Beranda » Kategori » CERPEN » M a r i a (3)

M a r i a (3)

Perlahan, malam semakin merangkak menyelimuti kota Medan. Hingar bingar kota besar ini mulai berkurang. Ragam aktivitas membuat tak ada ubahnya antara siang dan malam hari, mungkin hanya volume kesibukannya yang sedikit berkurang. Kini, jalanan sepi, kontras dengan siang hari yang macet, bising dan panas. Sesayup terdengar gelak tawa dari kerumunan pengemudi becak yang sedang menanti penumpang di simpang sana. Sesekali angkot berhenti, terdengar teriakan supir memanggil orang-orang yang berdiri di trotoar itu, membuyarkan lamunanku. Bahkan hingga menunggu orang yang sedang berjalan jauh di ujung lorong. Aku gelisah di pojok belakang merasakan lajunya angkot tak lebih cepat dari kerbau.

Kadang, aku tersenyum mendengar teriakan-teriakan itu. Dulu, aku sering menemani AmanJahornop, kerabat satu kampungku, yang berprofessi sebagai supir angkot bila ada hari libur. Berteriak-teriak, sembari melambaikan tangan. “Amplas… Amplas”. Juga sebaliknya “Baris…Baris”. Maksudnya terminal Amplas dan terminal Pinang Baris. Tak jarang aku harus menggelantung di pintu samping bila penumpang penuh. Ada saja hal yang membuat supir-supir angkot ini kesal. Supir dengan setia menunggu penumpang yang berjalan pelahan dari ujung lorong, namun setelah mendekati angkot, supirnya hanya dihadiahi lambaian tangan penolakan. “Bilang kek dari tadi” ujar amanJahornop kesal.

“Bah, kok marah?, yang nyuruh nunggu siapa?, itu masih mending, daripada mereka cuek sama sekali?”
“Apa susahnya melambaikan tangan dari ujung sana” ujarnya membela diri. Aku tak menanggapi ocehanya.
“Kenapa jadi kita yang ribut?” kataku, akhirnya kami terbahak. Ketika hendak pulang, amanJahornop menyelipkan beberapa lembar ribuan ke kantong ku.

Aku menyandarkan kepalaku, rasa kantuk menyerangku. Ingin secepatnya sampai di rumah, merebahkan diri di dipan berkasur sangat tipis itu. Dipan anak kost. Dipan yang dibeli inong dari hasil penjualan biji kopi. Itu sudah tiga tahun lalu, kapasnya hilang entah kemana, mungkin menguap.

“Lae, turun dimana?”

Aku terhenyak. Ku lempar pandangan menembus gelapnya malam. Ah, sial!. Umpatku dalam hati. Terbuai dalam lamunan, bahkan hingga tertidur. Sudah melewati pasar VII Padang Bulan, bahkan sudah di ujung jalan perumahan Simalingkar. Aku melirik, arlojiku. Jam 23.00. Sudah larut, sungguh apes, bathinku.

“Lae, di sini saja, mau pulang, nih”

“Iya, iya” ucapku tergagap seraya menyodorkan beberapa lembar ribuan. Aku benar-benar larut dalam lamunanku. Berjalan menyusur sepinya jalanan Simalingkar. Kudekap buku harian itu dengan erat. Rasanya ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Penasaran menyelimuti hatiku, kenapa buku ini menjadi sangat penting bagi Nantulang Martua. Dan apa pula hubunganya denganku.

 

* * *

Seingatku, Maria memang suka menulis, bahkan ketika perayaan tujuh belasan, puisi epik yang menceritakan patriotisme Boru Lopian mampu mengalirkan banyak air mata pendengarnya bahkan ada yang terisak. Aku menuturkan kisah si Boru Lopian, bagaimana dia berjuang bersama tokoh yang kukagumi Singamangaraja, ayahandanya. Maria menuangkan dalam puisi.

