Beranda » Kategori » ESSAY » “Ada orangnya, Amang” jawab Batak (yang) Egois itu.

“Ada orangnya, Amang” jawab Batak (yang) Egois itu.

Tanggal 13 November adalah hari yang sangat spesial bagi HKBP Lippo Cikarang. Hari berdirinya gereja HKBP Lippo Cikarang. Tanggal dan bulan yang sama tepat tiga belas tahun lalu sebuah Gereja HKBP berdiri di kota Cikarang. Gereja yang masih belia ini ternyata sudah memiliki jemaat seribu kepala keluarga lebih.

Awal berdirinya gereja ini pun, mirip atau bahkan sama dengan sejarah berdirinya gereja HKBP di kota  lain. Beberapa orang batak yang tinggal di Cikarang berkumpul, lalu beribadah di salah satu rumah. Kebaktian pertama kala itu adalah dirumah salah satu jemaat di perumahan Cikarang Baru. Seiring dengan situasi perkembangan jemaat dari segi kuantitas dan hal lain, akhirnya beberapa jemaat tersebut bersepakat membentuk satu tempat peribadahan permanen. Demikian seterusnya, bertumbuh, berkembang dan jemaat semakin banyak, hingga peribadahan itu tidak bisa dilangsungkan di rumah jemaat lagi. Melalui proses yang tidak mudah, rencana pendirian satu gereja HKBP di Cikarang di matangkan dengan berkonsultasi ke huria yang lebih dekat–Duren Jaya, Bekasi yang pada akhirnya ber-huria resort- di HKBP Duren Jaya. Alhirnya, sebuah ruko di Kawasan Kota Lippo Cikarang dibeli dan menjadi satu tempat peribadahan yang permanent.

Satu catatan, gereja HKBP Lippo Cikarang berdiri, tidak hanya diprakarsai oleh jemaat HKBP sendiri, beberapa Penetua dari gereja GKPI ( gereja yang lebih dulu ada di Cikarang), ikut menjadi pendiri, pemrakarsa, hingga penyokong dana. (*)

Sepuluh menit sebelum acara kebaktian dimulai, jemaat telah membanjiri ruang gereja hingga ke lantai dua, bahkan bangku-bangku berjejer rapi di halaman gereja–yang menyatu dengan pelataran parkir kompleks pertokoan Ruko Thamrin Lippo Cikarang–yang semula kosong,  terisi penuh. Jemaat membludak. Jemaat yang biasanya bisa memilih jadwal kebaktian pagi jam 08.00 –Berbahasa Indonesia atau pukul 10.000-Berbahasa Batak-, hari ini berlangsung hanya sekali, yaitu pukul 9.00.

Beberapa restoran Korea dan Jepang yang bersebelahan persis dengan gereja terpaksa mengalah, tutup, memberikan halaman mereka dipakai oleh jemaat. Sepatutnya kami, jemaat,  mengucapkan terimakasih kepada beberapa pemilik ruko, yang sering kali aktifitas mereka terganggu bila ada acara khusus di HKBP Cikarang. Bahkan bila hari besar tiba, mereka juga pasti terganggu. Luar biasa!. Mereka tidak pernah komplain kepada pengelola kawasan. Hingga saat ini. Tak bisa dibayangkan bila hal itu sampai terjadi. Mereka tetangga yang baik.

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan kondisi jemaat.

Ketika kebaktian sudah berlangsung lima belas menit, jemaat semakin membludak. Sedikitnya enam ratus orang lebih jemaat berada diluar gereja, dan diantara enam ratus itu, sedikitnya seratus limapuluh orang lebih berdiri, mematung, bersandar di motor, duduk jauh diseberang sana dibawah teras ruko lain. Dengan hikmat dan santai para jemaat yang berdiri ini, mengikuti rangkaian ibadah yang sudah disusun di lembaracara. Salut melihat jemaat yang berdiri ini, beribadah di tengah teriknya matahari.

Menjelang pukul 9.45, jemaat yang berdiri semakin banyak. Perkiraanku, banyak diantara mereka tidak mengetahui kalau kebaktian hari ini hanya sekali. Padahal tiga minggu berturut-turut sudah diwartakan. Saking tidak muat lagi, beberapa di antaranya memilih pindah beribadah di GKPS yang letaknya hanya seratus limapuluh meter dari HKBP.

