Kekacauan Tarombo

Seperti biasa, setelah latihan koor selesai, saya dan beberapa teman anggota punguan AMA nongkrong sejenak di pamispisan gereja, mengabiskan seperisapan kretek atau rehat sebelum pulang.  Ku sebut sebagai diskusi naso marimpola–Nonang. Nonang berbeda dengan gossip. Dari masalah ekonomi masyarakat, politik hingga diskusi tentang  pembangunan gereja, khususnya gereja kami. Memang, sebagai bagian dari gereja, wajar dan harusnya begitu. Mendiskusikan apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi di gereja.

Namanya juga Batak, bicara politik jangan ditanya.  Bak politikus senayan yang sedang getol-getolnya ingin membangun gedung serba wah, lengkap dengan segala pasilitas panti-pijatnya hingga kuburan bagi para anggota dewan, saya dan teman-teman beradu argument, seberapa penting pembangungan gedung tersebut. Lalu seseorang memotong pembicaraan “Ah, nga sae be i, boasa gabe gedung ni halakan hataan, lomona disi, garejanta on ma jo tahatai, andigan do hita bukkas sian ruko on–sudahlah itu, kenapa jadi gedung orang kita diskusikan, gereja kita ini sajalah kita bahas, kapan kita pindah dari ruko yang sempit ini”

Diskusi “naso marimpola”  malam itu berakhir pada pembahasan partuturon dan tarombo. 

Berawal ketika seorang menanyakan siapa siakkangan–sulung di antara saya dan seorang sintua bermarga Situmeang yang tengah terlibat diskusi. Ku pikir, dia tanya seperti karena sudah tahu kalau Marga Situmeang dan Lumban Gaol adalah marga turunan dari Marga Naipospos. Cukup diplomatis saya menjawab pertanyaannya. “Apa untungnya bagimu kujawab pertanyaanmu? ” kataku. Akhirnya, kami larut dalam diskusi marga-marga, padan, nomor tarombo dan sejarah masa lalu beberapa marga.

Marga bagi orang batak tak sekedar Identitas atau nama keluarga. Bandingkan dengan suku bangsa lain yang memiliki marga seperti China, Korea, Jepang. Ribuan orang bermarga Park,  Shim, Lee, Kim dan lain sebagainya. Tapi tak ada ikatan kuat yang menghubungkan orang-orang pemakai marga tersebut. Sementara bagi orang batak, dari margalah kita tahu asal-usulnya. Siapa saudara dekatnya dan darimana leluhurnya. Bahkan hingga ke hak dan kewajiban dalam satu marga. Bahasa di sini,  ribet!.

Pertanyaan selanjutnya, seberapa pentingkah tarombo itu?.

Tarombolah yang melahirkan adat Dalihan Na Tolu, partuturon dan kearifan lokal lainya, seperti petuah, nasehat dan lain lain. Partuturon memegang peranan penting dan vital orang batak, dan partuturonlah yang menjadi media bersosialisasa. Partuturon tidak hanya menunjukkan kesopanan, tapi juga posisi.  Bila sesama satu marga bertemu maka hal yang pertama ditanya adalah nomor urut generasi, lalu dari keturunan siapa. Bermuara pada panggilan tutur sapa, mar-amang uda, oppung, bapatua, hahadoli, anggi doli dsb

Ironisnya, banyak batak yang kesasar dari garis tarombo, sehingga tidak bisa bertutur.  Tidak tahu dan tidak mau tahu sebenarnya adalah hal yang sama, yang membedakan adalah ketidak mau tahuan menunjukan sikap. Sehingga ketika ikut dalam satu hajatan adat, dia tidak tahu posisinya di mana.

Mengapa tarombo bisa berbeda?

Marga orang batak, rata-rata sudah Memasuki generasi ke limabelas ( dihitung dari marga itu muncul ). Bahkan ada yang sudah ke generasi duapuluh. Bila kita kalkulasi, pergenerasi adalah bertenggang 25 tahun maka marga batak sudah berumur sekitar 500-700tahun. Pertanyaanya, bagaimana mungkin tarombo bisa dijamin kesahihanya bila metoda penyampaian hanya berbentuk lisan.

Geli rasanya melihat expresi paribanku, Merry Sinambela, ketika bercerita tentang sebuah tarombo marga SiRajaOloan yang dipajang di Museum Batak-nya Pak TB di kota Balige. Dengan suara melengking dan emosional dia mengisahkan tentang ‘kejanggalan’ dan ‘kekacauan’ tarombo marga  mereka, Klan SirajaOloan yang tertera di museum tersebut. Rupanya, berbagai reaksi dari pihak terkait muncul akibat tarombo tersebut, hingga perdebatan panjang yang keras di jejaring sosial FaceBook.

