Beranda » Kategori » HATA SO PISIK » Maria – 5 ( penutup )

Maria – 5 ( penutup )

Kucoba pejamkan mata.
Sulit, sangat sulit, pikiranku kacau, entah kemana. Di bawah temaran lampu bus, kuraih tas bututku. Kutimang sebentar, lalu mengeluarkan sebuah bku, buku harian Maria. Aku ragu memulainya. Mungkin sekedar ingin tahu atau mengulang membacanya dari awal, atau sekedar menghibur diri, menghabiskan sunyinya malam. Derit badan bus yang kadang oleng tiba-tiba membuyarkan hasratku untuk membaca, sejenak aku melongok keluar memastikan apa yang terjadi. Kembali ku meringsut dipojok deretan bangku tengah bus besar itu.

Aku mencoba mereka, kenapa buku ini diberikan lagi kepadaku. Sebagai kenang-kenangan karena dia mau menikah?. Tanpa  pesan, sedikitpun. Aku memberikan buku itu ketika berkunjung ke rumah mereka, kala mengabulkan permintaan Nantulang menemani mereka di kampung. Kini ada di tanganku, kembali.

Halaman demi halaman, ku buka dan kubaca dengan perlahan di antara remangnya malam. Ini kali kedua aku membacanya. Anehnya tidak ada rasa bosan.

Mungkin ini sudah takdir dan akhir kisah cinta, yang tak pernah kuucapkan. Aku sungguh menyesalinya, memendam cinta tanpa pernah mengucapkanya. Biarlah buku ini menjadi saksi bisu bahwa Maria pernah menyukaiku dan aku pernah berharga baginya.

Ada tulisan baru di halaman akhir yang belum pernah kubaca. Ya, dia menulisnya kemarin, tanggal penulisan persis. Aku penasaran, sebab ada namaku tertera. Jantungku berdegup kencang, aku mereka-reka, ini adalah undangan atau mungkin pemberitahuan pernikahanya. Atau mungkin ungkapan hatinya kepada Bonar?.

*    *    *

Tiga hari sudah, aku menunggunya. Menunggu dengan perasaan was-was, harap-harap cemas, bak seorang bapak yang sedang menunggu kelahiran putranya. Detak jantungku menjadi tidak karuan, dan gelisah semakin menggila ketika seorang jauh disana berjalan mendekat. Ah, ternyata bukan. Bukan dia!.

Aku belum pernah merasakan hal seperti ini. Keringat dingin menjalari tubuhku, pun aku berada di tempat yang sedikit terhalang dari hujaman sinar mentar1, dibawah naungan rindangnya sawit.

Sore menindih siang yang panas menyengat. Berharap sore ini lebih sejuk, tapi rasanya tak ada bedanya keduanya. Baik siang, ataupun sore, sama saja. Panas!. Beberapa kali, aku harus menggeser dudukku, menghindari sengatan mentari sore yang menerpaku lewat celah daun sawit. Mataku nanar memandang jauh kedepan, tidak menghirau silaunya mentari sore. Berharap seseorang yang sedang ku tunggu ada di sana.

Aku mencoba merangkai kata demi kata, yang tepat, menjadi seuntai kalimat pembuka, seandainya dia sudah berada dihadapanku.

“Selamat sore, Maria. Apa kabar hari ini, bagaimana kuliahmu?, sudahkah perkuliahan dimuali dengan normal?”. Ah, itu terlalu formil.

Seperti Pak Ginting ketika memulai perkuliahan, Selamat pagi, hari ini kita  memulai pelajaran dengan topik bla..bla..bla. Hei, kamu tidak sedang lomba mengarang narasi tingkat es em pe atau lomba membuat pidato dengan segala bahasa formilnya, umpat bathinku. Atau sedang membuat laporan hasil praktek lapangan yang lebih mengedepankan bahasa ilmiah, bukan?.

Benar, kupikir satu kata “Hai” juga sudah cukup kalau hanya untuk menyapa. Aku bimbang, bukankah kata itu juga kuucapkan pada siapa pada yang lewat di depan mataku?, bahkan kepada Waruwu, Nias, lelaki setengah abad penarik becak langgananku kala musim hujan?.

Desiran angin sore menghempas daun sawit, kadang perlahan, lalu tiba-tiba menerjang bak ombak menghantam karang. Kadang sepoi, kadang seperti bersiul. Juga tidak bosan-bosan mempermaikan rambutku yang menggondrong. Kubiarkan tergerai menutupi wajahku. Sesekali kurapikan. Kemudian, ku angkat gelas di hadapanku, ya, ini gelas keempat es kelapa muda kegemaranku. Kuangkat, hendak reguk isinya, tidak jadi, aku meletakkanya kembali. Lalu kualihkan pandanganku ke sana. Entah, sebenarnya aku haus atau tidak?. Atau grogiku sudah sampai ke tahap memprihatinkan sehingga sarat-sarafku sedikit tidak terkontrol?, bukan sedikit, tapi semua. Bukankah kakiku juga melakukan hal bodoh?. Aku bangkit, lalu duduk lagi, bangkit lagi, duduk, bangkit dan berjalan empat langkah dan kembali lagi, duduk, gelisah, seperti ayam hendak bertelor.

Tanganku juga berlaku sama, selain sering mengangkat gelas, jemariku bermain mengetuk berirama meja Bang Jon yang terbuat dari papan tripleks, sehingga suaranya nyaring, menarik perhatiannya. Kadang aku menulis beberapa kata yang dengan jari telunjukku, angka, huruf, kata, kalimat. Walau lebih banyak menulis nama Maria. Setelah menulis, gelasku kuangkat lagi, dan kureguk isinya. Kumainkan air, keringat gelas yang meleleh ke meja, lagi-lagi menuliskan kata, Maria.

