Beranda » Kategori » CERPEN » M a r i a

M a r i a

Waktu dan tempat, juga nama hanyalah kebetulan belaka saja,
tak ada unsurkesengajaan.

*     *     *

Hari ini adalah hari pertama kegiatan Orientasi bagi mahasiswa baru di kampus. Jam setengah enam pagi aku sudah berada di lapangan tempat berlangsungnya kegiatan itu. Tentunya, sebagai panitia,–steering comitte– mewakili senat mahasiswa, aku harus mengawasi dengan baik kegiatan ini. Tak ingin kejadian yang tidak mengenakan terjadi lagi, banyak mahasiswa baru yang jatuh pingsan, bahkan sampai dirawat di rumah sakit berhari-hari lamanya. Itu kejadian tahun lalu, dan dua tahun lalu ketika angkatanku sebagai pesertanya.

Sengaja kuambil posisi duduk di bawah pohon sawit yang rindang supaya bisa leluasa melihat satu persatu mahasiswa baru melintas, memasuki lapangan orientasi. Sepiring lontong Medan baru selesai kulahap, sarapan pagi. Perhatianku tertuju pada kegiatan-kegiatan yang ada dilapangan sana. Mahasiswa baru dengan seragam putih hitam tampak mencolok, dihiasi oleh pernak-pernik aneh-aneh. Aku tersenyum. Teriakan panitia cukup mengagetkanku. Entahlah, apa  harus membentak atau setengah memaki, baru dinyatakan meng-ospek?. Heran, itu menghabiskan energi untuk hal yang tak ada untungnya. Kulihat, mahasiswa yang bebaris rapi itu menundukan kepala, dalam-dalam. Lagi-lagi aku tersenyum. Mungkin supaya senior-senior itu merasa ditakuti, atau sedang cari perhatian. Aku kembali ke tempat duduk, dan mencoba membaca berulangkali petunjuk orientasi mahasiswa yang ada di tanganku. Sebentar lagi aku akan memberikan pengarahan.

“Selamat pagi adik-adik sekalian, selamat datang di kampus kita…” sapaku mengawali kata sambutan, tenang dan pandanganku mengedar sebelum kulanjutkan pidatoku. Aku meminta supaya semua menatap ke arahku, memperhatikan apa yang hendak kusampaikan. Mungkin mereka bingung, jika senior mereka yang sebelumnya pantang untuk di pandang, maka saya sebaliknya. Sebenarnya aku ingin melihat wajah-wajah mereka dengan jelas.

Aku tertegun melihat peserta di barisan kedua dari belakang. Ya, gadis itu. Sepertinya aku mengenalnya. “Tak salah lagi, dia pasti Maria, tapi kenapa dia di sini?, menghilang bak ditelan bumi, kini ada di hadapanku” pikirku, semakin kuperhatikan, ya, tak salah lagi.

“Aku mau lihat nama-nama peserta orientasi ini”, kataku setelah menyelesaikan kata sambutanku.

Aku menuju pohon sawit dan bernaung menghindari panasnya mentari pagi. “Kalau itu benar-benar Maria, dia tidak boleh kecapekan, aku tahu, dia pernah pingsan beberapa kali ketika berolahraga, gawat” pikirku.

“Siapa gadis yang berdiri di barisan kedua sebelah kanan itu?” tanyaku pada salah seorang panitia.
Wah, yang mana, Bang?, banyak” sahutnya
“Itu, yang pakai pita rambut orange dan dikuncir depan”
“Hmmm….nanti aku cari bang, kenal?, ada perlu? biar kupanggil kesini”
“Iya, sepertinya aku mengenalnya, dan sepertinya dia tidak boleh kecapekan dan panas matahari terlelu lama, pingsan, nanti kita yang repot, tolong dia diperhatikan” ujarku menerangkan. Mimikku serius.

Aku terbayang peristiwa tiga tahun  lalu.