“Bagi masyarakat Sionom Hudon, jenazah pahlawan besar itu tak pernah di bawa Belanda ke Tarutung karena tidak ada dari mereka yang mengenali sosoknya. Penduduk di sana tetap percaya kalau belulang sang Raja masih berada di SionomHudon. Begitulah ceritanya, di desa itu ada tambak, kuburan Singamangaraja. Dan Boru Lopian sendiri tak pernah di temukan jenazahnya, ada yang bilang sudah hanyut dibawa derasnya arus sungai Sibulbulon. Taktik Belanda dengan memperdayai penduduk setempat akhirnya mampu memupus perlawanan Raja itu yang sudah tiga puluh tahun lebih berkobar. Peran penghianat juga sangat berperan, dimana merekalah yang menunjukkan tempat persembunyian Raja itu di tengah belantara SionomHudon. Desa sunyi yang jauh di pelosok ditengah belantara itu tak pernah dilirik orang. Pun hanya untuk menghargai jasanya melindungi orang yang dengan gigih memperjuankan tanah Batak. Aku selalu ingin berkunjung kesana, menemui saksi-saksi bisu perlawanan terhadap penindasan” ujarku, seolah bicara pada diriku sendiri.

Mungkinkah dia menuliskan semua yang dipikirkanya di buku kecil ini?. Aku semakin penasaran ingin tahu apa sebenarnya isi buku ini.

* * *

Sesekali guruh sesekali terdengar, pertanda mau hujan. Akhir-akhir ini, cuaca tak bisa di prediksi. Aku harus cepat-cepat sampai ke rumah. Mataku bertambah awas melihat angkutan umum. Beberapa diantaranya melambaikan tangan menolak tumpangan pertanda mereka sudah mau pulang ke rumah. Air hujan menetes di tubuhku, aku yakin sebentar lagi akan mengguyur kota ini. Ku percepat langkahku menyusuri jalanan yang sepi itu. Tak kuhiraukan peluh yang membasahi baju, aku hanya ingin cepat-cepat sampai ke rumah, dan tak ingin buku yang teramat sangat bermakna ini terguyur hujan. Seolah buku ini lebih berharga daripada tubuh ini yang akan sakit bila kehujanan.

Kurebahkan tubuhku di dipan reot itu, mencari posisi yang pas seperti kebiasaanku saat membaca buku kuliah. Lembar demi lembar perlahan kubuka dan tak ingin terlewatkan sekatapun.

Halaman enam puluh tujuh.

“Sabtu dua puluh juni, akhirnnya sampai juga di kampung halaman ku, udara dingin dan sunyi. Kehidupan akan ku mulai besok, semoga menjadikan segalanya lebih indah. Ku harap suasana di ruang kelas yang baru membuatku betah. Mungkinkah aku bisa melewati hari-hari ini?”.

Baris demi baris pada setiap lembarnya kubaca, tak kutemukan apa yang kucari, tak ada yang spesial. Jujur, aku tak begitu paham soal sastra tulis menulis. Aku hanya pengagum dan penikmat tulisan. Hampir semua lembaran buku harian itu berisi puisi curahan hati. Ah, mungkin setiap orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan hal yang sama, seperti Maria. Beda denganku, setiap permasalahan kuutarakan pada si Gundur, kerbau kami.

“Bayangkan dulu Gundur, Pak Simamora barah besar hanya salah penulisan tanda baca, terlalu bukan?” kataku sambil menyodorkan segenggam rumput kegemaranya. Segera disambarnya dan geleng-geleng kepala. Ah, kerbau saja mengerti perasaanku, kataku dalam hati. Aku tersenyum mengingatnya.

Besok hari terakhir masa orientasi, itu artinya tinggal sehari kesempatanku bisa bersamanya. Aku harus menemukan sesuatu yang bisa membuat rasa penasaranku terobati. Aku menghela nafas panjang. Detak jam dinding terdengar beraturan bak alunan musik dari tape rekoder, seolah berlomba dengan detak jantungku. Perlahan senyap menyelimut rumah kos ini.

