Beranda » Kategori » HATA SO PISIK » Saya, Sales dan Telemarketing

Saya, Sales dan Telemarketing

Satu yang membuatku salut dan kagum pada seseorang yang berprofessi sebagai sales adalah kesabaranya. Tak hanya direct sales, kesabaran tele marketing pun sangat mengangumkan, disatu sisi kadang sampai menjengkelkan. Apapun motivasi mereka, target, komisi, karir, dll tidak menjadi soal bagiku untuk  mereka dalam menghadapi customer ketika menawarkan satu product. Bahwasanya saya seorang yang iseng. Mereka sudah serius sekali menawarkan product mereka, kadang saya masih tak acuh sampai pura-pura tanya dan pura-pura bodoh.

Sales mobil misalnya.

Dari tampang  saja, tak ada kemungkinan mau beli sedan Camry atau Nissan Teana, tapi salesnya selalu memasang wajah bersahabat, senyum dan tak bosan-bosannya menjelaskan apa saja yang berhubungan dengan mobil itu, termasuk bonus-bonus dan kelebihan bila pakai satu leasing,–pembiayaan– yang mereka anjurkan. “Bapak selama ini pakai apa?, bisa ditukar tambah juga kok”

“Aku pakai PX150 Exel”

“Mereka apaan?, kok baru dengar?”

“Masa?, sudah lama kan jadi sales kenderaan bermotor?” kataku dengan mimik serius

“Iya, Pak sudah tahunan. Tipe yang bapak sebut tasi Suzuki, Honda, atau?”

“Buil ap dari itali” ujarku

“Wah, keren dong”

“Iya, terbaik di kelasnya. Vespa buatan tahun 1999” kataku seraya menunjukkan kunci vespaku

“Bisa saja….” ujar perempuan berparas ayu itu

“Gimana, bisa tukar tambah, mobil ini dengan vespaku?” kataku dengan wajah serius seraya berpura-pura mempelototi daftar harga atau prais lis nya. Kulihat cicilan perbulan Delapan Juta Rupiah, itu artinya setara dengan gajiku tiga bulan, plus uang lemburan dan tunjangan kesehatan.

Hebatnya lagi, saya masih disuguhin akua gelas.

“Pak, sembari minum dulu” katanya, lagi-lagi dia tersenyum. Saya memang tak menunjukkan wajah terpengarah melihat harga-harga kenderaan itu. Lalu setelah basa basi sedikit, saya bilang “Mba, brosurnya boleh saya bawa pulang?”

“Silahkan Pak, ini sekalian dengan kartu namaku” seraya menyodorkan selembar kartu nama.

Saya mencoba mereka jalan pikiranya ketika menilai diriku. “mudah-mudahan bapak ini memberikan brosur pada tetangganya yang kaya, pada bosnya di kantor atau pada siapa saja” mungkin begitu kira-kira.

Puluhan lembar brosur kenderaan ada di rumahku. Setiap menyambangi showroom atau stand kenderaan di mall maka saya mengambil seberkas dari setiap mereke yang ada. Istriku biasanya mengomel. Katanya ngumpulin sampah. Mengotori rumah. “Mimpi saja beli mobil, cicilan tumah saja belum lunas” katanya

“Hanya brosur yang bisa kudapatkan, tak salah toh?” kataku senyum. Peduli amat.

Lain lagi sales provider internet.

Dengan pedenya menunjukkan keunggulan produk mereka dibanding dengan produk sejenis dari provider yang lain. Saya cuman manggut-manggut, seolah kagum. Akhirnya saya pergi, “Mikir-mikir dulu ya, Mas”. Yang saya perhatikan sudah lebih banyak bohongnya daripada beanrnya. Sebenarnya saya sedikit banyak mengerti tentang alat komunikasi, jadi tak banyak yang harus saya tanyakan. Pernah satu ketika seorang sales menggombal saya dengan kecepatan internet dari providernya. Dilihatnya saya melongo dan bohongnya pun semakin meningkat.

Lalu kubilang “Mas, gimana kalau saya pakai modem yang sedang kalian pakai untuk promo ini, juga IP–internet protokolnya– saya pakai sekalian.”

“Oh, jangan Pak, sudah bekas”

“Nggak apa-apa, rela kok, beli bekas”

“Yang baru saja”

“Saya mau itu, tapi harus dengan IP Address sedang dipakai sekarang” kataku bersikeras, walaupun dengan  suara tetap datar tapi hatiku sudah panas.

Mungkin dia tidak pernah berpikir kalau saya mengetahui sedikit atau banyak produk seperti ini. Masih tetap dengan senyum khas dan rayuan yang semakin menjadi-jadi mereka tetap menyodorkan brosurnya. Sekali lagi, semangat dan cara mereka menawarkan sesuatu yang membuatku kagum. Walau sudah saya bicara menohok dan keras, mereka masih saja bilang “Terima kasih Pak, sudah mengunjungi stand kami”.

“Anda seharusnya menjelaskan kepada customer apa yang namanya IP-share. Benar, promosi anda adalah tiga koma dua mega bait, itu kalau anda sendiri yang pakai  Ai Pi  itu. Nyatanya, probider anda men-share kan satu Ai Pi hingga ke seribu user, akhirnya speed nya hanya berkisar seratusan lebih dikit. Itu termasuk berbohong?” kataku. Dia terdiam.

Saya selalu ingin belajar dari sales-sales ini, bagaimana menghadapi customer.