Lagi-lagi ku mencoba menyusun sebuah kalimat pembuka untuk menyapanya. Kubayangkan lagi, Maria ada di hadapanku.

“Mau pulang, Maria?”.

Ya, iyalah, kan sudah sore, bahkan sebentar lagi gelap. Pertanyaan aneh.  Bahkan Bang Jon, si penjual kelapa muda yang sedari tadi memperhatikanku sudah siap-siap, pulang!. Sudah tahu mau pulang, kok ditanya lagi?, apa tidak ada pertanyaan yang lebih bagus dari pertanyaan itu?.

Basi nggak, sih, pertanyaan seperti itu?. Menanyakan seseorang mau pulang atau tidak sementara kita tahu, memang benar dia hendak pulang. Retorik!, tak perlu jawaban.

Lihat, mentari sore sudah menguning, bahkan memerah, itu tandanya ia akan ditelan gelapnya malam.

Atau, “Dek, jalan sendiri?, boleh abang antar pulang?”. Lagi-lagi aku menggerutu, memaki ketololanku. Jalan sendiri?. Yang pasti dia tidak berjalan sendiri. Sore menjelang malam begini, sendirian?. Dia bersama teman-temanya, lalu temannya bukan manusia?. Dan lagi, dia bukan adekku, bahkan umur kami sama. Lalu di antar pakai apa?, sepertinya lebih tepat kalau kukatakan –boleh aku temani pulang?.  Itu juga pertanyaan basabasi.

Seingatku, aku tak pernah gugup seperti sekarang ini ketika hendak menyapanya?.

Dulu, mulutku dengan ringannya nyerocos, menyapanya. Pagi, siang, malam, setiap saat aku selalu menggodanya, senang melihat wajahnya yang cantik berubah cemberut, seperti hendak menangis. Bila sudah cemberut, muka ditekuk,dia tambah cantik dan menarik, menurut pengamatanku.  “Maria, kamu tahu mangapa mentari belum bersinar padahal sudah jam tujuh pagi?, lihat itu, dia masih bersembunyi di punggung Pinapan” ujarku seraya menunjuk ke Pinapan.
“Mana ku kutahu?”
“Mau tahu?”
Nggak
“Ya sudah, siapa yang rugi”
“Ayo, katakan atau ini ke punggungmu?” Maria paling tidak senang dibuat penasaran, seraya menunjukkan kepalan tanganya yang mungil, dan lenganya yang putih dan berbulu halus. Darahku selalu tersirap jantungku terasa copot setiap kali bersentuhan dengannya. Belum lagi bila melihat bulu halus di sekitar alis, hingga bulu halus di atas bibirnya yang mirip kumis. Membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Aku hanya mampu memujinya dalam hati, alamak, cantik sekali. Aku sering mengoloknya sebagai perempuan berambut lebat. Diam-diam, aku sering memperhatikan wajahnya, yang membuat jantungku semakin berdebar tidak karuan, kadang seperti berhenti. Bahkan aku tak dapat menutupi kegerahan yang menyelimuti wajahku ketika kepergok sedang menikmati wajahnya.  Mata kami beradu, lalu aku menunduk, dalam.

“Itu karena malu”
“Malu?, matahari malu?, tak salah dengar, istilah dari mana?”
“Iya Maria.  Matahari malu menampakkan dirinya karena sinarnya kalah dengan sinar matamu yang indah itu”.
“Basi!” ujarnya kesal, merasa kuperolok. Wajahnya merona mendengar ucapanku, tak bisa disembunyikan. Walau kepalan tanganya yang mungil akhirnya mendarat juga di punggungku, ditambah cubitan yang menyakitkan itu bersarang di pinggangku, aku tak menghiraukanya. Aku tak menghitungnya berapa kali dia memukulku. Sering, bahkan.\

Atau ketika melewati pematang.

“Maria, ada sebait puisi dari buku sastra yang pernah kubaca, aku ingin membacakannya untukmu, mau dengar?”
“Boleh, tapi harus benar, jangan asal mengarang” ujarnya. Dia pasti ragu akan kemampuanku membaca puisi, dia tahu itu.
“Iya, serius, ini sajak karangan AmaniPiongot” kataku lalu terbahak

Dia tersenyum, sudah merasa kalau sesuatu yang akan ku ucapkan hanyalah kebohongan, atau plesetan semata.
“Betismu bagai bunting padi, alismu bagai silopak yang beriring, wajahmu bagai rembulan kesiangan, sinar matamu mengalahkan mentari pagi yang bertengger di Pinapan, dan suaramu bagaikan desahan Sampuran Sipulak”
“Kacau, belajar sastra dari mana?, Sial, nilaimu nol besar” ujarnya seraya mengambil kerikil hendak melemparku. Aku menjauh.

Atau, ketika ku datang ke rumahnya sekedar belajar bersama, pinjam buku, hingga meminjam andurinya Oppung Partangga Batu, ketika inong hendak menampi beras.

“Dingin, ngga?”
“Iya nih, menusuk hingga ke tulang, sepertinya malam ini akan hujan”
“Aku tak merasa dingin”
“Kok bisa?”
“Iya, sebab kamu di sampingku, tatapan matamu yang hangat melindungiku dari hawa dingin” ujarku. Buku pelajaran yang sedang dipegangnya, melayang seketika. Aku mengelak, senyum kemenangan terukir di bibirku. Biasanya itu menjadi awal pertengkaran bagi kami.

