Beranda » Kategori » CERPEN » Maria ( bagian 4 )

Maria ( bagian 4 )

Suaranya mirip raungan, kadang seperti terbatuk, badannya berderit ketika melewati jalan berlubang, itulah Bus Sanggulmas yang memecah keheningan malam. Ini angkutan satu-satunya dari kampung menuju Medan, itupun sekali tiga hari. Sesekali aku terjaga dari tidurku ketika sopir mengerem mendadak, menghindari lobang jalan atau tak kala dia membunyikan klakson. Udara dingin dari jendela disampingku menerpa wajahku. Pun sedikit menggigil, kubiarkan kaca jendela itu tetap terbuka. Aku semakin meringkuk, kucoba untuk memicingkan mata. Entah sudah berapa lama bus ini menyusuri jalan yang berkelok. Aku melongokke depan, ternyata hanya aku dan supir bus yang masih terjaga. Kernek, Lae Sianipar tertidur, meringkuk dekat pintu belakang. Mungkin yang di depan juga sudah pulas, maksudku amaniPantun, kenek kedua,–dia berasal dari tetangga kampung kami.

Bagi kami, mahasiswa, supir bus Sanggulmas itu bak dewa penolong. Kehadirannya di awal bulan selalu kami nantikan. Pada saat itu, uang biaya bulanan dari kampung dititipkan kepada mereka. Itu lebih cepat dibanding pengiriman lewat, Wessel dari Kantor Pos satu-satunya di kampung, tiga atau empat hari, mungkin seminggu. Bahkan, bila liburan tiba, kami para mahasiswa tak perlu bayar ongkos, asal mau jadi kernek. Atau bayar di kampung.

Bila malam seperti ini,–ketika pulang kampung kala musim liburan kuliah tiba– aku menemaninya dengan duduk di samping kemudinya. Tapi kini, tiba-tiba hasrat itu mengobrol saja, sekedar menghilangkan kantuk si supir, hilang begitu saja. Aku benar-benar ingin menyendiri. Ingin hanyut dan terbuai dalam lamunanku. Ada kegagalan dan kesia-siaan dalam misiku tiga hari ini. Beberapa tempat yang kukunjungi bersama Maria dan keluarganya tak mampu mengembalikan ingatannya seperti yang kami harapkan. Mungkin sudah takdirnya akan berakhir begini. Aku tersenyum, mencoba menghibur diri. Hei, kamu itu tak pantas untuk dia?, parhuta-huta dan mahasiswa miskin?. Mungkin benar kata orang sekampung, Maria dan Bonar akan segera menikah sepeninggalan saya. Ada rasa cemburu bila meilhat kedekatan mereka selama tiga hari ini. Ya, aku sudah mengenal Bonar, kemarin ketika mengunjungi rumah Oppung Partangga Batu. Laki-laki ramah, jangkung, atletis dengan kacamata minusnya. Sebuah kartu nama disodorkan kepadaku, Bonar, Consultan Property.

*    *    *

Terkenang akan empat tahun lalu. Persis seperti itulah perlakuan Maria terhadapku. Bergelayut manja di pundak Bonar. Hatiku membara, terbakar rasa cemburu. Aku membuang muka, seolah tak melihat dan tidak tahu apa yang terjadi di hadapanku. Bodoh!, kenapa pikiranku kacau?, aku memaki diriku sendiri.

“Nantulang tentunya tak pernah mardege, bukan?” ucapku menutupi kegugupanku ketika melihat Maria dan Bonar berpegang erat saat menyeberangi gadu-gadu, —pematang sawah yang sempit. Tawa Maria seolah menjadi godam menghantam ulu hatiku. Aku tak mampu beradu pandang denganya, kulihat dia cuek saja, walau kadang ada rasa enggan dan gugup yang ditunjukkan manakala aku melihat mereka tertawa bersama. Ah, Maria, sikap manjamu tak pernah berubah. Bedanya, dulu ia lakukan terhadapku, kini dengan Bonar, paribanmu. Aku sungguh menjadi orang asing baginya. Hanya menjawab pertanyaanku seadanya, tidak lebih.

“Iya, di kampung Nantulang dikerjakan oleh mesin” jawabnya. Sebenarnya itu hanya pertanyaan basa-basi. Bukankah beberapa kali aku menyambangi  dataran rendah, dengan pertanian padinya yang terkenal di kawasan Perdagangan Sumatera Timur?. Pastinya dalam rangka penelitian, namanya juga mahasiswa fakultas pertanian.

