Beranda » Kategori » CERPEN » Maria—(2)

Maria—(2)

Sore hari di Padang Bulan.

Ada-ada saja peraturan orientasi ini. Setiap mahasiswa baru tidak diperbolehkan diantar atau dijemput. Entahlah, pasal mana dari peraturan yang mereka ambil. Aku tak mau pusing, biarlah itu menjadi peraturran tak tertulis. Jika aku memprotresnya, mungkin akan di cap sebagai senior yang lembek. Aku mempercepat langkahku menyusulnya.

“Maria, Dek, … Maria, tunggu” ujarku setengah berteriak.

Maria menoleh, sedikit gugup. Mungkin dia heran, namanya aku panggil

“Iya, Bang, ada apa?”

“Pulang?”

“Iya”

“Kemana?”

“Setiabudi”

“Boleh kuantar?”

“Terimakasih, bang. Aku dijemput”

“Oh”

Sepertinya aku mengenal laki-laki separuh baya itu, Tulang Martua, ayahnya Maria. Benar, jadi gadis di depanku ini adalah Maria. Bingung. Aku semakin tak mengerti. Aku tahu, Maria tak mengenalku sama-sekali. Kulihat dari responnya menjawab pertanyaanku tadi.

“Tulang Martua?” tanyaku seraya menghampirnya dari sisi sebelah kanan mobilnya. Dia menurunkan kaca mobilnya, aku leluasa melihatnya. Kusodorkan tanganku, menyalaminya. “Aku Horasman, Tulang.  Inongku  NaiHorasman dari Huta Napa. Sengaja ku sebutkan nama kampung kami untuk memudahkan ingatannya.

“Iya, iya…aku ingat, sudah doli-doli kau rupanya bere?, Maria, ingat sama paribanmu ini?”

Maria menggeleng, aku kecewa dibuatnya.

“Oh, ya, bere malam ini ada waktumu datang bertandang kerumah kami?”

“Ada apa, Tulang? ada pesan untuk oppung?” maksudku Oppung Partangga Batu

Ngga,…Ngga, ada hal lain, tapi kalau kamu sibuk, mungkin besok atau lusa”

“Malam ini saja, Tulang, aku banyak waktu, perkuliahan belum dimulai jadi saya sedikit leluasa” ujarku cepat, sebelum undangan untuk datang berkunjung. Selembar kartu nama disodorkan padaku, aku mengejanya. Tulang Martua tersenyum.

Setahuku, keluarga ini tinggal di Jakarta, kenapa tiba-tiba sudah berada di Medan?. Ah, sudahlah, toh nanti malam bisa kutanyakan, sekalian. Aku menjawab sendiri pertanyaanku.

*     *     *

Aku memandang beberapa bingkai foto yang terpampang di dinding bercat biru langit itu. Yang paling menarik perhatianku adalah foto keluarga di tembok china. Foto tiga tahun lalu, kubaca tanggal pengambilan foto itu. Wajah asli Maria ketika kami masih bersama dulu.

Aku di kejutkan oleh suara Tulang.

“Itu foto tiga tahun lalu, di China, kenapa? ada hal yang menarik?”

“Tidak, Tulang, tapi aku tidak habis pikir”

“Iya, dan aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Maria”

Aku tersipu. Wajahku memerah.

“Itulah, bere. Ada yang harus kuceritakan padamu, tentang paribanmu Maria”

“Kenapa dengan Maria, Tulang”

Bukan jawaban yang aku dapatkan, Tulang Martua malah memanggil Maria. “Boru, Hasian, kesini sebentar, ada tamu…” ujarnya setengah berteriak.

Aku dapat melihat keterkejutannya ketika tahu, kalau tamu yang dimaksud adalah aku.

“Sudah kenal dengan paribanmu  ini?”

“Sudah, Pa”

“Siapa?”

“Panitia orientasi mahasiswa baru di kampus, betul kan, Bang?, Bang Horasman, kan?”, Maria mempertegas siapa diriku dengan pertanyaanya. Aku mengangguk, menatapnya dalam-dalam. Tatapan mata kami beradu. Masih seperti dulu, aku tak sanggup menatapnya. Terakhir sekali aku menatapnya berlama-lama ketika berdua di sopo, di kebun ayah. Itupun, ketika dia tidur dalam pelukanku.

“Kamu semakin cantik, Maria” ujarku dalam hati.

Kulihat Tulang Martua menggeleng kepala, cukup lama, seolah ada yang Dipikirkanya.

“Kenapa Maria tidak mengenalku, Tulang?” tanyaku memecah kebisuan.

“Kapan terakhir kali kalian bertemu?” Tulang Martua malah balik bertanya.

Hening.