Iseng-iseng, saya googling beberapa sejarah marga batak yang saya pilih secara acak. Ternyata ada banyak marga yang memiliki polemik konflik internal di marga tersebut. Kenapa begitu banyak kesimpangsiuran garis tarombo dalam marga-marga batak?.

Tarombo atau silsilah keturunan bisa berbeda-beda,– bahkan dalam satu margapun kesimpangsiuran bisa terjadi– karena sumber cerita tidak satu. Lalu metoda penyampaian dari generasi tua ke generasi yang lebih muda adalah dari mulut ke telinga. Saya menyebutnya, Sastra Aru-aru atau pustaha aru-aru. Dari orang tua ke anak dan dari anak ke cucu demikian seterusnya, selama ratusan tahun. Kata per kata ada yang hilang, dan ada yang tambah. Dari kalimat ular lari lurus  menjadi ular jadi kurus –ini contoh, lho. Seandainya leluhur tiap marga mau menuliskan di buku lak-lak garis tarombonya, tentu saja tidak ada polemik yang timbul, hingga kini.

Dahulu, tak perduli dengan yang namanya tarombo, –dianggap mengetahui tarombo adalah kampungan–, bahkan dewasa di bonapasogit, tapi tidak tahu garis keturunan marganya. Sekali lagi, maaf, tidak mau tahu?. Tidak tahu generasi ke berapa dirinya. Ketika sampai di kota, dia sadar bahwa identitas yang satu ini ternyata menjadi kartu As dalam kehidupan beradat-istiadat. Ternyata partuturon dimulai dari nomor urut tarombo. Kasak kusuk, cari informasi hingga ke kampung halaman. 

Hebatnya, setelah tahu sedikit, lalu menuliskan di blog/website hingga menyebarkannya melalui media lain. Sadar atau tidak, bahwa apa yang dituliskan menimbulkan polemik diantara pembaca. Puluhan artikel tentang marga-marga dan tarombo seperti ini kita temukan di internet. 

Saya teringat ucapan Pak Humala Simanjuntak, seorang pemerhati budaya di Jakarta. “Sah-sah saja menulis tarombo di media, tapi dalam penulisan tarombo hendaklah hati-hati, karena menyangkut identitas orang lain, dongan tubu–dongan sa marga. Tarombo yang ditulis, seharusnya di imbuhi dengan kalimat Tarombo Marga berdasarkan pendapat St. Drs. Latteung Marbun.”  Maksudnya, orang yang membaca tulisan itu bisa mempercayai begitu saja, atau dianggap angin lalu sekecar wacana. Maksudku sesuatu yang tak perlu dipolemikkan.

Kita belum dewasa soal berkumunikasi dalam media. Hanya karena tidak sependapat, maka yang mardongantubu–satu marga, saling memaki dan menghujat. Tak sadar, kalau hujatan dalam bentuk tulisan dibaca banyak orang. Entah ini bisa dikategorikan dalam pembelaan harga diri atau apa?.

Sadar atau tidak, kita telah memupuk ke-kami-an dan ke-kalian-an hanya dengan membaca sebuah garis tarombo di website. Membuat satu sekat yang membatasi persaudaran, pun masih dalam satu klan. Perlahan terbentuk opini baru, hingga ke aksi pembenaran cerita, bahwa inilah sesungguhnya tarombo yang benar, dan yang lain salah. Sekali lagi, tak ada cerita tarombo yang valid seratus persen. Semua berdasar pada Pustaha Aru-aru.

Saatnya kini untuk tidak memperebutkan posisi si hahaan  dalam satu klan, tak ada untungnya. Sejarah adalah masa lalu, dan kita terima saja kalau kita sebenarnya tak mampu menelusur secara otentik dan benar bagaimana sejarah dimasa lampau terjadi.  Sejarah, hikayat, turi-turian, marga-marga batak hendaknya dijadikan sebagai pendorong ke arah kemajuan bersama. Mengingat masa lalu tak ada salahnya, tapi mengungkit persoalan masa lalu, adalah pemikiran yang kuno. Banyak yang semarga tak bisa satu tempat duduk, seperasaan, sepersaudaraan, sepengangan hanya karena masih mempertahankan cerita sejarah yang tak jelas keabsahanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s