** **

Tergopoh aku dan kedua temanku masuk kelas. Ku ucapkan salam pada ibu guru wali kelas, lalu dia menyalami ku, “Selamat ya, pertahankan prestasi” ujarnya, lalu seisi kelas bertepuk tangan, riuh, bahkan ada yang bersuit kencang. Ya, kami barusaha memenangkan lomba cerdas  cermat IPA antar sekolah. Dan kami akan mewakili kabupaten untuk berlaga di tingkat provinsi. Itu prestasi yang membanggakan. Aku memang hobbi jago soal IPA sehingga guru-guruku tak ragu untuk mengutusku sebagai duta sekolah.

Aku berjalan menuju mejaku. Aku tertegun, seorang gadis duduk disana. Aku bertanya dalam hati, siapa?. Aku melempar senyum dan segera duduk disampingnya. “Wah, kemana si Parlin?” tanyaku dalam hati. Bangku di sebelahku seharusnya ditempati oleh sahabatku Parlin, yang juga tetangga rumah.

“Anak baru ya?”, tanyaku berbisik.

Dia hanya mengangguk, seraya menuliskan namanya disecarik kertas, Maria.
Kuraih kertas itu dan kutulis namaku, Horasman.

Kembali dia tersenyum. Alamak!, cantik kali. Dia pasti dari kota, dan dia pasti berpikir namaku nama yang sangat batak, atau yang lain lagi. Beberapa pertanyaan kuimajinasikan sendiri, ah, masa bodoh hataku.

Mata pelajaran kedua dimulai, aku mengeluarkan buku matematika dari tasku, juga pena dan kutuliskan sesuatu. “Maria, Guru ini galak, jangan pernah menatap matanya, habislah kau”, lalu kertas ini kusodorkan perlahan ke depannya. Dia tersenyum, bahkan hampir cikikian, namun segera di tutupnya mulutnya dengan kedua tanganya.

Bah, diingatin malah ketawa” pikirku. Jujur, hanya tidak tega bila Pak Sianturi mencacinya, seperti yang dialami Rianti yang duduk di pojok depan sana. Hanya gara-gara salah menempatkan tanda koma. “Banggam!, boru-boru muse, disugut-sugut muse, allangi ma gadong na tata i–Bodoh, perempuan lagi, duduk dipojok lagi, makanlah ubi mentah itu” katanya dengan suara keras. Pak Sianturi paling tak suka melihat ada penulisan tanda baca yang salah. “Dalam matematika itu kesalahan fatal” ujarnya kala itu.

Diam-diam aku memperhatikannya. Kecantikan yang sempurna, rambutnya yang hitam legam dan lenganya yang berambut halus. Lidya Kandow?, lewat. Paramtitha Rusadi? masih lewat, Desi Ratnasari?, apalagi, lewat. Dan aku membandingkan dengan wajah artis yang ada di sampul buku tulisku.

Wajah yang tak dilapisi bedak tampak alami. Yang membuatku tak bisa konsentrasi adalah aroma tubuhnya yang menyebar, sungguh menggangguku. Biasanya baru keringat si Parlin, Apek, menyengat, kini aroma wangi yang  tak dapat kulukiskan, ah pasti parfum mahal, kataku dalam hati. Kembali kusodorkan secarik kertas dan kutuliskan “Besok jangan pakai parfum lagi ya, terganggu konsentrasiku”. Dia mendelikku dan senyum. Aku hanya menunduk, tak mampu membalas tatapan matanya yang bening.

Hingga mata pelajaran terakhir, konsentrasiku benar-benar hilang. Kuhabiskan waktu dengan berangan-angan, sering ketahuan kalau aku memperhatiknya. Aku pura-pura menuliskan sesuatu padahal pikiranku lain lagi.

“Kudengar dari teman-teman, guru Fisika ini ngeri, galak, bengis dan tak mengenal kasihan, jadi hati-hati, jangan terlalu sering menatapku, konsentrasilah, perhatikan pelajaran!” secarik kertas tersodor dihadapanku. Alamak!, ketahuan, pikirku. Wajahku memerah, menahan malu. Lalu kubalas tulisan itu “Tenang saja, segalak-galaknya dan seangkernya beliau, seumur hidup, belum pernah dia memarahiku apalagi menggamparku. Beliau itu bapak aku”, lalu kertas itu kembali kusodorkan kehadapanya. Wajahnya memerah, senyum dan melihatku, aku mencoba melawan tatapanya, akhirnya aku menang, dia menunduk, tersipu malu. Aku menang.