“Sana, Pulang, mengganggu orang saja” ujarnya.
“Bilang aja senang ku goda” ujarku sekenanya. Beruntung, cahaya lampu listrik yang redup itu mampu menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Atau ketika ketemu di depan rumahnya kala hendak ke sekolah, ucapanku lancar saja bilang “Maria, kalau bisa kupindahkan sekolah itu sejauh duapuluh kilometer, akan kulakukan”

“Bodoh, ini sudah dekat, enak. Kenapa sih?
“Supaya aku bisa berlama-lama berjalan di sampingmu, rasanya seperti berjalan di sorga dengan bidadarinya” ujarku dan segera berlari, menghindari cubitannya.

Kuhitung, sudah limapuluh kali, bahkan lebih aku melirik jam tangantuaku ini. Melirik jam, berdiri, lalu duduk lagi, mengangkat gelas, tidak jadi meminum, meletakkan kembali, duduk sebentar, buka buku seolah membaca di keremangan sore, ku tutup lagi, lalu berdiri lagi, lirik jam tangan, garuk-garuk kepala, dan bertanya “Mau tutup, Bang?”. Bang Jon menggeleng, lama. Hanya gelengan itu sebagai jawaban.  Setelah itu membisu, tangannya sibuk membereskan dagangannya. Mungkin dia bosan melihatku yang sedang gelisah, atau mendengar pertanyaa yang sama kutanyakan untuk kesekian kali.

“Bang Jon, satu lagi”
“Sudah habis, tinggal es-batunya”
“Itu pun jadilah”
Nunggu siapa, Bang?” ujarnya seraya menyodorkan gelas berisi es batu. Sebongkah besar. Ya, benar-benar es batu. Sial!, gerutuku. Aku menganggkat gelas itu dan gantian memandangnya. Gelas berisi bongkahan es batu dan Bang Jon. Meminta penjelasan, serius apa tidak memberikan bongkahan es ini kepadaku. Dia tersenyum dan mengangkat bahunya.

“Mau tahu saja”
“Bukan mau tahu, kalau dirasa tak perlu dijawab, ya sudah” ujarnya datar
“Seseorang, junior, perempuan, cantik, rambutnya sebahu, lesung pipit, ada tahilalat di dekat alis kanannya”
“Lengkap. Kalau tidak perempuan, dan tidak cantik pasti tidak Abang tunggu”
“Hei, Bang Jon, berfilsafat?”
“Bukan, aneh saja. Ini hari ke empat abang di sini, wajar dong, aku tanya. Atau abang sengaja pulang malam-malam menghindari ibu kost menagih uang sewa?” ujarnya asal.
“Hei, pernah lihat gadis yang kumaksud?”
“Perempuan muda, cantik, rambutnya rambutnya sebahu, lesung pipit, ada, sering lewat, banyak” ujar Bang Jon
“Tapi, tida ada tahilalat di dekat alis kanannya, apa lalatnya nggak buang kotoran di situ lagi?” imbuhnya, membuatku jengkel, walau ingin tertawa mendengar jawabanya.

“Ngaco. Lihat ini” ujarku seraya menyodorkan sebuah foto kecil yang kuambil dari buku harian Maria.

“Gadis ini?, setahuku sudah pulang, siang tadi, dijemput seseorang, naik mobil warna merah. Yang kemput orangnya tinggi, tidak kurus dan tidak terlalu gemuk, kaca mata, ganteng, maksudku lebih ganteng dari abang. Ya persis, setengah jam sebelum abang pesan Es Kelapa muda gelas pertama, dia sudah pulang” ujarnya nyerocos tak karuan.

“Sudah, sudah….” Aku memotong ucapanya. Itu pasti Bonar, paribannya.

Aku meninggalkanya yang sedang bengong, sesekali dia menatap gelas berisi bongkahan es batu yang belum mencair. Bingung.

Kakiku gontai menyusuri jalanan lengang di remangnya sore itu. Perlahan malam menindih sore, menang dan langit mulai menghitam. Sunyi mulai menyelimuti kampus ini. Derit roda gerobak dagangan terdengar ketika didorong pemiliknya mengejutkanku. Aku mengalah, berjalan dipinggir trotoar halaman kampus yang semakin sepi.

Di seberang sana, masih terdengar anak-anak kampung sekitar kampus main basket. Suaranya masih riuh.

Kuhempaskan tubuhku di dipan. Diam sejenak. Lalu kutanggalkan bajuku dan kukibaskan ke tubuhku, menyeka keringat  yang mengalir di sekujur badanku.

Ini hari ke empat aku menyia-nyiakan waktuku duduk, nongkrong, berdiam di sana. Berharap dia lewat. Sebenarnya bisa saja ku datangi kelas itu, tapi entah kenapa nyaliku ciut. Atau bisa saja aku titip pesan pada teman sekelasnya. Lagi-lagi nyaliku ciut, tidak percaya diri, gengsi?, entah apa lagi istilah yang pas untuk sikapku ini.

“Sudah ketemu?, gimana? Apa saja yang kalian bicarakan, dia sudah ingat?”  Andilo mencercaku dengan pertanyaan bertubi, membuatku kaget. Dia tiba-tiba saja sudah duduk di kursi dihadapanku.

“Apa?”
“Sudah bertemu Maria?”
“Sudah, tapi masih jejak kakinya” ucapku ketus
“Serius, gimana ceritanya?”
“Cerita jejak kakinya?”
“?!”
“Aku belum bertemu, mungkin belum jodoh”
“Berlebihan, tambah lagi, beda prinsip”
Aku terkekeh mendengar ucapannya, menirukan gaya pesohor di televiisi

“Mungkin aku harus ke rumahnya”
“Bukankah sudah kusarankan tiga hari yang lalu”
“Aku baru menyadari ucapanmu”
“Ucapanku selalu benar, terlebih kepada orang yang sedang pikirannya kacau, sepertimu”
“Sialan”
“Perlu ku temani ke sana?”
“Tak perlu, nanti kamu bikin malu, minta makan malam segala, atau minta ongkos pulang dari Tulang Martua”
Andilo tergelak. Melengos pergi meninggalkanku, setelah pamit.