Kembali aku membalik lembaran buku bersampul biru muda itu, membacanya dengan seksama.

“Hari demi hari aku bertambah betah di kampung yang sejuk ini. Sahabat-sahabatku menyukaiku, dan satu diantaranya telah mengambil hatiku. Aku menyukainya. Hanya sebatas suka. Itu saja….(untuk saat ini)”.

Aku mengulang kalimat ini beberapa kali. Siapakah gerangan?, seingatku dia tak pernah bercerita kalau ada seseorang menyukainya, bahkan di kampung kami pun, tak ada yang berani mendekatinya. Minder, seperti kata Haposan, si playboy kampung. Siapa yang tak kenal Haposan?, banyak gadis di kampungku bertekuk lutu di hadapanya hanya dengan mendengar alunan suling yang membuat bulu kuduk merinding. Belum lagi suaranya yang bagus. Rasanya hambar bila dia tidak ada saat kami bernyanyi besama di Lapo Pardomuan. Kami sering mengoloknya, dengan menuduhnya menggunakan ilmu pelet di sulingnya.

“Jangankan menyatakan suka, ngomong saja sudah susah dengan bahasa Indonesia yang pas-pasan” kata Marsangkap sambil menirukan bahasa Indonesia logat batak. “Mana diperli kita” imbuhnya. Aku terseyum mengingat masa itu.

Halaman berikutnya.

“Aku tak ingin menceritakan penyakit yang bersarang di tubuhku kepadanya. Tak ingin membagi rasa sakit ini dan membuatnya bersedih. Aku hanya ingin mendengar tawanya yang lepas dan menikmati tatapan matanya yang tajam bercahaya. Dan aku tak ingin dikasihani, itu saja. Mungkin hidupku tak akan lama lagi, tinggal menghitung hari. Bahkan, mungkin tak sempat melewati tahun ini berganti.

Aku merasakan kebahagiaan di akhir perjalananku. Kudapatkan dari dia seorang yang setia menemaniku, menjagaku dan memberikan kebahagiaan, yang mengisi hari-hariku. Gurauanya membuatku selalu gembira menjalani sisa hidup ini. Aku berdoa kepada Tuhan, bila berkenan, aku menutup mata tidak di sini. Aku tak ingin melihatnya bersedih, menangis, bahkan menghantar jasadku keliang kubur. Kelak aku akan menyesalinya bila itu terjadi”.

Aku menghela nafas panjang. Jantungku berdegup kencang. Tak kusangka selama ini ada penyakit yang bersemayam di tubuhnya yang kelihatan sehat. Ah, apakah aku harus menyesali diriku bila selama ini tak tahu apa yang terjadi padanya?. Mataku berkaca-kaca, rasa sedih menyelimuti hatiku. Rasa kantukku hilang seketika. Aku penasaran ingin mengetahui akhir dari buku harian ini. Sejenak kembali masa-masa silam terbayang dipelupukku. Maria paling marah bila seseorang mengambil buku dari dalam tasnya tanpa seijinnya. Aku tidak tahu tentang buku harian ini. Setahuku dia menulis puisi-puisinya di antara lembar-lembar buku pelajarannya. Bahkan bukuku juga jadi korbannya. Sengaja?, aku tidak tahu.

” Bila sinar mentari redup tertutup awan, siapakah yang salah?
Awan?, tidak!. Sebab dia juga hanya mengikut angin, kemana angin berhembus dia akan mengikut dengan pasrah.
Angin?, tidak juga. Angin ada karena ada panas.
Panas?, dia dari matahari.
Itulah rahasia Illahi, semua alam semesta ini sudah diaturkan oleh penciptanya, sama halnya dengan manusia.”