Sejenak kami berhenti di batu besar itu, di ujung Aek Sirahar ini adalah sawah kami. Tidak terlalu luas, tapi bisa hasilnya bisa menghidupi kami selama setahun, tanpa membeli beras dari Onan Pakkat. Inong pasti sudah disana, terkaku. Tak kusia-siakan pemandangan indah ini, padi yang menguning yang dihiasi dengan orang-orangan sawah. Sesekali, amporik—sejenis burung pipit—berarak bergerombol terbang rendah diatas kami, mencoba hinggap di juntaian bilur-bilur padi yang kuning kehijauan. Ku dengar teriakan anak-anak menghalau sepasukan amporik ini.

Aku menatap Maria dari jauh, berharap ia mengungkapkan sesuatu tentang kenangan masa lalu. Pasti, dia pasti mengingat sesuatu, aku yakin itu.

“Aku mau tinggal di sini” ucapan Maria cukup mengagetkanku. Akua berharap dia bicara lebih banyak lagi. Jantungku berdegup kencang. Ya, ia sudah mengingatnya, bathinku. Bukankah itu beberapa kali ia sampaikan ketika kami berdua berada persis di tempat di mana ia bersama Bonar berdiri saat ini?.

“Iya, sungguh indah sekali, lihat, lihat awan itu, semakin menebal, menggulung lambat laun menyatu, menuju gunung itu. Apa nama daerah ini, Ampara?, gunung itu?” tanya Bonar tanpa menoleh. Di kampungku, panggilan ampara boleh diucapkan pada orang yang ibunya semarga.

“Penduduk kampung kita menamai Saba Napa, dan itu Gunung Pinapan. Semua sungai-sungai yang melintasi kampung kita, yang kita lewati tadi berasal dari sana. Ada yang aneh, sepertinya air sungai semakin surut. Padahal bukan sedang musim kemarau” jawabku menerangkan.

“Biasanya?” Tanya Bonar, mendekatiku dan menyodorkan sebatang rokok

Santabi,–Maaf, tidak merokok”, ujarku menolak pemberiannya dengan halus.

“Sungai yang kita lewati tadi, Aek Sirahar namanya, sungai terbesar di sini, merupakan penyatuan beberapa sungai dari hulunya sana. Dahulu, sungai ini  kami gunakan untuk arung jeram dengan rakit pohon pisang. Empat tahun berlalu, kini sungai mendangkal. Maria pernah merasakan bagaimana rasanya menaiki rakit pohon pisang itu, Iya kan?” sengaja kutanyakan hal itu pada Maria.

“Maria?” selidik Bonar seraya melihat Maria, meminta jawaban.

“Kapan?” Maria balik bertanya.

“Iya” sahutku pendek. Aku berharap Maria mengiyakan pertanyaan Bonar, ternyata tidak. Aku mencoba mengingat kembali masa itu dengan menceritakan aksi-aksi remaja seumurku di kampung ini. Decak kagum Bonar akan keberanian kami mengarungi sungai yang terjal itu hanya dengan rakit pohon pisang. Tak lupa aku menceritakan kisah, dari mana pohon pisang itu kami curi. Ya, dari kebun Oppung Partangga Batu di hulu Sungai, tepat bersebelahan dengan sawah kami.

*   *   *

Di antara batu besar, ditengah gemuruhnya Aek iSirahar, di bawah rindangnya pohon Pirdot yang menjuntai ke badan sungai, menyusuri sungai hingga ke hulu dengan melompati batu- batu besar. Diujung sana ada namo besar, bundar, tempat yang sunyi dan sepi juga jarang  di kunjungi orang. Namo artinya tempat luas dan dalam di aliran sungai. Selain jauh, juga anker, menurut mereka. Aku tak dapat memastikan seberapa dalam namo itu, tapi bagi kami remaja yang menyukai petualangan, angkernya dan sepinya tempat itu, menjadi tantangan tersendiri. Dari sebuah batu besar di pinggir sungai, yang tingginya dua puluh meter kami melompat, tanpa rasa takut. Sedikit ke hilirnya, berarus deras. Dibibir sungai tertambat rakit pohon pisang yang sudah kami persiapkan dua hari lalu.