 

 

*    *    *

Akhirnya.

Ku sempatkan berjalan melewati ruangan yang biasanya dipakai mahasiswa baru untuk matakuliah umum. Aku memberanikan diri menemuinya. Dan berharap Maria ada di sana. Walau tak berharap banyak, tapi berharap sedikit. Sedikit juga tidak apa-apa, namanya juga usaha. Peluang lima persenpun kuharap jadi kenyataan.

Sesosok yang ku tunggu, akhirnya muncul di ujung koridor, sana. Berjalan dengan santai, mendekap buku dengan erat, menyandang tas dengan menyelempang di badannya. Rambutnya yang hitam legam bagaikan mayang terurai dibiarkan jatuh begitu saja. Sesekali wajahnya menunduk, dan tatapan yang monoton, terlihat kalau sipemilik wajah itu seorang yang amat tenang dan harmonis. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya menghentikan langkah, membalikkan badan, memperhatikannya bahkan bersiul menggodanya, mungkin takjub, terpesona, melihat kecantikannya.

Mungkin dia yang melihatku lebih dulu. Dia semakin dekat, aku grogi dan menghentikan langkahku, menunggu hingga dia berada tepat di depanku. Ada senyum di wajahnya, manis sekali. Entah, aku tak bisa menterjemahkan senyumanya. Aku sedikit gugup. Entah kalimat apa yang pertama akan ku ucapkan. Kini dia sudah di hadapanku, ku merasa koridor kampus tempatku berdiri ini semakin sempit, menghimpit badanku. Atau bahkan seolah atap banguan berlantai tujuh ini roboh menindih tubuhku yang lemah.

“Mencariku, bukan?” Maria menyapa, nadanya datar walau di ujung kalimatnya agak menekan.
“Iya,…Iya Dek,…iya Maria, aku mencarimu..ng…” aku terbata. Maria terseyum, semakin manis, tak sanggup beradu pandang dengannya.
“Dek?, maksudnya adek?, coba sekali ulang sekali lagi?, tak dengar?” ujarnya memberondong, senyumnya masih menghias wajahnya.

“Aku tahu dari Bang Jon, tadi pagi dia memanggilku dan memberitahu, kamu sudah empat hari menungguku di sana”
Kamu?, dia menyebutku dengan Kamu?, bukan Bang—sebagai senior, bukan juga Ras, panggilan yang tidak resmi kurestui ketika SMA dulu. Nama panggilan ku di rumah si Horas. Bahkan semua orang sekampung memanggil demikian, lalu Maria menyingkatnya jadi ‘Ras, ya Ras saja. Lebih pendek, sipel dan lumayan enak di dengar, kilahnya, dulu. Aku tak mendebat, apalah arti sebuah nama. Yang penting jangan di perolok.

“Kenal Bang Jon? penjual es kelapa muda itu?”
“Iya, langgananku, beberapa kali duduk disana, bersama teman”

Maria suka sekali dengan air kelapa muda. Awalnya dia tidak mau meminumnya. Tidak hygienists, katanya. Aku tidak memaksanya. Kunikmati sendiri kelapa muda di tanganku, yang baru kupetik. Pohonnya tepat di samping gubuk ayah, tak terlalu tinggi. Mungkin dilihatnya aku begitu menikmatinya, dia penasaran. Dari satu sendok, seteguk, hingga minta dipetik beberapa butir lagi. Tiga butir. Aku memandangi ekspresisnya ketika menenggak langsung dari batoknya. Lagi-lagi darahku berdesir melihatnya. Wajahnya yang cantik, alisnya yang tembal, lehernya yang putih jenjang dan bulu halus di lenganya juga jemarinya yang lentik. Dia tak menyadari, aku tengah memperhatikanya. Cuek.

Lalu batok kelapa segera kubuang jauh-jauh. Ayah pasti sangat marah jika melihat ada yang mengambil kelapa muda dari pohon kesayangannya itu.

“Ya, aku memang di sana, menunggumu, kalau ada waktumu aku ingin bicara”
“Bicara saja”
“Bukan di sini”
“Sama saja bukan?”
“Di tempat lain saja, tak harus hari ini, kapan ada waktumu”
“Hari ini tidak ada, mungkin besok, mungkin minggu depan, atau …” dia tak menyelesaikan ucapanya

“Kamu sibuk?”, kini aku yang menyapanya dengan sebutan “kamu”.

Maria mempermainkan sebuah pena di tanganya dengan memukul-mukulkan ke buku tebal yang ada dalam pelukanya. Kadang berirama, kadang asal memukul.

“Bisa ya, bisa tidak, tergantung”
“Tergantung apa?”
“Hei, Ras…serius amat?, mau ngomong soal apa?”
Aku tercekat. Tadi dia memanggilku dengan Kamu, sekarang sudah ‘Ras.

“Tak terlalu perlu, tapi penting. Juga tidak terlalu terburu-buru tapi kalau bisa secepatnya”
“Ah, berbelit, mau ngomong apa, maunya kapan?, siapa tahu ada sisa waktuku untukmu”
Bah!. Alamak!. Kejam sekali

“Ya sudah, nanti-nanti saja, sesempatnya kamu saja, sekalian mau mengembalikan buku ini” ujarku, seraya merogoh tasku
Maria mematung. Membisu. Sedikit terkejut melihat buku itu.
Aku menyodorkan buku hariannya.