“Kamu suka bercanda juga ya” katanya
Aku hanya mengangguk, padahal dalam hati baru kali ini aku lakukan. Aku orangnya serius, seperti bapakku, guru fisika itu. Kulihat dari jauh seseorang menjemputnya, Oppung Partangga Batu. Itu hanya sebutan, karena rumah panggungnya yang kata orang  sudah berumur hampir satu abad itu ada tangga batunya. Semua orang dikampungku mengenalnya dengan sebutan Partangga Batu. Setelah basa-basi dan permisi dia segera menyongsong Oppung Partangga Batu. Siapanya kah?. Satu lagi, semua orang di kampungku memanggilnya Oppung, karena umurnya yang menurut desas desus sudah mencapai sembilan puluh tahun. Aku tak percaya. Perkiraanku, paling tujuh puluh tahun. Tapi banyak cerita yang membuatku harus mempercayaainya. Katanya, ketika Jepang datang ke kampung kami, Oppung ini sudah memiliki anak tiga. Masuk akala kalau dia sudah sembilan puluh tahun.

*    *    *

Benarkah dia Maria?.

Atau hanya mirip?, adiknya? sepupunya?, kembarannya? dan banyak pertanyaan yang menyelimuti pikiranku. “Bang, nama mahasiswa baru yang tadi pagi abang tanya, namanya Anastasia, bukan Maria. Apa perlu kubawa menghadap?”

“Tak usah, besok saja, ini sudah sore, sebentar lagi bubaran” kataku.

Aku tak habis pikir, kok ada wajah yang begitu mirip dengan Maria. Tapi, kalau itu Maria, kenapa baru jadi mahasiswa sekarang?, bukankah seharusnya sudah tiga tahun lalu?. Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menghinggapi otakku.

*    *    *

Mungkin karena kami satu meja dan kebetulan rumah kami berdekatan, kami jadi akrab. Aku baru tahu kalau dia pindah ke kampung karena ingin tinggal bersama Oppungnya, Partangga Batu. “Kasihan Oppung, hidup sendiri, jadi saya pindah kesini, toh sekolah di sini juga bagus” ujarnya sore itu, ketika kami pulang bersama. Kami sering pulang bersama, apalagi Oppung Partangga Batu juga pernah berpesan, untuk menemaninya setiap pulang. Tugas yang menggiurkan, kataku dalam hati. Mendapat durian runtuh, siapa yang  sudi menolak mendampingi gadis cantik seperti Maria ini?. Mungkin semua doli-doli dikampungku akan ngiri. Ya, itu pasti. Bukankah setiap saya ikut nongkrong, bernyanyi, main gitar, di Lapo Pardomuan selalu saja Maria yang menjadi topik pembicaraan?.

“Ah, kebetulan saja dia tetangga, kebetulan juga, kami satu sekolah, kebetulanya lagi, dia satu kelasku, dan yang lebih kebetulan lagi, dia satu mejaku, jagi hanya faktor kebetulan saja” ujarku ketika teman-teman ini mempertanyakan keberhasilanku mendekati Maria.

“Kalian tak tahu?, Oppung Partangga Batu itu masih famili dekat, kerabat ibuku. Apala marhaha anggi ma oppung ni oppung ni inonghu tu oppung-ni bapak ni Oppung Partangga Batu Doli,–Kakakberadik kakeknya kakeknya ibuku dengan kakeknya bapaknya Oppung Partangga Batu” ujarku menjelaskan.

Mereka terbahak.

