Bujangnim!

Naik jabatan atau promosi, tak selamanya mengenakkan. Pengalaman hari pertama ketika Jatikkos bekerja di tempat baru, sebagai buktinya. Mungkin, semua orang di dunia ini akan merasa bahagia di hari pertama kerja,  demikian juga Jatikos. Ia mengenakan pakaian spesial, senyum sumringah dan duduk dengan nyaman di kursi empuk, di ruangan kantor yang luas  asri, dan sejuk.

Namanya Jatikkos. Perawakanya yang tinggi besar, dengan rahang kokoh, khas Batak-Toba, wajahnya dihiasi jambang tipis. Sederet gigi putih bersih, sinar mata yang bercahaya pertanda semangat hidup yang menyala-nyala dan hidung yang besar menjadi ciri wajahnya. Soal intonasi dan volume suara tak ada beda dengan orang batak pada umumnya.

Relasi, rendah hati, murah senyum dan keluwesan bergaul di berbagai kalangan, khususnya expatriat membuat Jatikkos bisa menduduki jabatan startegi di salah satu perusahaan ritel asal Korea Selatan. Tentunya, perusahaan sudah tahu betul sepak terjang dan kemampuan Jatikkos dalam mengelola perusahaan, hingga ditunjuk sebagai general manager. Semua kegiatan yang ada di perusahaan titu akan menjadi tanggungjawabnya.

Faktor lain adalah non-teknis. Entah dari mana ia dapatkan ilmu itu. Mungkin ajaran para leluhur. Petuah atau poda yang diucapkan oleh amangnya, amanJatikkos dulu, semasa masih dikampung selalu diperhatikan dan dilaksanakan. Pantun do hangoluan, tois hamagoan. Poda yang lain adalah mata do guru, roha sisean. Mau belajar dan menuruti perintah juga memiliki hati yang jujur. Itu resepnya.

Bila puluhan tahun lalu dia hanya bisa marsukkil, memukul tongkat kayu, kini, sedkit banyak sudah menguasai permainan golf. “Bentuk saja yang beda, caranya sama saja” kilahnya.

Marsukkil adalah sebuah permainan tradisional. Dua potong kayu, satu pendek, satu panjang. Potongan paling kecil ditaruh di tanah yang dibentuk sedemikina rupa, lalu bagian ujungnya dipukul dengan potongan yang lebih panjang. Pukulan terjauhlah sebagai pemenangnya

Di lapangan golf lah dia bertemu dan berkenalan dengan para expatriat.

Hal lainnya adalah kepercayaan dan kejujuran yang dia bangun. Kadang, bila expatriat asal Korea Selatan ini minta tolong dalam pengurusan administrasi domisili, pajak, dan urusan ke pemerintah lainnya, maka Jatikkos tak pernah mematok biaya. Seiklas sipemberi kerja. Hal ini sudah berlangsung lama.

Dia sempat bimbang dan ragu ketika disodori jabatan itu. “Mister, saya tidak memenuhi syarat menduduki jabatan itu, dan saya buta dengan bisnis ini” tolaknya dengan sopan dan jujur.
“Ah, Itu mudah, saya percaya kamu bisa, karena saya sudah memperhatikan cara kerjamu, keuletanmu juga kemampuan melobi?” ucap Mr. Kim dengan bahasa Indonesia logat Korea.

Akhirnya, dengan berat hati dia menerima.

*    *     *

Pagi-pagi sekali, Jatikkos sudah berada di kantornya. Jam sembilan, meeting dengan jajaran staff sekaligus perkenalan. Sebagian pekerjaan Mr. Kim akan diambil alih oleh Jatikkos. Sang Bos, Mr. Kim akan sering pulang ke negaranya, urusan bisnis dan keluarga. Itulah tujuan utamanya mengangkat Jatikkos menjadi General Manager. Dia mempercayaai Jatikkos.

Ruangan yang lengkap dengan multimedia itu terasa sepi. Sejenak dia duduk dan memikirkan apa yang dialaminya. “Bagaikan mimpi” bathinya. Beberapa bundel file yang sudah disiapkan oleh sekretarisnya nampak teronggok di depannya. Sebagian besar file ini berisikan company profile, misi dan misi serta kebijakan mutu sebagai landasanperusahaan itu. Sejenak dia membaca file yang dibuat dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris dan Korea. “Ah, kok tidak ada bahasa bataknya?” gumanya. Mengguyon dirinya sendiri.

*    *    *

Ia ingat pesan Mr.Kim, ketika sedang makan malam di salah satu restoran ternama di Bandung. “Saya menyukai orang-orang yang humanis, dan memiliki semangat untuk menciptakan ide-ide baru. Hal lainya adalah pencinta lingkungan. Yang mencintai lingkungan akan mencintai diri sendiri dan pekerjaan. Bagiku, titel akademis adalah urutan berikutnya. Saya memulai usaha ini dari nol, dengan menyewa sedikit ruangan di garasi tetangga” tuturnya. Lalu Mr. Kim mengisahkan perjalanan usahanya. Ternyata masih sedikit yang Jatikkos ketahui tentang kekiatan bisnis bos barunya ini. SPBU, Apartemen dan Asuransi adalah bisnis utamanya, sementara ritel hanya bisnis yang di akusisi sahamnya dari seorang sahabatnya. “Semua di jalankan oleh adik dan anak saya, bagi saya, keluarga adalah yang utama, sebab merekalah yang memberikan semangat dalam hidupku” ujarnya, senyum.