“Ras, kenapa sih selalu menolak permintaanku?”

“Menolak dengan alasan keselamatanmu”

“Keselamatan apa?, kalau kalian bisa, kenapa saya tidak?”

“Bukan begitu Maria, kami ini dari kecil hidup bertumbuh di sungai ini. Sungai ini seperti halaman rumah bagi kami. Bahkan, berapa jumlah batu pun, kami tahu. Semua batu-batu besar ini kami namai, dan semua punya pemiliknya, yaitu kami sendiri. Aku tak ingin kamu celaka, Maria”

“Terus, apa hubungan ceritamu dengan ku?. Seolah aku pembawa naas pada kalian, apa kalau setiap orang baru yang datang kesini pasti celaka? dan kalian tak mungkin celaka, begitu?”

“Maksudku, kami sudah tahu dan paham bahaya di sini, sementara kamu baru kali ini”

“Betul, Maria, arusnya deras dan sungainya curam” Marini menimpali

“Atau Maria tunggu di bawah sana?” ikutan Haposan membujuk

“Bisa kamu jaga, toh?” Maria memandangku

“Jadi parorotmu saja sekalian”

“Apa itu parorot?”

“Baby Sitter”

“Iya…mau,…aku jadi bayinya, ayolah, sekali ini saja, masa saya harus menunggu sendirian di batu besarmu ini?, kalau kesambet setan bagaimana, kalau ada ular bagaimana, kalau tiba-tiba aku hanyut, apa kamu bisa menemukanku di sampuran Sipulak-mu itu? “ berondongnya. Semakin banyak pertanyaan yang diajukan membuatku terpojok. Dia selalu menyebut Sipulak itu Sampuranku, karena aku selalu mengagung-agungkan ke angkeranya. Saban hari aku menceritakan indahnya Sipulak dan saban itu pula dia mencibirku. “Pindah saja kesana, tiap hari kamu bisa melihat air terjunmu itu” ucapnya, mungkin dia sudah mulai bosan dengar cerita-cerita Sipulak.

“Duduk saja di batu itu, bila perlu sambil bertapa, nanti kami jemput” kataku sedikit kesal

“Itu ide yang bagus ya?. Sudah, lebih baik pulang saja” seraya balik badan mau pulang, sendiri

“Tunggu, tahu jalan pulang, kan?”

“Tidak”

“Loh”

“Biarin, biar kalian puas”, aku mengejarnya dan menarik tanganya, tak tega membiarkan dia pulang sendirian di harangan–belukar ini.

“Boleh ikut, tapi ada syarat”

“Apa?”

“Jangan mengeluh, nangis, takut, dan capek minta pulang”

“Gampang, ayolah, dah ditungguin tuh” ujarnya seraya berlari kecil menyongsong Lamtiur yang sedari tadi mencak-mencak di sana.

Jugul!. Hei, tunggu, jangan jauh-jauh dariku”

“Apa?, jugul?”

“Nggak, batu itu namanya si Hasior jugul, sudah ratusan tahun berdiam di situ, disuruh pindah tidak mau, itu namanya jugul” ucapku sekenanya.

“Nggak ngerti”

“Biarin, cepat sana, bantuin dorong rakitnya ke tengah sungai” kataku

“Iya parorot, jagain aku yah, awas loh, jangan sampai lecet, atau sampai ada satu pacatpun di kakiku, ku adukan sama namboru

“Bah, jangan sampai mengadu ke inong, ketahuan kau naik rakit di Sirahar ini, habislah aku dimarahi, awas!” kataku mengancam

Ketika musim penghujan tiba, Sirahar meluap, airnya semakin deras dan cocok jadi tempat bermain bagi kami. Lihat, bila  gunung Pinapan gelap tertutup awan hitam, itu tandanya hujan akan segera mengguyur nun jauh di sana. Pun tak hujan, sungai ini bisa saja meluap air dari hulu, kami selalu memastikan di Pinapan tidak hujan. Kadang kami suka ngongkrong di batu besar itu, melihat kepala air yang menerjang. Gemuruhnya seolah  irama music bagi kami. Terjanganya yang dahsyat melabrak apa saja yang dilaluinya. Kami berlari mengikuti hingga jauh. Ah, itu masa lalu, kenangan ketika remaja. Kini, sungaiku, sawahku, batu-besarku, semua menjadi satu dalam satu kata, kenangan.