“Ini” kataku, perlahan seperti berbisik, tapi aku yakin dia mendengarnya. Tanganku masih menyodorkan buku itu, lagi.

Dia tetap mematung, menatapku tajam, menggigit bibir bawahnya dan alis kirinya sedikit naik. Aku melawan tatapanya, tak mampu.

“Ini ambil, kalau ada waktumu beritahu aku. Ada yang hendak kubicarakan, sebentar saja, dari sisa-sisa waktumu akan kumanfaatkan dengan baik” ucapku seolah mengulang perkataannya.

“Haruskah hari ini?”

“Tentu tidak, tapi aku ingin mengembalikan buku ini, maaf, aku membacanya. Terpaksa. Nantulang memberikannya kepadaku, ambillah. Mungkin masih berguna bagimu”
“Tak berguna lagi, itu masa laluku, simpan saja”
“Kamu sudah sadar kalau itu masa lalumu?”
“Iya,..eeh….maksudku tidak” Maria menyadari maksud pertanyaanku. Dia buru-buru meralat ucapannya.

“Sudahlah, anggap aku tak pernah bertanya, ambillah buku ini. Aku juga tak ingin menyimpan buku itu” ujarku.
“Kenapa?”
Aku terdiam sejenak. Hanya senyuman yang kuberikan sebagai jawaban, mencoba tersenyum dengan sangat manis, walau kubuat-buat.

Kami membisu.

Hari semakin siang, aku harus buru-buru kuliah. Aku tak ingin berlama dihadapanya, walau ku lihat ada perubahan di wajahnya ketika aku menyelesaikan kalimat terakhirku.

“Aku menunggumu di sana, tempat Bang Jon, petang ini” ucapku. Sekali lagi aku tersenyum, kini dia membalasnya. Manis sekali. Dia masih menimang buku itu ketika aku membalikkan badan. Aku menoleh kebelakang, ternyata dia  masih mematung, menatap kepergianku.

*    *    *

Tanpa ku minta, Bang Jon menyodorkan segelas air kelapa muda yang dingin. Sekali reguk, habis sudah. Ku kembalikan gelas kosong itu, dia mengerti, lalu mengisinya hingga penuh dan meletakkannya di sampingku.

Mungkin sore ini benar-benar mau hujan. Aromanya terasa sudah, dan biasanya jika terik seperti ini, sore hari atau malam pasti hujan deras. Maria meletakkan tasnya persis diatas tumpukan bukuku. Tanpa mengucap sepatah kata, dia duduk. Tidak terlalu dekat bila tak kusebut jauh. Mungkin untuk ukuran dua atau tiga orang lagi, antara aku dan dia.

“Mau minum?” aku serius menawarinya. Siapa yang tidak haus bila terik seperti sore ini?.
Maria hanya mengangguk

Aku memberi isyarat, Bang Jon.
“Satu lagi sedotannya”
“Apa?” Maria mendelik
“Bercanda”

“Jadi, ini gadis yang abang tunggu hingga empat hari nongkrong di sini?, pantas saja. Menunggu empat bulan pun, aku mau” ujar Ban Jon, nyeletuk dari belakang.
“Kenapa Bang?, tak ada yang salah kan?”
“Kalau seperti Kakak ini, jangankan empat hari, atau empat bulan, satu abad pun akan kutunggu” ujar Bang Jon lalu terkekeh. Mungkin dia juga terpesona akan kecantikan Maria.

Aku ikut tertawa.

Aku menatap wajahnya, dia juga sama. Akhirnya dia menunduk. “Kenapa memandangku?, ada yang salah?”
“Tidak ada yang salah dan disalahkan”
“Kenapa menatapku begitu?”
“Tidak kenapa, ingin saja menatap wajahmu yang cantik” aku menguasai grogiku, lalu memujinya.
“Ingin?, sepertinya banyak keinginanmu, ingin berbicara, ingin menatap wajahku dan mungkin ada keinginan lain?”
“Iya, banyak. Tak bisa ku ucapkan di sini, tak cukup waktunya, lain kali saja, sisakan waktumu untuk mendengarnya”
“Sebenarnya, mengajakku ke sini, mau membicarakan apa?” Maria mengalihkan pembicaraan, mengajakku berbicara serius. Jujur, tak ada yang perlu di seriusi, hanya ingin berdua saja dengannya, itu saja.
“Tentang kau dan aku”
“Serius!”

“Hanya ingin membicarakan sesuatu yang mungkin membuatmu bosan tapi membuatku puas” ujarku seraya merapikan rambutku yang awutan ditiup angin.
“Jangan bertele-tele, to the point saja”
“Tidak, bukankah kamu sudah katakan kalau tidak ada yang special dengan buku harian itu”
“Iya, memang”
“Ok, aku sangat senang bila kamu mengulangi semua kisahmu”
“Tak ada yang ku ingat, dan sudah kutiliskan di buku itu, juga kamu sudah baca bukan?, hanya itu”
“Ya, aku sudah baca, sekali lagi maaf, bila aku lancang membacanya”
“Tidak apa-apa”
“Aku tak menyadari hal itu dulu”
“Hal mana?”
“Semuanya yang kamu tulis dalam buku itu”
“Aku tahu itu”
“Yang kulakukan adalah tulus, hanya untuk menyenangkanmu, sebagai sahabatku”
“Iya, aku menghargai itu, sudah baca bukan? Aku menuliskanya juga”
“Kenapa sekarang kamu berubah, Maria. Sedikit ketus?”