Aku masih ingat betul kalimat-kalimat itu ditulisanya di bukuku dan ternyata ada juga ditulis di buku harian ini.
“Ah, itu kalimat tak bermakna, sebetulnya hanya orang-orang yang mengerti puisilah yang bisa memahaminya” ujarnya. Aku terbahak. Jawaban itu mengingatkanku ketika ku jawab pertanyaannya, kenapa sinus sembilanpuluh harus satu. “Sudah suratan takdir, turuti saja, kalau mau merubah menjadi sepuluh, seratus atau seribu, tanya dulu sama PakJantinus” kataku tanpa, seraya menyebut seorang guru matematika di sekolahku.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Lembar demi lembar, kubaca berulang-ulang. Harus ku akui, sungguh sulit memahami arti sebuah karya sastra yang satu ini.

“Selain ayah, dia satu-satunya pria yang pernah aku peluk. Hari ini, tiba-tiba penyakitku kambuh. Aku berusaha menahan rasa sakit ini. Benar-benar menyiksaku, rasanya mau mati saja, akhirnya aku kalah. Entah, tertidur atau pingsan, aku tak ingat apa-apa. Aku kedinginan. Ternyata aku lelap dalam pelukannya yang hangat. Dia mendekapku dengan erat. Degup jantungnya terasa kencang, nafasnya yang hangat menerpa wajahku. Ya, Tuhan, seandainya dia bukan pria baik?. Aku pasrah, tubuhku melemah. Ternyata, dia pria baik, seperti kata hatiku yang juga berkata seperti itu. Dia menjagaku, ketika aku terlelap. Sejujurnya aku ingin mengiyakan tawaranya untuk menggendongku pulang ke rumah, walau akhirnya harus ku tolak, tak ingin dilihat orang sekampun. Walau badan lemah, aku memaksakan diri untuk berjalan. Karena sikapnya, aku semakin menyukainya, mungkin menyayanginya.”

Tak sadar, aku meneteskan air mata. Benar, ternyata dia yang dimaksud adalah diriku. Lagi-lagi aku mencaci diriku. Maria benar-benar menderita. Kenapa tak menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya? bukankah aku seorang yang cukup dekat denganya?. Aku kagum melihat semangat dan kegigihanya melawan penyakitnya. Mungkin aku sendiri tak sanggup melakukan itu. Dia tak pernah mengeluh, tetap ceria, dan tidak pernah membagi bebannya pada aku dan teman-teman hanya karena tak ingin menyusahkan kami, sahabatnya. Bodohnya diriku yang tak mengetahuinya, percuma aku orang paling dekat denganya.

“Tiga Agustus. Ku ingin memberitahunya, kalau nanti sore aku balik ke Jakarta, tapi kubatalkan, toh tak lebih dari tiga hari aku di sana?. Semoga semua berjalan baik, penyakit ini tidak bertambah parah.

“Duapuluh September. Hari ini aku menjalani operasi bedah otak pertama dari tiga tahap yang harus kulalui. Ya Tuhan, aku ingin sembuh, aku tak ingin meninggal di usiaku yang masih muda ini. Aku masih ingin bersama kedua orang tuaku, berikan aku kesempatan untuk hidup lebih lama. Aku berjanji akan menyerahkan hidupku kepadaMu sepenuhnya bila Kau berkenan memberikan umur panjang. Aku ingin segera bertemu dengan sahabat-sahabatku, khusus dengannya yang telah memberikan ku arti kehidupan. Dan ingin mengulang kembali masa-masa indah itu. Aku meninggalkanya tanpa pamit, semoga dia tidak marah karena aku tak memberi kabar, kuharap dia mengerti”

Sepenggal kalimat dari alinea pertama di halaman akhir buku harian itu. Aku tak sanggup membaca hingga tuntas. Tak malu bila harus menitikkan air mata.

Rintik hujan membasahi bumi. Aku meletakkan buku harian itu dan mencoba memicingkan mata. Semakin kupejamkan, semakin terbayang masa-masa lalu. Bukankah dia sudah pernah memberitahuku walau tidak langsung?.