—-000—-

Besok aku harus kembali ke Medan. Aku sudah memenuhi janjiku kepada Nantulang, pulang demi Maria. Menemaninya menemukan kepingan memori yang hilang dari ingatannya. “Bere, mumpung perkuliahan baru dimulai, mungkin kamu bisa memberikan sedikit waktumu, pulanglah bersama kami, sebab bere yang lebih tahu semuanya tentang Maria di kampung”.

Aku mengangguk lemah, mengiyakan. Mungkin tiga hari dari seminggu yang aku janjikan.  Aku mencari alasan, membantu amang dan inong mardege di hauma bila orang menanyakan kepulanganku. Bukankah sekarang sedang musim panen?. Naik bus seperti biasa mungkin pilihan terbaik dibanding ikut  bersama Tulang Martua. Pun mereka sudah menawarkan. Mungkin sudah tiga hari Tulang Martua di dusun kami, ketika aku menginjakkan kaki di sini. Itu senga. Tak ingin kepulanganku di kaitkan dengan kehadiran Maria kembali di sana.

Desas-desus di seantero kampung, AmaniMaria, Tulang Martua, pulang kampung karena berencana menikahkan boru panggoarannya. Menikahkan Maria dengan Bonar, paribannya dari Medan yang pulang bersama mereka.

Entah, sengaja atau tidak, Haposan menyanyikan lagu ini ketika melihatku berjalan gontai menaiki anak tangga Lapo Pardomuan, senja menjelang malam yang gerimis. Aku melihatnya senyum penuh arti ketika menyanyikannya. Petikan gitarnya tak berhenti, ketika menggeser duduknya.

Nang pe naung muli ho ito hasian, Nang pe dao ho sian ahu.

Anggo rohangku, sai hot do i tu ho. Sahat rodi na lao mate au

Manghirim au di harorom hasian, Manghirimirim au di janji

Nunga  martaon au paima-ima ho,Surat sambikbik pe so ro

Sai, holan nama marsak au ito, Sipata sai ro do tu nippingku bohimi

Maria, taringot au naung salpu I, Maria, sega nai pingkiran hi, marningot ho

Maria, didia ho?

Aku menantikan mereka, selesai melantunkan lagu yang membuatku seolah jadi tertuduh. Ku tuangkan tuak dari teko ke gelas yang baru saja disodorkan OppuPardomuan boru, pemilik lapo. Setengah gelas, cukup. Diseberang sana, amaniMarsangkot sibuk dengan papan caturnya. Dari dulu, tak berubah kebiasaannya. Dari mulai papan catur itu masih baru, hingga kini tinggal papan tripleksnya saja, mereka masih tetap pakai.

Ada yang lucu, mungkin juga bodoh atau apalah defenisinya. Saban sore, amanSangkot menyetor Tuak, hasil agatan-olahanya ke lapo Pardomuan dengan harga seribu perak per botolnya. Dan anehnya, dia minum tuak di sana dan membayar seribu limaratus rupiah perbotolnya. Dia membeli tuaknya sendiri dengan harga mahal. Ah, kalau minum tuak sendirian di rumah tidak lebih baik bila di Lapo ini, kilahnya. Mungkin dialah yang benar, orang lain yang salah.

Lawannya main catur, amaniJahutur. Dia lebih aneh lagi. Seberapa banyakpun tuak masuk ke perutnya, takkan pernah mabuk. Dia hanya mabuk ketika melihat pohon aren. Bahkan ketika orang-orang sekitarnya ngomong soal tuak, dia bisa mabuk.

Di kampung kami, minum tuak di sore hari adalah hal yang lumrah, lihat saja jidat amaniJahutur itu, bukan karena berpikir bagamana menambah income keluarga, tak lebih karena tuak.

“Betul cerita itu?”

Aku mendelik

“Maria mau menikah” Haposan menjawab sendiri pertanyaanya

“Kalau iya, kenapa dan kalau tidak, kenapa juga?”

“Kisah cintamu seperti sinetron tivi, berliku. Cocok difilimkan. Kamu sedang patah hati”

“Patah hati?, sok tahu, kalau mau patah hati, bukankah seharusnya dari dulu. Dan Maria bukan kekasihku” senyum penuh makna. Benarkah aku sedang patah hati?, kalau tidak, kenapa ada easa cemburu ketika Maria bermanja dengan Bonar?. Benar kata Haposan, kisahku berliku.