“Tak ada yang berubah, Ras. Itu perasaanmu saja”
“Aku suka panggilan itu”
“Iya, aku ingat semuanya. Cerita Sipulakmu, Pinapanmu, sawahmu, teman-teman kita, semuanya “
“Syukurlah, aku senang mendengarnya”
“Bukan kunjungan itu yang membuatku ingat semuanya” maksudnya, kunjunga dua minggu lalu ke kampung

“Lalu?”
“Aku membaca buku itu. Awalnya tak ingat, bahkan tak tahu siapa yang menulis buku itu. Aku terbawa perasaan, dan sedikit demi sedikit,  aku menyadari bahwa akulah yang menulisnya. Dua tahun penuh aku berusaha untuk memulangkan semua ingatanku yang hilang. Bukan pekerjaan yang yang gamoang bukan?, melelahkan dan ternyata membuahkan hasil”
“Aku tahu, seandainya aku bisa membagi bebanmu. Jujur, aku ingin mendengar semuanya darimu”

“Tahu, kenapa kami pindah ke Medan?” Maria malah balik bertanya
“Tidak, tidak ada yang memberitahu”
“Ayah berpikir saya belum sembuh total, memang tak kuberitahu tentang semua yang telah aku ingat. Sehingga ketika aku diterima kuliah di sini, mereka putuskan untuk menemaniku. Takut terjadi sesuatu yang menimpaku bila aku harus tinggal sendiri. Mereka tak mengijinkanku. Tapi mereka tak kuasa menolak, takut menyakiti perasaanku”
“Teruskan”
“Tahu kenapa aku memilih jurusan ini?”
“Tidak, tidak tahu. Sekali lagi, karena tak ada yang memberitahu”, aku mengulang jawabanku sebelumnya

“Kamu ingat apa yang kamu ucapkan ketika mardege di Saba Napa?”
“Sudah lupa”
“Terlalu. Aku menyukaimu mulai dari saat itu. Ketika kamu menunjukkan semangat yang menggebu ingin membangun kampung halamanmu. Banyak orang berlomba ke kota, tapi kamu lain. Itu yang tak dimiliki orang lain. Dan aku merasa sangat bahagia berada di antara semua orang-orang di kampung. Aku sangat dihargai dan semua memperhatikanku.

“Sampai sekarang, juga masih seperti itu, dan itulah yang membuatku memilih jurusan ini, Pertanian, kuharap aku bisa berguna bagi kampungku”” aku memotong ucapanya.

“Aku merasa semua ketulusan mereka, tidak basa-basi, tidak pamrih. Semua berjalan alami, seorah sudah digariskan demikian. Aku berjanji dalam hati, bila umurku panjang, aku akan membalas semua kebaikan mereka. Ternyata doaku dikabulkan, hingga kini kesehatanku sudah pulih sembilan puluh persen. Dokter bahkan heran, kenapa saya bisa sembuh secepat ini. Perkiraan mereka, tujuh hingga sepuluh tahun baru bisa normal kembali. Benar kata dokter, ingatanku akan hal-hal yang membahagiakan sebelum operasi membuatku lebih cepat sembuh dari perkiraan semula.”

“Aku tak habis pikir, dengan perubahan sikapmu”

“Aku tidak merasa berubah?”
“Betulkah?, instrospeksi diri”
“Iya, terima kasih”

“Aku merasa sangat kehilanganmu, Maria. Aku tak tahu bagaimana mencarimu. Ada hal bodoh yang sering kulalukan, dulu. Rajin ke sopo, dimana ketika kita berteduh kala itu. Aku rajin menyambanginya, berharap kamu ada di sana.  Dan berharap tempat duduk di sekolah ada dirimu. Hingga aku tersadar, bahwa kamu sudah jauh. Tak mungkin bersamaku lagi. Dan aku tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi denganmu. Jujur, aku tak menangisi kepergianmu, kala itu aku berpikir kamu sudah meninggalkan sahabat-sahabatmu begitu saja, tanpa sepatah katapun, itu menyakitkan. Itu masa lalu, lupakanlah” ucapanku pelan sekali, hampir tak terdengar.

Maria menatapku, tajam. Menghujam.

“Omong kosong” ucapnya ketus, aku terkejut, hampir melonjak dari tempat dudukku. Aku mendongak.

“Apa maksudmu?” tanyaku
“Aku yakin kamu sudah mengenalku sejak pertama bertemu hari pertama masa orientasi. Kamu pura-pura lupa, mungkin tidak yakin, atau mungkin kamu merasa bimbang?, Jujur, aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di kampus ini. Dan sejenak aku merasa nyaman, karena ada kamu. Ternyata, pikiranku salah, kamu sudah berbeda, ‘Ras. Aku merasa seperti itu selama masa orientasu. Bukan Horasman yang kukenal dulu, dengan sikapnya yang pemberani, menyenangkan, cuek tapi perhatian dan peduli pada orang lain”

“Bukankah ketika itu, kamu berada tak jauh dari ruangan dimana aku di interogasi?, aku sangat mengharapkan bantuanmu. Kamu tahu, aku paling tak bisa mendengar suara keras. Bahkan petirpun bisa membuat nyaliku ciut? kamu tahu itu bukan? dan kamu sudah pernah melihatku meraung hanya karena suara petir, bukan?. Seumur-umur hanya di kampus ini siksaan bathin, mengalami yang namanya caci maki. Tiga orang mencaciku bergantian, dan kamu menikmati itu, Ras. Bahkan lebih sakit daripada ketika isi kepala ini di bedah dikeluarkan isinya. Suara tawamu di seberang sana membuatku semakin terpojok. Seolah kamu ikut mentertawakanku, gadis tolol. Menurutku, dengan jabatanmu, kamu bisa saja menghentikan mereka. Tapi?”