“Sebenarnya, ini kejadian tiga tahun lalu. Suatu ketika, dia jatuh pingsan  di sekolahnya, waktu kami masih tinggal di Jakarta. Sore itu, kami langsung membawanya ke rumah sakit, karena ini sudah terjadi dua kali. Satu yang membuat kami syok adalah ketika dokter memberikan hasil  pemeriksaan laboratorium. Ada penggumpalan di otaknya, entalahlah aku lupa nama penyakitnya. Dokter menyarankan untuk segera dioperasi, ya bedah otak. Kami tak sanggup mendengar penjelasan dan permintaan dokter. Ya, Harus operasi bedah otak”, tulang Martua memulai kisahnya.

“Ah”, tenggorokanku kelu, tak dapat ku berkata apa pun. Kenapa dia tak pernah menceritakan?. Pantaslah dia tidak boleh kecapekan dan rentan pada perubahan cuaca.

“Dia tidak pernah bercerita?”

“Iya, bahkan kepada siapapun, termasuk oppungnya. Dia tak mau menyusahkan orang lain, dan tak ingin dikasihani. Mungkin bere sudah tahu kalau pariban mu ini orangnya keras”

“Iya, Tulang, dia tak pernah bercerita, bahkan keseharianya bukan seperti orang sakit” ujarku mempertegas ucapanku sebelumnya.

“Ini Horasman, Ma, sudah kenal kan?”, ku lihat Nantulang—istri dari Tulang Martua– menyuguhkan kopi dan penganan kecil. Aku menyalaminya. Kutatap wajahnya dan melempar senyumku. “Nantulang kelihatan awet muda” ujarku memujinya, tulus. Aku yakin, nantulang ini cantik di waktu mudanya. Garis-garis kecantikan masih terpancar hingga kini.  Nantulang membalas pujianku dengan senyuman, seraya berpandangan dengan Tulang Martua. Sepertinya kecantikan Maria turun dari ibunya, bathinku.

“Maria sangat tabah dan menerima penyakitnya. Dia tetap kuat, tidak pernah mengeluh. Justru dia yang berusaha menghibur kami dan untuk tetap tenang menghadapi cobaan. Menyerahkan semua pad kuasa Tuhan. Itu yang membuat kami mampu bertahan menerima cobaan itu. Dokter menyarankan untuk menenangkan pikirannya sebelum operasi. Maria ingin bersama oppungnya. Dia sangat dekat dengan oppungnya. Kami tak kuasa menolak permintaanya untuk tinggal bersama oppungnya di kampung. Kalau itu bisa menenangkan pikiran dan menyenangkan hatinya, apa boleh buat. Awalnya, kami mengira dia akan betah paling lama dua bulan. Nyatanya, setahun. Dan yang lebih mencengangkan, kondisi semakin membaik. Walaupun tak sembuh total, dia lebih siap menjalani operasi bedah otak itu. Dokter di Jakarta tak menyangka jika dia semakin baik, mengingat penyakit itu mempengaruhi beberapa kerja saraf di otaknya. Mungkin dia benar-benar bahagia tinggal di kampung oppungnya” nantulang menimpali pembicaraan kami.

 

“Hingga akhirnya kami membawanya ke Jakarta, memeriksa kondisi fisiknya, sesuai anjuran dokter. Belum ada rencana berobat, rencananya hanya beberapa hari dan segera kembali ke kampung, tapi setelah di periksa, ternyata dia sudah benar-benar siap untuk menjalani beda otak itu. Dan operasi itu tak boleh di tunda lebih lama lagi. Tak ada pilihan, akhirnya kami segera terbang ke Beijing. Hampir setahun dia disana, hingga fisiknya sembuh total” imbuhnya.

*   *   *

Semilir angin berhembus perlahan. Awan hitam berarak seperti hendak menyelimut Gunung Pinapan, nun jauh disana. Tiupan suling gembala melengking menyayat hati, Pontas, ya, itu suling si Pontas. Semenjak putus sekolah, dia mengambil alih pekerjaan ayahnya jadi parmahan—gembala kerbau- di Lembah Sibambanon yang bertanah subur. Sejauh mata memandang, hamparan padi yang menguning. Sungguh indah. Teriakan anak-anak penjaga sawah, menghalau amporik,–burung pipit- musuh utama para petani di kampong kami.

Bila musim panen tiba, para pemuda akan marsirippa,–gotong royong—menyelesaikan panen. Dari manabi eme—menyabit—hingga nmardege,–. Semua dikerjakan bersama-sama. Tanpa dibayar. Inilah moment yang biasa kami pakai untuk mengambil hati gadis pujaan hati. Dan boru ni raja—pemudi, akan melihat siapa kira-kira yang cocok di jadikan pendamping. Para pemuda akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya ketika manerser, kecepatan dan kekuatan kaki akan menciptakan harmoni yang enak di dengar. Biasanya, sipemilik hanya melihat dari jauh, kegiatan para pemuda itu. Cukup menyediakan lompan—lauk dari daging ayam–, dan kopi, sebagai pengganti keringat mereka. Sesekali mereka bergurau dan berbalas pantun. Bila pantun sudah menyerembet kearah yang kurang sopan, dan tak pantas didengar, maka sipemilik sawah akan member tanda, batuk. Artinya, pembicaraan itu harus dihentikan.