“Aku tahu dari sorot matamu, ketika kau memandangnya. Ada cinta di matamu, kawan, tak usah kau pungkiri itu. Jangan menyebutku, Jatorop, mantan play boy walaupun hanya cap kampak. Lae menyukainya, itu fakta dan lae tak pernah mengutarakan itu. Itu juga fakta. Satu lagi, lae sedang patah hati, fakta ketiga. Tapi benar, dia mau menikah, bukan?, paribannya calon suaminya?” Jatorop menimpali, yang sedari tadi asyik dengan gitarnya

“Hei, sejak kapan kapan kalian jadi penggosip nyambi jadi filsuf, ada yang salah di otak kalian” ujarku

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Syukurlah Lae tidak mengucapkannya”

“Kenapa?”

“Pasti ditolak, ha-ha-ha” Haposan terbahak

“Iya, mana mungkin seorang parmahan mendapatkan cinta Maria” ujar Hottua, yang sedari tadi sibuk dengan sulingnya.

Kami tertawa.

“Cinta itu anugerah, maka berbahagialah, sebab kita sengsara bila tak punya cinta” ujar Haposan lagi seraya memetik gitarnya menirukan Iwan Fals. Itu syair lagunya.

“Tapi kalau Lae mau, kami bisa bantu” kata Rusdin sahabat lamaku, seorang yang sangat  mempercayai hal-hal gaib dan mistis. Termasuk ilmu pellet, parmanison, pitonggam dan sipalakku mangan, entah apalagi namanya.

“Bantu?, kau bilang bantu?. Bapaknya si Roida saja tak bisa kau taklukkan, malah membantuku. Kau pikir aku tidak tahu ceritamu, gimana dia mengejar mu hingga ke tengah sawah, bawa golok, mengusirmu dari rumahnya?”

“Ha—ha—ha “ tawa kami pecah seketika, mengingat cerita itu.

“Betul Lae, mungkin Lae ini lupa mengantongi pitonggamnya, atau mungkin saja pitonggam amaniRoida lebih tinggi, tak mempan”

“Mau pinjam parmanison ku, Lae?” ujar Rusdin dengan mimik serius, seolah merogoh kantong belakangnya.

“Ah, marnipi jonjong lae?—Ngigau lae?, taklukkan dulu siRoida, baru kami percaya parmanisonmu itu” kata Haposan

“Munkin parmanison mu itu buatan China, Lae, coba buatan Jepang, pasti lebih manjur” kataku.

Kami semakin tertawa keras.  Mungkin bukan raganya lagi yang tertawa, tapi tuak dua teko besar yang menyatu dalam darah para penikmat tuak ini. Malam semakin dingin, lolongan anjing terdengar menakutkan. Satu persatu kerlap-kerlip lampu togok penerangan rumah yang jauh disana, menghilang, pertanda pemiliknya sudah lelap.

Sesekali gelak tawa kami memecahkan keheningan malam. Rusdin menceritakan homang si penyasar manusia, ketika lolongan anjing terdengar di tengah pekatnya malam.

“Sudah datang” kata Jatolhas

“Dia melihat homang

“Ngeri juga”

“Apanya yang datang?” tanyaku

“Kode alamnya”

“Bah, apa?”

“Tak kau dengar lolongan itu?”

“Iya, lolongan anjing, tak mungkin lolongan kuda” kataku

“Itulah kode alamnya, carilah di ereherek—buku tafsir mimpi, homang namanyakata Jatolhas sembari tergelak. Riuh, aku dikerjai.

Aku menikmati malam ini, rasanya derita bathinku sirna seketika. Silih berganti lagu-lagu batak kami senandungkan. Hangatnya tubuh karena mereguk tuak takkasan . Mengalahkan hawa dingin di lembah Sibambanon ini. Nun jauh di sana, gemercik Aek Sirahar terdengar timbul tenggelam dibawa hembusan angin. Sepintas mirip desauan nafas manusia, berpadu dengan desiran angin mirip seperti siulan.  Aku selalu menikmati suasana ini setiap ada liburan sekolah. Aku juga pernah berkata, bila kelak aku tua dan meninggal pintaku harus dikuburkan di dusun yang sunyi ini.

