Parsorion

Asal Ngusul, Sinamot

“Belum cukup modal”

Jawaban singkat, ketika seseorang menanyakan “kapan menyusul?”. Pertanyaan ini sering kita dengar, dilontarkan kaum tua  ketika bertemu di acara pernikahan atau partumpolon. Entah, serius atau hanya basa-basi saja, orang tua ingin anak-anak muda segera menikah bila sudah waktunya.

Sabtu, dua hari lalu saya menghadiri acara pertumpolon sahabat saya di HKBP Perum II Bekasi. Pertanyaan dan jawaban di atas beberapa kali kudengar, kebetulan saya berbaur dengan beberapa naposo yang merupakan adek-adek NH  beberapa tahun silam. “Bagaimana caramu mengumpulkan uang buat biaya pernikahanmu dan seberapa banyak yang harus kamu kumpulkan?” tanyaku. Berbagai jawaban yang ku peroleh, mulai dari menabung hingga giat bekerja. Butuh puluhan juta, mulai dari assessories pesta hingga modal pertama ketika sudah hidup berdua.

“Kupikir, bukan materi -uang- yang dibutuhkan dalam menikah” kataku dengan mimik serius. Kuperhatikan sahabat-sahabat ku ini menantikan kalimat selanjutnya. Mereka sudah masuk dalam golongan dewasa dari segi umur. Saya tahu betul berapa usia rekan-rekan muda ini, antara 25 – 30 tahun. “Keberanian, kalian hanya dituntut untuk berani menikah saja.  Bukankah kalian juga pernah mendengar kalimat dang adong naso tarpatupa Debata” lanjutku, diam sebentar, menunggu reaksi mereka.

“Kan, menikah butuh modal buat sinamot, Bang?.

Lagi-lagi masalah sinamot, pikirku. Mungkin dari sekian banyak problem dalam memutuskan untuk menikah, sinamot, berada di urutan nomor satu. Jujur, salut lihat anak muda jaman sekarang ini. Untuk biaya pernikahan pun mereka pikirkan.

“Kalau memang niat mu ada, ku pikir ada cara lain mengatasi problem mu”

“Apa”

“Ada Bank”

“Apa hubunganya dengan Bank?”

“Sudah pernah mengajukan kredit ke Bank,  ku dengar beberapa bank pemerintah memiliki program baru semacam KPR.  Progam ini dinamakan KPI, Kredit Kepemilikan Istri.  Prosesnya hampir sama dengan KPR atau kredit kepemilikan kenderaan bermotor, kita hanya bayar 10% dari sinamot dan pihak Bank akan melunasi sisanya kepada pihak parboru. Selanjutnya kamu bisa bayar ke bank tersebut dengan cara menyicil, 10  hingga 15 tahun”.

Ngasal, Loe, Bang” timpal seorang dari perempuan batak cantik di depanku “Istri saja mau di kreditin” lanjutnya.

“Lah, jangan salah, bukan istrinya yang di kreditin, tapi sinamot nya. Kita kan membahas persoalan sinamot yang nominalnya mungkin sudah sama dengan harga sebuah Avanza, Rumah type 29, bukan?. Seharusnya perbankan jeli melihat prospek ini, Kredit Kepemilikan Istri,  tak salah bukan?, metodenya mungkin mereka lebih tahu, apa dari survei terhadap calon mempelai perempuan lebih dulu hingga ke gadai surat nikah, toh dalam adat kita, menggadai surat nikah dan meng-kredit-kan sinamot tak masuk dalam pelanggaran adat, bukan?”

Ngaco” ujar seorang lagi

“Saya hanya memebrikan solusi pada permasalahan yang kalian hadapi, toh motor, rumah, mobil saja bisa kalian kreditkan, kenapa kalian tak mau melakukan hal yang sama untuk masa depan kehidupan dan masa depan cinta kalian?” ujarku.

“Kalau ngusul jangan ngasal, Bang” kata, mereka tak menerima pendapatku.

1 thought on “Asal Ngusul, Sinamot”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s