Membisu. Aku membenarkan tuduhannya, sebagian. Walau tak setuju dengan tata cara ospek yang dilakukan dengan memaki, berteriak, hingga mengejek, dan aku tak sanggup berbuat banyak.

“Aku tidak berubah Maria, mungkin sedikit”

“Kamu menjaga imej, harga dirimu, wibawamu. Dengan santainya, tanpa merasa bersalah menyuruh orang menanyaiku, menginterogasiku. Aku siapa, asal darimana, rumah dimana, orang tua dimana. Seolah aku seorang tertuduh, melanggar peraturan yang dibuat oleh senior panitia Ospek. Lalu satu persatu mereka mengajukan pertanyaan ini dan itu. Bahkan ada yang mentertawakan hingga mencaciku. Aku disebut sebagai mahasiswi menang tampang saja. Lalu di teriaki, semua mahasiswi sama saja, cantik, sedang, jelek, sama saja!. Aku tahu kamu mendengar semua itu, kenapa diam saja?. Dimana Horasman yang dulu, yang begitu peduli kepadaku?, hilang?, berubah jadi penakut?, atau takut di cap seorang lelaki pengecut?” Maria memberondongku, aku sampai terpengarah.

Diam.

“Aku senang kamu mengakuinya, sifat baikmu masih ada, tapi secuil”
“Kamu mau memaafkan aku?”
“Mau, tapi tidak sekarang”

“Loh”
“Kenapa?, itu hakku”
“Iya…iya….masih saja sama, jugulnya gak hilang-hilang. Kenapa dokternya tak mencabut saraf jugulmu ya?” ujarku
“Kata dokter itu perlu”
“Dokter gila”
“Gila?, kamu pikir orang gila bisa menyembuhkan orang yang  sudah sekarat?”
“Maaf, bercanda”
“Dimana sifatmu yang melindungi itu ‘Ras?. Dulu, ketika ada cowok yang hendak memukul Marintan, teman sekelas kita, tiba-tiba saja kamu menghajarnya. Merasa tak terima seorang cewek diperlakukan kasar, hingga menerima hukuman membersihkan semua ruangan WC yang bau itu, upah dari darah yang keluar dari bibir lawanmu. Walau kami mentertawakanmu, ada kekaguman yang muncul di hatiku, kamu lelaki sejati. Tidak seperti kebanyakan cowok teman sekelas yang malah tertawa ada perkelahian antara perempuan dan laki-laki. Dua minggu lalu, aku melihat kamu sudah jauh dari sifat melindungi”

“Sekali lagi maaf”
“Ya, sekali lagi, belum bisa kumaafkan”

“Hanya gara-gara itu?, kamu salah menilaiku”
“Instingku mengatakan seperti itu, dan biasanya tidak salah. Aku tak yakin telah menemukan Horasman, seseorang yang cukup berarti bagi kehidupanku yang pernah menggoreskan kenangan indah dalam memoriku yang, telah mengambil sebagian dari rasa sayang yang kumiliki. Mungkin, benar adanya bila waktu, tempat dan lingkungan mampu merubah perilaku dan sifat seseorang”
“Aku tak berubah, Maria. Masih seperti dulu” sudah beberapa kali kuucapkan kalimat ini, untuk menyakinkanya.
“Ah”

Kami membisu, lagi.

“Kamu sudah baca buku itu bukan?”
“Ya”
“Itu benar, dan seumur hidupku akan mengenangnya, seorang sahabat yang sangat kusukai. Sahabat yang memberiku makna hidup sahabat yang mengajariku menghargai alam dan manusia. Yang memeriku kasih sayang tanpa pamrih dan setia menemaniku, memberikan rasa nyaman. Sungguh menyenangkan, disisa hidup yang tak kutahu kapan malaikan menjemputku. Ku akui, aku menikmati itu. Dan itu adalah masa-masa terindah dalam hidupku. Andai aku bisa merasakanya lagi”
“Maria, ini aku Horasman” ucapku perlahan
“Aku tidak yakin”

“Kejadian dua minggu lalu, anggaplah tak pernah terjadi”
“Anggapa?, kalau begitu pertemuan kita empat tahun lalu, juga pertemuan hari ini anggap juga tak pernah terjadi”
“Maria, aku….”
“Aku apa?”
“Ee…”
“?!”
“Iya, maksudku bukan, tapi tidak, begini….E..aku mau bilang”
“Bilang apa?, minta maaf lagi?, sudah kubilang, dimaafkan, nanti”
“Bukan, bukan itu, maksudku bukan itu, adalah begini Maria….”
“Ah, tidak jelas, mau ngomong apa sih?”
“Begini, E…maksudku” aku semakin grogi, keringat dingin disekujur tubuhku. Beruntung sore ini masih panas, seolah keringatku karena teriknya sore. Nyatanya bukan. Aku benar-benar salah tingkah.

“Aku tak kamu kehilanganmu lagi”
“Kapan kamu merasa kehilanganku?”
“Dulu, ketika kamu pergi begitu saja”
“Kehilangan, tapi tak mencari, begitu?”
“Bukan tak mencari, tapi harus bagaimana, aku tidak tahu”
“Jadi?”
“Iya, itu tadi, aku tak mau kehilanganmu lagi, ijinkan aku mengisi hari-harimu lagi”
“Tidak bisa”
“Karena Bonar?, betul berita itu?”
“Berita apa?”
“Kamu dijodohkan”
“Kalau betul, kenapa?”
“Artinya aku akan patah hati, lagi”
“Awalnya begitu, tapi setelah bicara dengan Bonar, dan dia mau menerima alasanku, akhirnya kami sepakat untuk tidak melanjutkan rencana itu”
Aku bernafas lega mendengarnya, hampir ku meloncat kegirangan
“Alasanmu apa?”
“Tak perlu kamu tahu, urusan pribadi”
“Berarti boleh, dong aku mewarnai hidupmu lagi”, ujarku dan kuberanikan menggenggam jemarinya.