“Kita harus tanya OppuGalumbang untuk menjelaskan garis tarombo itu” ujar Haposan sambil tertawa. Oppu haposan salah seorang warga tertua di kampung kami. Sudah sangat renta, bahkan pikun. Cucunya, Tulang Galumbang saja sebentar lagi akan menikahkan anaknya, si Marlina, kakak kelas kami dulu. Satu-satunya orang yang punya cicit di kampungku. Kadang kami berharap supaya dia segera dipanggil penciptanya. Kami yang masih anak muda ini berpikir, akan ada hajatan besar, musik–organ–tunggal, gondang sabangunan akan dibunyikan bila beliua meninggal. Pikiran jahat, memang. Bila suara imbo–sejenis orang hutan– terdengar di malam hari, konon di kampung kami itu pertanda akan ada orang meninggal. Dan bila ada hulis-hulis –sejenis elang– melintasi kampung dan mengeluarkan suara khasnya, itu juga pertanda ada orang meninggal. Dan yang lebih pasti, bila lonceng gereja,–yang biasa dipakai untuk mengabarkan orang meninggal– berbunyi maka kami akan segera mengihitung bunyi dentanganya. Semakin banyak dentangan lonceng gereja itu, pertanda semakin tua yang meninggal.

“Tak ada yang sanggup manandangi si Maria itu di kampung ini, Lae. Jadi beruntunglah kau” kata Haposan

“Bayangkan dulu, kawan, kalau si Maria, bahasa Bataknya yang tak kentara, sementara kita-kita ini, bahasa indonesianya yang tak kentara, bisa diketawain kita nanti, halo selamat malam maria?, apa boleh berbicara-bicara sebentar?” ujar Porngis seraya terbahak-bahak, dia menirukan gaya sedang mengetuk pintu. Gaya dia ketika martandang ke kampung sebelah. “Ai dungo dope hamu ito, molo dungo do, dison ma jo hita marende hut marhuling-hulingansa–, Apa masih terjaga ito, kalau iya, alangkah baiknya kita bernyanyi bersama sambil main tebak-tebakan–” itu biasa sisampaikan ketika martandang. Walau masih remaja, kadang aku diajak mereka martandang, katanya permainan gitarku lumayan.

****

“Namamu Maria?” tanyaku gugup

“Iya, Bang,  Anastasia Maria” jawabnya singkat, menunduk tak berani menatapku.

Aku bertanya dalam hati, kenapa dia tak mengenalku. Dan pertanyaan-pertanyaan kemarin datang kembali ke otakku. Ada sebuah misteri, simpulku dalam hati. “Iya sudah, kembali” sahutku pendek. Aku menatap setiap langkahnya. Semakin yakin kalau itu adalah Maria. Dari wajahnya, rambutnya, lesung pipitnya, alisnya, bahkan deretan giginya yang putih pun kuhapal.

*    *   *

Hari ini tak bisa kulupakan hingga kapan pun.

Maria yang tadi pagi masih segar bugar, tiba-tiba pingsan. Murid perempuan histeris, panik dan berteriak-teriak.
“Ada apa?”
“Maria jatuh, pinsang, tolong” teriak Marintan
“Bawa ke puskesmas”
“Cepat, cepat”
Entah, seperti ada yang memaksaku, secepat kilat, tubuhnya kubopong, setengah berlari aku menuju puskesmas yang jaraknya hanya satu setengah kilometer dari sekolah. Jujur, aku juga panik. Seumur-umur, belum pernah kulihat orang yang pingsan. Aku membaringkanya di dipan puskesmas dan segera mendapat pertolongan dari perawat. Kami di minta menunggu di luar. Selang sejam, Oppung Partangga Batu datang, tergopoh sambil terisak, menuju ruang perwatan.

Suster keluar meberikan keterangan, “Dia hanya kecapekan, biasa itu”, kami bernafas lega. Pak Simamora lebih lega lagi. Iya tak mau dicap sebagai guru olah raga yang mencelakakan muridnya. Kami kembali masuk keruanga dimana Maria berbaring. Ku lihat wajahnya masih pucat, namun sudah bisa bicara. “Ras, terimakasih sudah merepotkanmu, sudah membawaku kemari” ujarnya dengan tatapan sendu, tanganku diraihnya. Dingin. Aku mencoba menghiburnya dengan memberikan lelucon. “Pingsanmu adalah bahagiaku” kataku.

