Beranda » Kategori » Parsorion » Doa dan Speedboat

Doa dan Speedboat

“Aku benar-benar berdoa” kataku pada rekan setiba di salah satu Pabrik di kawasan Industri Lobam yang merupakan tujuan akhir perjalanan saya. “Rasanya jari ini ngilu dan kaku, tak sanggup untuk mengabadikan satu foto di tengah lautan ” menambahkan.

Ini pengalaman pertama ku naik speedboat. Dari Pelabuhan Punggur di Pulau Batam menuju Pelabuhan Tanjung Uban di Pulau Bintan. Benar kata iklan Axe!, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah, mau coba lagi atau kapok.

Satu persatu mesin penggerak nya di hidupkan. Lambat laun, speed boad melejit, mulus meninggalkan Pelabuhan Punggur.

Tiga menit dari pelabuhan, doa yang panjang dan penuh keyakinan mulai terucap, meminta pertolongan dan penyertaan Tuhan. Ada lelucon teman ku, katanya, di surga nanti,  banyak supir bus, ang-kot dan metromini. Sebagai upah dari si pemilik surga, karena perbuatannya di bumi, banyak orang berdoa pada Tuhan. Kalau merujuk syarat teman ku itu, maka nakhoda speedboat pun pasti masuk surga.

Aku yakin, doa bermacam agama yang dianut oleh para penumpang bersatu. Doa keselamatan, supaya tangan juru mudi bekerja dengan baik. Semakin tinggi lompatan speedboat ini semakin kuat pula berdoa seraya berujar dalam hati ramoti hami Tuhan-jagai kami Tuhan.

Kupikir, lebih baik naik speedboat–raun-raun ( bahasa medan)– setiap hari minggu dari pada ke gereja kalau hanya berdoa dan memuji Tuhan. Kadang, kita yang berTuhan di gereja ini hanya kedok semata. Biar kudus dilihat orang, ditentenglah alkitab ini. Pikiran ntah kemana, mulut komat-kamit menggosip orang. Lalu tangan sibuk pegang HP update status. Belum lagi ada orang kayak aku ini, begitu denger kotbah pak Pendeta sedikit bertentangan dengan hati, cepat-cepat keluar. “Pamalo-malohon” menggerutu.

Tapi memang benar kok. Ada lagi yang lucu tapi aneh. Ada saja perselisihan diantara punguan koor ini. Ketika punguan Nabilak bernyanyi maka ada anggota dari punguan Nabalik buang mukak — Bukan wajahnya dilepasin, matilah. Maksudku dia tak mau melihat punguan lain bernyanyi, dengan sengaja memandang ke arah lain sampai selesai nyanyian, gitu loh–. Nah, yang lebih serunya lagi, pernah kudengar celetukan seseorang ketika parlanggatan –mimbar- berkotbah. “Hei kamu yang suka mabuk…. “, spontan dia bilang “Matte ho, tu ho jamita i–mampus kau, kau yang dibilang pengkhotbah itu” sembari menatap seseorang yang tidak disukainya itu.

Ah, aku ini lebay. Tampang saja yang sangar, persis bajak laut, ternyata hatinya rapuh bah batu kapur. Aku menoleh ke kiri, kulihat seorang perempuan paruh baya senyum-senyum, menatapku. “Ini masih lumayan, mas, bisa lebih tinggi lompatanya” ujarnya, seolah tahu apa yang ada dalam pikiranku.

Aku hanya mengangguk mencoba menguatkan hati, padahal jantung serasa copot. Aku berpikir, ibu ini saja merasa nyaman dan tenang-tenang saja, kenapa harus lebay. Dua menit kemudian pikiran saya interupsi ala de pe er, Ah, dia kan dah dengkotan, mana mikirin hidup lai, loe? masih muda coy.

Kadang, doa itu hanya identitas. Ada temanku selalu berdoa saat makan, entah cuma tempe-tahu ataupun indomi rebus, bila ia berada diantara sesama satu agama. Aku tak menuduh, dia berbuat itu seolah menunjukkan ke aliman. Yang  ingin ku katakan adalah, ketika dia berada diantara tak satu agama, maka doa makan itu seolah tak penting. Temanku loh, bukan rekan pembaca.

Teringat satu kejadian ketika Epri (4thn kala itu)–tetangga depan rumah–sedang main-main di ruang tengah rumah kami. Kebetulan ada tamu, sahabat istriku. Beliau seorang islam yang taat. Taat menjalankan perintah agamanya dalam hal berdoa–itu yang aku lihat. Menjelang sore,  dia minta waktu untuk berdoa sebentar. Segera istriku menyilakan dan menunjukka ruangan yang bisa dipakai. Hanya ruangan yang bisa kami berikan, soalnya tak ada sajadah di rumah kami.

 

“Matikan dong musiknya, Uda. Dia kan lagi berdoa, nanti terganggu loh” kata Epri. Kala itu saya sedang menyetel lagu di Laptop. Sebenarnya nggak terlalu ribut. Aku terdiam mendengar ucapannya yang cukup menohok. Aku tersadar. Selain rumah, hatiku harus kuberikan sejenak untuk mengkhusyukkan doanya.

 

Kembali ke soal speedboat,  aku punya ide, sesekali coba diadakan  kebaktian speedboat pengganti kebaktian padang.  Keren nggak?. Coba deh….

14 thoughts on “Doa dan Speedboat

  1. Tidak beda jauh ito dengan apa yang aku lakukan setiap dalam perjalann naik pesawat.jauh” hari sblum brngkat aku sdah sibuk tlf Mama,KakakQ,tmn” soulmate,untuk minta didoakan. agar perjalanku slmt”. dan sangking takutnya mulai dri takeoff sampai mau lending aku bernyanyi lagu” dari puji syukur (buku nyanyian khatolik). ga peduli tmn sebangku keberisikan. aku tetap bernyanyi sambil terus lihat jam.benar” stress..SUNGGUH aku takut dipanggil TUHAN,sàat itu berjanji tuk bertobat.
    tpi skrg semuanya lupa..

  2. kapan lae ke KIL n ke perusahaan mana?o ya lae,na bulan desember i nga hudalani huta muna,baringin,parluasan,hau agong,tukka dna.

    • Bah…ai dia do lae dah…boasa baru saoanri hira markorespondensi ateh. Nabodari pe au sahat di Jakarta, 3 minggu au di Dom28 i. atik na hea do hita pajuppa di Prambanan manang di PujaSera ateh..hahahaha….horas ma laekku.

  3. Bah ..hea do hamu hape tu luat nami on..
    imadah molo dang marsibotoan hinan..
    molo ro hamu saulak nai..mar barita hamu ate..
    atik beha boi pajumpang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s