Hatiku tergerak mencari solusi, setidaknya mengurangi jumlah jemaat yang berdiri, khususnya dari kaum perempuan. Saya coba mencari kursi di ruang konsistori. Ketika saya menyisir deretan bangku di dalam gereja dan di luar, ternyata masih banyak kursi kosong. Hanya teronggok tas, buku ende, kain parompa dakdanak, buku acara dll. Satu persatu jemaat yang berdiri saya tanya dan tawarkan untuk duduk. Jawabanya sama. Tidak ada kursi kosong. Ada, kataku seraya mengisyaratkan untuk mengikutiku.

Ternyata, sebelum mereka mengambil inisiatip berdiri, sudah lebih dulu mencoba mencari tempat duduk di  kursi kosong. Tidak dapat!. Sama seperti jawaban yang diberikan kepada saya, “Ada orangnya, Amang”. Kursi kosong lain juga sama, ada orangnya, amang, ujar seseorang yang duduk disebelah kursi kosong itu.

Kesekian kali, setiap ada acara seperti ini saya jadi sisurang, dimusuhi, dicibir, disungut-sunguti, disinisin, masa bodoh!. Ini sungguh keterlaluan. Dongkol dan jengkel mendera perasaanku.

“Ada orangnya, Amang”
“Mana orangya?”
“Sebentar, keluar”
“Inang, ambil buku ende itu, jangan sampai saya mengambilnya lalu saya simpan sendiri. Kursi itu buat manusia bukan buat buku ende atau tas”
“Orang ada, Amang, lagi keluar ngurus anaknya” menatapku dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Sekali lagi saya ingatkan Inang, berikan kursi kosong itu. Lihatlah inang ke belakang, ratusan orang berdiri, sementara kursi itu ditempati oleh tas”
“Tadi ada Amang” ngotot
“Inang bisa dibilangin nggak sih?, kalau dia datang, saya yang bertanggungjawab mencari tempat duduknya” kataku, sedikit emosi. Selalu demikian jawaban yang kudapat dari beberapa orang, bahkan puluhan orang. Beradu mulut dulu!. Ibadah jadi tidak kyusuk.

Bukankah hakikat ibadah itu adalah saling berbagi?. Sampai ibadah selesai nanti, kursi itu akan tetap kosong. Holan begu do hundul disi!. Batak egois.

Membuatku merasa prihatin dengan sifat orang batak kini. Inikah nilai-nilai kebatakan yang diajarkan pada manusia batak saat ini?. Lihat, pria berpakaian necis itu juga berkata sama. Ada orangnya amang. Saya tak melihat ada orang?. Apa cuma dia yang melihat?, jangan-jangan begu.

Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di HKBP Lippo Cikarang saja. Bahkan di kota lain pun demikian. Ada kejadian serupa juga terjadi di tempat berlangsungnya Festival paduan Suara se Distrik, di ibukota Jakarta. Ketika mereka mendapat giliran menyanyi di depan, lalu orang lain yang melihat ada kursi kosong, langsung menduduki di kursi kosong tersebut. Selesai menyanyi, tempat duduk mereka semula ternyata sudah diduduki orang lain yang sebelumnya hanya berdiri. Terdengar gerutuan dengan intonasi suara yang sangat tidak enak didengar. Rupanya mereka merasa punya hak untuk duduk disitu selama acara berlangsung.

Saya teringat tulisan beberapa rekan di Jejaring sosial FB yang  juga menceritakan keegoisan orang batak. Terlalu. Inikah orang batak jaman sekarang?.

Entah, ini sudah sifat asli orang batak, egois bawaan lahir, kodrat, suratan tangan, atau pengaruh lingkungan?. Tidak peduli dengan orang lain. Tidak mau berbagi, selalu ingin nikmat sendiri. Beberapa kali saya punya pengalaman menegur orang batak di gereja ketika diadakan pesta syukuran membawa pulang beberapa nasi kotak, padahal banyak jemaat lain yang tidak kebagian. Sekali lagi, batak-batak egois!. Berubahlah!, mari hidup dengan saling berbagi.

(*) Sejarah HKBP Lippo Cikarang akan saya posting di tulisan berikutnya.

11 thoughts on ““Ada orangnya, Amang” jawab Batak (yang) Egois itu.