Tradisi yang masih terpelihara sampai saat itu, di kampung kami. Entah sekarang.

Hari itu ketika musim panen tiba, aku mengajak Maria ke Sawah, mardege.


Aku menjelaskan arti marsirimpa dan ia sunggu heran mendengarnya.

”Tidak dibayar?” tanyanya, tak percaya. Lalu aku menjelaskan apa makna marsirimpa itu.

“Iya, hari ini ke sawah si anu, besok ke sawah orang lain, demikian seterusnya, lihatlah, Namboru itu hanya menyediakan makanan, itu saja” ujarku. Aku melihat kekaguman di wajah Maria. Mungkin, baru kali ini dia melihat orang bekerja tanpa dibayar.

“Ajari aku mardege” pintanya

“Ah, macam-macam saja kau ini, itu susah, nanti kecapekan, dan kakimu tidak cocok, mungkin tak kuat untuk itu”

“Tapi aku ingin, sepertinya gampang” Maria bersikeras

Aku berpandangan dengan Haposan, yang kami anggap sebagai ketua kelompok, karena selain umurnya lebih tua, dia juga ketua Naposobulung di Gereja kami.

“Pegang, tanganmu harus berpegangan erat di bambu itu” ujarku. Sebilah bambu besar melintang di atas pardegean  itu, sebagai pegangan para pardege. Biasanya tingginya sedada orang dewasa.

“Tak kuat, tanganmu aja deh, yang kupegang” ujar Maria

“Alamak, pegang tanganku di depan orang banyak?” aku tak habis pikir. Malu rasanya bila hal itu sampai terjadi.

“Tidak “ kataku mengelak

“Ayolah, sekali ini saja,…”ujarnya mengiba, sambil tersenyum.

Kembali aku melempar pandangan pada Haposan. Lagi-lagi dia mengangguk, tanda setuju. Teman yang lain jadi riuh, wajahku merah.

Hanya tiga kali gerakan, Maria terjatuh, mengaduh kesakitan. Hampir menimpaku. Refleks aku meraih tubuhnya, memeluknya. Riuhnya teman-teman menyadarkanku. Aku segera melepaskan tanganku dari tubuhnya. Aku tersenyum, rasain pikirmu. Beberapa butir padi tertancap ditelapaknya. Akhirnya aku juga yang harus menenangkannya. “Tak usah pakai obat merah, ‘ntar juga sembuh” kataku ketika dia bersikeras untukmencarikan obat.

“Pakai sepatu boleh nggak”

“Pantang, itu pantang, nanti padinya marah” kataku dengan nada tinggi. Maria membisu.

“Tahyul, boleh yah?” pintanya sekali lagi.

“Kataku, Nggak, kita pulang saja, kamu kuantar” ancamku.

Kini, kegiatan mardege eme sudah banyak ditinggalkan para petani. Beralih ke mambanting. Cara ini sebenarnya berasal dari daerah pertanian di sumatera timur. Dulu, seingatku, mambanting pun dilarang. Tidak menghormati hasil panen itu, katanya.

*   *   *

Sore itu aku baru menyelesaikan pekerjaanku mengambil kayu bakar. Ini kayu terakhir yang harus ku bawa kerumah. Berhenti di batu besar di pinggir jalan itu. Kata orang, batu ini sebenarnya bukan batu biasa, tapi kuburan. Entah benar atau tidak, masih banyak orang yang mempercayai cerita itu. Ini adalah makam pendiri kampung kami. Di bawah batu inilah beliau di kuburkan. Memang ada semacam ukiran tak berpola di sana, tapi menurutku itu alami, bukan buatan oppung para pendiri desa ini.

Deru mobil mengagetkanku.

Semenjak jalan diperbaiki, semakin sering saja mobil-mobil mewah dari kota berseliweran di kampung ini. Sepuluh tahun lalu, kampung kami hanya bisa dilalu kenderaan roda dua, kini motor paronan–pengangkut orang ke pekan–pun sudah ada.

Acuh, aku menoleh ke arah mobil yang melintas tepat di depanku. Aku tak bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. Seolah ada yang melambaikan tangan ke arahku. Aku mencoba memperhatikan, hingga mobil itu makin menjauh. Itu Maria. Mau kemana?, sama siapa?, tanyaku dalam hati.