“Kapan mau dikuburkan, Ras?, jangan lupa mengundang kalau mau meninggal” ujar Maria. Dia paling tidak suka kalau saya membicarakan kematian.  Wajahnya cemberut.

“Nanti, bila tiba waktuku untuk itu, pasti terjadi”

“Sekarang saja?”

“Jangan, masih terlalu muda, dan…”

“Dan apa?”

“Aku belum puas memandangi wajahmu yang cantik jelita itu dan menikmati senyuman mautmu yang membuatku susah tidur”

“Sudah ketularan jadi penggombal seperti Haposan”

“Tahu  dari mana Haposan itu penggombal wanita, kamu pernah di gombal?”

“Tidak, kata teman-teman”

“Aku  tidak seperti dia”

“Iya, tidak seperti dia, tapi lebih dari dia”

Nggak. Ingat!, aku tidak memujimu, aku memuji Tuhan yang menciptakanmu, dalam bayangku, aku berpikir, Dia begitu telaten dan serius kala menciptakanmu, sehingga hasil ciptaanya begitu sempurna yaitu kecantikanmu. Sementara ketika menciptaku, seolah Dia buru-buru, hasilnya?, pas-pasan seperti diriku ini”

“Jangan mempermainkan Tuhan”

“Tidak, aku tak berani”

“Tadi itu”

“Maaf, tapi memang aku sedang menikmati kecantikan dan keindahan ciptaan Tuhan yang ada dalam dirimu, Maria. Jadi saya belum mau mati sekarang, tapi kalau harus mati, aku ingin membawa fotomu di jasadku, supaya setiap saat aku bisa melihatmu”

“Heh, benar-benar sudah jadi saudara kembarnya Haposan”

“Beda, kalau kamu sendiri bagaimana?”

“Aku juga belum mau mati”

“Ha-ha-ha, sama dong, bedanya hanya di motivasi untuk hidup”

“Iya, aku bahagia tinggal di dusun ini, kampung ayahku”

“Bahagia?, tidak salah dengar?”

“Kenapa?”

“Aneh, berduyun orang ke kota karena tak bahagia di dusun ini, eh…malah sebaliknya, apa kata dunia?”

“Bukan kah kamu baru bilang, setiap orang berbeda motivasi, dan apa saya salah bila kukatakan aku bahagia di dusun ini?”

“Tidak, tidak, terimakasih atas kesediannya tinggak di dusun kami” ucapku dengan mimic serius.

“Dusun ini juga kampungku, Ras. Ayah lahir dan besar disini”

“Mungkin juga akan dikuburkan disini kalau sudah meninggal nanti, semoga tulang panjang umur. Tak kau lihat tambak-tambak dipinggir hutan sana?, bahkan di dekat Jembatan Salimpotpot itu?. Ini sudah jadi kebiasaan orang kota, pulang kampung ketika sudah jadi tanah. Tak bisa kubayangkan, lima puluh tahun lagi, dusun ini berubah jadi kuburan umum dengan tambak-tambaknya” kataku

“Ras, kamu menyalahkan para perantau?”

“Sudahlah, aku pulang, sudah larut, besok sekolah, jangan terlambat. Eh, ijinkan aku menatap beningnya matamu sekali lagi, Maria, supaya aku bisa tidur nyenyak malam ini. Siapa tahu aku benar-benar mati malam ini, sehingga aku bisa mengenangmu di alam sana. Kecantikanmu sempurna Maria” godaku segera bangkit, kulihat tanganya sudah bergerak hendak memukulku. Aku segera beranjak dari teras rumah Oppung Partangga Batu.

Aku terseyum kecut mengingatnya

*    *    *

 

Bersambung…Maria Lima

5 thoughts on “Maria ( bagian 4 )

  1. Bah, kali ini Maria 4 langsung tancap gas 30 halaman. Udah gitu masih berrsambung ke Maria 5 .



    Gambar ni air terjun disia do i? Adong do hubunganna tu si Maria i?

    regards,

  2. Hurimpu naung Sae cerita na i amang, bersambung dope hape.
    Tamba penasaran iba bah.
    Heheheee.
    Di paima amang Maria selanjutna.
    Horas.

  3. maria 1-4 dah selesai kubaca lae..

    klw maria 5 dst dah kluar kah lae..??
    klw udah, dmn aku bs baca lae..
    penasaran aku..😀

    mauliate..:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s