“Sering-sering ya, supaya aku sering menggendongmu”, kataku. Dia memalasku dengan mencubit, wajahnya merona.

Semenjak itu, aku semakin memperhatikan dia. Sering cerita, tentang suasana di Jakarta, tentang beberapa lelaki yang mencoba mendekatinya. Ini yang membuatku sedikit cemburu. Aneh. Ada perasaan lain, ketika dia bercerita tentang manta pacarnya. Jujur, aku cemburu. Aku memaki diriku sendiri. “Bodoh, ngapain  cemburu, pacar juga nggak?, lagian mana mau Maria jadi pacarku?” bathinku.

Hari itu, aku mengajaknya ke kebun buah ayah. Selain guru, ayah seorang yang rajin. Tanah kami yang sepetak ditanami beberapa pohon buah. Jujur, kami tak memiliki tanah yang luas di kampung ini. Kadang aku iri pada Parlin, tanah ayahnya luas. Tapi aku harus sadar, kalau kami adalah paisolat, boru di kampung ini. Beberapa tahun lalu, ayah ditempatkan menjadi guru di sekolahku, dan akhirnya menikah dengan ibu yang asli kampung ini. Kebun buah adalah pemberian dari oppung, bapaknya Ibu. Katanya sebagai hak atau bagian boru.

Tak terasa, sejam sudah kami memetik biji kopi. Sembari bercanda, kadang saling melempar. Adikku Patuan sudah pulang duluan, membantu ibu menyiapkan makan malam.

Cuaca berubah dan hujan deras pun turun. Kami berlari dicelah pohon kopi dan berlindung di sopo. Sedikit basah, aku mengibaskan air hujan yang membasahi bajuku. Kulihat Maria melakukan hal yang sama. Kami berpandangan

Kucoba menyalahkan perapian untuk menghangatkan badan. Petir mulai tersengar bersahutan. Nasihat ayah, kalau sedang petir usahakan api menyalah dan ada asapnya. Aku bingung apa korelasinya. Yang membuatku lebih bingung, bukan kah ayah seorang guru fisika?. Kenapa masih mempercayai tahyul?. “Di dunia ini banyak hal yang tidak masuk logika, tapi kita harus mempercayainya” kilahnya, kala itu.

Suara petir semakin menggelegar, kulihat Maria menutup telinganya. “Baru kali ini aku mendengar suara petir, demikian keras, juga kilatnya, aku takut, Ras…” ujarnya, wajahnya pucat. Aku terdiam.

“Kata Oppung, kalau ada petir maka arang hitam harus kita olehkan di dahi” ujarku seraya mempraktekkan. Aku menetapnya, meminta persetujuan untuk menorehkan arang hitam di dahinya. Dia mengganggu. Tanganku yang kasar akhirnya menorehkan arang hitam yang kuambil dari pantat periuk dan mengoleskannya di dahinya. Aku tertawa, lucu. “Gadis cantik dengan dahi tercoreng arang hitam” ujarku, dengan mimik membaca puisi.

Maria cemberut, marah, merasa dibohongi. Lalu jemarinya yang lentik mencari arang hitam. Tanpa sepengetahuanku, jawahku di olesnya dengan rang hitam di jarinya. “Impas” ujarnya senyum. Kami bercanda sambil menunggu hujan reda.

“Ras, aku kedinginan” ujarnya tiba-tiba

Aku meraih tanganya, sedingin es. “Kamu sakit?”
Maria hanya mengangguk.

Aku benar-benar bingung, kalut. Hujan belum menunjukkan tanda-tanda mau berhenti. Aku harus cari akal. Beberapa potong kayu bakar kutambah ke perapian, supaya apinya membesar. Aku menyuruhnya lebih dekat dengan perapian. Maria meringsut mendekati perapian. Dia masih menggigil, walaupun bajunya sudah tak basah. Aku berusaha mencari kain di sopo kecil itu. Ada, tapi kotor, aku tak tega.

“Ras, aku tak tahan lagi, semakin dingin” ujarnya dengan wajah memelas.