“Tanganmu…” ujarnya, mengibaskan tanganku
“Aku ingin menggenggam jemarimu yang lentik itu”
“Hanya kalau aku pingsan”
“Pingsanlah, aku akan menggendongmu”
“Hush, apaan sih”
“Bang Jon, boleh aku menggendong gadis pujaan hatiku di sini, bila dia pingsan?” mencoba menghiburnya dengan candaan.
“Boleh, tapi aku harus dapat bagian”
“Apa?, mau ini?” mataku mendelik, seolah marah dan dan seolah hendak meleparkan gelas didepanku. Bang Jon terkekeh melihat ulahku.

“Ya sudah, semakin senja, mari kuantar pulang. Mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkanya” kataku mencoba meraih tangannya, lagi. Maria mengibaskan tanganku sekali lagi. Aku mati kutu.

“Jangan pegang tanganku”
“Iya” aku tersipu malu, terpojok akan sikapku.

“Kamu tahu?, aku menanti dan mencari Horasman yang dulu kukenal, yang selalu membuatku bahagia, ceria, tersenyum dan menjagaku setiap waktu. Mungkin dalam sosok orang lain, bukan dirimu?. Yang sering menggodaku dengan kelucuanya, yang memberikan kehangatan dalam pelukannya kala aku membeku, yang memberiku harapan dikala aku jatuh. Dialah yang membuatku bisa bertahan hidup hingga kini, yang telah membuatku seolah terlahir kembali. Aku merindukannya” ujar Maria terbata, mengulang sebagian kalimat yang sudah pernah diucapkan. Ada genangan air di kelopak matanya yang sendu.
“Aku, Horasman” kataku menyodorkan tangan kananku seolah hendak menyalamnya. Berusaha membuat lelucon, membuatnya tersenyum. Ternyata tidak.

“Belum tentu kamu Horasman yang dulu kukenal, butuh waktu untuk membuktikanya. Bila harus memilih aku  ingin kembali ke masa laluku, seperti apa yang kutulis di lembaran terakhir buku harian itu” air matanya mulai membasahi pipinya. Aku tak mambu berkata apapun. Kubiarkan dia menyelesaikan ucapannya.

“Cinta hanya bisa dirasakan, tak bisa digambarkan apalagi dijelaskan. Cinta yang terucap dibibir tidaklah sesempurna ketika kita menunjukkannya melalui perbuatan. Tapi kata Cinta perlu juga diungkapkan sebab tanpa ucapan, perbuatan seolah tak bermakna. Aku sudah merasakan sebagai seorang yang dicintai, entah sebagai sahabat atau hal lain. Dan karena cintalah aku bisa hidup. Dia yang memberiku asa untuk bertahan hidup, dan rasa cintaku kepadanya membuatku mampu berjuang mengalahkan penyakit itu”.

“Kenapa ada cinta?. Itu sama dengan pertanyaan mengapa ada angin, mengapa ada takdir, mengapa ada maut, mengapa ada malaikat, mengapa ada perpisahan, mengapa ada air mata, mengapa ada tawa, mengapa ada awan, mengapa ada matahari, dan mengapa-mengapa yang lain. Semua sudah digariskan, Sang pencipta  yang membuatnya, memang sudah seperti itu dari awalnya. Tak ada yang perlu dipertanyakan atau di gugat. Nikmatilah cinta seperti menikmati air hujan, seperti menikmati indahnya pantai, seperti menikmati hembusan angin sepoi, seperti menikmati dingin, panas, hangat, salju. Bahkan seperti menikmati es krim, kamu akan terbuai dan bahagia selamanya”

“Bagaimana rasanya jatuh cinta pada seseorang ketika ajal hendak menjemputmu?. Tak bisa kugambarkan. Aku merasakan itu. Sungguh bahagia rasanya, hidup dengan  sukacita kala malaikan sudah menunggu kita di singgasananya. Semua rasa sakit yang ku derita hilang seketika bila bersama dengan dia. Ada semangat hidup yang menyala, kehangatan jiwa yang terpancar dan ketulusan hati yang kurasakan dari Horasman, sahabatku”

Tiga alinea di halaman terakhir buku harian itu.
“Aku akan berusaha menjadi Horasmanmu yang dulu, Maria. Aku berjanji” bisikku ke telinganya, perlahan

“Aku merasa kamu bukan Horasman yang dulu ku kenal. Aku tak butuh janjimu, titik na sa gareja”

Sore semakin menguning, ketika kami masih terbuai dalam sunyi, dan diam. Bermain dalam pikiran masing-masing, terbang melayang  entah kemana. Tak sepatah kata terucap, hanya rasa yang bicara dalam hati. Isaknya membuatku nafasku semakin tercekat.  Kuraih tangannya, sekali lagi, kugenggam dengan erat penuh kasih, seolah aku tak ingin melepaskanya lagi. Aku akan menjagamu, Maria, seumur hidupku, hingga ajal menjemputku, bisikku perlahan. Dia tidak menjawab, hanya isaknya yang terdengar sesekali. Aku benar-benar menyayanginya, pun hanya membisu tanpa anggukan, tanpa jawaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s