“Saya percaya kamu sanggup mengembangkan bisnis ritel kita ini, waktuku akan banyak di Korea, mungkin sesekali saya akan mengunjungimu” imbuhnya sera menepuk pundak Jatikkos, menutup kisah suksesnya. Jatikkos berpandangan dengan istrinya Nanjatolhas, yang ikut bersama mereka kala itu.

*   *   *

Ya, dia tak serta merta bersorak kegirangan ketika ada tawaran. Baginya, jabatan adalah cobaan. Selama ini dia mampu menghidupi keluarga kecil, dengan tiga nyawa tanggungannya. Pun, mereka masih bisa mengikuti kegiatan marga-marga juga arisan-arisan keluarga, walau penghasilan Jatikkos hanya dari upah pengurusan surat-surat. “Apa aku harus terima tawaran ini?” katanya pada NanJatolhas.

“Terserah Bapak saja, apa yang bisa kusarankan?” balik bertanya

“Pengalaman tidak ada, kemampuan bahasa dan akademik jua tak mumpuni” ucapnya hampir tak terdengar

“Bukankah Mr. Kim-nya sudah mengetahui segala bentuk keterbatasanmu?, kenapa masih risau?, artinya beliau melihat sesuatu didalam dirimu. Mungkin kejujuran dan keuletan juga rasa hormatmu pada beliau?” NanJatolhas mencoba membesarkan hati Jatikkos. Selayaknya memang, seorang istri begitu, bukan?.

Ketika dia mengiakan, Jatikkos tidak bertanya berapa penghasilan dan fasilitas apa yang akan dia nikmati. Inilah yang membuat Mr. Kim semakin terpikat dengannya. Jatikkos berpikir, toh, ada standard upah yang dimiliki perusahaan dan pasti lebih bagik dari apa yang dia dapatkan selama ini.

*    *     *

“Selamat pagi, Pak” ujar perempuan cantik yang baru masuk dan kini berdiri di depannya.
“Selamat pagi” jawab Jatikkos
“Saya Reny, sekretaris Bapak” ujar gadis manis itu memperkenalkan diri
“O yah, silahkan duduk, atau….?” dia tak meneruskan kalimatnya
“Iya, Pak, hanya mengingatkan kalau jam sembilan pagi ada pertemuan dengan semua manager, juga saya sudah mempersiapkan file-file yang bapak butuhkan, sekiranya masih ada yang kurang, nanti saya lengkapi” ujarnya sopan, seraya menunjuk kearah map yang barusan dipegang Jatikkos.
“Oh, iya..iya…nanti saya ke ruang meeting”

Beberapa menit kemudian dia sudah memasuki ruang meeting. Para manager berdiri rapi dan menunduk ala salam orang Korea seraya mengucap “Selamat pagi Bujangnim”

Jatikkos tersekat, “Apa pulak ini, tak sopan sekali para manager ini, sialan..” wajahnya merah tapi ditahankan. Dia membalas ucapan mereka. Sejujurnya, ucapan tadi cukup mengagetkan dirinya, sebab seumur-umur baru kali ini ada orang ramai-ramai memakinya. Apa cara ini yang selalu dilakukan menyambut orang baru?. Dia tak habis pikir. Dia ingat kisah di Sosor Gadong, sebuah kampung kecil di Pakkat tempat kelahiranya. Hanya karena ucapan ini, amongnya harus mardando. Beberapa pukulan telak membuat wajah berlumuran darah dan kepala benjol-benjol, sahabatnya, Jamordong. Harus masuk rumah sakit.

Jangan coba-coba ucapkan itu di Medan, atau di Tapanuli sana, bisa tujuh lubang dalam tubuhmu.

Sebelum satu persatu dari mereka memperkenalkan diri, Mr. Kim memperkenalkan Jatikkos. Dan Jatikkos pun mengangguk. Dia memberikan sedikit kalimat perkenalan. Di dalam pidato super singkat itu, ia menyisipkan pesan moral tata kesopanan. Rupanya dia masih ingat ucapan yang barusan dia terima.

“Bujangnim, saya Aditya membawahi Departemen Engineering”
“Bujangnim, saya Ramadhan yang membawahi Departemen IT”
“Bujangnim, saya Haratua yang membawahi Departemen GA dan HRD, dan inilah struktur organisasi perusahaan ini” ujarnya seorang yang berkepala plontos seraya menyerahkan sebuah dokumen.

Jatikkos membuka dokumen yang diberikan Haratua. Nama-nama pegawai lengkap dengan jabatanya. Dia tersenyum dalam hati. Menyesali kutukan yang dia lontarkan tadi ketika meeting. Sajang, Kajang dan Bujang. Ternyata, Nim adalah panggilan “bapak” dalam bahasa formil korea. Bujangnim adalah Bapak General Manager. Sementara Sajangnim adalah Mr. Kim, Bapak Pres-Dir. Dan Kajang adalah senior manager….Tippas!

5 pemikiran pada “Bujangnim!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s