* * *

Aku teringat ketika mengunjungi Sampuran Sipulak, air terjun yang terkenal di kampungku karena keangkeranya, bahkan sudah dimitoskan macam-macam. Mulai dari ihan batak sebagai penghuninya hingga tempat orang-orang bersemedi. Cerita-cerita itu seolah dibenarkan masyarakat sekitar aliran sungai. Walau hanya memandang dari jauh, aku melihat rasa takjub melihat pemandangan yang terhampar didepanku.
“Ras, kita turun, aku ingin mandi di sungai itu”
“Maria, jalanan licin, tak akan sanggup sampai ke bawah, lihat saja lumutnya, biarkan mereka yang melanjutkan hingga ke bawah. Jangan memaksaku, di sini saja, aku akan menemanimu selama kau menintanya” ujarku, menatapnya tajam. Dia paham sikap kerasku yang satu ini.

Gemuruh air terjun terombang dibawa angin, menjauh, mendekat dan lebih dekat dan menjauh lagi. Terdiam dalam pikiran kami masing-masing.

“Indah bukan?” kataku sembari memandang lepas ke lembah yang menghampar luas didepan sana.
“Apa”
“Melamun?”
“Iya, sedikit.”
“Lihatlah aliran sungai itu, berkelok hingga ke Husor sana. Dibalik keindahanya, tersimpan misteri yang belum terpecahkan hingga kini”
“Ceritakan padaku”
“Ah, tahyul, pasti itu komentarmu”
“Tidak”
“Sungai ini ada penunggunya”
“Iya, ada batu, ikan dan pohon”
“Maksudku mahluk halus. Sama seramnya dengan Salimpotpot di kampung kita, setiap orang yang hanyut susah untuk ditemukan. Malah pernah hingga ke muaranya di Husor”

“Siapa yang mau menghanyutkan diri di sungai ini, orang gila?”
“Bukan”
“Terus?”
“Ada saja orang yang ingin mengakhiri hidupnya. Bukankah ini tempat yang paling tepat dan benar mengakhiri hirup?”
“Maksudmu?”
“Yah, melompat saja ke jurang sana, sudah nyampe” ujarku sambil terbahak, maksudku sampai ke neraka