Aku baru tahu dari teman-teman kalau dia pindah dan kembali ke Jakarta. “Orang kota pindah ke desa, mana tahan?” ujarku dalam hati. Pun ada rasa kehilangan tapi itu tak boleh ku perlihatkan. Aku tak mau jadi bahan ejekan dan olokan teman-temanku.

Itulah hari terakhir aku melihatnya. Melihatnya melambaikan tangan, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranya.

  •     *     *

“Kami berutang budi padamu, bere” ujar Nantulang, terbata, air matanya mengalir

“Loh, kok?, apa hubunganya dengan saya?” aku bingung

“Iya, bere, sebenarnya kami sudah lama ingin bertemu denganmu, tapi karena banyak pekerjaan, keinginan itu tinggal rencana saja. Bacalah buku harian ini, kamu akan mengerti maksud kami” Nantulang Martua menyodorkan sebuah buku kecil kepadaku.

“Tapi, kenapa dia tidak mengenalku?”

“Hm..” tarikan nafas Tulang sampai ketelingaku

“Menurut keterangan dokter yang menanganinya di Beijing, akibat pembedahan otak yang dialaminya, sebagian dari memorinya akan hilang. Dia akan mengalami kelupaan akan beberapa hal. Butuh waktu lama untuk memulihkan ingatanya. Entah sampai kapan” ujar Tulang lirih, matanya berkaca-kaca.

Aku menatap Maria, yang sedari tadi sibuk membaca, seolah tidak mau tahu apa yang sedang kami bicarakan.

“Masih ada harapan, bere. Dan harapan itu, ya, bere sendiri, jadi bantulah kami, demi Maria. Kami juga tahu, kalau kamu mencintai Maria, bukan?” tanya Nantulang Martua menatapku tajam.

Aku benar-benar tercekat. Tak kusangka mereka akan berkata seperti itu. Aku diam seribu bahasa. Wajahku memerah, dan kutundukkan dalam-dalam. Sejurus, aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan mereka.

“Apa yang harus kuperbuat, Tulang?”

“Kata dokter, dia bisa pulih kembali dengan mengingat kenangan-kenangan indah yang dialaminya sebelum operasi. ” ujar Nantulang Martua.

Aku termenung untuk sesaat sebelum membuka lebaran pertama buku harian berwarna biru muda itu. Sebuah foto tejatuh. Aku tersenyum. Foto ketika study tour ke Samosir. Aku ingat persis, dia selalu berada di dekatku. Dan beberapa foto diabadikanya, termasuk poto kami berdua.

“Ini pertama sekali berkunjung ke Samosir, sungguh indah Danau Toba, ayo kita mandi di danau” ujarnya sumringah kala itu.

“Mandi melulu yang di pikirkan, kalau sakit siapa yang repot ya” sindiriku. Ia mencubitku keras sekali, sampai wajahku memerah.

Aku mencoba menerangkan beberapa hal tentang danau yang indah ini, padahal aku juga hanya beberapa kali menginjakkan kaki di Samosir. Tidak lebih dari dua puluh kali. Leluhurku ada di sini. Di Sihotang, tepian barat Danau toba. Lembah Sihotang yang tersohor itu. Aku harus merengek dan memohon dengan sangat kepada ayah untuk mengijinkanku menjenguk oppung. Aku memaklumi keadaan. Ayahku hanya pegawai negeri biasa. Tak cukup uang untuk membiayai perjalananku dari Lembah Sibanbanon ke Sihotang. Aku tahu banyak hal tentang tempat ini dari cerita orang-orang oppung dan juga dari buku-buku dan majalah.

Mungkin, tak ada yang menandingi keindahan danau yang melegenda itu. Tampak Gunung Mitos Pusuk Buhit menjulang tinggi. “Ompung, aku pinomparmu si Horasman mengunjungimu, walau hanya dari jauh” bathinku ketika aku melihat tanah leluhurku yang menghijau diseberang sana. Anganku menerawang jauh. Aku memaikan imajinasiku.

Tak lupa, aku menceritakan cerita asal mula orang batak dan legenda danau toba. “Itulah bukit Pusuk Buhit, tempat siRaja Batak diturunkan dari langit” kataku.

“Ras, kamu mempercayai itu?”

Aku tersenyum. Aku tahu, pertanyaanya hanyalah jebakan. Aku tahu sifatnya yang satu itu. Mencari kelemahanku. Bila ku iyakan, pasti dibilang, buat apa pergi ke gereja. Kalau ku bilang tak percaya, dia pasti lebih mentertawaiku. Sebab beberapa kali aku menjelaskan bahwa hanya karena kehebatan leluhur orang batak dahulu, maka bias seperti sekarang ini. Aku begitu mengabumi leluhur-leluhur itu.

Perlahan kepalanya jatuh ke pundakku. Tertidur. Ah, aku bicara sendirian, huh…!

*   *   *

Bersambung, M a r I a — 3

3 thoughts on “Maria—(2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s