir karena ayahnya seorang penetua. Tapi setahuku, ayahnya yang kupanggil –tulang– adalah sintua untuk kebaktian orang dewasa.

“Tulang..”

Dia semakin gugup. Semua sintua yang ada di ruangan itu menoleh kepada kami. Aku beringsut ke belakang, keki.

“Ya?!, Ahai bere–ada apa, bere“, seorang sintua mendekati kami.

“Di ulakna, Tulang–mana kembalianya, Tulang

“Ulak ni aha,–kembalian apa?”, bingung

“Ulak ni durung-durungku,–kembalian kolekteku” ujar Jatikkos malu-malu

Ah, kawan in, pailahon–pailahon, gusarku dalam hati.

Pantas Jatikkos agak lama menggeledah keranjang persembahan, mencari uang kembalian dari kolektenya yang ternyata tak membuahkan hasil. Dia memasukkan koin duapuluh lima perak, dan berusaha mencari uang kembalian, ternyata tidak ada.  Sejak saat itu, aku sering  mengoloknya “Dia Ulakna…”

9 pemikiran pada “Dia Ulakna

  1. wkwkwkwkw
    anak kecil lugu polos, tp iman seperti mereka yang diterima di kerjaan Sorga

    God is so strange…but i love Him so much!
    terjemahannya Holong hian rohakku tu Debata ^^

    1. jaman sekarang, tak ditemui lagi cerita konyol seperti ini dek….semua sudah diatur orang tua anak2 SM. dari rumah dah dipilah2 untuk uang jajan dan kolekte. jaman kami dulu, banyak cerita yang mengharu biru, itulah keadaan dahulu

  2. hallo ampara sidoli,sai dirungkari hodo sinaujui bah, gabe olo iba mengkel suping manjaha oret – oret mi, gabe ni ingot pangalaho di tingki si haetehon niba.torushon ma ate, sai lam turinggasna amparangku mambaen barita si naujui,horass…!

    1. Horas ma di dongantubu,…

      banyak kisah, yang kita alami dahulu, bila kita tuliskan satupersatu, mungkin kalau dibukukan lebih dari seribu halaman. berbahagialah orang yang punya kisah, karena ada yang akan diceritakan pada keturunanya.

      kisah ini lebih mhal dari apapun. yang tak kan bisa terulang untuk keduakalinya. horas ma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s