Kuberanikan meraihnya, menggosok tanganya. Lalu aku memeluknya erat. Aku melakukan itu supaya panas dalam tubuhku mengalir kepadanya. Iya mendekapku, erat. Benar-benar kedinginan. Jantungku berdegup keras sekali. Baru kali ini aku memeluk perempuan yang bukan ibuku dan bukan adikku, yang bungsu, Ulina.

“Ras, bisa main drum ya?” tanya Marina perlahan, masih mendekapku.
Ngga, hanya main gitar, itu pun paspasan, hanya kelas lapo tuak ” jawabku sekenanya.
“Kok, jantungmu berdebar-debar kayak main drum?” tanya Marina
“Dasar, kupikir apaan, mau kulepasin nih pelukanmu?” balik bertanya, aku ssemakin grogi, merasa diperolok.
“Jangan, masih dingin, peluk aku ‘Ras, tolong… aku kedinginan” ujarnya seraya mempererat pelukanku.

Sejam dalam pelukanku, rupanya Maria tertidur, lelap, hingga ngorok. Aku tak sampai hati membangunkanya. Kubiarkan dia menikmati tisurnya barang setengah jam lagi. Pelukanya sudah mengendur. Aku sedikit bernafas lega. Perlahan, api mengecil, menyisakan bara. Bara yang menjadi saksi bisu kami berpelukan erat.

Aku teringat akan nasihat guru agamaku, Pak Setepu. Bila sepasang anak muda disatu tempat yang sunyi, mungkin ada orang ketiga yang menyertai mereka. Iblis!. Aku berpikir, iblis pun takut mendengar suara petir yang menggelegar sehingga hanya kami bersudua yang tinggal di tempat sepi ini. Aku tersenyum, menikmati wajah cantik yang ada dalam pelukanku. Kali ini, aku benar-benar menatapnya berlama-lama. Terasa hangat hembusan nafasnya di dadaku.

Aku menepuk pipinya, membangunkanya “Mar, Maria, bangun…kita harus pulang, sudah sore, sebentar lagi orang kampung akan mencari kita kesini, bila tak segera pulang” ujarku. Tak enak rasanya berdua lama-lama di tengah kebun, apa kata tetangga?, dan pasti ayah akan memarahiku nanti. Walaupun keadaaan ini terpaksa.

Maria terbangun.

“Aku tertidur ya,..”ujarnya tersenyum.
“Iya” jawabku pendek, menatapnya dan membalas senyumanya
“Kenapa tersenyum?”
“Karena di sopo ini tak ada tulisan, dilarang  tersenyum” ujarku asal-asalan
“Awas ya, jangan kasih tahu siapapun, kalau aku memelukmu” ujarnya seraya mengepalkan tanganya yang mungil, aku mendekatkan wajahku ke  kepalanya.

“Tergantung…” jawabku
“Tergantung situasi, kondisi dan toleransi, sikon..” aku tak meneruskan kalimatku, malah tertawa. Maria semakin cemberut.
“Mar?”
“?!”
“Kamu cantik sekali”
“Sudah dari sononya,…”
“Sononya mana?”
“Ngaco” ujarnya bangkit
“Mau ku gendong pulang, apa jalan sendiri?” kataku menggodanya.
Beneran yah, mau ini” ujarnya seraya mendaratkan pukulanya di punggungku yang dari sudah membelakanginya seperti hendak menggendongnya. Aku meringis.
“Lah, kalau dipeluk tadi mau saja, sekarang mau digendong, kok nolak, kan enak,tak capek” kataku
“Lagi nih,” ujarnya mengancamku dengan kepalan tangan yang siap mendarat. Kau tertawa puas, bisa mengoloknya.
“Ya udah, toh kalau kecapean nanti akan pingsan, dan akan kugendong lagi” kataku seranya berlari mengindari amarah dan kepalan tanganya, Maria benar-benar kuperolok.