Dan bagaimana memberikan kepuasan kepada pelanggan. Mungkin saya salah jika berkata, orang batak tidak cocok bekerja di dunia kastomer serpis.  Prinsip Pembeli adalah raja sangat bertolak belakang dengan prinsip orang batak. Ho raja, aupe Raja do, sude do hita raja. Anda  adalah raja, saya juga, semua kita raja. Tak heran, bila kita mendengar si pemilik toko-orang batak–bersungut-sungut ketika kita meninggalkan tokonya tanpa membeli alias hanya tanya-tanya saja. “Parhuta-huta, holan mangarga do diboto ho“–orang kampung, taunya cuma nawar doang katanya.

Pengalaman seperti di atas terjadi di Mall Mangga Dua, ketika berada disalah satu konter Laptop.  Dari wajahnya yang khas, saya sudah tahu kalau si Mba  itu adalah orang batak.  Mereka ada berdua. Sepertinya toko itu milik orang batak. Seorang yang melayani saya pertama adalah seorang yang sangat sabar. Menjawab semua pertanyaanku, bahkan dengan rela dan tetap senyum mengeluarkan semua stok laptopnya dari berbagai jenis. Dengan semangat berapi-api dia menjelaskan masing-masing keunggulan dan kelemahan. Saya selalu serius mendengar orang berbicara.

Tiba-tiba kudengarlah suara yang membuatku naik pitam.

“Ai boasa sai patorangonmu sude, holan na manukkun do i, dang na ra tuhoronna i”–kenapa sih dijelasin sedetailnya, dia tuh cuma tanya-tanya, belum tentu dibeli –. Merah wajahku mendengar itu.

“Ai boru aha do ho ito, dang adong sopan mu makkatai, leas ni rohami, ho do nappuna tokko on, manang na holan karyawan?, jou tu son bosmu–marga apa ito, tak sopan kau bicara, anda pemilik tokok ini atau cuma seorang karyawan, suruh kesini bosmu” kataku marah. Dan sales yang sedari tadi sibuk menjelaskan terperangah mendengar ucapanku. Ditatapnya wajahku lama-lama

“Ai halak batak do hamu Tulang, unang muruk hamu dah, au ma akkupi hamu–Orang batak ya, Tulang, jangan marah ya, aku saja yang bapak tanggapi” ujarnya disela kekagetannya.

“Hurippu Menado, paganteng hu tulang gabe halak batak,–kupikir orang Menado, terlalu ganteng jadi orang batak” ucapnya membuat marahku surut seketika. Siapa yang tak surut marahnya bila dipuji seorang perempuan cantik?. Bohong, kalau ada. Please dweeehh. Akhirnya, jadi juga beli laptopnya dari toko itu. Salut lihat boru batak yang satu itu. Di penghujung transaksi, kami berkenalan. Ternyata dia paribanku, semarga dari klan istriku.

Banyak lagi pengalaman yang membuatku kagum, senang, jengkel, gondok dan lain-lain ketika menghadapi sales atau tele marketing.

Teringat status yang kutuliskan di facebook http://www.facebook.com/latteung semenit setelah selesai menerima telepon dari seorang telemarketing bank terkenal. Mungkin ada hubunganya dengan suasana hati yang kurang kondusif kala itu, sehingga kalimat-kalimat “aneh”  pun ku ucapkan.

“Pak, dengan membayar empat ribu perhari kami akan melindungi jiwa Bapak” katanya ketika memberikan penjelasan sebuah paket/produk yang ditawarkan.

“Bah, hebat kalilah bank kalian itu. Ibu tahu?, hanya Tuhan yang menciptakan saya dan melindungi jiwa saya. Selain itu, tidak ada. Atau kalian itu lebih jago dari Tuhan?.

“Ah, Bapak senang bercanda ya”

“Bukan, saya serius. Lagian, nyawaku kalian setarakan dengan harga Empat Ribu Rupiah?, terlalu!. Nyawa ayam saja sudah lima puluh ribu per-ekor. Kalian pikirnya nyawaku itu lebih murah daripada harga ayam?. Ini pelecehan namanya” kataku

Dia kelabakan di ujung telepon sana. Aku tersenyum mendengar dia terbata.

“Maaf, Bapak, bukan maksud saya bicara seperti itu” ujarnya lagi. Lagi-lagi saya kagum melihat sifatnya. Dari nada sauranya dia memberikan kesan minta maaf yang tulus. Aku semakin tersenyum dibuatnya.

“Iya, saya tersinggung” ujarku memotong ucapannya

“Ibu keterlaluan sih, harga manusia kok cuma Empat Ribu Rupiah?, itu satu. Kedua, kalian, maksudku Bank tempat Ibu bekerja serasa lebih berkuasa daripada Tuhan. Ibu bilang, hanya dengan empat ribu rupiah perhari, jiwa saya dilindungi. Tuhanku saja, harus mengorbankan nyawanya ketika melindungi saya. Dia mempertaruhkan nyawanya di kayu salib, seenaknya saja ibu bicara” ulangku sekali lagi

“Sekali lagi,saya minta maaf, Pak. Bapak telah tersinggung” katanya

“Bilang saja, Ibu menawarkan asuransi, kan gampang?, jangan pakai istilah macam-macam”

“Iya, Pak. Itu maksud saya”

“Ok,  Bu, kebetulan saya lagi berkendera, boleh tidak saya di telpon sejam lagi” kilahku.

Lagi-lagi timbul ke kagumanku. Benar-benar ditelepon lagi sejam berselang.

6 thoughts on “Saya, Sales dan Telemarketing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s