HATA SO PISIK

Hepeng ni Parjakarta

Minggu lalu, setelah acara arisan (Silahisabungan) dan kebaktian  selesai, saya dan dongan Ama,-kaum bapak- marsira-rian,-ngobrol ngalor-ngidul, kata orang Cikarang. Namanya juga nonang naso marimpola, banyak hal yang dibicarakan, dari Gayus Tambunan, cara beternak lele, gaya hidup perantau orang batak sekarang ini, hingga harga cabe di Cikarang ini menjadi topik pembicaraan. Ketika masuk ranah yang menyangkut parsubangon–pantangan–, otomatis direm sembari melirik kearah kaum ibu, risih kalau omongan seperti itu didengar inangbao. Namanya juga kumpulan namarhula-marboru.

 

Dari sekian banyak topik pembicaraan kami, diantaranya menarik untuk kutuliskan di note ini adalah soal harga makanan yang berpariasi di Bonapasogit. Dia menceritakan pengalamanya ketika pulang kampung dipenghujung tahun lalu. Perjalanan yang melelahkan namun menyenangkan, dari Siborongborong – Doloksanggul – Tanah Karo – Medan – Siantar – Parapat – Tomok – Tele dan kembali ke Siborongborong. “Tak habis pikir aku bagimana cara berbisnis di kampung kita ini” ujarnya mengawali kisahnya.

“Bayangkan kalianlah dulu, harga teh manis lima ribu segelas” ujarnya dengan logat Batak yang kental sembari menggeleng.

“Di Jakarta saja tak semahal itu, bahkan harga restoran tak jauh dari tiga ribu perak” dia melanjutkan kisahnya.

“Ku pikir tak masalah, tidak semua daerah harus sama, kan?” ujar seorang teman

“Iya, itu benar. Tapi yang menjadi masalah, ketika harga minuman di restoran Padang,–rumah makan padang, red–  di kota yang sama, cuma tiga ribu. Apa mereka pikir kalau sudah bermobil plat B sudah orang kaya?. Kalaupun orang kaya, ku pikir itu salah. Lalu, apa?. Tak heran, rumah makan halak hita itu sepi pengunjung. Banyak rumah makan orang batak di kota wisata sekitaran Danau Toba parsahalian. Sekali berkunjung saja, setelah itu kapok.  Sebaliknya restoran padang dimana-mana penuh.”

 

Tak elok menyebut nama kotanya, namun begitulah adanya.

 

Saya juga mengalami kejadian serupa di salah satu rumah makan di kawasan Merek-Tanah Karo. Harga segelas teh manis membuatku terpana. Empat ribu rupiah, per gelas kecil. Lalu teman lain juga menceritakan kejadian yang kurang lebih, sama. Beberapa kota tujuan wisata di sekeliling Danau Toba mematok harga makanan yang variatif. Bahkan, sepertinya disengaja memberikan gelas yang sedikit lebih besar sehingga ada alasan untuk menaikkan harga.

 

Cerita lainnya  adalah ketika saya berbincang dengan seorang bapak di DolokSanggul.

“Saya heran melihat perantau Jakarta ini. Bukankah lebih baik mereka menghaburkan uangnya di Bonapasogit daripada pelisiran di Puncak, Bandung bahkan Bali?. Tapi itulah jeleknya orang Batak, sesama satu suku saja pelit”, ujarnya. Selidik punya selidik, rupanya beliau seorang pensiunan dari sebuah instansi di Jakarta, kembali ke kampungya di Lintong Nihuta, lalu buka usaha kecil-kecilan, berdagang.

 

“Kenapa Amang bicara seperti itu, bukankah amang juga rajin ke Kawasan Puncak, dahulu?” kataku menerka.

Beliau berkisah, perantau Jakarta lebih pelit di kampungnya dan sebaliknya royal di kampung orang.  Para perantau lebih iklas menghamburkan uangnya di tempat lain daripada di kampungnya sendiri. Dia mencontohkan, kegemaran orang Batak di Jakarta berpelisir ke Puncak, Bandung, Anyer dll. Banyak lagi keluh kesahnya.

 

Beliau membisu ketika kuceritakan kisah seorang sahabat saat belanja oleh-oleh disebuah toko di Bonapasogit. Tigaratus persen lebih mahal dari harga di Medan. Dan lebih parahnya, harga ini berlaku hanya untuk orang pendatang atau saat liburan Natal dan Tahun Baru. Aji mumpung. Benar kata teman itu, jangan coba-coba belanja dengan menggunakan mobil flat B –Jakarta, red–.

 

Bukan karena tak sanggup bayar sehingga kita jengkel. Tidak lebih, karena kita merasa dibodohi. Ku pikir pemerintah daerah perlu mengkaji sebuah kebijakan  untuk men-standarisasi harga makanan d.l.l. Sehingga ketika kita berkunjung ke Kota-kota disekitar Danau Toba, merasa nyaman. Selain soal harga, perhatian yang tidak boleh luput adalah sikap masyarakat terhadap para pendatang. Siapa yang tak emosi ketika dibelakang kita pedagang mengoceh “Anggo so marhepeng unang manawar”. Atau ungkapan “Andigan be allangon hepeng ni par Jakarta i?,–kapan lagi kita nikmati uang orang Jakarta itu–?.

2 thoughts on “Hepeng ni Parjakarta”

  1. Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik masalah Gayus Tambunan, dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

  2. Harga “tes manis” 5000 rupiah itu kan masih wajarlah, kurasa tak adalah hubungannya dengan mobil plat Jakarta… itu perasaan kita aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s