“Kamu mau melakukan seperti itu?”
“Iya, kalau cintaku ditolak gadis pujaanku”
“Berlebihan. Aneh memang manusia. Hanya karena cinta, hidup yang diberikan Tuhan rela dikorbankan. Sementara ada orang yang minta umur panjang demi cinta. Aku tak mengerti. Aku ingin hidup seribu tahun lalu, untuk orang yang kusayangi”
“Kebanyakan baca buku sastra. Itu yang namanya berlebihan”
“Tidak, itu keinginan hatiku”
“Baguslah”
“Ras, apa kamu pernah menyadari apa arti hidupmu?”
“Tak pernah kupikirkan dan tak mau memikirkanya untuk saat ini, yang harus kulakukan hanya satu, berbuat baik”
“Dan?”
“Aku masih muda dan tak mau memikirkan hal yang sulit-sulit, hidup ini sudah sulit jadi jangan dipersulit supaya yang sulit tidak semakin sulit” kataku berfilsafat.
“Banyak orang yang mencari kehidupan tapi Tuhan menghendaki lain. Dan banyak pula orang menghendaki umur pendek seperti orang yang kau ceritakan menyisakan hidupnya di lembah ini, Tuhan memberikan kehidupan yang nyata. Bukan kah seharusnya Tuhan tak mengijinkanya lahir?”
“Itu namanya takdir”
“Apa kamu percaya takdir, Ras?”
“Kadang iya, kadang tidak. Iya, karena aku ditakdirkan untuk memiliki wajah yang lumayan untuk ukuran kampung kita” ujarku kembali terbahak keras.
“Serius”
“Kenapa?”
“Banyak manusia dipermainkan oleh takdirnya. Bagiku takdir itu adalah misteri kehidupan yang tak akan pernah terungkap”
“Jangan menggunakan kalimat dan bahasa yang susah, aku tak mengerti”
“Umur pendek apa termasuk takdir?”
“Iya, itu sudah digariskan oleh si pemberi kehidupan”
“Apa yang akan kau perbuat bila tahu takdirmu, berumur pendek?”
“Bah!, ngelantur nih pertanyaanya”
“Jawab”
“Hidup itu tak diukur dari seberapa lama dia di dunia ini, tapi nilailah dari kualitas hidupnya. Apa artinya hidup dengan umur panjang bila hanya untuk menyusahkan mahluk hidup lainya?”
“Apa yang akan kamu lakukan bila takdir seseorang yang dekat denganmu adalah berumur pendek?”
“Ah, ada-ada saja pertenyaanmu. Rumondang datang tuh, jangan ngomongin hal seperti ini, dia paling tak suka” ujarku ketika melihat rombongan yang turun ke Namo Sampuran Sipulak muncul satu persatu.
“Serius, jawab dulu” ujar Maria, memaksa.
“Aku akan memberikan kebahagiaan kepadanya, bila perlu memberikan hidupku sepenuhnya asal dia bahagia. Puas?” tanyaku
“Bila aku orang tersebut?”
“Heh!, ini tempat keramat, jangan bicara sembarangan. Kita pulang, sudah sore. Mau ku gendong?” kataku menggodanya lagi
“Apa?”
“Mau kugendong pulang?” kataku lagi dengan mimik serius. Seingatku ini kedua kalinya ku ucapkan kalimat ini.
“Aku hanya mau di gendong orang yang mencintai aku”
“Anggap saja”
“Apa?, tak dengar”
“Gak usah dengar, aku bercanda, ayolah”
“Pernah jatuh cinta, Ras?”
“Belum dan aku takut jatuh cinta, untuk saat ini”
“Kenapa?”
“Apa aku bisa memberikan hal-hal baik pada orang yang kucintai?, aku masih ragu. Cita-citaku masih panjang” ujarku
“Pernah punya pacar?”
“Punya”
“Ya?”
“Kok kaget, kalau aku punya pacar?” tanyaku, ketika melihat perubahan di raut wajahnya
“Namanya si Gundur, kerbau kami satu-satunya, aku selalu curhat denganya” imbuhku
“Gila!” ujarnya, jarinya mendarat di pinggangku, aku meringis.
“Dari bangsa manusia?”
“Tidak, kalau punya pacar, apa masuk akal bila aku selalu menemanimu?”
“Kok nggak ada?”
“Loh, Kok?, tidak boleh?. Setiap diadakan pembagian pacar, aku selalu datang terlambat sehingga tak dapat bagian” jawabku.

Maria cemberut ku perolok seperti itu.

Sampuran Sipulak semakin menjauh kami tinggalkan. Kulangkahkan kakiku mengimbangi langkah Maria yang tertatih. Haposan sepertinya memaklumi keadaan, dia cukup menjaga jarak di depan. Sesekali aku berteriak memanggilnya, supaya tidak berjalan terlalu cepat. Aku teringat pernikahan Jamalo, awal bulan lalu. Bergandengan tangan menuju altar. Mungkin seperti itulah yang kami lakukan. Bedanya, Maria memegang erat tanganku di tengah belantara ketika hari menjelang malam.

* * *

Gemuruh hujan yang mengguyur Padang Bulan terbawa dalam mimpi, seolah adalah gemuruh Sampuran Sipulak. Aku terlelap dan terbuai dalam mimpiku.

Bersambung–ke bagian 4 (penutup)

6 thoughts on “M a r i a (3)

  1. Gabe terbawa suasana au ateh…cerpen mon do maksudhu. Tong ma alani puisi ni si maria i non i. Kwakakakakak…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s