  1. Setuju dengan lae…..
    saya juga punya pengalaman seperti itu, dalam acara2 halak kita..yang lebih mementingkan kenyaman pribadi dibanding berbagi tempat duduk dengan orang lain. tapi ada juga yang harus kita garis bawahi… tidak semua halak kita yang seperti itu, masik ada halak kita yang baik…

    • @lamsito

      Horas lae. Pas do hatamunai, dang sude halak batak songoni. Sai anggiat ma lam tu majuna halak batak i marpikkir lae asa gabe sitiruon di na humaliangna….

      horas

  2. Ada joke yang diplesetkan dari Kisah di Alkitab.

    Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang [ Mat 14 : 13 – 21 ],

    …14:20 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. …,

    Tanya: “Mengapa masih bisa sisa makanan sebanyak itu?
    Jawab: “Karena di kerumunan itu tidak ada Orang Batak, terutama Inang-Inang.

    Lucu tapi menusuk dan ironis.

  3. Tohodoi abang,jangankan di hkbp,di katolik pe songoni do,alana pardijabu/anggimuna kan katolik do,jd sipata tu katolik do au sipata tu hkbp,alai biasana na paling godang mambaen songoni halak hita do,alai sattabi sotung dibaen abang au gabe bahan cerita da,amattai hkbp inattai katolik sotung da bang,maila au.

  4. Iya sy pernah bekerja di perkebunan milik Dorianus lungguk sitorus. disana hampir 90% halak batak.jala melekat do haegison disi dohot mokkus2. contoh suatu saat ada pesta yg diselenggarakan oleh si ownwr dan sebanyak 7 kerbau dipotong. namun pada hari H masyarakat yang ada disana tidak semua kebagian makanan atau daging kerbaunya. mengapa hal itu bisa terjadi? selidik punya selidik ternyata para pimpinan kebun mulai dari pimpro sampai ke asisten bahkan ke mandor2 ataupun yang mesara keluarga si owner sudah mengambil jatah masing2 sampai sampai mereka tidak beli lauk selama bermingu. sy sgt muak melihat tinggkah mereka.apakah mereka itu neneknya dulu cuma makan garam. mohon dibikin seminar untuk mengatasi hal ini

    • Pak Firmanto:
      Jangankan daging, tusuk gigi dan laukpauk pesta adat orang batak di tilap. Saya sudah sering mengolok-olok ini lewat tulisan, semoga bermanfaat dan merasa tersindir sehingga merubah kebiasaan jelek itu hahahha..begitulah suku kami, Pak.

  5. Ahu,KATOLIK do lae.
    Alai sering marminggu d HKBP tangerang kota.alana famili HKBP do sude
    Maol do ubahon sifat ni halak batak.
    Toho do i lae, nanidok mi.

  6. Memang kembali ke pribadinya masing2 ya to.
    Menurut q,secara kita kan agama kristen ya, sudah seharusnya kita meneladani YESUS KRISTUS yg menyangkal diri dan mengorbankan diriNYA utk kita,,khususnya bagi org yg sudah mengakui YESUS KRISTUS sbg TUHAN di hidupnya..(yg bertobat). Mesti ada perubahan karaktenya,memang kata org2 diluar batak sering bilang klo org batak itu kasar,egois,dll(yg buruk2lah). Tpi klo dya sudah bertobat pasti berbeda,,🙂 Mudah2anlah “halak hita batak” ini bisa berubah jdi yg lebih baik.
    Mat paskah ito ama keluarga

  7. intinya… terima Yesus secara pribadi… minta masuk dalam hati… bertobat so pasti yang kata odatang kegereja rang jelek, kasar apapun itu pasti akan berobah. karena Tuhan Yesus ada dalam hidup. Datang kegereja bukan berarti sudah bertobat…

  8. Pesan : Buat Orang Batak, Kalau mau beribadah itu jangan Egois. Apalagi masalah Tempat Duduk. Sayangnya aku gak pernah dapet kejadian seperti itu. Jelas, kalau sudah tidak ada tempat duduk lagi aku akan duduk di depan tanpa kursi/bangku gtu. Masa Bodoh !! apakah Pendeta akan melarang, atau Huria gereja melarang. Aku pikir itu gak Etis !! Banyak orang salah mengartikan jika pergi ke Gereja.
    Gereja bukanlah gedungnya, tapi bagaimana seseorang rindu akan pujian dan ajaran Tuhan Jesus.
    Buat pengurus Gereja : tidak ada salahnya jika membuat persediaan Kursi buat Jemaatnya. jadi gak bakalan ada lagi kejadian seperti ini.
    Horas ma di Hita saluhut na !! Tuhan Memberkati..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s