Silonging sudah bernyanyi, menyambut datangnya malam. Hujan sudah benar-benar reda, hanya sekali-sekali tampak kilat di langit yang masih menghitam. Petirpun tak terdengar lagi. Kami berlari kecil mengindari air hujan yang menetes dari  pohon petai yang menjulang tinggi.

*   *   *

“Hei” seseorang memukul pundakku

“Bah, berangan-angan rupanya, sudah sampai dimana angan-anganmu?, dari tadi dipanggil tak nyahut, tak tahunya hanyut dalam lamungan” kata Andilo, temanku satu kamar kost. Rupanya dari tadi dia mengajakku makan malam. Andilo juga ikut manjadi panitia orientasi, yang membidangi bagian informasi dan kesehatan.

“Sok tahu” jawabku seraya menngikutnya ke rumah makan langgan kami. Kawasan Pasar Satu Padang Bulan masih sepi. Yang biasanya ramai oleh aktivitas mahasiswa, kini sedikit lebih lengang. Minggu besok sudah mulai ramai, mengingat masa orientasi sudah selesai.

“Apa kau kenal mahasiswa baru yang namanya Maria Anastasia?”
“Nggak, kenapa?”
“Tanya saja”
“Sepertinya penasaran sekali?”
“Ingat ceritaku setahun lalu, tentang gadis yang selalu kupikirkan itu?”
“Iya, iya…kenapa?, mirip?”
“Bukan mirip lagi, tapi sepertinya dia, yang mebuatku bingung kenapa tidak mengenalku lagi?, atau pura-pura?”
“Ah, mimpimu terlalu tinggi, mungkin hanya mirip”
“Itu dia, tapi perasaanku berkata lain, aku yakin kalau dia Maria yang dulu satu sekolahku”
“Lho, gimana sih?, dia baru masuk kuliah sekarang, dan kamu sudah tiga tahun, artinya beda angkatan saja sudah tiga tahun, cumi….cumi…cuma mimpi, kebanyakan dengan lagu panbers, sih?” ejek Andilo.

Dia tahu lagu kesukaan ku, lagunya Panbers, Gereja Tua. Iya, aku pernah  bercerita kepadanya ketika aku dan Maria sama-sama belajar naik sidi di gereja. Dikala hujan turun, kami terpaksa menunggunya hingga reda. Kalau untuk mementingkan ego, saya bisa saja berlari menembus gerimis, tidak sakit. Tapi, Maria?, kehujanan sedikit pasti sakit. tubuhnya rentan.

Gereja tua di pinggir bukit itu menjadi saksi kedekatan kami. Aku sering menggodanya ketika belajar sidi. Kubilang, Maria Inani Jesus, dan akulah Yosefnya. Lalu secarik kertas akan dilemparkan kearahku yang bertuliskan ke “Kau itu bukan Yosef tapi Salomo, punya istri dan selir ratusan”. Lalu beberapa ayat dalam kitab Kidung Agung kujadikan sebagai balasan dari setiap kertas yang dilemparkanya. Aku pernah menuliskan “Kidung Agung dua ayat satu hingga tiga”. Aku memperoloknya. Lalu dibalas lagi dengan menyebutkan sebuah ayat dari Injil Matius, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Kulihat dia senyum penuh kemenangan.

Itulah kisahku yang pernah ku ceritakan pada Andilo, kisah gereja tua. Setiap hari aku memutar lagu itu, hingga harus ku beli kaset yang sama sebanyak tiga buah. Andilo mengelengkan kepala, tak sampai pikir. Dia bingung, bangaimana aku harus merelakan jatah makan setengah bulan demi mendapatkan kaset itu.

“Hei, melamun lagi, makanan mu sampai basi” ujarnya seraya membuyarkan lamunanya.

Ah, aku benar-benar melamun, tak bisa kupungkiri itu.

“Kawan, kulihat dia dijemput tiap sore oleh orang tuanya, mungkin kamu bisa cari tahu, tau mungkin kela?”
“Nah, itu dia, usul yang brilian, mantap. Besok temani aku,” ujarku seraya menghabiskan sisa makananku. Aku tak sabar menunggu hari esok.

*     *     *

Bersambung……ke Maria-2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s