Dari puluhan koleksi buku bertema habatahon yang saya baca dari tadi malam hingga pagi ini, tak satupun kutemukan kalimat yang menggambarkan adanya patokan sejumlah uang dengan prosesi adat batak. Referensi lain adalah website www.tanobatak.wordpress.com –sebuah blog yang sarat dengan pemahaman akan budaya batak, juga tak kutemukan hal diatas.

 

Aku teringat diskusi kami dengan seorang sahabat dari suku flores. Beliau punya saudara mau menikah dengan boru batak. Ini adalah kejadian kedua kali dia alami. Pertama harus batal karena tak mampu membayar sejumlah uang untuk menikahi boru batak. Kini, dia dihadapkan kembali pada masalah yang sama. Pertanyaan yang membuatku terguncang adalah, apakah pernikahan dalam adat batak itu harus menelan biaya puluhan juta rupiah (dipatok antara empat puluh hingga limapuluh juta )?.

Semampuku menjelaskan. Membedakan antara adat dan pesta. Prinsipnya, adat batak  berbeda dengan pesta. Kalau pesta, ratusan juta hingga miliaran rupiah pun akan habis. Tapi adat, sedikitpun tak berpatokan pada nilai materi. Tujuan utamanya adalah bagaimana kedua belah pihak disatukan dalam sebuah ikatan holong-kasih, saling mengerti, mengenal  dan berbagi nantinya kedua mempelai yang dipertemukan (red; diadatkan)  akan bahagia selamanya.

Tak ada patokan berapa besar uang. Sinamot yang menurut dia harus disediakan sebanyak diatas adalah tuntutan adat. Aku tertegun mendengarnya. Aku ingin membuka cakrawala bepikir tentang budaya batak. Entahlah, biarpun kujelaskan dengan baik tapi perasaan di hati tetap saja masyugul. Sudah sedemikian parahnya kah pemahaman orang batak tentang budayanya sendiri?. Kini Sinamot menjadi Momok. Saya teringat note amang  Suhunan Situmorang yang menjelaskan, bagaimana Sinamot itu menjadi hal yang menakutkan.

Bicara soal pemberian marga ketika harus diadatkan, ini juga tak ada korelasinya dengan patokan sejumlah uang.  Kenapa harus diberi marga?, karena mempelai akan diadatkan. Hanya orang batak yang bisa melaksanakan adat batak. Dan syarat utama menjadi orang batak adalah Harus punya marga. Hubunganya adalah Adat Dalihan Natolu. Dongan Tubu, Hula-Hula dan Boru. Jadi tujuan utama pemberian marga adalah supaya mempelai bisa diadat-batakkan.

Bukankah sekarang orang batak doyan menyematkan marga pada pejabat, toh tak dibayar. Hanya dengan mengucap simsalabim, maka jadilah dia batak. Lalu kenapa ketika seseorang iklas, ingin menjadi bagian dari batak yang seutuhnya dan tentunya mau memakai marga batak, kita persulit, harus mengadakan ritual dan membayar sejumlah uang untuk biaya pesta?.

Kembali teringat pembicaraan dengan BapaUda Monang Naipospos, pemerhati budaya batak di LaguBoti, menurut beliau semua hal-hal yang berhubungan dengan ritual budaya dipersatukan dalam ikatan Holong. Adat batak dilakukan hanya karena ada holong, kasih. Tidak ada keharusan, tak ada kewajiban yang terpaksa yang ada hanyalah hubungan dinamis kedua belah pihak yang diikat dengan holong.

Kini, pelaksanaan adat semakin mengerucut pada arah meterialistik. Tak hanya adat pernikahan, ada kematian pun dilakukan dengan seenaknya. Melihat kedudukan dan kondisi ekonomis tuan rumah, semua  bisa diatur. Sekarang, status seorang orang tua bisa ditentukan, mau sarimatua atau saurmatua, nego sana sini jadilah apa yang diinginkan tuan rumah.

Saatnya orang batak menghancurkan egoisme dalam pelaksanaan adat batak. Ketika adat batak dipertontonkan seperti sekarang ini maka yang bertanggung jawab adalah orang tua, para pendahulu. Saya yakin, jika di survey, maka orang muda akan mengaku bahwa adat batak adalah seperti yang biasa mereka lihat sekarang ini.

Orang muda banyak protes dengan ritual adat batak yang bertele-tele. Hemat saya, yang bertele-tele itu adalah acara yang tak penting. Setiap mangulosi selalu minta lagu/musik. Bahkan ulos helapun sekarang ditor-tor tortori, entah sejak kapan ini mulai. Seyogianya, petuah dan kata-kata berkat dari semua undangan yang hadirlah dibutuhkan pengantin. Pesta adat bukan ajang mardisko dan marpoco-poco. Semua harus tertuju pada pengantin, memberikan kata-kata nasehat dan memberikan harapan-harapan pada keluarga yang berbesan.

Sekarang ini, ritual adat dikalkulasikan dengan rupiah dan jumlah ulos yang akan didapat setelah pesta. Kekecewaan akan terpancar diwajah bila ternyata, tumpak yang didapat jauh dari harapan. Bahkan berujung pada hutang. Dan indikasi lain, timbul rasa tidak enak pada dongan tubu, satu marga,. karena tumpak yang diberikan ternyata jauh dari harapan. Kebanggaan akan timbul bila pejabat mengulosi pengantin.

Sudah karang perkawinan adat batak dilaksanakan di rumah. Padalah, kalau mau, hal itu bisa dilaksakanan. Toh, ketika kita menempati rumah, maka kita selalu berharap rumah itu menjadi tempat yang penuh berkat. Segala sesuatu dimulai dari rumah, maka ketika anak menikah, hendaklah diberangkatkan dari rumah. Seyogianya, kedua keluarga yang saling berbesan harus saling mengunjungi.

Inilah adat batak jaman sekarang. Mau tak mau semua menerima. Yang membangkan, akan dikeluarkan dari komunitas adat. Sepuluh tahun kedepan, kalau tak ada photograper, musik/ trio yang mengiringi pesta pernikahan akan dianggap tidak sesuai adat batak.